URAIAN KEGIATAN PERKEBUNAN KELAPA SAWIT

BAB II
URAIAN KEGIATAN PERKEBUNAN KELAPA SAWIT

Uraian kegiatan perkebunan kelapa sawit di kebun milik KUD Sawit Makmur Mandiri I adalah :

2.1. Lokasi Kegiatan Pengkajian
Pengkajian aplikasi limbah cair PKS PT. Daya Labuhan Indah dilakukan pada lahan perkebunan kelapa sawit milik masyarakat Desa Kampung Padang, Kecamatan Pangkatan, Kabupaten Labuhan Batu, Propinsi Sumatera Utara yang letaknya sekitar 800 m dari lokasi PKS Daya Labuhan Indah (Gambar 2.1). Luas areal kebun kelapa sawit yang akan diaplikasi dengan limbah cair yang telah disetujui masyarakat dan PT. Daya Labuhan Indah, berdasarkan Akta Perjanjian Kerjasama No. 34 tgl. 30 November 2007 dan No. 114 tgl. 21 Mei 2008 yang dibuat oleh Pejabat Pembuat Akta Tanah Kabupaten Labuhan Batu Johnny Agape Lumbantobing, S.H., adalah seluas 56 ha, sedangkan luas lahan pengkajian adalah 8 ha dan lahan kontrol seluas 2 ha.
Data nama pemilik kebun kelapa sawit serta luas kebun yang arealnya digunakan untuk aplikasi limbah cair PKS PT. Daya Labuhan Indah masing-masing seperti terlihat pada Tabel 3.1 di bawah ini.

Tabel 2.1. Daftar Nama-Nama Petani/Pekebun Kelapa Sawit yang Lahannya
Digunakan untuk Aplikasi Limbah Cair PKS PT. Daya Labuhan Indah
No. Nama Pekebun Tahun Tanam Luas Kebun
(ha) Nomor Kapling Lokasi Kebun
1. Abdolla Ali 79/81 4 99 Kel.Tani I
2. Abdolla Ali 79/81 4 108 Kel.Tani I
3. Istiah 79/81 4 109 Kel.Tani I
4. Sugeng 79/81 4 110 Kel.Tani I
5. Suroto 86/87/89 4 89 Kel.Tani II
6. Jarwan Sujarwadi BA 86/87/89 4 62 Kel.Tani II
7. Muhammad Rafiq 86/87/89 4 77 Kel.Tani II
8. Yahya 86/87/89 4 63 Kel.Tani II
9. Rusli Chandra 86/87/89 4 88 Kel.Tani II
10. Edy Purwanto 86/87/89 4 64 Kel.Tani II
11. Robiah Daulay 81/84 4 102 Kel.Tani II
12. Aminah 86/87/89 4 79 Kel.Tani II
13. Sampe Teguh 86/87/89 4 101 Kel.Tani II
14. Marolop Munthe 81/84 4 76 Kel.Tani II
15. Nabsiah 86/87/89 4 91 Kel.Tani II
16. Marolop Munthe 84 4 100 Kel.Tani II
17. Aliman 79/81 4 133 Kel.Tani I
18. Pulung Pandia 86/87/89 4 90 Kel.Tani II
Jumlah 72
Sumber : PKS PT. Daya Labuhan Indah, 2006

2.1. Kebun
a. Penanaman
Kegiatan budidaya tanaman kelapa sawit di kebun milik KUD Sawit Makmur Mandiri I memiliki tahun tanam 1979, 1981, 1986, 1987 dan 1989 (berumur17-27 tahun) dengan jarak tanam 8m x 8m.
b. Perawatan Tanaman
Kegiatan perawatan tanaman kelapa sawit meliputi pembersihan piringan, penunasan, pemupukan.
Penyiangan gulma
Pemeliharaan piringan dilakukan tiga kali setahun dan umumnya disesuaikan dengan waktu pemupukan. Pembersihan areal dilakukan dengan cara dibabat atau dikoret dan juga dengan penggunaan bahan kimia. Bahan kimia yang digunakan adalah Round up digunakan 3 kali setahun.
Penunasan
Penunasan dilakukan untuk mengatur jumlah pelepah yang perlu dipertahankan atau yang ditinggalkan di pohon karena berpengaruh terhadap pertumbuhan akar, bobot tanadan, dan produksi TBS meskipun tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah tandan. Jumlah pelepah bila tanaman berumur > 8 tahun adalah 40-48 pelepah/pohon. Penunasan pada kebun ini dilakukan sekali setahun.
Pemupukan
Pemberian pupuk ditabur merata dalam piringan dengan jarak 1,5 m dari batang pohon. Jumlah dan jenis penggunaan pupuk pada kebun ini adalah : Urea : 1 kg/pokok, TSP : 1 kg/pokok dan KCl : 1 kg/pokok, diberikan dengan frekwensi 3 kali setahun (4 bulan sekali).
c. Panen dan Produksi
Pemanenan
Tandan Buah Segar (TBS) yang cukup matang dipanen dengan cara manual menggunakan dodos dan pisau pemotong bergalah (egrek) dengan tenaga manusia. Buah yang layak panen adalah buah luar yang telah lepas dari tandan dan jatuh ke tanah (piringan) yang diistilahkan sebagai brondolan (Tabel 2.1).
Tabel 2.1. Tingkat Kematangan Buah Kelapa Sawit
Tingkat Kematangan Fraksi Jumlah Brondolan
Mentah
00 Tidak ada, buah berwarna hitam pekat
0 1-12,5 % buah luar*) membrondol
Matang 1 12,5-25 % buah luar membrondol
2 25-50 % buah luar membrondol
3 50-75 % buah luar memberondol
Lewat Matang 4 75-100 % buah luar membrondol
5 Buah dalam juga membrondol dan terdapat buah busuk
Sumber : Pedoman Teknis PPKS, 1999.
Keterangan: Buah luar adalah : buah yang terlihat dari luar yaitu buah yang terdapat diujung spikelet. Banyaknya buah luar dipengaruhi berat tandan, bila berat tandan 10-15 kg umumnya memiliki buah luar antara 100-200 buah.

Buah dikatakan layak apabila :
1. Sudah terdapat 2 buah brondolan untuk tiap kg tandan dengan tandan yang beratnya > 10 kg.
2. Sudah terdapat 1 buah brondolan untuk tiap kg tandan dengan tandan yang beratnya 10 tahun.
Kriteria umum tersebut adalah pencerminan dari tingkat kematangan tandan yang optimal yaitu : matang atau disebut sebagai fraksi 1,2 dan 3.
Cara Pemanenan
Cara panen meliputi pemotongan pelepah, memotong tandan dari pohon, memotong gagang pohon tandan, mengumpulkan brondolan, mengangkut tandan dan brondolan ke tempat pengumpulan hasil (TPH) serta memotong dan menyusun pelepah pada gawangan mati.
Produksi
Produksi tanaman kelapa sawit pada kebun sawit milik KUD Sawit Makmur Mandiri I dari tahun 2005 tertera pada Tabel 2.2 di bawah ini.

Tabel 2.2. Data Produksi TBS (ton/bulan) pada Kebun Sawit Milik KUD Sawit Makmur Mandiri I yang Akan Dikaji pada Tahun 2005
No. Nama Pekebun Tahun Tanam Luas Kebun
(ha) Nomor Kapling Produksi TBS (Ton/bulan)
1. Abdolla Ali 79/81 4 108 4,9
2. Abdolla Ali 79/81 4 99 4,6
3. Istiah 79/81 4 109 4,6
4. Sugeng 79/81 4 110 4,7
5. Suroto 86/87/89 4 89 4,8
6. Jarwan Sujarwadi BA 86/87/89 4 62 5,0
7. M. Rafiq 86/87/89 4 77 4,7
8. Yahya 86/87/89 4 63 5,1
9. Rusli Chandra 86/87/89 4 88 4,6
10. Edy Purwanto 86/87/89 4 64 4,6
11. Robiah Daulay 81/84 4 102 4,7
12. Aminah 86/87/89 4 79 4,8
13. Sampe Teguh 86/87/89 4 101 5,0
14. Marolop Munthe 81/84 4 76 4,7
15. Nabsiah 86/87/89 4 91 4,8
16. Marolop Munthe 84 4 100 5,0
17. Aliman 79/81 4 133 4.7
18. Pulung Pandia 86/87/89 4 90 4.9
Jumlah 72
Sumber : Data Primer (Wawancara Dengan Petani Pemilik), 2007

Pengangkutan Tandan Buah Segar (TBS)
Pengangkutan TBS dari Tempat Pengumpulan Hasil (TPH) dengan menggunakan truk ke PKS, penimbangan dilakukan sebelum masuk pabrik di jembatan timbang. Selisih antara berat truk sewaktu berisi TBS dengan berat yang diterima di PKS adalah berat bersih (netto). Setelah penimbangan, dilakukan sortasi TBS dilantai/peron loading ramp untuk mengetahui mutu TBS yang akan diolah.

2.2. Pabrik Kelapa Sawit (PKS)
A. Produksi
Pabrik Kelapa Sawit (PKS) Aek Batu telah beroperasi dengan kapasitas 30 ton TBS/jam, beroperasi selama 20 jam/hari (300 hari/tahun). Sumber bahan baku PKS adalah Tansan Buah Segar (TBS) kelapa sawit dari kebun masyarakat sekitar, karena PKS Aek Batu tidak memiliki kebun kelapa sawit sendiri.

B. Pengolahan Hasil
Proses pengolahan minyak kelapa sawit dilakukan dalam beberapa tahap di masing-masing stasiun sehingga menghasilkan minyak sawit dan inti sawit. Stasiun-stasiun tersebut dapat dijelaskan sesuai dengan tahapan pengolahan yaitu sebagai berikut:
1. Stasiun Penerimaan Buah (Fruit Bunch Reception Station)
Buah kelapa sawit setelah tiba di pabrik kemudian ditimbang di weight bridge untuk mengetahui berat tandan buah segar (TBS = Fresh Fruit Bunch/FFB) yang diterima. Truk pengangkut bahan baku kemudian memasuki loading ramp untuk memindahkan FFB ke dalam lori rebusan.
2. Penimbunan dan Pemindahan Buah (Fruit Loading Ramp)
Loading ramp adalah tempat penimbunan sementara dan pemindahan tandan buah kedalam lori rebusan. Tandan buah dituang pada tiap-tiap sekat dan diatur dari pintu ke pintu lainnya dengan isian sesuai kapasitas.
3. Lori Rebusan (Fruit Cage Bogies)
Lori rebusan adalah alat yang digunakan untuk mengangkut dan tempat merebus buah. Lori rebusan diisi penuh dan merata (2,5-2,7 ton) per lori dan dihindari isian jangan sampai membubung yang dapat mengakibatkan packing pintu tergesek buah dan buah jatuh ke dalam rebusan.
4. Stasiun Rebusan (Sterilizer Station)
Baik buruknya mutu dan jumlah hasil olah suatu pabrik kelapa sawit terutama ditentukan oleh keberhasilan rebusan. Oleh sebab itu merebus buah harus sesuai ketentuan dan merupakan hal yang mutlak dilakukan. Stasiun perebusan terdiri dari beberapa alat :
a. Alat Penarik (Mobile Cantilever)
Mobile cantilever adalah alat penarik lori keluar dan masuk sterilizer (rebusan).
b. Transfer Carriage
Transfer carriage adalah jalur yang akan dilalui oleh lori-lori. Adapun beberapa syarat yang harus diperhatikan pada transfer carriage adalah:
• Transfer Carriage harus rata dan tidak naik turun, tidak bengkok dan jaraknya tetap 60 cm.
• Wessel harus bersih dan sewaktu digunakan lidah wessel dapat rata dengan transfer carriage.
c. Ketel Rebusan (Sterilizer)
Ketel rebusan adalah bejana uap tekan, yang digunakan untuk merebus buah. Umumnya sterilizer dirancang dengan panjang yang dapat memuat enam sampai sepuluh lori dengan tekanan kerja 3 kg/cm2. Untuk menjaga tekanan dalam rebusan tidak melebihi tekanan kerja yang diizinkan, rebusan diberi katup pengaman (safety valve). Adapun tujuan perebusan antara lain :
 Mematikan/menonaktifkan enzim-enzim yang dapat menguraikan minyak menjadi asam lemak bebas sehingga mutu dapat dipertahankan.
 Mengkoagulasikan zat-zat albumin agar zat tersebut tidak aktif sebagai pengemulsi pada disperse minyak dan air.
 Menghidrolisa zat-zat lendir yang terdapat dalam bentuk koloid dibagian protoplasma sel.
 Melepaskan buah dari tandan, akibat adanya reaksi hidrolisa pada tempat persentuhan antara buah dengan tangkai. Adanya reaksi hidrolisa ini akan menyebabkan buah lebih mudah terlepas dari tandan. Hal ini berlaku umum sebagai proses pemasakan ilmiah.
 Mengurangi kadar air agar lebih memudahkan pekerjaan dalam proses pengempaan (pressing), pemisahan antara biji (nut) dengan inti (kernel) pada kernel recovery station.
d. Alat Pengangkat (Tippler Transfer Car)
Tippler Transfer Car digunakan untuk mengangkat lori berisi buah masak, menuangkan ke dalam fruit bunch scraper, dan menurunkan lori kosong ke posisi semula. Penggunaan Tippler Transfer Car harus kontinyu sesuai dengan kapasitas pabrik sehingga proses selanjutnya berjalan tanpa gangguan.
5. Stasiun Penebah Buah (Threshing Station)
Alat ini digunakan untuk melepas dan memisahkan buah dari tandan. Buah dari alat pengisi otomatis masuk ke dalam drum yang berputar (± 23 rpm), dan dengan bantuan sudu-sudu yang ada di dalam drum, buah terangkat dan jatuh terbanting sehingga buah (brondolan) terlepas dari tandan. Melalui kisi-kisi drum buah masuk ke dalam konveyor, dan janjangan kosong terdorong ke luar dan masuk ke dalam konveyor janjang kosong.

a. Konveyor Janjangan Kosong (Empty Bunch Conveyor)
Alat ini digunakan untuk mengangkat janjangan kosong ke bagian pembakaran (incinerator). Pada alat incenerator inilah tandan kosong dibakar, dan hasil pembakaran bisa dijadikan pupuk.
b. Konveyor Buah (Fruit Conveyor)
Konveyor buah adalah alat penghantar brondolan/buah masak, Pada umumnya alat ini terdiri dari :
• Konveyor buah di bawah penebah, dipakai untuk menghantar buah dari penebah ke konveyor silang.
• Konveyor buah silang bawah, membawa buah ke fruit elevator.
• Konveyor pembagi, dipakai untuk membawa dan membagi buah ke dalam ketel adukan.
• Konveyor ulangan (recycling conveyor) dipakai untuk menghantar buah lebih dari ketel adukan kembali ke fruit elevator.
c. Fruit Elevator
Fruit Elevator adalah alat untuk mengangkut buah/brondolan dari konveyor silang bawah ke konveyor silang atas, untuk kemudian dibawa ke konveyor pembagi. Alat ini digerakkan oleh electromotor. Secara umum fungsi fruit elevator adalah untuk mengangkut buah masak dari hasil penebahan ke stasiun pemerasan.
6. Stasiun Pengempaan (Pressing Station)
Daging buah selanjutnya dimasukkan pada mesin press (alat kempa) yang biasa digunakan adalah model screw press. Alat ini terdiri dari dua buah worm screw yang ditempatkan di dalam press cake bersama dengan dua buah cone yang dapat bergerak maju mundur. Kedua worm screw tersebut dengan adanya tekanan dari cone menyebabkan minyak dalam mesocrap itu akan terperas dan keluar melalui lubang-lubang kecil pada press cake. Sedangkan ampas press atau campuran fibre (serabut) dan nut keluar melaui worm screw. Minyak yang masih melekat pada ampas press cukup rendah. Pada proses ini dihasilkan minyak kasar (crude oil), nut dan pericarp.
a. Pemecah Ampas Kempa (Cake Breaker Conveyor)
Ampas proses yang masih bercampur biji dan berbentuk gumpalan dipecah dan dibawa oleh alat pemecah kempa ini kepada alat selanjutnya untuk dipisahkan antara ampas dan biji. Alat ini terdiri dari pedal-pedal yang diikatkan pada poros yang berputar 52 rpm. Kemiringan pedal diatur sehingga pemecahan gumpalan-gumpalan terjadi dengan sempurna dan penguapan air dapat berlangsung dengan sempurna. Untuk mempercepat penguapan air, diberikan pemanasan dengan uap system mantel.
b. Tangki Pemisah Pasir (Sand Trap Tank)
Alat ini digunakan untuk memisahkan pasir dari cairan minyak kasar yang berasal dari screw press. Untuk memudahkan pengendapan pasir, cairan minyak kasar harus cukup panas yang diperoleh dengan menginjeksi uap. Pada alat ini suhu dibuat sekitar 95-225oC dan pembuangan pasir dilakukan secara rutin setiap empat jam sekali.
7. Stasiun Pemecah Ampas dan Biji (Depericarper Sation)
Ampas kempa yang terdiri dari nut dan fibre dimasukkan ke depericarper melalui cake breaker conveyor yang dipanaskan dengan uap agar kandungan air dapat diperkecil sehingga press cake terurai dan mempermudah proses pemisahan nut dan fibre. Nut ditampung pada nut silo yang dialiri dengan udara panas pada temperature 60-80oC selama 10-14 jam untuk mengurangi kadar air dari 21% menjadi 14%. Selanjutnya fibre dialirkan ke boiler station sebagai bahan bakar boiler.
8. Tanki Minyak Kasar (Crude Oil Tank)
Tangki minyak kasar adalah tangki penampung minyak kasar, yang telah disaring untuk dipompakan ke dalam tangki pisah (Crude Oil Buffer Tank) dengan pompa minyak kasar. Untuk menjaga agar suhu cairan tetap, diberikan penambahan panas dengan menginjeksi uap. Pembersihan secara menyeluruh (luar dan dalam) dilakukan setiap minggu akhir mengolah.
9. Tangki Pisah (Crude Oil Buffer Tank)
Pemisahan pertama minyak dengan sludge secara pengendapan dilakukan di dalam tangki pisah ini, tangki pisah ini terdiri dari 3 (tiga) ruang, yaitu :
• Ruang Pertama : Untuk penampungan minyak dari pompa minyak kasar dan penambahan panas.
• Ruang Kedua : Merupakan ruang pemisahan. Minyak yang mempunyai berat jenis kecil mengapung dan dialirkan ke dalam tangki masakan minyak (oil tank), sedangkan sludge yang mempunyai berat jenis lebih besar daripada minyak, masuk ke dalam ruang ketiga melalui lubang bawah sekat.
• Ruang Ketiga : Ruang penampung “sludge” sebelum dialirkan ke dalam tangki sludge.
10. Tangki Masakan Minyak (Oil Tank)
Minyak yang telah dipisah pada tangki pemisah ditampung dalam tangki ini untuk dipanasi lagi sebelum diolah lebih lanjut pada sentripusi minyak.
11. Sentripusi Minyak (Oil Purifier)
Untuk pemurnian minyak yang berasal dari tangki masakan yang masih mengandung air ± 0,50-0,70 % dan kotoran 0,10-0,30 % dipergunakan alat pemisah sentripusi ini, yang berputar antara 5000-6000 rpm. Akibat gaya sentrifugal yang terjadi, maka minyak yang mempunyai berat jenis yang lebih kecil bergerak ke arah poros, dan terdorong ke luar oleh sudu-sudu, sedangkan kotoran dan air yang berat jenisnya lebih besar terdorong kearah dinding bowl. Air keluar, padatan melekat pada dinding bowl yang dikeluarkan dengan pencucian.
12. Tangki Apung (Float Tanks)
Tangki apung dipakai untuk mengatur jumlah minyak masuk ke dalam tangki hampa udara (vacuum oil dryer) agar merata dan tetap (konstan).
13. Pengeringan Minyak (Vacuum Oil Dryer)
Pengeringan minyak dipergunakan untuk memisahkan air dari minyak dengan cara penguapan hampa.
14. Oil Flowmeter
Oil Flowmeter digunakan untuk mengetahui jumlah aliran minyak yang diproduksi dan bekerja secara otomatis.
15. Tangki Sludge (Sludge Tank)
Tangki ini dipergunakan untuk penampungan “sludge” dari hasil pemisahan tangki pisahan yang masih mengandung minyak 7-9 %.
16. Saringan Berputar (Brush Strainer)
Saringan ini dipakai untuk memisahkan serabut yang masih ada dalam sludge sebelum diolah dalam sludge separator. Alat ini terdiri dari tabung silinder yang berlubang-lubang halus dengan sikat-sikat yang berputar bersama poros di tengah-tengah silinder tersebut. Cairan yang telah tersaring keluar dari bagian atas untuk menuju desanter, sedangkan serabut/sampah dibuang dari bagian bawah.
17. Bak Penampung Sludge (Sludge Pit)
Bak ini dipergunakan untuk menampung cairan-cairan yang masih mengandung minyak, dari parit clarifikasi dan air kondensat rebusan, untuk kemudian dipompakan dengan slurry pump ke tangki pengutipan minyak (sludge drain tank).
18. Tangki Pengutipan Minyak (Sludge Drain Tank)
Sistem pemisahan minyak berlangsung secara gravitasi, dimana minyak dikutip dari bagian atas dengan alat pengutip (oil skimmer) yang dapat distel naik turun sesuai dengan ketebalan minyak yang terapung. Minyak hasil kutipan dialirkan ke dalam tangki penampung dan dipompakan ke dalam tangki minyak kutipan dan cairan bawah dialirkan ke parit pembuangan limbah.
19. Stasiun Pengolah Biji (Kernel Recovery Station)
Stasiun pengolah biji adalah stasiun terakhir untuk memperoleh inti sawit. Biji dari pengolah biji dan ampas (depericarper) dikirim ke stasiun ini untuk diperam, dipecah, dipisahkan antara inti dan cangkang. Inti dikeringkan sampai batas yang ditentukan, dan cangkang dikirim ke pusat pembangkit tenaga uap sebagai bahan bakar boiler.
20. Claybath
Masa cangkang bercampur inti dialirkan masuk ke claybath untuk memisahkan antara cangkang dengan inti. Cangkang dipakai sebagai bahan bakar boiler atau pengerasan jalan. Sedangkan inti dialirkan masuk kernel silo untuk proses pengeringan hingga memiliki kadar air 7 % dengan tingkat pengeringan pada temperatur 60 oC, 70oC dan 80 oC dalam waktu 5-6 jam. Selanjutnya di dalam kernel bulk silo, inti disimpan dan siap untuk dipasarkan.

C. Pengolahan dan Pemanfaatan Limbah
Limbah cair yang ditimbulkan berasal dari proses produksi Pabrik Kelapa Sawit (PKS) untuk menghasilkan minyak (CPO = Crude Palm Oil). Dalam proses produksi pabrik kelapa sawit sangat memerlukan air sehingga tidak heran jika menghasilkan limbah cair dengan jumlah yang cukup besar (± 60 % air yang digunakan akan menjadi limbah). Saalah satu cirri limbah cair dari PKS adalah konsentrasi COD dan TSS yang tinggi yaitu :
• COD : 12.000 – 40.000 mg/l
• TSS : 10.000 – 30.000 mg/l
Limbah cair dengan konsentrasi COD dan TSS yang tinggi tersebut haruslah diolah terlebih dahulu agar tidak mencemari lingkungan sekitarnya.
Saat ini penerapan produksi (cleaner production) merupakan salah satu strategi dalam pengelolaan lingkungan hidup di berbagai negara yang menunjukkan hasil yang efektif dalam mengatasi dampak lingkungan. Dari hasil penelitian pusat-pusat penelitian kelapa sawit ditemukan bahwa pemanfaatan limbah cair PKS pada tanaman kelapa sawit dapat mengurangi atau mencegah terbentuknya zat pencemar dan mencegah berpindahnya zat pencemar dari satu media ke media lain. Pemanfaatan limbah cair ke lahan perkebunan kelapa sawit disebut dengan aplikasi lahan (land application). Manfaat yang didapat dengan pemanfaatan aplikasi lahan ini adalah :
• Memperbaiki sifat fisik tanah dan meningkatkan kesuburan tanah
• Mengurangi pemakaian pupuk anorganik
• Mengurangi biaya pengoperasian dan perawatan IPAL
• Mencegah pencemaran air tanah maupun badan air lainnya
Berdasarkan hasil penelitian tersebut, maka PT. Perkebunan Milano-PKS Aek Batu menggunakan system land application ini untuk mengelola limbah cairnya. Lay Out Instalasi Pengolahan Air Limbah dapat dilihat pada Lampiran 3. Proses pengolahan limbah cair PKS Aek Batu adalah sebagai berikut :
a. Cooling Pond
Colling pond berfungsi menurunkan temperatur limbah cair yang dikeluarkan dari ruang produksi. Temperatur limbah cair dari ruang produksi ± 70 oC diturunkan hingga 38-40 oC yang merupakan temperatur optimum untuk pertumbuhan mikroorganisme pengurai. Limbah cair segar (fresh effluent) bersifat asam dengan pH 4,6-4,9. Bagian dasar dan dinding cooling pond (kolam pendingin) dilapisi dengan semen sehingga kedap air.
b. Anaerobic Pond
Pada anaerobic pond ini terjadi proses biologis oleh mikrobiologi secara anaerob atau proses yang tidak memerlukan oksigen. Material yang dapat terdegradasi secara biologis (biodegradasi) akan diuraikan menjadi gas methane (CH4) dan air (H2O), dengan adanya proses penguraian tersebut konsentrasi COD yang sangat tinggi akan berkurang.
c. Facultative Pond
Facultative Pond merupakan kolam yang memanfaatkan penguraian secara anaerob dan aerob.
d. Aerobic Pond
Proses y6ang terjadi pada kola mini adalah proses degradasi biologis secara aerob atau proses yang memerlukan oksigen. Material yang berada di dalam air olahan akan diuraikan menjadi CO2 dan H2O. Mengingat proses yang terjadi secara aerob, maka oksigen yang dibutuhkan akan ditambahkan ke dalam air olahan dengan menggunakan aerator.
e. Land Application
Sistem aplikasi lahan yang digunakan adalah system flat bed. Effluent dipompakan dari bakkcontrol ke bak distribusi yang berada di areal kebun yang akan diaplikasikan dengan effluent tersebut. Kemudian effluent akan mengalir secara gravitasi menuju flat bed. Distribusi effluent diatur dengan menutup katup (valve) pada bak kontrol dan bak distribusi.

D. Kualitas Limbah Cair
Hasil analisis kualitas limbah cair pabrik kelapa sawit Aek Batu yang akan diaplikasikan ke lahan perkebunan sawit (kolam aerobik) dapat dilihat pada Tabel 2.3 di bawah ini.
Dari hasil analisis terlihat bahwa limbah cair PKS Aek Batu memiliki pH 7,4 (antara 6,0 – 9,0) dan BOD 2184 mg/l (BOD < 5000 mg/l). Hal ini berarti bahwa limbah cair tersebut dapat diaplikasikan ke lahan perkebunan kelapa sawit milik KUD Sawit Makmur Mandiri

Tabel 2.3. Hasil Analisis Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit Aek Batu
No. Parameter Satuan Hasil Baku Mutu
1. pH – 7,4 6 – 9
2. BOD mg/l 2184 100
3. COD mg/l 4137 350
4. TSS mg/l 1502 250
5. NH3-N mg/l 314 50
6. Cd mg/l 0,0610 -
7. Cu mg/l 0,4618 -
8. Pb mg/l 0,9054 -
9. Zn mg/l 0,1546 -
10. Minyak & Lemak mg/l 1988 25
Sumber : Pusat Laboratorium Uji Mutu-LP USU, 2006.
Baku Mutu : Kep Men LH No. Kep-51/MENLH/10/1995 Lamp.B IV.

USULAN PROGRAM PERTANIAN SEHAT (PPS) LAZ ULIL ALBAB, 2010

A. Pendahuluan
Dilhami dari ringkasan pernyataan yang menyatakan bahwa Makanan yang halal pasti akan bersifat toyyib, akan tetapi makanan yang toyyib belum tentu besifat halal. Makanan yang bersifat aman artinya tidak menyebabkan penyakit, dengan kata lain aman secara duniawi dan ukhrawi. Keamanan pangan (food safety) ini secara implisit dinyatakan dalam al-Qur’an.
“Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rizkikan kepadamu, dan bertawakallah keada Allah dan kamu beriman kepada-Nya.” (QS. al-Maidah: 88)
Ayat ini memerintahkan manusia untuk mengkonsumsi makanan/minuman dalam konteks ketakwaan pada saat menjalankan perintah konsumsi makanan. Supaya manusia berupaya untuk menghindari makanan/minuman yang mengakibatkan siksa dan terganggunya rasa aman.
Kesan tragis yang terjadi ketika bahan anorganik (bahan kimaiwi) dimasukkan kedalam tubuh tanaman maka yang akan terjadi adalah menurunya tingkat kesehatan manusia karena bahan tersebut sesunguhnya kurang aman bagi tubuh manusia itu sendiri. Selain itu bahan kimiawi tersebut tenyata tidak hanya berdampak pada yang dikonsumsi manusia namun sangat menggangu keseimbangan ekosistem setempat. Solusi atas kejadian ini adalah membentuk pertanian yang aman dan ramah untuk lingkungan atau biasa disebut pertanian organik. Program Pertanian Sehat (PPS) diharapkan menjadi satu terobosan dalam usaha membudidyakan kesehatan untuk ummat dan lingkungan.
Fakta : Konsep nyata di lingkungan Produk organik seperti buah, sayuran, dan beras juga memiliki harga yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan produk pertanian intensif atau kimia maka dengan demikian sudah jelas membantu pendapatan petani kecil. Hanya saja yang jadi masalah adalah pemasaran produk belum banyak diketahui oleh petani. Padahal beberapa restoran tertentu sangat membutuhkan produk pertanian organik karena semakin meningkatnya akan kesadaran manusia tentang kesehatan.
PPS sebagai salah satu bidang yang memiliki peranan penting dalam kegiatan membangun komunitas petani yang secara khusus untuk petani yang kurang mampu (artinya meiliki luas lahan yang relatif kecil dan kurang dukungan dari segi ekonomi ) dengan melibatkan masyarakat.

B. Tujuan dari Program Pertanian Sehat (PPS) adalah:
• Memberdayakan petani agar mandiri yang fokus di bidang pertanian berkelanjutan dan ramah lingkungan dalam usaha pertanian sehat yang memberikan manfaat secara ekonomi dan sosial bagi petani dan bermanfaat untuk umat muslim khususnya kaum dhuafa yang memiliki lahan kecil dan kekurangan perhatian dalam pengelolaan lahan
• Menanamkan arti penting kesehatan produk pertanian kepada petani yang aman dunia dan akhirat
• Meningkatkan taraf hidup petani kecil
• Memanfaatkan lahan sempit secara intensifikasi yang intensif
• Mengusahakan dan membantu pemasaran pertanian yang sehat
C. Tema
Ulil Albab untuk Sahabat Tani ( SAHATANI )dan Memandirikan Petani

D. Model/Jenis Kegiatan
Jenis kegiatan yang akan diusahakan dalam PPS adalah :
• Pembentukan Manajemen Pelatihan Petani yang waktunya sesuai dengan masalah yang sedang dihadapi petani. Tujuan program utama yang ada dalam manajemen pelatihan :
1. Menyelenggarakan Pendidikan & Pelatihan Keterampilan Petani Ramah Lingkungan
2. Membangun Network dengan pihak luar
3. Sosialisasi program
Dari pelatihan ini yang akan diharapakan adalah :
• Pembentukkan Kelompok Tani
• Peningkatan Kapasitas SDM Petani
• Penumbuhan Kader Petani Lokal
• Pembinaan dan Pelatihan Pertanian Ramah Lingkungan
• Pembiayaan Mikro Petani
• Penguatan Kelembagaan Petani
• Pengusahaan sisitem intensifikasi Pertanian
• Pengolahan produk pertanian organik (non residu pestisida)
• Pengandaan Bio-pestisida
• Pengadaan Kompos
• Pengandaan Insektisida hayati
• Pengandaan Pupuk organik
• Penyediaan media tanam (TOP SOIL )
• Penyediaan media semai
• Penyediaan benih

E. Target/Sasaran
Sasaran dikategorikan kedalam 2 bentuk kriteria yaitu Kriteria Sasaran dan Kriteria Ketentuan Wilayah.
1. Kriteria Sasaran
a. Kriteria Sasaran Utama, yaitu sasaran prioritas program yang merupakan para petani
miskin (dhuafa) dengan ciri umum: 1). Para petani yang memiliki lahan
maksimum 0.25 Ha atau berpenghasilan per-hari kurang dari atau sama dengan
Rp. 20.000; 2). Kondisi rumah (milik sendiri/ sewa/ kontrak) kurang layak dan
kepemilikan harta (peralatan hidup) terbatas, dideskripsikan dengan indeks rumah.
Selain itu ada penilaian (kesepakatan) dari masyarakat setempat bahwa yang
bersangkutan terkategori miskin.
b. Kriteria Sasaran Antara, yaitu sasaran tidak terkategori prioritas akan tetapi memiliki
potensi untuk mendorong semangat para petani miskin untuk lebih semangat
mengikuti program. Jumlah sasaran antara akan dibatasi dan disesuaikan dengan
situasi dan kondisi yang ada.
2. Kriteria Ketentuan Wilayah
a. Mempunyai potensi SD pertanian yang dapat dikembangkan baik untuk skala
lokal maupun nasional, termasuk dukungan sarana dan prasarana program serta
dukungan iklim dan cuaca (klimatologi) lokasi sasaran program
b. Memiliki potensi SDM yang mendukung program baik dalam hal kuantitas
maupun kualitas
c. Tidak termasuk daerah konflik atau memilki potensi konflik yang tinggi

F. Manfaat PPS
Adapaun manfaat yang diharapakan dengan kinerja PPS ini adalah :
1. Melalui PPS, diharapakan para petani sasaran dapat meningkatkan
kualitas dan kuantitas hasil usaha taninya
2. Mendorong para petani untuk meningkatkan sikap, sifat dan
perilaku intelektualitasnya sehingga akan muncul pribadi-pribadi petani yang
kritis dan peduli terhadap lingkungan sekitarnya
3. Tercapainya kemandirian komunitas petani sasaran
4. mendorong peningkatan pendapatan dan kesejahteraan ekonomi para petani miskin

G. Pelaksana (Waktu & Tempat)
Waktu : Dikondisikan setelah dilkukan survei tempat
Tempat : Sebenranya PPS umum untuk semua kalangan daerah yang dikatergorikan penduduknya miskin namun Untuk tahap pertama realisasi PPS yang diharapkan untuk pelksanaan program ini adalah:
Desa Karang Gading Kecamatan Labuhan Deli, Deli Serdang
Dari data informasi yang diperoleh adalah bahwa :
Dusun yang 100% penduduknya muslim tersebut, merupakan salah satu kantong kemiskinan Deli Serdang. Kesejahteraan masyarakat jauh dari memadai. Ditambah lagi akses jalan sangat memprihatinkan. Jalan yang ada sebagiannya adalah jalan tanah yang jika hujan akan sulit dilalui.
Banyak potensi daerah yang dapat digarap, seperti; sawah, kebun sawit, tambak udang dan kepiting. Namun semua itu belum dapat mensejahterakan masyarakat.
(Sumber : LAPORAN PELAKSANAAN PROGRAM SENYUM RAMADHAN 1431 H ULIL ALBAB – LAZIS PT PLN SUMUT )

H. Detail Anggaran Dana
NO JENIS Kebutuhan @ JUMLAH (RP)
1 Pengandaan Bio-pestisida 100 botol 25.000 2.500.000
2 Pengadaan Kompos 250kg/luas lahan x100 kk 5.000 1.250.000
3 Pengandaan Insektisida hayati 100 botol 50.000 5.000.000
4 Pengandaan Pupuk organik 100 botol 35.000 3.500.000
5 Penyediaan media tanam (TOP SOIL ) 500 kg/luas lahan x 100 kk 1.000 50.000.000
6 Penyediaan media semai 10 unit 1.000.000 10.000.000
7 Penyediaan benih (Hortikultura dan Palawija) 100 kk 250.000
8 Bea Sosialisasi (Pelatihan dan Seminar) – – 15.000.000
Total 87.250.000
Nb: Data ini untuk kebutuhan 100 orang Petani. Kebutuhan anggaran bisa berubah sewaktu-waktu sesuai dengan teknis pelaksanaan yang ada di lapangan dan jumlah Petani yang berpartisipasi

I. Jadwal rencana PPS direncanakan untuk tahun 2010
Kegiatan November Desember Januari
Survei
Pendataan jenis kebutuhan
Sosailisasi
Pelaksanaan PPS
Nb: Jadwal Pelaksanaan bisa berubah sesuai dengan kesepakatan bersama

J. Penutup
Kegiatan Program Pertanian Sehat melalui penyaluran dana untuk kebutuhan petani miskin merupakan upaya menumbuhkan semangat sekaligus menanamkan kepedulian untuk mau berbagi kepada sesama khususnya kaum dhuafa dan menyadarkan petani tetang arti pentingnya makanan yang halal lagi sehat untuk ummat. Insyallah….

LAPORAN PTQ ( PROGRAM TEBAR QUBAN ) LAZ ULIL ALABAB 2010

LAPORAN PTQ ( PROGRAM TEBAR QUBAN ) LAZ ULIL ALABAB 2010
OLEH :
FIRLANA

Salah satu pelaksanaan PTQ ( Program Tebar Qurban ) 2010 yang diadakan oleh yayasan LAZ Ulil Albab adalah Desa Karang Gading, Kabupaten Deli Serdang, Kecamatan Labuhan Deli. Untuk mencapai lokasi ini membutuhkan waktu + 2 jam perjalanan dari kota Medan. Cukup mengesankan perjalanannya, karena untuk sampai ke daerah ini kita harus melewati akses jalan yang berliku, terdapat juga jalan kerikil dan batu khususnya saat mendekati desa ini, terlihat jelas bahwa jalan-jalan yang kurang memadai, terkesan kurang perhatian dari pemerintahan daerah setempat. Untuk mencapai desa ini harus membutuhkan dan mengorbankan banyak waktu, tenaga dan semangat.

Sesampainya di desa, sambutan hangat masyarakat yang ramah dan bersahabat seraya dilontarkan. Ternyata daerah ini merupakan salah satu daerah yang selama ini mendapat perhatian khusus dari LAZ Ulil Albab dan salah satu target dalam pemeberantasan kaum dhuafa dari LAZ Ulil Albab. Sangat senang kiranya mendapat sambutan itu, termasuk saya (Firlana) sendiri sebagai adik asuh yang mengemban tugas mendata penduduk dalam pelaksanaan kegiatan PTQ ini. Sama seperti halnya yang dirasakan oleh penanggung jawab PTQ yaitu Mas Tris yang melaksanakan PTQ di desa ini. Dukungan masyarakat dalam pelaksanaan qurban terlihat dalam partisipasinya, sehingga kegiatan PTQ ini lebih cepat terselesaikan yang pelaksanaanya di Mushola Al-Ikhlas di desa ini.

Di desa ini kegiatan rutinitas pada umumnya adalah perwiritan, namun karena kurangnya tenaga dakwah agaknya program kegiatan keagamaan agak sedikit tersendat, maka dari itu perlu ada semangat baru dan terobosan baru untuk mengembangkan dakwah di desa ini.

Untuk hal dakwah sebenarnya masyarakat menyikapinya dengan penuh antusias dan kegembiraan bila ada yang mau mendidik agama kepada mereka. Namun kendala utama dalam dakwah di desa ini adalah minimnya pendidik agama (ustadz) di desa ini di tambah dengan akses jalan yang kurang memadai yang harus banyak mengorbankan tenaga, semangat dan waktu mencapainya. Kondisi ini menberikan keprihatinan kepada warga muslim dalam melaksanakan ibadah mereka. Maka untuk menyikapinya sudah sepantasnya lah di desa ini ditempatkan seorang pendididk agama tetap yang mampu mendidik warga muslim dalam hal beribadah dan kesempurnaan ibadah kepad Allah SWT.

Dusun yang 100% penduduknya muslim tersebut, merupakan salah satu kantong kemiskinan Deli Serdang. Kesejahteraan masyarakat jauh dari memadai. Ditambah lagi akses jalan sangat memprihatinkan. Jalan yang ada sebagiannya adalah jalan tanah yang jika hujan akan sulit dilalui. Penduduk yang mayoritas muslim ini berjumlah 71 KK (hasil pendataan PTQ) dan umumnya tergolong miskin dan berpenghasilan kecil karena warga di desa ini banyak bekerja sebagai buruh tani dan nelayan. Banyak potensi daerah yang dapat dikembangkan, seperti; sawah, kebun sawit, tambak udang dan kepiting. Namun semua itu belum dapat mensejahterakan masyarakat dan belum mampu mencukupi kebutuhan mereka. Bagaimana tidak? Sawah, kebun, dan tambak tersebut bukan milik masyarakat karena masyarakat hanya bekerja sebagai buruh di daereah terseubut.

PTQ kali ini merupakan PTQ kedua kalinya di desa tersebut yang diadakan oleh LAZ Ulil Albab setelah setahun yang lalu. Namun terlihat jelas sekali partisipasi masyarakat manfaat akan PTQ bagi mereka mengingat jarangnya diadakan pelaksanaan qurban di desa tersebut. Banyak masyarakat yang menyambut dengan gembira dan rasa syukur dengan diadakanya qurban ini. Warga berduyun-duyun segera berdatangan membantu dalam pelasanaan PTQ ini. “Sepertinya PTQ dengan 3 ekor kambing belum mampu mencukupi banyaknya penduduk miskin ( 71 KK) yang menerima qurban” seperti itulah salah satu tuturan dari masyarakat setempat sembari mengucapakan banyak terima kasih dan menuturkan harapanya. Tapi idealnya adalah satu ekor sapi, dan Insyallah LAZ Ulil Albab akan mengusahakan dalam pengadaan sapi untuk PTQ tahun berikutnya di desa tersebut. Amin.

LAPORAN PTQ ( PROGRAM TEBAR QUBAN )
LAZ ULIL ALBAB 2010

OLEH :

FIRLANA

TANGGAP PERTUMBUHAN TANAMAN KAILAN (Brassica oleracea var acephala) VARIETAS TOSAKAN TERHADAP PEMBERIAN BERBAGAI DOSIS PUPUK UREA DAN TSP

ABSTRACT

The objective of this experiment was to know growth response of kailan crop (Brassica oleracea var acephala) tosakan variaty to gift various doses fertilizers urea and TSP. The experiment was conducted in Teknologi Budidaya Tanaman Hortikultura Laboratory Land, Agriculture Faculty, North Sumatera University with altitude ± 25 m above sea level, from October until November 2010. The experiment used Randomized Complete Block Design (RAK) with 2 factors and 4 replications. The first factor was urea fertilizer, 0 g, 10 g, 20 g, and 30 g. The second one was TSP fertilizer, 0 g, 10 g, 20 g, and 30 g. The experiment result showed that urea and TSP gave significant effect of growth of kailan.

Key words : urea, TSP, kailan

ABSTRAK

Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui tanggap pertumbuhan tanaman kailan (Brassica oleracea var acephala) varietas tosakan terhadap pemberian berbagai dosis pupuk urea dan TSP. Percobaan ini dilaksanakan di lahan percobaan Laboratorium Teknologi Budidaya Tanaman Hortikultura pada ketinggian tempat ± 25 m di atas permukaan laut, mulai dari Oktober sampai dengan November 2010 dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 2 faktor perlakuan dan 4 ulangan. Faktor I adalah faktor pupuk urea, yaitu 0 g, 10 g, 20 g, dan 30 g. Faktor II adalah faktor pupuk TSP, yaitu 0 g, 10 g, 20 g, dan 30 g. Hasil percobaan menunjukan bahwa pupuk urea dan pupuk TSP berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan kailan.

Kata kunci: pupuk urea, pupuk TSP, kailan

RIWAYAT HIDUP
Firlana lahir di Medan, 26 Oktober 1989. Anak dari Bapak
Budianto dan Ibu Poniah. Anak ke 3 dari 7 bersaudara.
Adapun pendidikan yang pernah ditempuh adalah:
SD NEGERI 117860 PATOK BESI tamat tahun 2003
SMP NEGERI 1 AEK KUO tamat tahun 2005
SMA NEGERI 1 MERBAU tamat tahun 2008
Pada tahun 2008 dan sampai saat ini masih terdaftar sebagai mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan Program Studi Ilmu Tanah melalui jalur SNMPTN pilihan kedua.

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan YME karena atas berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan laporan ini tepat pada waktunya.
Adapun judul dari laporan ini adalah “TANGGAP PERTUMBUHAN TANAMAN KAILAN (Brassica oleracea var acephala) VARIETAS TOSAKAN TERHADAP PEMBERIAN BERBAGAI DOSIS PUPUK UREA DAN TSP”. Laporan ini merupakan salah satu syarat untuk dapat mengikuti praktikal tes di Laboratorium Teknologi Budidaya Tanaman Hortikultura Departemen Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada
Ir. Hj. Sabar Ginting, MS., Ir. Jasmani Ginting, MP., Ir. Asil Barus, MS.,
Ir. Mariati Sinuraya, MSc., Ir. Rosita Sipayung, MP. selaku dosen pengajar mata kuliah Teknologi Budidaya Tanaman Hortikultura dan kepada asisten-asisten yang telah banyak memembantu dalam penulisan laporan ini.
Penulis menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun.
Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih, semoga laporan ini bermanfaat bagi kita semua.
Medan, November 2010
Penulis
DAFTAR ISI

ABSTRAK i
ABSTRACT ii
RIWAYAT HIDUP iii
KATA PENGANTAR iv
DAFTAR ISI v
DAFTAR TABEL vii
DAFTAR GAMBAR viii
DAFTAR LAMPIRAN ix
PENDAHULUAN
Latar Belakang 1
Tujuan Percobaan 2
Hipotesis Percobaan 2
Kegunaan Percobaan 3
TINJAUAN PUSTAKA
Botani Tanaman 4
Syarat Tumbuh 5
Iklim 5
Tanah 5
Pupuk Urea 6
Pupuk TSP 6
METODE PERCOBAAN
Lokasi dan Waktu 8
Bahan dan Alat 8
Metode Percobaan 9
Persiapan Lahan 10
Persemaian 10
Aplikasi Pupuk Dasar 11
Penanaman 11
Penjarangan Tanaman 11
Aplikasi Pupuk Urea dan TSP 11

PEMELIHARAAN TANAMAN
Penyiraman 13
Penyiangan 13
Penyulaman 13
Pengendalian Hama dan Penyakit 13
Panen 13
PARAMETER YANG DIUKUR
Tinggi Tanaman (cm) 14
Jumlah Daun (helai) 14
Bobot Biomassa Per Tanaman Sampel (g) 14
Bobot Segar Jual Per Tanaman Sampel (g) 14
Indeks Panen(g) 14
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil 15
Pembahasan 18
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan 19
Saran 19
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

DAFTAR TABEL

No. Tabel Hal
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9. Tinggi Tanaman 2 MST (cm).
Tinggi Tanaman 3 MST (cm).
Tinggi Tanaman 4 MST (cm).
Jumlah Daun 2 MST (helai)
Jumlah Daun 3 MST (helai)
Jumlah Daun 4 MST (helai)
Bobot biomassa pertanaman sampel (gr)
Bobot segar jual pertanaman sampel (gr)
Indeks panen

16
17
17
19
19
19
20
21
22

DAFTAR GAMBAR

No. Gambar Hal
1.
2.
3
4. lahan
plank
praktikan di lahan
plot dan tanaman
30
30
30
31

DAFTAR LAMPIRAN

No. Lampiran Hal.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14. Jumlah Daun Tanaman 2 MST 32
Sidik Ragam 32
Jumlah Daun Tanaman 3 MST 33
Sidik Ragam 33
Jumlah Daun Tanaman 4 MST 34
Sidik Ragam 34
Tinggi Tanaman 2 MST 35
Sidik Ragam 35
Tinggi Tanaman 3 MST 36
Sidik Ragam 36
Tinggi Tanaman 4 MST 37
Sidik Ragam 37
Produksi Per Plot (Kg) 38
Sidik Ragam 38

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Tanaman kailan (Brassica oleraceae) merupakan salah satu jenis sayuran famili kubis-kubisan (Brassicaceae) yang diduga berasal dari negeri China. Kailan masuk ke Indonesia sekitar abad ke -17, namun sayuran ini sudah cukup populer dan diminati di kalangan masyarakat ( Rukmana, 2008).
Kailan berasal dari Cina, memiliki bentuk seperti sawi atau kembang kol. Sayuran ini masih belum banyak menyebar di Indonesia, kailan memiliki bentuk dan rasa yang berbeda dengan sayur-sayuran lain. Sayuran kalian dapat ditanam di dataran tinggi yang memiliki udara cukup dingin dan kesuburan tanah yang sesuai (http://bangkittani.com, 2010).
Menanam kalian tidak rumit, langkah pertama menyiapkan lahan dan mengolah lahan dengan mencangkul, lalu membuat bedengan dan memberikan pupuk dasar berupa pupuk kandang. Bibit yang telah disemai ditanam dalam bedengan. Bibit harus memiliki kualitas yang baik. Proses perawatan juga tidak terlalu rumit. Kailan membutuhkan air yang cukup, pagi dan sore harus disiram. Pemupukan dan mencabut gulma atau rumput-rumput yang tumbuh di sekitar sayur kalian dilakukan secara rutin (Noggle dan Fritzs,1979).
Pupuk Nitrogen cukup banyak perannya namun kalau diamati di pasaran tidak semua pupuk tersedia dan dijual. Hal ini erat kaitannya dengan kebiasaan petani dalam penggunaannya. Umunya petani hanya memiliki Urea dan ZA sehingga tentu saja pedagang pupuk tidak akan menjual puuk lain, selain dari Urea dan ZA (Marsono, 1998).

Di dalam tanaman Fosfor merupakan unsur yang mobil dan bilaman terjadi kekurangan unsur ini pada suau tanaman maka Fosfor pada jaringan-jaringan tua akan di translokasikan ke jaringan yang masih efektif. Apabila terjadi kekurangan unsur Fosfor akan menghambat pertumbuhan tanaman (Hakim, dkk., 1986).
Tanaman menyerap sulfur dalam bentuk ion silfat (SO42-) yang tidak banyak terdapat dalam tanah mineral. Karena bermuatan negatif ion sulfat mudajh hilang dari daerah perakaran karena tercuci oleh aliran air. Kususnya terjadi pada tanah berpasir. Sebagian besar sulfur di dalam tanah berasal dari bahan organik yang telah terdekomposisi, sulfur elemental (bubuk/batu belerang) dari aktivitas vulkanis dan partikel dari cerobong asap pabrik yang terbawa ketanah oleh hujan (Novizan, 2007).
Tanaman kailan adalah salah satu jenis sayuran daun, dimana rasanya enak serta mempunyai kandungan gizi yang dibutuhkan tubuh manusia, seperti protein, mineral dan vitamin. Kandungan gizi serta rasanya yang enak, membuat kailan menjadi salah satu produk pertanian yang diminati masyarakat, sehingga mempunyai potensi serta nilai komersial tinggi (Sunarjono, 2008).

Tujuan Percobaan
Tujuan percobaan ini adalah untuk mengetahui pengaruh dosis pemberian pupuk Nitrogen dan Posfor terhadap pertumbuhan tanaman Kailan (Brassica oleraceae.).

Hipotesa Percobaan
• Adanya pengaruh dosis pemberian pupuk Nitrogen terhadap pertumbuhan tanaman Kailan (Brassica oleraceae).
• Adanya pengaruh dosis pemberian pupuk Posfor terhadap pertumbuhan tanaman Kailan (Brassica oleraceae).
• Adanya interaksi antara dosis pemberian pupuk Nitrogen dan Posfor terhadap pertumbuhan tanaman Kailan (Brassica oleraceae).

Kegunaan Percobaan
• Sebagai salah satu syarat untuk dapat mengikuti praktikal test di Laboratorium Teknologi Budidaya Tanaman Hortikultura Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.
• Sebagai bahan informasi bagi pihak-pihak yang membutuhkan.

TINJAUAN PUSTAKA

Botani Tanaman

Menurut Rubatzky dan Yamaguchi (1995), klasifikasi tanaman kailan adalah sebagai berikut:
Kingdom : Plantae
Divisio : Spermatophyta
Subdivisio : Angiospermae
Kelas : Dicotyledoneae
Ordo : Papavorales
Famili : Cruciferae (Brassicaceae)
Genus : Brassica
Spesies : Brassica oleraceae
Tanaman kailan yang dibudidayakan umumnya tumbuh semusim (annual) ataupun dwimusim (biennual) yang berbentuk perdu. Sistem perakaran relative dangkal, yakni menembus kedalaman tanah antara 20-30 cm (Tim Penulis, 1993).
Batang tanaman kailan umumnya pendek dan banyak mengandung air (herbaceous). Disekeliling batang hingga titik tumbuh terdapat tangkai daun yang bertangkai pendek (Rukmana, 2008).
Tanaman ini dikenal dengan daun roset yang tersusun spiral kearah puncak
cabang tak berbatang. Sebagian besar sayuran kailan memiliki ukuran daun yang lebih besar, dan permukaan serta sembir daun yang rata. Pada tipe tertentu, daun yang tersusun secara spiral ini selalu bertumpang tindih sehingga agak mirip kepala longgar (Rubatzky dan Yamaguchi, 1995).
Umumnya bunga berwarna kuning namun ada pula yang berwarna putih. Bunganya terdapat dalam tandan yang muncul dari ujung batang/tunas. Kailan berbunga sempurna dengan enam benang sari yang terdapat dalam dua lingkaran. Empat benang sari dalam lingkaran dalam, sisanya dalam lingkaran luar (Devlin, Robert, 1975).
Buah–buah kailan berbentuk polong, panjang dan ramping berisi biji. Biji-bijinya bulat kecil berwarna coklat sampai kehitam-hitaman. Biji-biji inilah yang digunakan sebagai bahan perbanyakan tanaman kailan (Fitter dan Hay, 1991).

Syarat Tumbuh

Iklim
Kailan adalah suatu sayuran musim dingin atau lembab, dapat juga pada musim panas jangka pendek. Pertumbuhan kailan sepanjang tahun dan pada musim semi, kelembaban tinggi dan tumbuh baik pada ketinggian 1000 – 2000 di atas permukaan laut (Rukmana, 2008).
Kailan menghendaki keadaan iklim yang dingin selama pertumbuhannya. Suhu yang baik berkisar antara 15-25oC serta cukup mendapat sinar matahari.. (Tim Penulis PS, 1993).
Tanaman kailan yang dibudidayakan umumnya tumbuh semusim (annual) ataupun dwimusim (biennual) yang berbentuk perdu. Sistem perakaran relatif dangkal, yakni menembus kedalaman tanah antara 20-30 cm (Splittstoesser, 1984).

Tanah
Kailan menghendaki keadaan tanah yang gembur dengan pH 5,5 – 6,5. Tanaman kailan dapat tumbuh dan beradaptasi di semua jenis tanah, baik tanah yang bertekstur ringan sampai berat. Jenis tanah yang paling baik untuk tanaman kailan adalah lempung berpasir (Tim Penulis PS, 1992). Pada tanah-tanah yang masam (pH kurang dari 5,5), pertumbuhan kalian sering mengalami hambatan, mudah terserang penyakit akar bengkak atau “Club root” yang disebabkan oleh cendawan Plasmodiophora brassicae Wor. Sebaliknya pada tanah yang basa atau alkalis (pH lebih besar dari 6,5) tanaman terserang penyakit kaki hitam (blackleg) akibat cendawan Phoma lingam (Fisher. and Goldsworthy,1992).
Tanah yang hendak digemburkan harus dibersihkan dari bebatuan, rerumputan, semak atau pepohonan yang tumbuh. Dan bebas dari daerah ternaungi, karena tanaman sawi suka pada cahaya matahari secara langsung.
Sedangkan kedalaman tanah yang dicangkul sedalam 20 sampai 40 cm. Pemberian pupuk organik sangat baik untuk penyiapan tanah. Sebagai contoh pemberian pupuk kandang yang baik yaitu 10 ton/ha. Pupuk kandang diberikan saat penggemburan agar cepat merata dan bercampur dengan tanah yang akan kita gunakan (Tim Penulis PS, 1993).
Bila daerah yang mempunyai pH terlalu rendah (asam) sebaiknya dilakukan pengapuran. Pengapuran ini bertujuan untuk menaikkan derajad keasam tanah, pengapuran ini dilakukan jauh-jauh sebelum penanaman benih, yaitu kira-kira 2 sampai 4 minggu sebelumnya. Sehingga waktu yang baik dalam melakukan penggemburan tanah yaitu 2 – 4 minggu sebelum lahan hendak ditanam. Jenis kapur yang digunakan adalah kapur kalsit (CaCO3) atau dolomit (CaMg(CO3)2) (Rukmana, 2008).

Pupuk Nitrogen
Ditinjau dari segi fisiologinya Nitrogen mempunyai peranan antara lain: 1. reduksi metabolik nitrat dan asimilasi amonia. Nitrogen yang tersedia dalam tanah yang dapat diserab oleh akar tanaman ialah dalam bentuk ion-ion nitrat. Asimilasi amonia pada sebagian besar tanaman menjadi asam glutamat (Glutamic acid) (Nyakpa, dkk., 1988).

Fungsi Nitrogen yang selengkapnya bagi tanaman adalah sebagai berikut: untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman, dapat menyehatkan pertumbuhan daun, meningkatkan kadar protein dalam tubuh tanaman, meningkatkan kualitas tanaman penghasil daun, meningkatkan perkembangan mikroorganisme dalam tanah (Kartasapoetra dan Sutedja, 2000).

Tanaman akan tumbuh dengan lambat bilamana kekurangan Nitrogen, tampak kurus, kerdil dan berwarna pucat dibanding dengan tanaman sehat. Kekurangan Nitrogen membatasi produksi protein dan bahan-bahan penting lainnya dalam pembentukan sel-sel baru. Kecepatan pertumbuhan tanaman berjalan proporsional dengan suplai Nitrogen (Hasibuan, 2008).

Pupuk Fosfor
Peran pupuk Fosfor untuk tanaman antara lain : dapat mempercepat dan memperkuat pertumbuhan tanaman muda menjadi tanaman muda pada umumnya. Dapat mempercepat pembungaan dan pemasakan buah, biji atau gabah, dapat meningkatkan produksi biji-bijian (http://langit-langit.commod, 2009).

Di dalam tanah, fungsi Fosfor terhadap tanaman adalah sebagai zat pembangun dan terikat dalam senyawa-senyawa organis dengan demikian adalah statis, hanya sebagian kecil saja yang tersedia dalam bentuk anorganis sebagai ion-ion fosfat, sebagai bahan pembentuk pospor yang terpencar-pencar dalam tubuh tanaman (Rosmarkam dan Yuwono, 2002).

Di dalam tanaman Fosfor merupakan unsur yang mobil dan bilaman terjadi kekurangan unsur ini pada suau tanaman maka Fosfor pada jaringan-jaringan tua akan di translokasikan ke jaringan yang masih efektif. Apabila terjadi kekurangan unsur Fosfor akan menghambat pertumbuhan tanaman dan gejalanya sulit diketahui sebagaimana gejala-gejala yang kelihatan pada tanaman-tanaman yang kurang unsur Nitrogen dan Kalium (Buckman dan Brady, 1982).

BAHAN DAN METODE
Tempat dan Waktu Percobaan
Percobaan ini dilakukan di Lahan Percobaan Teknologi Budidaya Tanaman Hortikultura Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan. Dengan ketinggian tempat ±25m dpl. Percobaan ini dimulai pada bulan Oktober 2010 sampai dengan November 2010.

Bahan dan Alat
Adapun bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah benih Kailan (Brassica oleraceae). sebagai objek percobaan, pupuk Nitrogen dan Posfor.

Adapun alat yang digunakan pada percobaan ini adalah cangkul untuk mencangkul tanah dan membersihkan tanah (lahan) dari gulma, gembor untuk menyiram tanaman, kalkulator untuk menghitung data, alat tulis untuk mencatat data, meteran untuk mengukur tinggi tanaman, jangka sorong untuk mengukur diameter batang, plastik untuk memungut hasil panen.

Metode Percobaan
Percobaan dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan dua Faktor perlakuan, yaitu:
Faktor I : pemberian pupuk Nitrogen yang terdiri dari 4 perlakuan, yaitu:
N0 : 0 gr/ tanaman
N1 : 1 gr/ tanaman
N2 : 2 gr/ tanaman
N3 : 3 gr/ tanaman
Faktor II : pemberian pupuk Posfor yang terdiri dari 4 perlakuan:
P0 : 0 gr/ tanaman
P1 : 1 gr/ tanaman
P2 : 2 gr/ tanaman
P3 : 3 gr/ tanaman
Sehingga diperoleh 12 kombinasi perlakuan sebagai berikut:
N0PO N0PI N0P2 N0P3
N1P0 NIP1 N1P2 N1P3
N2P0 N2P1 N2P2 N2P3
N3P0 N3P1 N3P2 N3P3
Jumlah plot : 41
Jumlah tanaman / plot : 25
Jumlah tanaman seluruhnya : 1025
Jumlah tanaman sampel/plot : 5
Ukuran plot : 200 cm x 150 cm
Jarak tanam : 40 cm x 30 cm
Dari hasil percobaan dianalisis sidik ragam rancang acak kelompok (RAK) dengan model linier sebagai berikut:
Y ijk = µ + ρi + αj + βk + (αβ)jk + εijk
Dimana ;
Y ijk :nilai pengamatan pada blok ke-i, persilangan ke-j, dan varietas ke-k.
µ : nilai tengah
ρi : efek blok ki-i
αj : efek persilangan ke-j
Βk : efek varietas ke-k
(αβ)jk : efek persilangan ke-j dan varietas ke-k
Εijk :efek eror yang disebabkan oleh blok ke-i, persilangan ke-j, varietas ke-k.

PELAKSANAAN PERCOBAAN
Persemaian
Sebelum ditanam di lapangan, sawi terlebih dahulu harus disemaikan. Persemaian dilakukan dikotak persemaian. Persemain dilakukan 2 minggu sebelum di tanam di lapangan.

Persiapan Lahan
Lahan percobaan terlebih dahulu dibersihkan dari gulma dan sisa-sisa tanaman dengan menggunakan cangkul. setelah itu dilakukan penggemburan dan selanjutnya pembuatan plot-plot percobaan sesuai dengan ukuran plot yang telah ditentukan dan setip pinggir plot dibuat parit keliling sebagai drainase. Petak plot dengan ukuran 2m × 1,5m dan dibuat parit pemisah antar blok dan plot sebagai drainase dengan lebar 50 cm.

Penanaman
Penanaman dilakukan setelah tanaman berumur 3-4 minggu sejak biji disemaikan. Jarak tanam yang digunakan 40cm x 30cm. Kegiatan penanaman dilakukan pada saat sore hari.

Pemupukan
Pupuk kompos diberikan pada saat pengolahan lahan atau sebagai pupuk dasar. Setelah tanaman berusia 2 minggu dilakuakan pemupukan susulan dengan pupuk Urea dan TSP.
Pemeliharaan
Penyiraman
Setelah tanaman dipindahkan kelapangan, penyiramana dilakukan dengan menggunakan gembor. Penyiraman sesuai dengan kondisi di lapangan.

Penyulaman
Penyulaman dilakukan apabila dilapangan tampak ada tanaman yang mati atau pertumbuhannya kurang sempurna. Hal ini dilakukan seminggu setelah tanaman ditanam agar diperolrh pertumbuhan yang serentak.

Penyiangan
Biasanya setelah turun hujan, tanah disekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Kegiatan ini dilakukan dua minggu sekali.

Pengamatan Parameter
Tinggi Tanaman (cm)
Tinggi tanaman diukur mulai dari pangkal batang bawah hingga ujung. Pengukuran mulai dilakukan setiap minggunya hingga akir masa vegetatif tanaman.

Jumlah Daun (Helai)
Jumlah daun dihitung tiap minggu mulai 2 MST. Dilakukan setiap minggunya hingga akir masa vegetatif tanaman.

Berat Basah Tanaman (gr)
Berat basah tanaman dihitung pada semua tanaman sampel, perhitungan dilakukan pada saat pemanenan.

Indeks Panen (gr)
Produksi per sampel dihitung pada semua tanaman sampel, perhitungan dilakukan pada saat pemanenan.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
1. Tinggi Tanaman (cm)
Data rataan tinggi tanaman dapat dilihat pada lampiran pengamatan 2 MST, 3 MST dan 4 MST.
Dari pengamatan data rataan tinggi tanaman, diperoleh bahwa perlakuan pemberian pupuk Urea dan TSP berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman 2 MST dan berpengaruh sangat nyata terhadap tinggi tanaman 3 serta 4 MST.
Data pengaruh pemberian pupuk Urea dan TSP terhadap tinggi tanaman dapat dilihat pada tabel 1 di bawah ini.
Tabel 1. Rataan Tinggi Tanaman 2 MST

Dari data tabel 1 diperoleh grafik seperti terlihat dibawah ini.
Grafik 1. Grafik Tinggi Tanaman (cm) 2 MST terhadap Nitrogen.

Grafik 2. Rataan Tinggi Tanaman (cm) pada 2 MST Terhadap Nitrogen dan Phospor.

Tabel 2. Rataan Tinggi Tanaman 3 MST

Grafik 3. Rataan Tinggi Tanaman (cm) pada 3 MST Terhadap Nitrogen dan Phospor.

Tabel 3. Rataan Tinggi Tanaman 4 MST

Grafik 4. Rataan Tinggi Tanaman (cm) pada 4 MST Terhadap Nitrogen

Grafik 5. Rataan Tinggi Tanaman (cm) pada 4 MST Terhadap Nitrogen dan pospor

Dari data pengaruh pemberian pupuk Urea dan TSP terhadap tinggi tanaman diperoleh bahwa rata-rata tinggi tanaman tertinggi pada 2 MST yaitu pada perlakuan N0P2 sebesar 18,91 cm dan terendah pada perlakuan N3P2 sebesar 5,86 cm. Rata-rata tinggi tanaman tertinggi pada 3 MST yaitu pada perlakuan N0P2 sebesar 23,11 cm dan terendah pada perlakuan N2P0 sebesar 11,16 cm. Rata-rata tinggi tanaman tertinggi pada 4 MST yaitu pada perlakuan N1P3 sebesar 24,83 cm dan terendah pada perlakuan N2P0 sebesar 13,06 cm.
2. Jumlah Daun (helai)
Data rataan jumlah daun dapat dilihat pada lampiran pengamatan 2 MST, 3 MST dan 4 MST.
Dari pengamatan data rataan jumlah daun, diperoleh bahwa perlakuan pemberian pupuk Urea dan TSP belum berpengaruh nyata terhadap jumlah daun 2 MST, 3 MST dan 4 MST.
Data pengaruh pemberian pupuk Urea dan TSP terhadap jumlah daun dapat dilihat pada tabel 4 di bawah ini.
Tabel 4. Rataan Jumlah Daun 2 MST.

Tabel 5. Rataan Jumlah Daun 3 MST.

Tabel 6. Rataan Jumlah Daun 4 MST.

Dari data pengaruh pemberian pupuk urea dan TSP terhadap jumlah daun diperoleh bahwa rata-rata tinggi tanaman tertinggi pada 2 MST yaitu pada perlakuan N0P3 sebesar 5,60 dan terendah pada perlakuan N3P2 sebesar 3,03. Rata-rata jumlah daun tertinggi pada 3 MST yaitu pada perlakuan N0P0 sebesar 6,60 dan terendah pada perlakuan N0P2 sebesar 5,13. Rata-rata jumlah daun tertinggi pada 4 MST yaitu pada perlakuan N2P2 sebesar 9,17 dan terendah pada perlakuan N3P3 sebesar 5,93.
3. Bobot Biomassa Per Tanaman Sampel (g)
Data bobot biomassa per sampel dapat dilihat pada lampiran pengamatan produksi per sampel.
Dari pengamatan data bobot biomassa per sampel diperoleh bahwa perlakuan pemberian pupuk Urea dan TSP berpengaruh nyata terhadap produksi persampel.
Data pengaruh pemberian pupuk Urea dan TSP terhadap bobot biomassa per sampel dapat dilihat pada tabel 7 di bawah ini.
Tabel 7. Pengaruh pemberian pupuk Urea dan TSP terhadap bobot biomassa per sampel

Grafik 7. Rataan Bobot Biomassa (gr) Terhadap Phospor.

Grafik 8. Rataan Bobot Biomassa (gr) Terhadap Nitrogen dan Phospor.

Dari data produksi persampel diperoleh bahwa rata-rata bobot biomassa per sampel tertinggi yaitu pada perlakuan N0P2 sebesar 85.67 g dan terendah pada perlakuan N0P3 yaitu sebesar 33,20 g.
4. Bobot Segar Jual Per Tanaman Sampel (g)
Data Bobot Segar Jual Per Tanaman Sampel dapat dilihat pada lampiran pengamatan produksi per sampel.
Dari pengamatan data Bobot Segar Jual Per Tanaman Sampel diperoleh bahwa perlakuan pemberian pupuk Urea dan TSP berpengaruh nyata terhadap produksi persampel.
Data pengaruh pemberian pupuk Urea dan TSP terhadap produksi persampel dapat dilihat pada tabel 8 di bawah ini.
Tabel 8. Rataan Bobot Segar Jual (gr)

Grafik 9. Rataan Bobot Segar Jual (gr) Phospor.

Grafik 10. Rataan Bobot Segar Jual (gr) Terhadap Nitrogen dan Phospor.

Dari data Bobot Segar Jual Per Tanaman Sampel bahwa Bobot Segar Jual Per Tanaman Sampel tertinggi yaitu pada perlakuan N0P2 sebesar 70.67 g dan terendah pada perlakuan N1P3 yaitu sebesar 23,93 g.

5. Indeks Panen
Dari pengamatan data indeks panen diperoleh bahwa perlakuan pemberian pupuk Urea dan TSP berpengaruh nyata terhadap indeks panen.
Data pengaruh pemberian pupuk Urea dan TSP terhadap indeks panen dapat dilihat pada tabel 9 di bawah ini.
Tabel 9. Rataan Pengaruh pemberian pupuk Urea dan TSP terhadap indeks panen

Grafik 11. Rataan indeks panen (gr) Phospor.

Grafik12. Rataan indeks panen (gr) Terhadap Nitrogen dan Phospor.

Dari data indeks panen bahwa indeks panen tertinggi yaitu pada perlakuan N0P3 sebesar 0,93 dan terendah pada perlakuan N1P0 yaitu sebesar 0,59.
Pembahasan
Berdasarkan hasil percobaan diperoleh bahwa pemberian pupuk Urea berpengaruh tidak nyata terhadap jumlah daun 2, 3 dan 4 MST serta berpengaruh tidak nyata terhadap tinggi tanaman 2 MST, sangat nyata terhadap tinggi tanaman 3 dan 4 MST dan nyata terhadap produksi per sampel. Rata-rata tinggi tanaman tertinggi pada 4 MST yaitu pada perlakuan N1P3 sebesar 24,83 cm dan terendah pada perlakuan N2P0 sebesar 13,06 cm. hal ini terjadi karena di lakukan pemupukan terhadap tanaman. Hal ini sesuai dengan literatur Waller. And Hill (1982) yang menyatakan bahwa pemupukan dilakukan untuk mencukupi atau menambah zat-zat makanan yang berguna bagi tanaman dari dalam tanah, atau dengan kata lain supaya zat-zat makanan untuk tanaman bertambah.
Berdasarkan hasil percobaan diperoleh bahwa pemberian pupuk Urea dan TSP berpengaruh tidak nyata terhadap jumlah daun 2, 3 dan 4 MST serta tinggi tanaman 2 MST, 3 MST dan 4 MST. Dapat dilihat data rataan jumlah daun tertinggi pada 4 MST yaitu pada perlakuan N2P2 sebesar 9,17 dan terendah pada perlakuan N3P3 sebesar 5,93. Hal ini mungkin dikarenakan dosis pupuk yang digunakan belum tepat, pemberiannya tidak merata dan adanya faktor yang mendukung pertumbuhan seperti curah hujan dan sinar matahari dan kelembaban udara. Hal ini sesuai dengan pendapat Halfacre dan Barden (1979) yang menyatakan bahwa berhubung selama pertumbuhannya tanaman ini memerlukan hawa yang sejuk maka akan lebih cepat tumbuh apabila ditanam dalam suasana lembab. Namun tanaman ini juga tidak suka pada air yang menggenang
Berdasarkan hasil percobaan diperoleh bahwa pemberian pupuk Urea dan TSP Dari pengamatan data bobot biomassa per sampel diperoleh bahwa perlakuan pemberian pupuk Urea dan TSP berpengaruh nyata terhadap produksi persampel. Dari data produksi persampel diperoleh bahwa rata-rata bobot biomassa per sampel tertinggi yaitu pada perlakuan N0P2 sebesar 85.67 g dan terendah pada perlakuan N0P3 yaitu sebesar 33,20 g. hal ini di karenakan tanaman kailan di tanam pada tanah yang subur dan banyak mengandung bahan organik. Hal ini sesuai dengen literatur Waller and Hill (1982) yang menyatakan bahwa kailan dapat ditanam pada berbagai jenis tanah, namun paling baik adalah jenis tanah lempung berpasir seperti tanah andosol yang subur dan cukup menahan air. Pada tanah yang mengandung liat perlu pengolahan lahan secara sempurna serperti pengolahan tanah yang cukup dalam, penambahan pasir dan pupuk organik dalam jumlah yang cukup tinggi.
Dari pengamatan data Bobot Segar Jual Per Tanaman Sampel diperoleh bahwa perlakuan pemberian pupuk Urea dan TSP berpengaruh nyata terhadap produksi persampel. Dari data Bobot Segar Jual Per Tanaman Sampel bahwa Bobot Segar Jual Per Tanaman Sampel tertinggi yaitu pada perlakuan N0P2 sebesar 70.67 g dan terendah pada perlakuan N1P3 yaitu sebesar 23,93 g. Hal ini mungkin disebabkan karena pemberian kompos yang baik untuk menyuburkan tanah sehingga dapat menghasilkan bobot biomassa yang tinggi. Hal ini sesuai dengan literatur literatur Waller and Hill (1982) yang menyatakan bahwa kailan dapat ditanam pada berbagai jenis tanah, namun paling baik adalah jenis tanah lempung berpasir seperti tanah andosol yang subur dan cukup menahan air.
Dari pengamatan data indeks panen diperoleh bahwa perlakuan pemberian pupuk Urea dan TSP berpengaruh nyata terhadap indeks panen. Dari data indeks panen bahwa indeks panen tertinggi yaitu pada perlakuan N0P3 sebesar 0,93 dan terendah pada perlakuan Nj1P0 yaitu sebesar 0,59. Dari hal ini dapat dilihat bahwa indeks panennya tidak seimbang. Hal ini kemungkinan disebabkan karena suhu tidak sesuai dengan pertumbuhan tanaman kailan. Hal ini sesuai dengan literatur Nazaruddin (1999) yang menyatakan bahwa suhu yang baik untuk pertumbuhan kailan berkisar antara 15-25 oC. Pada suhu di bawah 15 oC, tanaman kailan akan cepat berbunga, dan sebaliknya pada kondisi suhu di atas 25 oC, tanaman kailan akan sulit berkrop atau krop yang terbentuk kecil-kecil.

KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
1. Dari pengamatan data rataan tinggi tanaman, diperoleh bahwa perlakuan pemberian pupuk Urea dan TSP belum berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman 2 MST dan berpengaruh sangat nyata terhadap tinggi tanaman 3 serta 4 MST dengan rataan tinggi tanaman tertinggi pada 4 MST yaitu pada perlakuan N1P3 sebesar 24,83 cm dan terendah pada perlakuan N2P0 sebesar 13,06 cm.
2. Dari pengamatan data rataan jumlah daun, diperoleh bahwa perlakuan pemberian pupuk Urea dan TSP belum berpengaruh nyata terhadap jumlah daun 2 MST, 3 MST dan 4 MST dengan rata-rata jumlah daun tertinggi pada 4 MST yaitu pada perlakuan N2P2 sebesar 9,17 dan terendah pada perlakuan N3P3 sebesar 5,93.
3. Dari pengamatan data bobot biomassa per sampel diperoleh bahwa perlakuan pemberian pupuk Urea dan TSP berpengaruh nyata terhadap produksi persampel dengan rata-rata bobot biomassa per sampel tertinggi yaitu pada perlakuan N0P2 sebesar 85.67 g dan terendah pada perlakuan N0P3 yaitu sebesar 33,20 g.
4. Dari pengamatan data Bobot Segar Jual Per Tanaman Sampel diperoleh bahwa perlakuan pemberian pupuk Urea dan TSP berpengaruh nyata terhadap produksi persampel dengan Bobot Segar Jual Per Tanaman Sampel tertinggi yaitu pada perlakuan N0P2 sebesar 70.67 g dan terendah pada perlakuan N1P3 yaitu sebesar 23,93 g.
5. Dari pengamatan data indeks panen diperoleh bahwa perlakuan pemberian pupuk Urea dan TSP berpengaruh nyata terhadap indeks panen dengan indeks panen tertinggi yaitu pada perlakuan N0P3 sebesar 0,93 dan terendah pada perlakuan N1P0 yaitu sebesar 0,59.
Saran
Supaya dalam pemberian pupuk harus sesuai dosis. Kelebihan pemberian pupuk mengakibatkan tanaman berwarna kuning dan bisa juga menyebabkan kematian tanaman. Tanaman jadi rusak apabila penggunaan pupuk tidak tepat dosis.

DAFTAR PUSTAKA
Buckman, H. O. dan N. C. Brady. 1982. Ilmu tanah. Terjemahan Prof. Dr. Soegiman. Penerbit Bhratara Karya Aksara. Jakarta.
Devlin, Robert M. 1975. Plant Physiology Third Edition. New York : D. Van
Nostrand.
Fitter , A. H, dan Hay, R. K. M., 1991. Fisiologi Lingkungan Tanaman. Diterjemahkan Oleh S. Andani dan E. D. Purbayanti. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Fisher, N. M. and Goldsworthy, P. R., 1992. Fisiologi Tanaman Budidaya Tropik. Diterjemahkan oleh Tohari. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Hakim, N., M. N. Nyakpa., A. M. Lubis., S. G. Nugroho., M. A. Diha., G. B. Hong dan H. H. Bailey. 1986. Dasar-dasar ilmu tanah. Penerbit Universitas Lampung. Lampung.

Hasibuan, B. E. 2008. Pupuk dan pemupukan. FP USU. Medan.

http://bangkittani.com/kiat-sukses/tanaman-kailan-digemari-wisatawan. Diakses pada tanggal 14 November 2010.

http://langit-langit.commod.php?mod=diskusi&op=90. 2009. Fungsi unsur hara makro (N-P-K). diakses pada tanggal 14 November 2010.

Kartasapoetra., A. G. dan Sutedjo. 2000. Pupuk dan cara pemupukannya. Rieneka cipta. Jakarta.

Marsono, P. L. 1998. Petunjuk penggunaan pupuk. Penebar Swadaya. Jakarta.

Novizan, 2007. Petunjuk pemupukan yang efektif. Agromedia. Jakarta.

Nyakpa, M. Y., A. M. Lubis., Mamat. A. P., A. G. Amran., Ali. M., G. B. Hong., dan N. Hakim. 1988. Kesuburan Tanah. Penerbit Unversitas Lampung. Lampung.

Noggle, Ray, R dan Fritzs, J. George. 1979. Introductor Plant Physiology. New Delhi : Mall of India Private Ilmited.
Rosmarkam, A dan N. W. Yuwono. 2002. Ilmu kesuburan tanah. Kanisius. Yogyakarta.

Rubatzky, V. E. dan M. Yamaguchi, 1995. Sayuran Dunia. ITB-Press. Bandung.

Rukmana, R. 2008. Kubis Bungan & Broccoli. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.

Subekti, et, al. 2009. morfologi tanaman dan fase pertumbuhan sawi. diakses dari situs http://balitsereal.litbang.deptan.go.id/bjagung/e patpdf. pada tanggal 03 Mei 2009.

Sunarjono, H. H. 2008. Bertanam 30 Jenis Sayur. Penebar Swadaya. Jakarta.
Splittstoesser, W. E., 1984. Vegetable Growing Handbook. Van Nostrand Reinhold Company, New York.

Tim Penulis PS. 1993. Sayur Komersil. Penebar Swadaya. Jakarta.

TANGGAP PERTUMBUHAN TANAMAN SAWI (Brassica juncea L.) VARIETAS TOSAKAN TERHADAP PEMBERIAN BERBAGAI DOSIS PUPUK UREA DAN TSP

ABSTRACT

The objective of this experiment was to know growth response of sawi crop (Brassica juncea L.) tosakan variaty to gift various doses fertilizers urea and TSP. The experiment was conducted in Teknologi Budidaya Tanaman Hortikultura Laboratory Land, Agriculture Faculty, North Sumatera University with altitude ± 25 m above sea level, from October until November 2010. The experiment used Randomized Complete Block Design (RAK) with 2 factors and 4 replications. The first factor was urea fertilizer, 0 g, 10 g, 20 g, and 30 g. The second one was TSP fertilizer, 0 g, 10 g, 20 g, and 30 g. The experiment result showed that urea and TSP gave significant effect of growth of sawi.

Key words : urea, TSP, sawi

ABSTRAK

Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui tanggap pertumbuhan tanaman sawi (Brassica juncea L.) varietas tosakan terhadap pemberian berbagai dosis pupuk urea dan TSP. Percobaan ini dilaksanakan di lahan percobaan Laboratorium Teknologi Budidaya Tanaman Hortikultura pada ketinggian tempat ± 25 m di atas permukaan laut, mulai dari Oktober sampai dengan November 2010 dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 2 faktor perlakuan dan 4 ulangan. Faktor I adalah faktor pupuk urea, yaitu 0 g, 10 g, 20 g, dan 30 g. Faktor II adalah faktor pupuk TSP, yaitu 0 g, 10 g, 20 g, dan 30 g. Hasil percobaan menunjukan bahwa pupuk urea dan pupuk TSP berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan sawi.

Kata kunci: pupuk urea, pupuk TSP, sawi

RIWAYAT HIDUP
Firlana lahir di Medan, 26 Oktober 1989. Anak dari Bapak
Budianto dan Ibu Poniah. Anak ke 3 dari 7 bersaudara.
Adapun pendidikan yang pernah ditempuh adalah:
SD NEGERI 117860 PATOK BESI tamat tahun 2003
SMP NEGERI 1 AEK KUO tamat tahun 2005
SMA NEGERI 1 MERBAU tamat tahun 2008
Pada tahun 2008 dan sampai saat ini masih terdaftar sebagai mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan Program Studi Ilmu Tanah melalui jalur SNMPTN pilihan kedua.

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan YME karena atas berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan laporan ini tepat pada waktunya.
Adapun judul dari laporan ini adalah “TANGGAP PERTUMBUHAN TANAMAN SAWI (Brassica juncea L.) VARIETAS TOSAKAN TERHADAP PEMBERIAN BERBAGAI DOSIS PUPUK UREA DAN TSP”. Laporan ini merupakan salah satu syarat untuk dapat mengikuti praktikal tes di Laboratorium Teknologi Budidaya Tanaman Hortikultura Departemen Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada
Ir. Hj. Sabar Ginting, MS., Ir. Jasmani Ginting, MP., Ir. Asil Barus, MS.,
Ir. Mariati Sinuraya, MSc., Ir. Rosita Sipayung, MP. selaku dosen pengajar mata kuliah Teknologi Budidaya Tanaman Hortikultura dan kepada asisten-asisten yang telah banyak memembantu dalam penulisan laporan ini.
Penulis menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun.
Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih, semoga laporan ini bermanfaat bagi kita semua.
Medan, November 2010

Penulis
DAFTAR ISI

ABSTRAK i
ABSTRACT ii
RIWAYAT HIDUP iii
KATA PENGANTAR iv
DAFTAR ISI v
DAFTAR TABEL vii
DAFTAR GAMBAR viii
DAFTAR LAMPIRAN ix
PENDAHULUAN
Latar Belakang 1
Tujuan Percobaan 2
Hipotesis Percobaan 2
Kegunaan Percobaan 3
TINJAUAN PUSTAKA
Botani Tanaman 4
Syarat Tumbuh 5
Iklim 5
Tanah 5
Pupuk Urea 6
Pupuk TSP 6
METODE PERCOBAAN
Lokasi dan Waktu 8
Bahan dan Alat 8
Metode Percobaan 9
Persiapan Lahan 10
Persemaian 10
Aplikasi Pupuk Dasar 11
Penanaman 11
Penjarangan Tanaman 11
Aplikasi Pupuk Urea dan TSP 11

PEMELIHARAAN TANAMAN
Penyiraman 13
Penyiangan 13
Penyulaman 13
Pengendalian Hama dan Penyakit 13
Panen 13
PARAMETER YANG DIUKUR
Tinggi Tanaman (cm) 14
Jumlah Daun (helai) 14
Bobot Biomassa Per Tanaman Sampel (g) 14
Bobot Segar Jual Per Tanaman Sampel (g) 14
Indeks Panen (g) 14
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil 15
Pembahasan 18
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan 19
Saran 19
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

DAFTAR TABEL

No. Tabel Hal
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9. Tinggi Tanaman 2 MST (cm).
Tinggi Tanaman 3 MST (cm).
Tinggi Tanaman 4 MST (cm).
Jumlah Daun 2 MST (helai)
Jumlah Daun 3 MST (helai)
Jumlah Daun 4 MST (helai)
Bobot biomassa pertanaman sampel (gr)
Bobot segar jual pertanaman sampel (gr)
Indeks panen

16
17
17
19
19
19
20
21
22

DAFTAR GAMBAR

No. Gambar Hal
1.
2.
3
4. Lahan
plank
praktikan di lahan
plot dan tanaman
30
30
30
31

DAFTAR LAMPIRAN

No. Lampiran Hal.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14. Jumlah Daun Tanaman 2 MST 32
Sidik Ragam 32
Jumlah Daun Tanaman 3 MST 33
Sidik Ragam 33
Jumlah Daun Tanaman 4 MST 34
Sidik Ragam 34
Tinggi Tanaman 2 MST 35
Sidik Ragam 35
Tinggi Tanaman 3 MST 36
Sidik Ragam 36
Tinggi Tanaman 4 MST 37
Sidik Ragam 37
Produksi Per Plot (Kg) 38
Sidik Ragam 38

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Sawi merupakan tanaman semusim. Bentuknya hampir menyerupai caisim. Sawi dan Caisim kadang sukar dibedakan. Sawi berdaun lonjong, halus tidak berbulu dan tidak berkrop. Kedua jenih sayuran ini dapat disilangkan (kawin silang). Tanaman sawi mempunyai batang pendek dan lebih langsing dari batang petsai. Urat daun uatama lebih sempit daripada petsai, tetapi daunnya lebih liat. Pada umumnya pola daunnya berserak (roset) hingga sukar membentuk krop (Fitter dan Hay, 1991).

Pupuk Nitrogen cukup banyak perannya namun kalau diamati di pasaran tidak semua pupuk tersedia dan dijual. Hal ini erat kaitannya dengan kebiasaan petani dalam penggunaannya. Umunya petani hanya memiliki Urea dan ZA sehingga tentu saja pedagang pupuk tidak akan menjual puuk lain, selain dari Urea dan ZA (Marsono, 1998).

Di dalam tanaman Fosfor merupakan unsur yang mobil dan bilaman terjadi kekurangan unsur ini pada suau tanaman maka Fosfor pada jaringan-jaringan tua akan di translokasikan ke jaringan yang masih efektif. Apabila terjadi kekurangan unsur Fosfor akan menghambat pertumbuhan tanaman (Hakim, dkk., 1986).

Tanaman menyerap sulfur dalam bentuk ion silfat (SO42-) yang tidak banyak terdapat dalam tanah mineral. Karena bermuatan negatif ion sulfat mudajh hilang dari daerah perakaran karena tercuci oleh aliran air. Kususnya terjadi pada tanah berpasir. Sebagian besar sulfur di dalam tanah berasal dari bahan organik yang telah terdekomposisi, sulfur elemental (bubuk/batu belerang) dari aktivitas vulkanis dan partikel dari cerobong asap pabrik yang terbawa ketanah oleh hujan (Novizan, 2007).
Tujuan Percobaan
Tujuan percobaan ini adalah untuk mengetahui pengaruh dosis pemberian pupuk Nitrogen dan Posfor terhadap pertumbuhan tanaman Sawi (Brassica juncea L.).

Hipotesa Percobaan
• Adanya pengaruh dosis pemberian pupuk Nitrogen terhadap pertumbuhan tanaman Sawi (Brassica juncea L.).
• Adanya pengaruh dosis pemberian pupuk Posfor terhadap pertumbuhan tanaman Sawi (Brassica juncea L.).
• Adanya interaksi antara dosis pemberian pupuk Nitrogen dan Posfor terhadap pertumbuhan tanaman Sawi (Brassica juncea L.).

Kegunaan Percobaan
• Sebagai salah satu syarat untuk dapat mengikuti praktikal test di Laboratorium Teknologi Budidaya Tanaman Hortikultura Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.
• Sebagai bahan informasi bagi pihak-pihak yang membutuhkan.

TINJAUAN PUSTAKA
Botani Tanaman
Menurut Rubatzky dan Yamaguchi (1995) sistematika tanaman Sawi (Brassica juncea L.) antara lain:
Kingdom : Plantae
Divisio : Spermatophyta
Sub-divisio : Angiospermae
Class : Dicocotyledoneae
Ordo : Papaforales
Family : Cruciveraceae
Genus : Brassica
Species : Brassica juncea L.
Tanaman sawi mempunyai akar tunggang dengan akar samping yang banyak tetapi tetap dangkal. System perakaran tanaman sawi ini relative dangkal yakni menembus pada kedalaman tanah antara 20 – 30 cm (http://id.wikipedia.org, 2008).
Batang tanaman sawi umumnya pendek, langsing dan banyak mengandung air. Disekeliling batang hingga titik tumbuh terdapat helai daun yang bertangkai pendek (Subekti, et al., 2009).
Sawi berdaun lonjong, halus. Tidak berbulu, dan tidak memiliki krop.urat daun utamanya lebih sempit daripada urat daun petsai, tetapi tekstur daunnya lebih liat dari petsai. Pada umumnya pola pertumbuhan daunnya berserak (roset) hingga sukar membentuk krop (Devlin, 1975).
Struktur bunga sawi terdiri dari 4 helai daun kelopak berwarna hijau, 4 helai daun mahkota berwarna kuning, 4 helai benang sari bertangkai panjang, 2 helai benang sari bertangkai pendek dan satu buah putik yang beruang 2. selam 1-2 bulan tanaman sawi dapat berbunga terus dan jumlah bunga yang dihasilkan mencapai lebih dari 500 kuntum. Tanaman sawi termasuk mudah sekali kawin silang, tetapi sukar untuk mengadakan peniyerbukan sendiri (Tim penulis, 1993).
Buah-buah sawi berbentuk polong, panjang dan ramping berisi biji. Biji-bijinya bulat kecil berwarna coklat sampai kehitam-hitaman. Biji-biji inilah yang digunakan sebagai bahan perbanyakan tanaman sawi (Sunarjono, 2008).
Biji tanaman sawi berbentuk bulat dengan ukuran yang sangat kecil. Biji tanaman sawi berwarna kehitaman, dalam 1 bunga terbentuk berpuluh-puluh biji (Rubatzky dan Yamaguchi, 1997).
Syarat Tumbuh
Iklim
Sawi dapat ditanam di dataran tinggi maupun dataran rendah. Akan tetapi, umumnya sawi diusahalan orang di dataran rendah, yaitu di pekarangan, di ladang atau disawah, jarang diusahakan di daearah pegunungan (http://www.tanindo.com, 2009).
Sawi termasuk tanaman sayuran yang tahan terhadap hujan. Sehingga, ia dapat ditanam di sepanjang tahun, asalkan pada saat musim kemarau disediakan air yang cukup untuk penyiraman (Fisher and Goldsworthy, 1992).

Pada mulanya sawi dikenal sebagai sayuran daerah dingin (sub tropis, sehingga di Indonesia cocok ditanam didataran tinggi antara 1000 – 3000 m dpl yang suhu udaranya dingin dan lembab. Kisaran kelembban antara 80 – 90% (Splittstoesser, 1984).
Tanaman sawi dapat tumbuh baik di tempat yang berhawa panas maupun berhawa dingin, sehingga dapat diusahakan dari dataran rendah sampai dataran tinggi.Pada kenyataannya hasil yang diperoleh lebih baik di dataran tinggi pertumbuhan yang optimal pada kisaran suhu 160C-18,50C. Tanaman tidak tumbuh baik apabila suhu maksimum 27- 290C dan suhu minimum 6- 80C. Sayuran dataran tinggi memiliki penyesuaian yang baik dengan dataran rendah (Noggle dan Fritzs, 1979).
Tanah
Keadaan tanah yang dikehendaki adalah tanah gembur, banyak mengandung humus, dan drainase baik dengan derajat kemasaman tanahnya (pH) berkisar antara 6-7 (Tim Penulis, 1993).
Adapun syarat-syarat penting bertanam sawi adalah tanahnya gembur, banyak menagndung humus (subur), drainaenya baik dan pH tanah nya ssekitar 6-7. waktu tanam yang baik adalah pada akir musim huan (Maret) (Sunarjono, 2008).
Tanah yang cocok pada tanaman sawi adalah tanah latosol, andosol dan regosol. Derajat kemasaman tanah (pH) yang cocok untuk tanaman sawi adalah 6-7 dan kandungan air tanah yang dibutuhkan adalah air tersedia. Dalam pertumbuhannya tanaman sawi membutuhkan kandungan air tanah yang cukup (http://www.tanindo.com, 2009).
Pupuk Nitrogen
Ditinjau dari segi fisiologinya Nitrogen mempunyai peranan antara lain: 1. reduksi metabolik nitrat dan asimilasi amonia. Nitrogen yang tersedia dalam tanah yang dapat diserab oleh akar tanaman ialah dalam bentuk ion-ion nitrat. Asimilasi amonia pada sebagian besar tanaman menjadi asam glutamat (Glutamic acid) (Nyakpa, dkk., 1988).

Fungsi Nitrogen yang selengkapnya bagi tanaman adalah sebagai berikut: untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman, dapat menyehatkan pertumbuhan daun, meningkatkan kadar protein dalam tubuh tanaman, meningkatkan kualitas tanaman penghasil daun, meningkatkan perkembangan mikroorganisme dalam tanah (Kartasapoetra dan Sutedja, 2000).

Tanaman akan tumbuh dengan lambat bilamana kekurangan Nitrogen, tampak kurus, kerdil dan berwarna pucat dibanding dengan tanaman sehat. Kekurangan Nitrogen membatasi produksi protein dan bahan-bahan penting lainnya dalam pembentukan sel-sel baru. Kecepatan pertumbuhan tanaman berjalan proporsional dengan suplai Nitrogen (Hasibuan, 2008).

Pupuk Fosfor
Peran pupuk Fosfor untuk tanaman antara lain : dapat mempercepat dan memperkuat pertumbuhan tanaman muda menjadi tanaman muda pada umumnya. Dapat mempercepat pembungaan dan pemasakan buah, biji atau gabah, dapat meningkatkan produksi biji-bijian (http://langit-langit.commod, 2009).

Di dalam tanah, fungsi Fosfor terhadap tanaman adalah sebagai zat pembangun dan terikat dalam senyawa-senyawa organis dengan demikian adalah statis, hanya sebagian kecil saja yang tersedia dalam bentuk anorganis sebagai ion-ion fosfat, sebagai bahan pembentuk pospor yang terpencar-pencar dalam tubuh tanaman (Rosmarkam dan Yuwono, 2002).

Di dalam tanaman Fosfor merupakan unsur yang mobil dan bilaman terjadi kekurangan unsur ini pada suau tanaman maka Fosfor pada jaringan-jaringan tua akan di translokasikan ke jaringan yang masih efektif. Apabila terjadi kekurangan unsur Fosfor akan menghambat pertumbuhan tanaman dan gejalanya sulit diketahui sebagaimana gejala-gejala yang kelihatan pada tanaman-tanaman yang kurang unsur Nitrogen dan Kalium (Buckman dan Brady, 1982).

BAHAN DAN METODE
Tempat dan Waktu Percobaan
Percobaan ini dilakukan di Lahan Percobaan Teknologi Budidaya Tanaman Hortikultura Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan. Dengan ketinggian tempat ±25m dpl. Percobaan ini dimulai pada bulan Oktober 2010 sampai dengan November 2010.

Bahan dan Alat
Adapun bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah benih Sawi (Brassica juncea L.) sebagai objek percobaan, pupuk Nitrogen dan Posfor.

Adapun alat yang digunakan pada percobaan ini adalah cangkul untuk mencangkul tanah dan membersihkan tanah (lahan) dari gulma, gembor untuk menyiram tanaman, kalkulator untuk menghitung data, alat tulis untuk mencatat data, meteran untuk mengukur tinggi tanaman, jangka sorong untuk mengukur diameter batang, plastik untuk memungut hasil panen.

Metode Percobaan
Percobaan dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan dua Faktor perlakuan, yaitu:
Faktor I : pemberian pupuk Nitrogen yang terdiri dari 4 perlakuan, yaitu:
N0 : 0 gr/ tanaman
N1 : 1 gr/ tanaman
N2 : 2 gr/ tanaman
N3 : 3 gr/ tanaman
Faktor II : pemberian pupuk Posfor yang terdiri dari 4 perlakuan:
P0 : 0 gr/ tanaman
P1 : 1 gr/ tanaman
P2 : 2 gr/ tanaman
P3 : 3 gr/ tanaman
Sehingga diperoleh 12 kombinasi perlakuan sebagai berikut:
N0PO N0PI N0P2 N0P3
N1P0 NIP1 N1P2 N1P3
N2P0 N2P1 N2P2 N2P3
N3P0 N3P1 N3P2 N3P3
Jumlah plot : 41
Jumlah tanaman / plot : 25
Jumlah tanaman seluruhnya : 1025
Jumlah tanaman sampel/plot : 5
Ukuran plot : 200 cm x 150 cm
Jarak tanam : 40 cm x 30 cm
Dari hasil percobaan dianalisis sidik ragam rancang acak kelompok (RAK) dengan model linier sebagai berikut:
Y ijk = µ + ρi + αj + βk + (αβ)jk + εijk
Dimana ;
Y ijk :nilai pengamatan pada blok ke-i, persilangan ke-j, dan varietas ke-k.
µ : nilai tengah
ρi : efek blok ki-i
αj : efek persilangan ke-j
Βk : efek varietas ke-k
(αβ)jk : efek persilangan ke-j dan varietas ke-k
Εijk :efek eror yang disebabkan oleh blok ke-i, persilangan ke-j, varietas ke-k.

PELAKSANAAN PERCOBAAN
Persemaian
Sebelum ditanam di lapangan, sawi terlebih dahulu harus disemaikan. Persemaian dilakukan dikotak persemaian. Umu persemaian tanaman berusia 2 minggu setelah itu baru di tanam di lapangan.

Persiapan Lahan
Lahan percobaan terlebih dahulu dibersihkan dari gulma dan sisa-sisa tanaman dengan menggunakan cangkul. setelah itu dilakukan penggemburan dan selanjutnya pembuatan plot-plot percobaan sesuai dengan ukuran plot yang telah ditentukan dan setip pinggir plot dibuat parit keliling sebagai drainase. Petak plot dengan ukuran 2m × 1,5m dan dibuat parit pemisah antar blok dan plot sebagai drainase dengan lebar 50 cm.

Penanaman
Penanaman dilakukan setelah tanaman berumur 3-4 minggu sejak biji disemaikan. Jarak tanam yang digunakan 40cm x 30cm. Kegiatan penanaman dilakukan pada saat sore hari.

Pemupukan
Pupuk kompos diberikan pada saat pengolahan lahan atau sebagai pupuk dasar. Setelah tanaman berusia 2 bulan dilakukan pemupukan susulan urea dan TSP.
Pemeliharaan
Penyiraman
Setelah tanaman dipindahkan ke lapangan, penyiraman dilakukan dengan menggunakan gembor. Penyiraman sesuai dengan kondisi di lapangan.

Penyulaman
Penyulaman dilakukan apabila di lapangan tampak ada tanaman yang mati atau pertumbuhannya kurang sempurna. Hal ini dilakukan seminggu setelah tanaman ditanam agar diperoleh pertumbuhan yang serentak.

Penyiangan
Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Kegiatan ini dilakukan dua minggu sekali.

Pengamatan Parameter
Tinggi Tanaman (cm)
Tinggi tanaman diukur mulai dari pangkal batang bawah hingga ujung. Pengukuran mulai dilakukan setiap minggunya hingga akar masa vegetatif tanaman.

Jumlah Daun (Helai)
Jumlah daun dihitung tiap minggu mulai 2 MST. Dilakukan setiap minggunya hingga akar masa vegetatif tanaman.

Berat Basah Tanaman (gr)
Berat basah tanaman dihitung pada semua tanaman sampel, perhitungan dilakukan pada saat pemanenan.

Indeks Panen (gr)
Produksi per sampel dihitung pada semua tanaman sampel, perhitungan dilakukan pada saat pemanenan.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
1. Tinggi Tanaman (cm)
Data rataan tinggi tanaman dapat dilihat pada lampiran pengamatan 2 MST, 3 MST dan 4 MST.
Dari pengamatan data rataan tinggi tanaman, diperoleh bahwa perlakuan pemberian pupuk Urea dan TSP berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman 2 MST sampai 4 MST.
Data pengaruh pemberian pupuk Urea dan TSP terhadap tinggi tanaman dapat dilihat pada tabel 1 di bawah ini.
Tabel 1.Rataan Tinggi Tanaman 2 MST

Dari data tabel 1 diperoleh grafik seperti terlihat dibawah ini.
Grafik 1. Grafik Tinggi Tanaman (cm) 2 MST terhadap Nitrogen.

Grafik 2. Rataan Tinggi Tanaman (cm) pada 2 MST Terhadap Nitrogen dan Phospor.

Tabel 2. Rataan Tinggi Tanaman 3 MST

Grafik 3. Rataan Tinggi Tanaman (cm) pada 3 MST Terhadap Nitrogen

Grafik 4. Rataan Tinggi Tanaman (cm) pada 3 MST Terhadap Nitrogen dan Phospor.

Tabel 3. Rataan Tinggi Tanaman 4 MST

Grafik 5. Rataan Tinggi Tanaman (cm) pada 4 MST Terhadap Nitrogen

Grafik 6. Rataan Tinggi Tanaman (cm) pada 4 MST Terhadap Nitrogen dan pospor

Dari data pengaruh pemberian pupuk Urea dan TSP terhadap tinggi tanaman diperoleh bahwa rata-rata tinggi tanaman tertinggi pada 2 MST yaitu pada perlakuan N1P3 sebesar 31,63 cm dan terendah pada perlakuan N2P3 sebesar 19,64 cm. Rata-rata tinggi tanaman tertinggi pada 3 MST yaitu pada perlakuan N2P2 sebesar 36,85 cm dan terendah pada perlakuan N2P0 sebesar 22,34 cm. Rata-rata tinggi tanaman tertinggi pada 4 MST yaitu pada perlakuan N1P0 sebesar 43.05 cm dan terendah pada perlakuan N2P 0sebesar 24,94 cm.
2. Jumlah Daun (helai)
Data rataan jumlah daun dapat dilihat pada lampiran pengamatan 2 MST, 3 MST dan 4 MST.
Dari pengamatan data rataan jumlah daun, diperoleh bahwa perlakuan pemberian pupuk Urea dan TSP berpengaruh nyata terhadap jumlah daun 2 MST, 3 MST dan 4 MST.
Data pengaruh pemberian pupuk Urea dan TSP terhadap jumlah daun dapat dilihat pada tabel 4 di bawah ini.
Tabel 4.Rataan Jumlah Daun 2 MST.

Tabel 5.Rataan Jumlah Daun 3 MST.

Tabel 6.Rataan Jumlah Daun 4 MST.

Dari data pengaruh pemberian pupuk urea dan TSP terhadap jumlah daun diperoleh bahwa rata-rata tinggi tanaman tertinggi pada 2 MST yaitu pada perlakuan N3P2 sebesar 7,50 dan terendah pada perlakuan N0P2 sebesar 4,93. Rata-rata jumlah daun tertinggi pada 3 MST yaitu pada perlakuan N3P2 sebesar 9,07 dan terendah pada perlakuan N0P2 sebesar 5,67. Rata-rata jumlah daun tertinggi pada 4 MST yaitu pada perlakuan N0P0 sebesar 10,50 dan terendah pada perlakuan N2P3 sebesar 7.80.

3. Bobot Biomassa Per Tanaman Sampel (g)
Data bobot biomassa per sampel dapat dilihat pada lampiran pengamatan produksi per sampel.
Dari pengamatan data bobot biomassa per sampel diperoleh bahwa perlakuan pemberian pupuk Urea dan TSP berpengaruh nyata terhadap produksi persampel.
Data pengaruh pemberian pupuk Urea dan TSP terhadap bobot biomassa per sampel dapat dilihat pada tabel 7 di bawah ini.
Tabel 7. Pengaruh pemberian pupuk Urea dan TSP terhadap bobot biomassa per sampel

Grafik 7. Rataan Bobot Biomassa (gr) Terhadap Phospor.

Grafik 8. Rataan Bobot Biomassa (gr) Terhadap Nitrogen dan Phospor.

Dari data produksi persampel diperoleh bahwa rata-rata bobot biomassa per sampel tertinggi yaitu pada perlakuan N3P1 sebesar 269,67 g dan terendah pada perlakuan N3P2 yaitu sebesar 83,00 g.
4. Bobot Segar Jual Per Tanaman Sampel (g)
Data Bobot Segar Jual Per Tanaman Sampel dapat dilihat pada lampiran pengamatan produksi per sampel.
Dari pengamatan data Bobot Segar Jual Per Tanaman Sampel diperoleh bahwa perlakuan pemberian pupuk urea dan TSP berpengaruh nyata terhadap produksi persampel.
Data pengaruh pemberian pupuk urea dan TSP terhadap bobot supertopdapat dilihatpada tabel 8 di bawah ini.
Tabel 8.Rataan Bobot Segar Jual (gr)

Grafik 9. Rataan Bobot Segar Jual (gr) Phospor.

Grafik 10. Rataan Bobot Segar Jual (gr) Terhadap Nitrogen dan Phospor.

Dari data Bobot Segar Jual Per Tanaman Sampel bahwa Bobot Segar Jual Per Tanaman Sampel tertinggi yaitu pada perlakuan N3P1 sebesar 217,33 g dan terendah pada perlakuan N3P2 yaitu sebesar 70,33 g.

5. Indeks Panen
Dari pengamatan data indeks panen diperoleh bahwa perlakuan pemberian pupuk Urea dan TSP berpengaruh nyata terhadap indeks panen.
Data pengaruh pemberian pupuk Urea dan TSP terhadap indeks panen dapat dilihat pada tabel 9 di bawah ini.
Tabel 9.Rataan Pengaruh pemberian pupuk Urea dan TSP terhadap indeks panen

Grafik 11. Rataan indeks panen (gr) Phospor.

Grafik12. Rataan indeks panen (gr) Terhadap Nitrogen dan Phospor.

Dari data indeks panen bahwa indeks panen tertinggi yaitu pada perlakuan N0P1 sebesar 0,91 dan terendah pada perlakuan N3P0 yaitu sebesar 0,47.
Pembahasan
Berdasarkan hasil percobaan diperoleh bahwa pemberian pupuk Urea berpengaruh tidak nyata terhadap jumlah daun 2, 3 dan 4 MST serta berpengaruh tidak nyata terhadap tinggi tanaman 2 MST, sangat nyata terhadap tinggi tanaman 3 dan 4 MST dan nyata terhadap produksi per sampel. Rata-rata tinggi tanaman tertinggi pada 4 MST yaitu pada perlakuan N1P0 sebesar 43,05 cm dan terendah pada perlakuan N2P0 sebesar 24.94 cm. Dalam perlakuan ini di gunakan pupuk urea sebagai tambahan unsur hara untuk tanaman karena memiliki banyak keuntungan. Hal ini sesuai dengan literatur Marsono dan Sigit (2000) yang menyatakan bahwa keuntungan menggunakan urea adalah mudah diserap tanaman. Selain itu kandungan N yang tinggi pada urea sangat dibutuhkan pada pertumbuhan awal tanaman. Kekurangannya bila dimasukkan ke dalam tanah yang miskin hara akan berubah ke wujud atau bahan awalnya, yakni ammonia dan karbondioksida yang mudah menguap. Selain itu, kedua gas tersebut mudah tercuci oleh air hujan atau irigasi.
Berdasarkan hasil percobaan diperoleh bahwa pemberian pupuk Urea dan TSP berpengaruh tidak nyata terhadap jumlah daun 2, 3 dan 4 MST serta tinggi tanaman 2 MST, 3 MST dan 4 MST. Dapat dilihat data rataan jumlah dauntertinggi pada 4 MST yaitu pada perlakuan N0P0 sebesar 10,50 dan terendah pada perlakuan N2P3 sebesar 7.80. Hal ini mungkin dikarenakan dosis pupuk yang digunakan belum tepat, pemberiannya tidak merata dan adanya faktor yang mendukung pertumbuhan seperti curah hujan dan sinar matahari serta kelembaban udara. Hal ini sesuai dengan pendapat Haryanto dkk (1994) yang mengemukakan bahwa tanaman sawi memerlukan udara yang sejuk, maka tanaman sawi akanlebih cepat berkembang jika ditanam pada daerah yang kelembabannya tinggi. Akan tetapi, tanaman sawi juga tidak menyukai air yang menggenang, sehingga tanaman sawi cocok ditanam pada akhir musm penghujan.
Berdasarkan hasil percobaan diperoleh bahwa pemberian pupuk Urea dan TSP Dari pengamatan data bobot biomassa per sampel diperoleh bahwa perlakuan pemberian pupuk Urea dan TSP berpengaruh nyata terhadap produksi persampel. Dari data produksi persampel diperoleh bahwa rata-rata bobot biomassa per sampel tertinggi yaitu pada perlakuan N3P1 sebesar 269,67 g dan terendah pada perlakuan N3P2 yaitu sebesar 83.00 g. Hal ini mungkin disebabkan karena pemberian pupuk fosfor dan pupuk Nitrogen yang baik untuk bisa merangsang pertumbuh akar sehingga dapat menghasilkan bobot biomassa yang tinggi. Hal ini sesuai dengan literatur Rinsema(1993) yang mengatakan bahwa nitrogen ditinjau dari berbagai sudut, mempunyai pengaruh positif, yaitu berpengaruh besar dalam menaikkan potensi pembentukan daun-daunan ranting, mempunyai pengaruh positif terhadap kadar protein pada rumput dan tanaman makanan ternak lainnya dan berpengaruh pada berbagai tanaman seperti menaikkan kadar protein pada butir gandum yang menyebabkan kenaikan volume butir.
Dari pengamatan data Bobot Segar Jual Per Tanaman Sampel diperoleh bahwa perlakuan pemberian pupuk Urea dan TSP berpengaruh nyata terhadap produksi persampel. Dari data Bobot Segar Jual Per Tanaman Sampel bahwa Bobot Segar Jual Per Tanaman Sampel tertinggi yaitu pada perlakuan N3P21 sebesar 217.33 g dan terendah pada perlakuan N2P0 yaitu sebesar 86.67 g. Hal ini mungkin disebabkan karena pemberian pupuk fosfor dan pupuk Nitrogen yang baik untuk bisa merangsang pertumbuh akar sehingga dapat menghasilkan bobot biomassa yang tinggi. Hal ini sesuai dengan literatur Rinsema(1993) yang mengatakan bahwa nitrogen ditinjau dari berbagai sudut, mempunyai pengaruh positif, yaitu berpengaruh besar dalam menaikkan potensi pembentukan daun-daunan ranting, mempunyai pengaruh positif terhadap kadar protein pada rumput dan tanaman makanan ternak lainnya dan berpengaruh pada berbagai tanaman seperti menaikkan kadar protein pada butir gandum yang menyebabkan kenaikan volume butir
Dari pengamatan data indeks panen diperoleh bahwa perlakuan pemberian pupuk Urea dan TSP berpengaruh nyata terhadap indeks panen. Dari data indeks panen bahwa indeks panen tertinggi yaitu pada perlakuan N0P1 sebesar 0,91 dan terendah pada perlakuan N3P0 yaitu sebesar 0,47. Dari hal ini dapat dilihat bahwa indeks panennya tidak seimbang. Mungkin karena kekurangan unsur hara lain yang tidak ada pada pupuk kimia. Hal ini sesuai dengan literatur Hardjowigeno (1987) yang mengemukakan bahwa selain pemberian pupuk organik, pemberian pupuk urea sebagai sumber hara N merupakan usaha yang banyak dilakukan dalam meningkatkan produktivitas sayuran khususnya kacang panjang. Pupuk urea sebagai sumber hara N dapat memperbaiki pertumbuhan vegetatif tanaman, dimana tanaman yang tumbuh pada tanah yang cukup N, berwarna lebih hijau.

KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
1. Dari pengamatan data rataan tinggi tanaman, diperoleh bahwa perlakuan pemberian pupuk Urea dan TSP belum berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman 2 MST dan berpengaruh sangat nyata terhadap tinggi tanaman 3 serta 4 MST dengan rataan tinggi tanaman tertinggi pada 4 MST yaitu pada perlakuan N1P0 sebesar 43,05 cm dan terendah pada perlakuan N2P0 sebesar 24.94 cm.
2. Dari pengamatan data rataan jumlah daun, diperoleh bahwa perlakuan pemberian pupuk Urea dan TSP belum berpengaruh nyata terhadap jumlah daun 2 MST, 3 MST dan 4 MST dengan rata-rata jumlah daun tertinggi pada 4 MST yaitu pada perlakuan N0P0 sebesar 10,50 dan terendah pada perlakuan N2P3 sebesar 7.80.
3. Dari pengamatan data bobot biomassa per sampel diperoleh bahwa perlakuan pemberian pupuk Urea dan TSP berpengaruh nyata terhadap produksi persampel dengan rata-rata bobot biomassa per sampel tertinggi yaitu pada perlakuan N3P1 sebesar 269,67 g dan terendah pada perlakuan N3P2 yaitu sebesar 83.00 g.
4. Dari pengamatan data Bobot Segar Jual Per Tanaman Sampel diperoleh bahwa perlakuan pemberian pupuk Urea dan TSP berpengaruh nyata terhadap produksi persampel dengan Bobot Segar Jual Per Tanaman Sampel tertinggi yaitu pada perlakuan N3P21 sebesar 217.33 g dan terendah pada perlakuan N2P0 yaitu sebesar 86.67 g.
5. Dari pengamatan data indeks panen diperoleh bahwa perlakuan pemberian pupuk Urea dan TSP berpengaruh nyata terhadap indeks panen dengan indeks panen tertinggi yaitu pada perlakuan N0P1 sebesar 0,91 dan terendah pada perlakuan N3P0 yaitu sebesar 0,47.
Saran
Supaya dalam pemberian pupuk harus sesuai dosis. Kelebihan pemberian pupuk mengakibatkan tanaman berwarna kuning dan bisa juga menyebabkan kematian tanaman. Tanaman jadi rusak apabila penggunaan pupuk tidak tepat dosis.

DAFTAR PUSTAKA
Buckman, H. O. dan N. C. Brady. 1982. Ilmu tanah. Terjemahan Prof. Dr. Soegiman. Penerbit Bhratara Karya Aksara. Jakarta.
Devlin, Robert M. 1975. Plant Physiology Third Edition. New York : D. Van
Nostrand.
Fitter , A. H, dan Hay, R. K. M., 1991. Fisiologi Lingkungan Tanaman. Diterjemahkan Oleh S. Andani dan E. D. Purbayanti. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Fisher, N. M. and Goldsworthy, P. R., 1992. Fisiologi Tanaman Budidaya Tropik. Diterjemahkan oleh Tohari. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Hakim, N., M. N. Nyakpa., A. M. Lubis., S. G. Nugroho., M. A. Diha., G. B. Hong dan H. H. Bailey. 1986. Dasar-dasar ilmu tanah. Penerbit Universitas Lampung. Lampung.

Hasibuan, B. E. 2008. Pupuk dan pemupukan. FP USU. Medan.

http://bangkittani.com/kiat-sukses/tanaman-kailan-digemari-wisatawan. Diakses pada tanggal 14 November 2010.

http://langit-langit.commod.php?mod=diskusi&op=90. 2009. Fungsi unsur hara makro (N-P-K). diakses pada tanggal 14 November 2010.

Kartasapoetra., A. G. dan Sutedjo. 2000. Pupuk dan cara pemupukannya. Rieneka cipta. Jakarta.

Marsono, P. L. 1998. Petunjuk penggunaan pupuk. Penebar Swadaya. Jakarta.

Novizan, 2007. Petunjuk pemupukan yang efektif. Agromedia. Jakarta.

Nyakpa, M. Y., A. M. Lubis., Mamat. A. P., A. G. Amran., Ali. M., G. B. Hong., dan N. Hakim. 1988. Kesuburan Tanah. Penerbit Unversitas Lampung. Lampung.

Noggle, Ray, R dan Fritzs, J. George. 1979. Introductor Plant Physiology. New Delhi : Mall of India Private Ilmited.
Rosmarkam, A dan N. W. Yuwono. 2002. Ilmu kesuburan tanah. Kanisius. Yogyakarta.

Rubatzky, V. E. dan M. Yamaguchi, 1995. Sayuran Dunia. ITB-Press. Bandung.

Rukmana, R. 2008. Kubis Bungan & Broccoli. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.

Subekti, et, al. 2009. morfologi tanaman dan fase pertumbuhan sawi. diakses dari situs http://balitsereal.litbang.deptan.go.id/bjagung/e patpdf. pada tanggal 03 Mei 2009.

Sunarjono, H. H. 2008. Bertanam 30 Jenis Sayur. Penebar Swadaya. Jakarta.
Splittstoesser, W. E., 1984. Vegetable Growing Handbook. Van Nostrand Reinhold Company, New York.

Tim Penulis PS. 1993. Sayur Komersil. Penebar Swadaya. Jakarta.

PENGARUH PEMBERIAN PUPUK NPKMg DAN MEDIA TANAM PADA PEMBIBITAN KELAPA SAWIT (Elaeis guineenssis Jacq.) PADA MAIN NURSERY

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Asal tanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) secara pasti belum dapat diketahui. Namun, ada dugaan kuat tanaman ini berasal dari dua tempat, yaitu Amerika Selatan dan Afrika (Guenia). Spesie Elaeis melanococca atau Elaeis oleivera diduga berasal dari Amerika Selatan dan spesies Elaeis guineensis berasal dari Afrika (Guenia) (Sastrosayono, 2008).
Tanaman kelapa sawit adalah sumber utama minyak nabati sesudah kelapa di Indonesia. Tanaman ini dikenal dunia barat sesudah penjajah orang Portugis berlayar ke Afrika tahun 1466. Dalam perjalanan ke Pantai Gading, penduduk setempat terlihat menggunakan kelapa sawit untuk memasak maupun kecantikan (Sianturi, 1991).
Semula tanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) hanya diusahakan oleh perkebunan besar di Indonesia. Sejak tahun 1977 – 1978, pemerintah Indonesia bertekad mengubah situasi tersebut dengan mengembangkan pola perkebunan rakyat melalui sistem PIRBUN (Perusahaan Inti Rakyat Perkebunan), perusahaan besar sebagai inti berfungsi memberikan alih teknologi kepada perkebunan rakyat disekitarnya yang berkedudukan sebagai rakyat “plasma” (Risza, 1994).
Awal mulanya, di Indonesia, kelapa sawit sekadar berperan sebagai tanaman hias langka di Kebun Raya Bogor, dan sebagai tanaman penghias jalanan atau pekarangan. Itu terjadi mulai tahun 1848 hingga beberapa puluh tahun sesudahnya. Ketika itu, yahun 1848, Pemerintah Kolonial Belanda mendtangkan empat batang bibit kelapa sawit dari Mauritius dan Amsterdam (masing-masing mengirim dua batang) yang kemudian ditanam di Kebun Raya Bogor. Selanjutnya hasil anakannya dipindahkan ke Deli, Sumatera Utara. Di tempat ini, selama beberapa puluh tahun, kelapa sawit yang telah berkembangbiak hanya berperan sebagai tanaman hias di sepanjang jalan di Deli sehingga potensi yang sesungguhnya belum kelihatan (Fauzi, dkk., 1997).
Kompos TKKS merupakan bahan organic yang mengandung unsure utama N, P, K dan Mg. Selain diperkirakan mampu memperbaiki sifat tanah, kompos tandan kosong kelapa sawit diperkirakan mampu meningkatkan efisiensi pemupukan sehingga pupuk yang digunakan untuk pembibitan kelapa sawit dapat dikurangi (Suherman, dkk, 2006).
Keberhasilan bercocok tanam dipengaruhi oleh banyak faktor. Salah satunya adalah pemupukan, baik cara, dosis maupun waktu pemberiannya. Hal-hal yang menyangkut pupuk tidak asing lagi bagi petani atau masyarakat. Dengan mengetahui kebutuhan tanaman akan unsure hara, diharapkan kita dapat melakukan pemupukan yang tepat. Jenis pupuk (unsur hara yang diberikan) dapat disesuaikan dengan unsur hara yang dibutuhkan tanaman.
Diperkirakan saat ini limbah TKKS di Indonesia mencapai 20 juta ton. TKKS tersebut memiliki potensi untuk diolah menjadi berbagai macam produk, namun sebelumnya TKKS perlu diolah terlebih dahulu. Telnologi produksi kompos dari TKKS merupakan satu teknologi pengolahan limbah yang sekaligus dapat mengatasi masalah limbah padat dan cair di Perkebunan Kelapa Sawit (http://jember01.blogspot.com, 2009).

Tujuan Percobaan
Adapun tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui pengaruh pupuk NPKMg dan media tanam pada pertumbuhan tanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) pada Main Nursery.
Hipotesis Percobaan
Diduga adanya pengaruh media tanam dan pemberian pupuk NPKMg serta interaksi keduanya terhadap pertumbuhan pada pembibitan kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.)..
Kegunaan Percobaan
– Sebagai salah satu syarat untuk dapat mengikuti Praktikal Tes di Laboratorium Budidaya Tanaman Perkebunan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.
– Sebagai bahan informasi bagi pihak yang membutuhkan.

TINJAUAN PUSTAKA
Botani Tanaman
Menurut buku Sastrosayono (2008), adapun sistematika dari tanaman kelapa sawit adalah sebagai berikut:
Kingdom : Plantae
Divisio : Spermatophyta
Subdivisio : Angiospermae
Kelas : Monocotyledonae
Ordo : Palmales
Famili : Palmaceae
Genus : Elaeis
Spesies : Elaeis guineensis Jacq.
Akar kelapa sawit akan tumbuh ke bawah dan ke samping membetuk akar primer, sekunder, tertier, dan akar kuartener. Akar primer tubuh ke bawah di dalam tanah sampai batas permukaan air tanah. Sedangkan akar sekunder, tertier, dan kuartener tumbuh sejajar dengan permukaan air tanah, bahkan akar tertier dan kuartener menuju lapisan atas atau ke tempat yang banyak mengandung hara. Disamping itu, akan tumbuh pula akar nafas yang timbul di atas permukaan air tanah atau di dalam tanah dengan aerasi baik. Akar kuartener berfungsi sebagai penyerap makanan, jika tidak terdapat akar-akar rambut. Fungsi utama akar adalah menyangga bagian atas tanaman dan menyerap hara (Fauzi, dkk., 1997).
Batang kelapa sawit tumbuh lurus keatas, diameternya dapat mencapai 40-60cm. Pada tanaman yang masih muda, batangnya tidak terlihat karena tertutup oleh pelepah daun yang tumbuh rapat mengelilinginya. Rata-rata pertumbuhan tinggi batang adalah 25-40cm/tahun. Namun demikian, hal ini tergantung selain pada jenis, kesuburan lahan serta iklim setempat. Sedangkan pada daun tanaman kelapa sawit bersirit genab, bertulang sejajar, panjangnya dapat mencapai 3-5mm. Daun mempunyai pelepah yang pada bagian kiri maupun kanannya tumbuh anak-anak daun. Tanaman kelapa sawit yang sudah dewasa mempunyai anak daun yang jumlahnya dapat mencapai 100-160 pasang (Syamsulbahri,1985).
Susunan daun tanaman kelapa sawit mirip dengan tanaman kelapa yaitu membentuk susunan daun majemuk. Daun-daun tersebut akan membentuk suatu pelepah daun yang panjangnya dapat mencapai kurang lebih 7,5 – 9 m. Jumlah anak daun pada tiap pelepah berkisar antara 250 – 400 helai. Daun muda yang masih kuncup berwarna kuningpucat. Pada tanah yang subur, daun cepat membuka sehingga semakin efektif menjalankan fungsinya sebagai berlangsungnya fotosintesa dan juga sebagai alat respirasi (Fauzi, dkk., 1997).
Susunan bunga terdiri dari karangan buga yang terdiri dari bunga jantan (tepung sari) dan bunga betina (putik). Namun, ada juga tanaman kelapa sawit yang hanya memproduksi bunga jantan. Umumnya bunga jantan dan bunga betina terdapat dalam tandan yang sama. Bunga jantan selalu masak lebih dahulu daripada bunga betina. Karena itu, penyerbukan sendiri antara bunga jantan dan buga betina dalam satu tandan sangat jarang terjadi. Masa reseptif (masa putik dapat menerima tepung sari) adalah 3 x 24 jam. Setelah itu, putik akan berwarna hitam dan mengering (Sastrosayono, 2008).
Kelapa sawit merupakan tanaman berumah satu (Monoecius), artinya bunga jantan dan bunga betina terdapat dalam satu tanaman dan masing-masing terangkai dalam satu tandan. Rangkaian bunga jantan terpisah dengan bunga betina. Setiap ragkaian bunga terangkai muncul dari pangkal pelepah daun. Sebelum bunga mekar dan masih diselubungi seludang dapat dibedakan bunga jantan dan bunga betina, yaitu dengan melihat bentuknya (Fauzi, dkk, 1997).
Secara botani, buah kelapa sawit digolongkan sebagai buah drupe, terdiri dari pericarp yang terbungkus oleh exocarp (kulit), mesocarp, dan endocarp (cangkang) yang mebungkus 1-4 inti/kernel. Inti memiliki testa (kulit), endosperm yang padat, dan sebuah embrio (Syamsulbahri,1985).
Syarat tumbuh
Iklim
Curah hujan yang baik untuk pertumbuhan dan produksi tanaman kelapa sawit adalah di atas 2.000 mm dan merata sepanjang tahun. Hujan yang tidak turun selama 3 bulan meyebabkan pertumbuhan kuncup daun terhambat sampai hujan turun (anak daun atau janur tidak dapat memecah). Hujan yang lama tidak turun juga banyak berpengaruh terhadap produksi buah, karena buah yang sudah cukup umur tidak mau masak (brondol) sampai turun hujan. Hujan yang terlalu banyak (lebih dari 5.000 mm per tahun) tidak berpengaruh jelek terhadap produksi buah kelapa sawit, asalkan drainase tanah dan penyinaran matahari cukup baik (Sastrosayono, 2008).
Selain sinar matahari dan curah hujan yang cukup, untuk tumbuh dengan baik tanaman kelapa sawit yang ditanam pada ketinggian 500 m di atas permukaan air laut akan terlambat berbunga 1 tahun jika dibandingkan dengan yang ditanam di dataran rendah (Fauzi, dkk, 1997).
Suhu optimal yang diperlukan oleh kelapa sawit adalah 27-32 ºC. Tinggi rendahnya suhu berkaitan erat dengan ketinggian lahan dan permukaan air laut. Oleh karena itu ketinggian lahan yang baik untuk pertumbuhan kelapa sawit adalah 0-400 m dpl, karena pada ketinggian tersebut temperatur udara diperkirakan 27-32 ºC (Hadi, 2004).
Kelapa sawit dapat tumbuh dengan baik pada daerah tropika basah di sekitar lintang Selatan 120 pada ketinggian 0-500 m dpl. Jumlah curah hujan yang baik adalah 2000-2500 mm/tahun, tidak memiliki deficit air, hijan agak merata sepanjang tahun (Lubis, 1992).
Tanah
Kelapa sawit dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah. Akan tetapi, agar kelapa sawit dapat tumbuh secara optimal memerlukan jenis tanah yang cocok. Jenis tanah yang baik untuk kelapa sawit adalah jenis Latosol, Podsolik Merah Kuning dan Aluvial yang kadang-kadang meliputi pula tanah gambut, dataran pantai dan muara sungai. Sifat-sifat fisika dan kimia yang harus dipenuhi untuk pertumbuhan tanaman kelapa sawit yang optimal adalah: drainase baik dan permukaan air cukup dalam, atau menghindari tanah-tanah yang berdrainase jelek dengan permukaan air tanah yang dangkal,solum cukup dalam, tidak berbatu agar perkembangan akar tidak terganggu, reaksi tanahnya masam dan pH antara 4-6. (Setyamidjaja,1991).
Tanaman kelapa sawit dapat tumbuh dengan baik di banyak jenis tanah, yang penting tidak kekurangan air pada musim kemarau dan tidak tergenang air pada usim hujan (drainase baik). Di lahan-lahan yang permukaan air tanahnya tinggi atau tergenang, akar akan busuk. Selain itu, pertumbuhan batang dan daunnya tidak mengindikasikan produksi buah yang baik (Sastrosayono, 2008).
Tanaman kelapa sawit tidak memerlukan tanah dengan sifat kimia istimewa sebab kekurangan suatu hara dapat diatasi dengan pemupukan. Pemupukan dengan dosis yang tepat sangat membantu pertumbuhan tanaman kelapa sawit sehingga akan meningkatkan produksinya. Kelapa sawit dapat tumbuh pada pH tanah antara 4,0 – 6,5, sedangkan pH optimumnya adalah 5 – 5,5. topografi yang dianggap cukup baik untuk tanaman kelapa sawit adalah areal degan kemiringan 0 – 15o. hal ini akan memudahkan pengangktan buah dari pohon ke tempat pemungutan hasil atau dari perkebunan ke pabrik pengolahan (Wahyono, dkk, 1996).
Media Tanam
Untuk media tanam atau tanah pengisi kantong besar digunakan top soil yang bertekstur baik, bila terpaksa memakai tanah liat berat, harus dicampur dengan pasir kasar (pasir sungai) dengan perbandingan 3:2. Media tanam jangan dicampur dengan fungisida dan insektisida karena dapat merusak bibit (Sianturi, 1991).
Hara dalam pupuk kandang berasal dari pakan yang dikonsumsi ternak, lebih dari 70% N yang dimakan oleh hewan dapat dilihat dalam kotorannya, demikian juga kalium sebesar 80%. Diantara kotoran ternak, kotoran ayam mempunyai kandungan hara tertinggi, terendah sapi, sedangkan kotoran babi berada diantaranya (Sutanto, 2005).
Tanah untuk media tanam ini harus subur dan humus yang bisa diambil dari tanah (permukaan topsoil) dengan kedalaman maksimum 15cm. Tanah tidak perlu dicampur pupuk kandang, pasir atau bahan lainnya. Setelah itu kecambah kelapa sawit ditanam (Buckman dan Brady, 1982).
Jenis tanah berhubungan erat dengan plastisitas, permeabilitas, kekerasan, olah tanah, kesuburan dan produktivitas tanah pada daerah geotropik tertentu. Akan tetapi, akan berhubungan dengan adanya variasi yang terdapat pada sistem mineralogi reaksi tanah, maka ada ketentuan-ketentuan umum yang berlaku untuk semua jenis tanah (Hadi, 2004).
Pertumbuhan kelapa sawit pada tanah yang datar atau sedikit miring, solum dalam, dan mempunyai drainase yang baik. Lapisan padas yang tidak terlalu dekat dengan permukaan tanah. Tanah juga harus mampu menahan air yang cukup dan hara yang tinggi secara alami maupun hara tambahan (Sianturi, 1991).
Horizon-horizon penyusun profil tanah berturut-turut dari atas ke bawah dinamai dengan horizon O, horizon A, horizon B, horizon C, dan horizon D. horizon A dan B disebut dengan istilah solum yang merupakan tanah. Horizon A disebut juga dengan istilah top soil atau tanah atas, sedangkan horizon B disebut juga dengan istilah sub soil atau tanah bawah. Tanah lapisan bawah (sub soil) umumnya mempunyai bulk density yang lebih tinggi sekitar 2%. Hal ini disebabkan tanah bawah itu lebih padat karena tekanan di atasnya dan mempunyai kandungan bahan organis yang lebih rendah (Hadi, 2004).
Kompos TKKS
Kompos TKKS merupakan bahan organic yang mengandung unsure utama N, P, K dan Mg. Selain diperkirakan mampu memperbaiki sifat tanah, kompos tandan kosong kelapa sawit diperkirakan mampu meningkatkan efisiensi pemupukan sehingga pupuk yang digunakan untuk pembibitan kelapa sawit dapat dikurangi (Suherman, dkk, 2006).
Pada saat ini, TKKS digunakan sebagai bahan organic bagi pertanaman kelapa sawit secara langsung maupun tidak langsung. Pemanfaatan secara langsung ialah dengan menjadikan TKKS sebagai mulsa sedangkan secara tidak langsung dengan mengomposkan terlebih dahulu sebelum digunakan sebagai pupuk organic (www. ipard.com,2010).
Pupuk NPKMg
Sumber utama nitrogen adalah nitrogen bebas di atmosfer, hasil dekomposisi bahan organic, loncatan listrik di udara (petir) dan pupuk buatan. Nitrogen diserap tanaman dalam bentuk ion NH4+ (ammonium) dan ion NO3- (nitrat). Nitrogen berperan dalam proses metabolism dan pembentukan senyawa organic (Damanik, dkk, 2010).
Sumber hara P antara lain bahan organic, pupuk kandang, bahan tambang alami dan pupuk buatan. Peranan pupuk P pada tanaman, mempercepat proses pembungaan, pemasakan buah/biji, dan meningkatkan produksi buah/biji (www.libang.deptan.go.id, 2008).
Kalium adalah termasuk hara makro yang dibutuhkan dalam jumlah banyak oleh tanaman. Kalium yang tersedia dalam tanah cukup rendah, karena pemupukan hara N dan P yang cukup besar dan akibat pencucian dan erosi. Sumber utama kalium adalah dari kerak bumi, terdapat sebagai persenyawaan dalam batuan (Damanik, dkk, 2010).
Mg adalah penyusun utama klorofil, setiap molekul klorofil mengandung 1 atom Mg. Peranan utama Mg pada tanaman adalah pembentukan gula dan fotosintesis, mengatur penyerapan hara lain, pembawa fosfor dalam tubuh tanaman, menstimulasi pembentukan minyak dan lemak dan translokasi pati dalam tubuh tanaman (Damanik, dkk, 2010).
Pembibitan di Main Nursery
Main nursery atau pembibitan utama adalah suatu pekerjaan yang mrrupakan lanjutan dari pembibitan awal, dimana kegiatan pemeliharaan bibit saat di pre nursery adalah 3 bulan sedangkan di main nursery adalah 9 bulan. Bibit dipindahkan ke lapangan saat berumur 10-12 bulan. Pada main nursery, bibit ditanam di polybag besar (tinggi 210 cm, lebar 7,5cm, diameter 0,5cm dan jarak 2x4cm) (http://dinusilami.blogspot.com, 2009).
Areal pembibitan dekat dengan sumber air dan arealnya datar (untuk 14.000 bibit/ha). Bibit disiram 2 kali sehari (pagi 07.00-11.00 dan sore 15.00), dapat disiram manual ataupun dengan system sprinkler. Pemberian mulsa dilakukan untuk mengurangi penguapan dan menekan gulma, mengurangi erosi, dan mengatur suhu tanah. Penyiangan gulma dilakukan 2 minggu sekali secara manual termasuk melakukan konsolidasi dengan menambah media dan menegakkan bibit (http://id.shvoong.com, 2010).

BAHAN DAN METODE PERCOBAAN
Persiapan Lahan
Lahan dibersikan dari gulam dan di buat bedengan dengan ukuran 1m x 1m sebagai tempat peletakan polibag dan parit keliling selebar 30 cm.
Tempat dan Waktu Percobaan
Percobaan ini dilaksanakan di Laboratorium Teknologi Budidaya Tanaman Perkebunan Departemen Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan dengan ketinggian ± 25 m dpl, pada tanggal 04 September 2010 sampai selesai.
Bahan dan Alat
Adapun bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah bibit tanaman kelapa sawit (Elaeis guinensis Jacq.) sebagai bahan percobaan, top soil + pasir sebagai media tanam, sub soil + TKKS sebagai media tanam, pupuk NPKMg untuk meningkatkan pertumbuhan kelapa sawit, polybag sebagai wadah penanaman, air untuk menyiram tanaman, label nama untuk menandai polybag, dan buku data untuk mencatat data.
Adapun alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah cangkul untuk mencampur media tanam, ayakan untuk mengayak pasir, top soil, dan sub soil, ember sebagai wadah TKKS, gembor untuk menyiram tanaman, meteran untuk mengukur tinggi tanaman, jangka sorong untuk mengukur diameter batang, kalkulator untuk menghitung rataan data, dan alat tulis untuk mencatat data.
Metode Percobaan
Pada percobaan ini digunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial dengan 2 faktor yaitu :
Faktor 1 : Media tanam (M) dengan 2 taraf
M1 : Top soil + pasir (2:1)
M2 : Sub soil + TKKS (3:1)
Faktor 2 : Pupuk NPKMg (15:15:6:4) dengan 3 taraf
P0 : 0 gr
P1 : 10 gr
P2 : 20 gr
Sehingga diperoleh 6 kombinasi, yaitu :
M1P0 M2P0
M1P1 M2P1
M1P2 M2P2
Jumlah ulangan = 3
Jumlah plot per ulangan = 6
Jumlah bibit per polybag = 1
Jumlah bibit per plot = 2
Jumlah kecambah seluruhnya = 36 bibit

PELAKSANAAN PERCOBAAN
Persiapan Lahan
Lahan percobaan dibersihkan dari gulma dan dibuat plot sebagai tempat peletakan polybag, setelah plot selesai disekeliling bedengan dibuat pagar dan parit sedalam 30 cm.
Persiapan Media Tanam
Media tanam yang digunakan adalah top soil dan sub soil + TKKS. Media tanam dicampur kemudian dimasukkan ke dalam polybag.
Penanaman Bibit
Penanaman bibit dilakukan dengan cara mengoyak polybag kecil tempat bibit dan memasukkan ke dalam polybag yang berukuran lebih besar.
Aplikasi Pupuk NPKMg
Aplikasi pupuk dilakukan setelah pemindahan bibit ke dalam polybag. Pupuk diaplikasikan dengan membenamkannya ke dalam media tanam.
Pemeliharaan Tanaman
Penyiraman
Penyiraman dilakukan setiap hari yaitu pagi dan sore hari tergantung dengan kondisi kelembaban permukaan media tanam. Penyiraman dilakukan dengan menggunakan gembor.
Penyiangan
Penyiangan dilakukan dengan menggunakan tangan pada saat gulma mulai tumbuh di media tanam maupun di areal penanaman.

Pengamatan Parameter
Tinggi Tanaman (cm)
Tinggi tanaman yang berkecambah sudah berumur 3 bulan, dihitung mulai dari permukaan tanah sampai bagian tertinggi dari tanaman.
Jumlah Daun (helai)
Jumlah daun yang dihitung adalah daun yang telah membuka sempurna. Perhitungan jumlah daun dilakukan sejak berumur 3 MST hingga tanaman berumur 6 MST dengan interval 1 minggu.
Diameter Batang (mm)
Batang tanaman diukur diameternya pada ketinggian 1 cm diatas permukaan tanah dengan menggunakan jangka sorong. Pengukuran diameter batang dilakukan sejak tanaman 3 MST hingga tanaman berumur 6 MST dengan interval 1 minggu.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Tinggi Tanaman (cm)
Tinggi tanaman bibit kelapa sawit (cm) dari perlakuan pupuk NPKMg dan media tanam dapat dilihat pada tabel 1.
Tabel 1. Pengaruh Pupuk NPKMg dan Media Tanam Terhadap Tinggi Tanaman (cm).
Perlakuan MST
1 2 3 4 5 6
Media tanam
M1 14.72 23.21 21.90 23.21 24.90 23.86
M2 12.64 18.69 16.68 18.69 19.53 20.27
Pupuk
P0 12.53 16.52 17.46 19.31 19.975 17.665
P1 12.97 18.05 20.25 22.74 25.225 26.625
P2 15.545 23.69 20.155 20.81 21.45 21.91
Interaksi
M1P0 12.36 19.06 20.12 20.92 22.03 16.9
M1P1 16.21 20.58 23.7 26.05 29.25 30.83
M1P2 15.59 30.8 21.88 22.67 23.42 23.85
M2P0 12.7 13.98 14.8 17.7 17.92 18.43
M2P1 9.73 15.52 16.8 19.43 21.2 22.42
M2P2 15.5 16.58 18.43 18.95 19.48 19.97

Dari Tabel 1. Diketahui bahwa pengaruh media tanam terhadap tinggi tanaman (cm) yang tertinggi berada pada perlakuan M1 pada 6 MST (23,86), dan terendah pada perlakuan M2 pada 1 MST (12,64).
Dari Tabel 1. Diketahui bahwa pengaruh pupuk NPKMg terhadap parameter tinggi tanaman (cm) yang tertinggi yaitu pada perlakuan P1 pada 6 MST (26,62), dan terendah yaitu P0 pada 1 MST (12,53).
Dari Tabel 1. Diketahui bahwa pengaruh interaksi antara media tanam dan pupuk NPKMg (MxP) terhadap tinggi tanaman yang tertinggi yaitu pada perlakuan M1P1 pada 6 MST (30,83), dan terendah yaitu pada perlakuan M2P1 pada 1 MST (9,73).
Gambar 1. Diagram Batang Pengaruh Media Tanam Terhadap Tinggi Tunas (cm)

Gambar 2. Grafik Pengaruh Pupuk NPKMg Terhadap Tinggi tanaman (cm)

Gambar 3. Grafik Pengaruh Interaksi Media Tanam Dengan Pupuk Terhadap Tinggi Tanaman

Jumlah Daun (helai)
Jumlah daun bibit kelapa sawit (helai) dari perlakuan pemberien media tanam pupuk NPKMg serta interaksinya dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel 2. Pengaruh Pemberian Media Tanam dan Pupuk NPKMg Pada Jumlah Daun (helai)
Perlakuan MST
1 2 3 4 5 6
Media tanam
M1 2.89 3.45 3.94 4.56 4.78 5.17
M2 3.67 4.00 4.16 4.56 5.33 5.00
Pupuk
P0 2.75 3.42 3.83 4.42 4.50 4.75
P1 3.25 3.67 3.83 4.25 5.58 4.92
P2 3.84 4.09 4.50 5.00 5.08 5.58
Interaksi
M1P0 2.00 2.67 3.33 3.67 3.83 4.00
M1P1 3.00 4.00 4.33 4.83 5.33 5.50
M1P2 3.67 3.67 4.17 5.17 5.17 6.00
M2P0 3.50 4.17 4.33 5.17 5.17 5.50
M2P1 3.50 3.33 3.33 3.67 5.83 4.33
M2P2 4.00 4.50 4.83 4.83 5.00 5.17
Dari Tabel 2. Diketahui bahwa pengaruh media tanam terhadap parameter jumlah daun (helai) yang tertinggi yaitu pada perlakuan M1 pada 6 MST (5,17), dan terendah pada perlakuan M1 ada 1 MST (2,89).
Dari Tabel 2. Diketahui bahwa pengaruh pemberian pupuk NPKMg terhadap parameter jumlah daun (helai) yang tertinggi yaitu pada perlakuan P2 pada 6 MST (5,58) dan terendah pada perlakuan P0 pada 1 MST (2,75).
Dari Tabel 2. Diketahui bahwa pengaruh pemberian media tanam dan pupuk NPKMg terhadap parameter jumlah daun (helai) yang tertinggi pada perlakuan M1P2 pada 6 MST (6,0), dan terendah pada perlakuan M1P0 pada 1 MST (2,0).
Gambar 4. Diagram Batang Pengaruh Media Tanam Terhadap Jumlah Daun (helai)

Gambar 5. Grafik Pengaruh Pupuk NPKMg Terhadap Jumlah Daun

Gambar 6. Grafik Pengaruh Media Tanam dan Pupuk NPKMg Terhadap Jumlah Daun

Diameter batang (mm)
Diameter batang bibit kelapa sawit (mm) dari perlakuan pemberian media tanam, pupuk NPKMg, serta interaksinya dapat dilihat pada tabel 3.

Tabel 3. Pengaruh Pemberian Media Tanam dan Pupuk NPKMg Terhadap Diameter Batang (mm)
Perlakuan MST
1 2 3 4 5 6
Media tanam
M1 2.38 5.23 6.66 7.08 7.44 8.25
M2 2.95 3.57 4.93 6.12 6.62 7.04
Pupuk
P0 4.31 5.89 6.01 6.27 6.51 7.46
P1 1.95 4.60 5.01 6.27 7.04 7.42
P2 4.41 7.11 6.36 7.27 7.55 8.06
Interaksi
M1P0 1.49 3.92 6.67 6.93 7.29 8.77
M1P1 2.93 5.90 6.3 6.79 7.18 7.72
M1P2 2.73 5.86 7.02 7.51 7.86 8.27
M2P0 4.97 4.91 5.35 5.61 5.73 6.15
M2P1 0 1 4 5.74 6.9 7.12
M2P2 3.88 4.81 5.7 7.02 7.23 7.84

Dari Tabel 3. Diketahui bahwa pengaruh media tanam terhadap diameter batang yang tertinggi yaitu pada perlakuan M1 pada 8 MST (8,25) dan terendah pada perlakuan M1 pada 1 MST (2,38).
Dari Tabel 3. Diketahui bahwa pengaruh pemberian pupuk NPKMg terhadap diameter batang yang tertinggi pada perlakuan P2 pada 6 MST (8,06), dan terendah pada perlakuan P1 pada 1 MST (1,95).
Dari Tabel 3. Diketahui bahwa pengaruh interaksi antara media tanam dan pupuk NPKMg terhadap diameter batang yang tertinggi pada perlakuan M1P0 pada 6 MST (8,77), dan terendah pada perlakuan M2P1 pada 1 MST (0).

Gambar 7. Diagram Batang Pengaruh Media Tanam Terhadap Diameter Batang (mm)

Gambar 8. Grafik Pengaruh Pemberian Pupuk NPKMg Terhadap Diameter Batang

Gambar 9. Grafik Pengaruh Media Tanam dan Pupuk NPKMg Terhadap Diameter Batang

Pembahasan
Dari hasil pengamatan diketahui bahwa pengaruh media tanam terhadap tinggi tanaman (cm) yang tertinggi berada pada perlakuan M1 pada 6 MST (23,86), dan terendah pada perlakuan M2 pada 1 MST (12,64). Hal ini disebabkan oleh pada perlakuan M1 merupakan media top soil + pasir, dimanana unsur hara pada top soil tersedia dan adanya pasir yang membuat media tanam dapat menyerap air dengan cepat. Hal ini sesuai dengan literatur Hartman, et al (1981) yang menyatakan bahwa peranan pasir dalam mengatur sifat-sifat tanah, semakin tinggi ppersentase dalam tanah, semakin banyak pori-pori di antara partikel tanah dan hal ini dapat memperlancar gerakan udara atau air.
Dari hasil pengamatan diketahui bahwa pengaruh pupuk NPKMg terhadap parameter tinggi tanaman (cm) yang tertinggi yaitu pada perlakuan P1 pada 6 MST (26,62), dan terendah yaitu P0 pada 1 MST (12,53). Hal ini disebabkan pupuk dapat terserap secara efisien oleh tanaman dan membantu dalam proses petumbuhan tanaman. Hal ini sesuai dengan literatur Damanik, dkk (2010) yang menyatakan unsur hara makro yang ditambahkan kepada tanaman akan diserap membantu pertumbuhan tanaman lebih baik.
Dari hasil pengamatan diketahui bahwa pengaruh interaksi antara media tanam dan pupuk NPKMg (MxP) terhadap tinggi tanaman yang tertinggi yaitu pada perlakuan M1P1 pada 6 MST (30,83), dan terendah yaitu pada perlakuan M2P1 pada 1 MST (9,73). Hal ini disebabkan karena bagi pupuk dan kebutuhan pemupukan kebun diperlukan kelengkapan unsur hara pada pupuk NPKMg. Hal ini sesuai dengan literatur Anwar (2008) yang menyatakan bahwa bagi pupuk dan kebutuhan pemupukan kebun, diperlukan kelengkapan unsur hara, diantaranya NPKMg, sulfur, calcium, dan unsur hara mikro.
Dari hasil pengamatan diketahui bahwa pengaruh media tanam terhadap parameter jumlah daun (helai) yang tertinggi yaitu pada perlakuan M1 pada 6 MST (5,17), dan terendah pada perlakuan M1 ada 1 MST (2,89). Hal ini disebabkan oleh pada perlakuan M1 merupakan media top soil + pasir, dimanana unsur hara pada top soil tersedia dan adanya pasir yang membuat media tanam dapat menyerap air dengan cepat. Hal ini sesuai dengan literatur Hartman, et al (1981) yang menyatakan bahwa peranan pasir dalam mengatur sifat-sifat tanah, semakin tinggi ppersentase dalam tanah, semakin banyak pori-pori di antara partikel tanah dan hal ini dapat memperlancar gerakan udara atau air.
Dari hasil Pengamatan diketahui bahwa pengaruh pemberian pupuk NPKMg terhadap parameter jumlah daun (helai) yang tertinggi yaitu pada perlakuan P2 pada 6 MST (5,58) dan terendah pada perlakuan P0 pada 1 MST (2,75). Hal ini disebabkan pupuk dapat terserap secara efisien oleh tanaman dan membantu dalam proses petumbuhan tanaman. Hal ini sesuai dengan literatur Damanik, dkk (2010) yang menyatakan unsur hara makro yang ditambahkan kepada tanaman akan diserap membantu pertumbuhan tanaman lebih baik.
Dari hasil pengamatan diketahui bahwa pengaruh pemberian media tanam dan pupuk NPKMg terhadap parameter jumlah daun (helai) yang tertinggi pada perlakuan M1P2 pada 6 MST (6,0), dan terendah pada perlakuan M1P0 pada 1 MST (2,0). Hal ini disebabkan karena bagi pupuk dan kebutuhan pemupukan kebun diperlukan kelengkapan unsur hara pada pupuk NPKMg. Hal ini sesuai dengan literatur Anwar (2008) yang menyatakan bahwa bagi pupuk dan kebutuhan pemupukan kebun, diperlukan kelengkapan unsur hara, diantaranya NPKMg, sulfur, calcium, dan unsur hara mikro.
Dari hasil pengamatan diketahui bahwa pengaruh media tanam terhadap diameter batang yang tertinggi yaitu pada perlakuan M1 pada 6 MST (8,25) dan terendah pada perlakuan M1 pada 1 MST (2,38). Hal ini disebabkan oleh pada perlakuan M1 merupakan media top soil + pasir, dimanana unsur hara pada top soil tersedia dan adanya pasir yang membuat media tanam dapat menyerap air dengan cepat. Hal ini sesuai dengan literatur Hartman, et al (1981) yang menyatakan bahwa peranan pasir dalam mengatur sifat-sifat tanah, semakin tinggi ppersentase dalam tanah, semakin banyak pori-pori di antara partikel tanah dan hal ini dapat memperlancar gerakan udara atau air.
Dari hasil pengamatan diketahui bahwa pengaruh pemberian pupuk NPKMg terhadap diameter batang yang tertinggi pada perlakuan P2 pada 6 MST (8,06), dan terendah pada perlakuan P1 pada 1 MST (1,95). Hal ini disebabkan pupuk dapat terserap secara efisien oleh tanaman dan membantu dalam proses petumbuhan tanaman. Hal ini sesuai dengan literatur Damanik, dkk (2010) yang menyatakan unsur hara makro yang ditambahkan kepada tanaman akan diserap membantu pertumbuhan tanaman lebih baik.
Dari hasil pengamatan diketahui bahwa pengaruh interaksi antara media tanam dan pupuk NPKMg terhadap diameter batang yang tertinggi pada perlakuan M1P0 pada 6 MST (8,77), dan terendah pada perlakuan M2P1 pada 1 MST (0). Hal ini sesuai dengan literatur Anwar (2008) yang menyatakan bahwa bagi pupuk dan kebutuhan pemupukan kebun, diperlukan kelengkapan unsur hara, diantaranya NPKMg, sulfur, calcium, dan unsur hara mikro.

KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
1. Pada parameter tinggi tanaman diperoleh pengaruh media tanam tertinggi yaitu M1 pada 6 MST (23,86), pada pengaruh pupuk NPKMg yang tertinggi yaitu P1 pada 6 MST (26,62), dan pada interaksi media tanam dan pupuk yaitu M1P1 pada 6 MST (30,83).
2. Pada parameter tinggi tanaman diperoleh pengaruh media tanam terendah yaitu M2 pada 1 MST (12,64), pada pengaruh pupuk NPKMg yaitu P0 pada 1 MST (12,53),dan pada interaksi media tanam dan pupuk yaitu M2P1 pada 1 MST (9,73).
3. Pada parameter jumlah daun diperoleh pengaruh media tanam tertinggi yaitu M1 pada 6 MST (5,17), pada pengaruh pupuk NPKMg yaitu P2 pada 6 MST (5,58) , dan pada interaksi media tanam dan pupuk yaitu M1P2 pada 6 MST (6,0).
4. Pada parameter jumlah daun diperoleh nilai terendah pada pengaruh media tanam yaitu M1 ada 1 MST (2,89), pada pengaruh pemberian pupuk yaitu P0 pada 1 MST (2,75), dan pada interaksi media tanam dan pupuk yaitu M1P0 pada 1 MST (2,0).
5. Pada parameter diameter batang diperoleh nillai tertinggi pada pengaruh media tanam yaitu M1 pada 6 MST (8,25), pada pengaruh pemberian pupuk NPKMg yaitu P2 pada 6 MST (8,06), dan pada perlakuan interakksi antara media tanam dan pupuk yaitu M1P0 pada 6 MST (8,77).
6. Pada parameter diameter batang diperoleh nilai terendah pada pengaruh media tanam yaitu M1 pada 1 MST (2,38), pada pengaruh pemberian pupuk NPKMg yaitu P1 pada 1 MST (1,95), dan pada perlakuan interaksi antara media tanam dan pupuk yaitu M2P1 pada 1 MST (0).
Saran
Diharapkan dalam penyajian data praktikan harus lebi teliti agar tidak terjadi kesalahan.

DAFTAR PUSTAKA
Buckman, H. D., dan N. C. Brady, 1982. Ilmu Tanah Terjemahan Soegiman B. Karya Aksara, Jakarta.
Damanik, M. M. B., B. E. Hasibuan, Fauzi, Sarifuddin dan H. Hanum, 2010. Kesuburan Tanah dan Pemupukan. USU. Press, Medan.

http://dinusilami.blogspot.com/2009/10. Penyediaan Bibit. html. Diakses tanggal 03 November 2010.

http://id.shvoong.com/books/2009/petunjuk-teknis-penanganan-kecambah.html. Diakses tanggal 03 November 2010.

http://jember01.blogspot.com/2009/02.kompos-dari-tandan-kosong-kelapa-sawit.html. Diakses tanggal 03 November 2010.

Fauzi, y., Y. E. Widiastuti., I. Satyawibawa., R. Hartono. 1997. Kelapa Sawit, Budidaya. Penebar Swadaya. Jakarta.

Hadi, M. M. 2004. Teknik Berkebun Kelapa Sawit. Adicita Karya Nusa. Yogykarta.

Hartmann, H.T., J. William, Klacker, M. Anton., dan Konfrafrek., 1981. Plant Science. Pretince Hall Inc, New Jersey

Lubis, A. U., 1992. Kelapa Sawit di Indonesia. Pusat Penelitian Perkebunan Marihat Bandar Kuala, Pematang Siantar.

Risza, S., 1994. Kelapa Sawit Upaya Peningkatan Produktivitas. Kanisius, Yogyakarta.

Sastrosayono, S. 2008. Budidaya Kelapa Sawit. Agromedia Pustaka. Jakarta.

Setyamidjaja,D.1991.Budidaya Kelapa Sawit.Kanisius,Yogyakarta.
Sianturi, H. S. D., 1991. Budidaya Kelapa Sawit, USU Press, Medan.
Suherman, C. A, Nuraini dan R. Santi., 2006. Pemanfaatan Cendawan Mikoriza Arbaskula (CMA) serta media Campuran Subsoil dan Kompos pada Kelapa Sawit. FP UnPad Padjajaran, Semarang.

Syamsulbahri.1985.Bercocok Tanam Tanaman Perkebunan Tahunan.UGM Press,Yogyakarta.

Wahyono, T., R. Nurkhoiry., dan M. A. Agustina., 1996. Profil Kelapa Sawit di Indonesia. Pusat Kelapa Sawit, Medan.
http://www.litbang.deptan.go.id/2008/kahat.fosfor.html. Diakses tanggal 03 November 2010.

Bagan Percobaan

Ulangan
I II III
U

PENGARUH PEMBERIAN PUPUK P DAN MEDIA TANAM PADA PERTUMBUHAN STUMP MATA TIDUR TANAMAN KARET (Hevea brassiliensis Muell. Arg)

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Tanaman karet termasuk famili Euphorbiaceae atau tanaman getah-getahan. Dinamakan demikian karena golongan famili ini mempunyai jaringan tanaman yang banyak mengandung getah (lateks) dan getah tersebut mengalir keluar apabila jaringan tanaman terlukai. Mengingat manfaat dan kegunaannya, tanaman ini digolongksn ke dalam tanaman industry. Tanaman karet berasal dari lembah Amazone. Karet liar atau semi liar masih ditemukan di bagian utara benua Amerika Selatan, mulai dari Brazil hingga Venezuela dan dari Kolombia hingga Peru dan Bolivia (Syamsulbahri, 1996).
Di Indonesia, karet merupakan komoditi yang penting. Hal ini disebabkan karena selain potensi ekonominya, juga potensi alam/iklim yang mendukungnya. Tambahan lagi areal untuk memperkebunkan tanaman ini msih tersedia sangat luas. Selanjutnya peningkatan permintaan karet dunia masih cukup tinggi, yakni sekitar 4-5 % per tahun (Anwar, 2001).
Sejak tahun 1883 karet menjadi primadona perkebunan di negara-negara tropis. Pada sekitar tahun itu pula Charles Goodyear menemukan vulkanisasi karet dengan cara mencampurkannya dengan belerang dan memanaskannya pada suhu 120- 130o C. Alexander Parkes juga mengembangkan cara vulkanisasi ini. Penemuan tentang vulkanisasi memberikan inspirasi Dunlop pada tahun 1888 untuk membuat ban mobil yang selanjutnya dikembangkan oleh Goldrich (Daryanto, 1975).
Di perkebunan karet pada umumnya selama masa tanaman belum menghasilkan, gawangan ditanami dengan tanaman penutup tanah leguminosa yang merambat atau legume cover crop (LCC). Dalam budidaya tanaman karet, pengelolaan LCC selama periode belum menghasilkan sudah merupakan standard baku teknis. Walaupun sudah terbukti berdampak positif, penanaman LCC pada perkebunan rakyat kurang berkembang. Hal ini disebabkan karena pekebun tidak dapat merasakan keuntungannya secara langsung dari tanaman penutup tanah (http://deptan.di.deptan.go.id, 2010).
Ketersediaan fosfor (P) dalam jumlah yang cukup akan meningkatkan perkembangan perakaran. Jumlah asam nukleat, phytin dan fosfolipida yang cukup pada awal pertumbuhan tanaman adalah penting pada fase piramida tanaman yang selanjutnya untuk bagian produktif lainnya (Nyakpa, dkk, 1988).
Tanah yang diisi kedalam kantong adalah tanah bagian atas (topsoil) 30 cm. Tanah galian parit-parit batas tertentu. Penyusunan kantong plastik ( 15 cm) dapat juga diambil sebagai bahan pengisi. Tanah tersebut dihancurkan sehingga tidak terdapat bongkah. Kemudian hancuran tanah diayak untuk membuang akar-akar, kayu, batu, dan lain-lain (Sianturi, 2001).
Sludge adalah benda padat yang tenggelam di dasar bak pengendapan dalam sarana pengelolaan limbah dan harus dibuang atau dikelola untuk mengurangi pencemaran lingkungan. Tetapi sludge yang dihasilkan dari Pengolahan Minyak Sawit (PMS) mengandung unsur hara nitrogen, fosfor, kalium, magnesium dan kalsium yang cukup tinggi sehingga dapat digunakan sebagai pupuk. Limbah mengandung bahan yang dapat digunakan sebagai pupuk dalam jumlah yang cukup tinggi. Banyak pertanian telah dan sekarang masih tetap berhasil menanam tanaman dengan hasil panen yang tinggi dengan memakai limbah (Mahida, 1984).
Tujuan Percobaan
Untuk mengetahui pengaruh pemberian pupuk P dan media tanam pada pertumbuhan stump mata tidur tanaman karet (Hevea brassiliensis Muell. Arg).
Hipotesis Percobaan
Diduga ada pengaruh media tanam dan pemberian pupuk P (Fosfat)
serta interaksi keduanya terhadap pertumbuhan stump mata tidur
karet (Hevea brassiliensis Muell. Arg.).
Kegunaan Percobaan
– Sebagai salah satu syarat untuk dapat mengikuti Praktikal Tes di Laboratorium Teknologi Budidaya Tanaman Perkebunan, Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.
– Sebagai bahan informasi bagi pihak yang membutuhkan.

TINJAUAN PUSTAKA
Botani Tanaman
Menurut Setiawan dan Andoko (2005), sistematika tanaman karet adalah sebagai berikut:
Kingdom : Plantae
Divisio : Spermatophyta
Subdivisio : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Ordo : Euphorbiales
Famili : Euphorbiaceae
Genus : Hevea
Spesies : Hevea brassiliensis Muell. Arg
Sebagai tanaman berbiji belah, akar tanaman karet berupaa akar tunggang yang mampu menopang batang tanaman yang tumbuh tinggi ke atas. Dengan akar yang bisa mencapai 25 meter (Setiawan dan Andoko, 2005).
Batang tanaman biasanya tumbuh lurus dan memiliki percabangan yang tinggi di atas. Di beberapa kebun karet ada beberapa kecondongan arah tumbuh tanamannya agak miring ke utara. Batang tanaman ini mengandung getah yang dikenal dengan nama lateks (http://deptan.disbun.com, 2010).
Daun karet terdiri dari tangkai daun utama dan tangkai anak daun. Panjang tangkai daun utama 3 – 20 cm. Panjang tangkai anak daun sekitar 3 – 10 cm dan pada ujungnya terdapat kelenjar. Biasanya ada tiga anak daun yang terdapat pada sehelai daun karet. Anak daun berbentuk eliptis, memanjang dengan ujung meruncing. Tepinya rata dan gundul (http://deptan.disbun.com, 2010).
Bunganya bergerombol muncul dari ketiak daun (axillary), individu bunga bertangkai pendek, bunga betina terletak di ujung. Proporsi bunga jantan lebih banyak dibandingkan bunga betina (60-80 bunga jantan untuk 1 bunga betina). Bunga jantan dan waktu mwkar hanya satu hari kemudian luruh. Bunga betina mekar selama 3-4 hari, pada waktu yang sama masih ada beberapa bunga jantan yang mekar (Syamsulbahri, 1996).
Buah karet dengan diameter 3 – 5 cm, terbentuk dari penyerbukan bunga karet dan memiliki pembagian ruangan yang jelas, biasanya 3 – 6 ruang. Setiap ruangan berbentuk setengah bola. Jika sudah tua, buah karet akan pecah dengan sendirinya menurut ruang-ruangnya dan setiap pecahan akan tumbuh menjadi individu baru jika jatuh ke tempat yang tepat (Setiawan dan Andoko, 2005).
Biji karet terdapat dalam setiap ruang buah. Jadi, jumlah biji biasanya tiga, kadang enam, sesuai dengan jumlah ruang. Ukuran biji besar dengan kulit keras. Warnanya cokelat kehitaman dengan bercak-bercak berpola yang khas (http://deptan.disbun.com, 2010).
Syarat Tumbuh
Iklim
Daerah yang cocok untuk penanaman karet adalah pada zona antara 15o LS dan 15oLU. Di luar itu, pertumbuhan tanaman karet agak lambat, sehingga produksi juga menjadi terlambat. Ketinggian tempat yang optimal di dataran rendah, yakni pada ketinggian sampai 200 m dpl maka makin lambat dan hasilnya rendah. Ketinggian lebih dari 600 m dpl tidak cocok untuk tanaman karet (www.feedmap.net/blog, 2010).
Tanaman karet tumbuh baik pada dataran rendah. Yang ideal adalah pada tinggi 0 – 200 m dari permukaan laut (dpl). Pada tinggi lebih dari 200 m dpl laju pertumbuhan lilit batang lebih lambat, sehingga lebih lambat 3 – 6 bulan setiap naik 200 m. Tanaman karet tumbuh baik di daerah yang mempunyai curah hujan 2000 – 4000 mm per tahun. Tanaman karet dapat tumbuh baik pada suhu diantara 25 – 35oC. Suhu terbaik adalah rata-rata 28o C. Kelembaban yang sesuai untuk tanaman karet adalah rata-rata berkisar antara 75 – 90% (Sianturi, 2001).
Angin juga mempengaruhi pertumbuhan tanaman karet. Angin yang kencang pada musim tertentu dapat mengakibatkan kerusakan pada tanaman karet yang berasal dari klon-klon tertentu yang peka terhadap angin kencang (Setyamidjaja, 1989).
Tanah
Secara umum karet menghendaki tanah dengan struktur ringan, sehingga mudah ditembus air. Meskipun demikian, tanah dengan kandungan pasir kuarsa tinggi kurang bagus untuk penanaman karet. Sementara itu, derajat kemasaman atau pH tanah yang sesuai untuk tanaman karet adalah mendekati normal (4 – 9) dan untuk pertumbuhan optimalnya 5 – 6. Kontur atau topografi tanah juga berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman karet. Kontur tanah yang datar lebih baik dibandingkan dengan yang berbukit-bukit (Setiawan dan Andoko, 2005).
Tanaman karet dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah, baik pada tanah-tanah vulkanis muda ataupun vulkanis tua, aluvial dan bahkan tanah bambut. Reaksi tanah yang umum ditanami karet mempunyai pH antara 3,0-8,0 tanah di bawah 3,0 atau di atas 8,0 menyebabkan pertumbuhan tanaman yang terhambat (Syamsulbahri, 1996).
Agar produktivitas tinggi, karet sangat bagus jika dibudidayakan di tanah yang subur. Karena karet relatif toleran terhadap tanah marginal yang kurang subur. Dengan penambahan pupuk, tanaman karet yang dibudidayakan di tanah yang kurang subur masih bisa berproduksi optimal. Tanah dengan padas di bagian atas yakni kurang dari dua meter dari permukaan tidak baik untuk penanaman karet akar tanaman sulit untuk menembus tanah untuk mendapatkan hara yang dibutuhkan tanah (www.kehati.com, 2010).
Media Tanam
Tanah untuk media tanam ini harus subur dan humus yang bisa diambil dari tanah permukaan (topsoil) dengan kedalaman maksimum 15 cm. Tanah tidak perlu dicampur pupuk kandang, pasir atau bahan lainnya. Setelah itu kecambah karet di tanam dengan cara yang sama dengan menanam kecambah karet dipersemaian di lahan (Buckman dan Brady, 1982).
Tanah yang diisi kedalam kantong adalah tanah bagian atas (topsoil) 30 cm. Tanah galian parit-parit batas tertentu. Penyusunan kantong plastik ( 15 cm) dapat juga diambil sebagai bahan pengisi. Tanah tersebut dihancurkan sehingga tidak terdapat bongkah. Kemudian hancuran tanah diayak untuk membuang akar-akar, kayu, batu, dan lain-lain (Sianturi, 2001).
Partikel-partikel pasir yang ukurannya jauh lebih besar dan memiliki permukaan yang kecil (dengan berat yang sama) dibandingkan dengan debu dan liat. Oleh karena itu peranannya dalam mengatur sifat-sifat kimia tanah adalah kecil, maka fungsi utamanya adalah untuk perbaikan sifat-sifat tanah. Semakin tinggi persentase pasir dalam tanah, semakin banyak pori-pori diantara partikel tanah dan hal ini dapat memperlancar gerakan udara/air (Hartman, dkk, 1981).
Sludge adalah benda padat yang tenggelam di dasar bak pengendapan dalam sarana pengelolaan limbah dan harus dibuang atau dikelola untuk mengurangi pencemaran lingkungan. Tetapi sludge yang dihasilkan dari Pengolahan Minyak Sawit (PMS) mengandung unsur hara nitrogen, fosfor, kalium, magnesium dan kalsium yang cukup tinggi sehingga dapat digunakan sebagai pupuk (Mahida, 1984).
Secara umum dapat dikatakan bahwa air limbah sludge merupakan mikroorganisme yang bekerja untuk mengurai komponen organik dalam sistem pengolahan air limbah. Sludge akan selalu diproduksi sebagai hasil dari pertumbuhan bakteri/ mikroorganisme pengurai selama proses berlangsung (Supriyanto, 2001).
Pupuk Fosfor (P)
Peran pupuk fosfor untuk tanaman antara lain : dapat mempercepat dan memperkuat pertumbuhan tanaman muda menjadi tanaman muda pada umumnya, dapat mempercepat pembungaan dan pemasakan buah, biji atau gabah, dapat meningkatkan produksi biji-bijian (Kartasapoetra dan Sutedjo, 2000).
Ketersediaan fosfor dalam jumlah yang cukup akan meningkatkan perkembangan perakaran. Jumlah asam nukleat, phytin dan fosfolipida yang cukup pada awal pertumbuhan tanaman adalah penting pada fase piramida tanaman yang selanjutnya untuk bagian produktif lainnya (Nyakpa, dkk., 1988).
Di dalam tanah, fungsi fosfor terhadap tanaman adalah sebagai zat pembangun dan terikat dalam senyawa – senyawa organis. Hanya sebagian kecil saja yang tersedia dalam bentuk anorganis sebagai ion – ion fosfat, sebagai bahan pembentuk fosfor (Kartasapoetra dan Sutedjo, 2000).
BAHAN DAN METODE PERCOBAAN
Tempat dan Waktu Percobaan
Percobaan ini dilaksanakan di Laboratorium Teknologi Budidaya Tanaman Perkebunan Departemen Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan dengan ketinggian tempat ± 25 m dpl, dimulai pada tanggal 04 September 2010 sampai selesai.
Bahan dan Alat
Adapun bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah stump mata tidur tanaman karet (Hevea brassiliensis Muell. Arg) sebagai bahan percobaan, top soil sebagai media tanam, sub soil, pasir dan sludge sebagai media tanam, pupuk P untuk meningkatkan pertumbuhan stump, polybag sebagai wadah penanaman, air untuk menyiram tanaman, label nama untuk menandai polybag dan buku data untuk mencatat data.
Adapun alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah cangkul untuk mencampur media tanam dan mengolah lahan, ayakan untuk mengayak pasir, top soil dan sub soil, meteran untuk mengukur tinggi tunas, gembor untuk menyiram tanaman, ember sebagai wadah sludge, timbangan untuk menimbang pupuk P, alat tulis untuk mencatat data, dan kalkulator untuk menghitung rataan data.
Metode Percobaan
Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) factorial dengan 2 faktor perlakuan, yaitu :
Faktor 1 : Media Tanam (M) dengan 2 taraf
M0 : Top soil
M1 : Sub soil + pasir + sludge (2:1:1)
Faktor 2 : Pupuk P (TSP) dengan 4 taraf
P0 : 0 g/ tanaman
P1 : 15 g/ tanaman
P2 : 30 g/ tanaman
P2 : 45 g/ tanaman
Maka didapat 8 kombinasi perlakuan, yaitu :
M0P0 M1P0
M0P1 M1P1
M0P2 M1P2
M0P3 M1P3
Jumlah ulangan = 3
Jumlah stump per plot = 3
Jumlah stump seluruhnya = 72 tanaman

PELAKSANAAN PERCOBAAN
Persiapan lahan
Lahan dibersikan dari gulam dan di buat bedengan dengan ukuran 1m x 1m sebagai tempat peletakan polibag dan parit keliling selebar 30 cm.
Persiapan Media Tanam
Media tanam yang digunakan adalah topsoil dan sub soil + pasir + sludge (2:1:1), kemudian dimasukkan ke dalam polybag ukuran 10 kg.
Penanaman
Stump mata tidur tanaman karet (Hevea brassiliensis Muell Arg.) ditanam dalam polybag dimana bagian radikula dibenamkan ke dalam tanah.
Aplikasi Pupuk
Setelah penanaman, pupuk P diaplikasikan keesokan harinya dengan cara membenamkan pupuk P ke dalam tanah.
Pemeliharaan Tanaman
Penyiraman
Penyiraman dilakukan setiap hari pada sore hari dan selanjutnya dikurangi bila keadaan tanah masih basah dan lembab.
Penyiangan
Penyiangan dilakukan dengan menggunakan tangan pada saat gulma mulai tumbuh di media tanam maupun diareal penanaman.
Pengamatan Parameter
Persentase mata melentis (%)
Persentase mata melentis karet dapat dihitung dengan mengunakan

rumus : Jumlah tunas yang tumbuh
% mata melentis = —————————————– x 100 %
Jumlah stump yang ditanam
Tinggi Tunas (cm)
Tinggi tunas dihitung setiap minggu pada pada batang tanaman karet yang tumbuh.
Diameter Tunas (mm)
Diameter tunas dihitung tiap minggu pada batang tanaman karet yang tumbuh dengan menggunakan jangka sorong.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Persentase Mata Melentis (%)
Persentase mata melentis stump mata tidur karet (%) dari perlakuan pupuk P (fosfat) dan media tanam serta interaksi (M x P) dapat dilihat pada tabel 1.
Tabel 1. Pengaruh Media Tanam dan Pupuk P Terhadap Persentase Mata Melentis (%).
Perlakuan MST
3 4 5 6 7 8
Media tanam
M0 30.52 49.99 49.99 49.99 49.99 49.99
M1 21.17 33.36 30.54 30.54 30.54 30.54
Pupuk
P0 33.33 49.99 44.43 44.43 44.43 44.43
P1 2.05 33.32 33.32 33.32 33.32 33.32
P2 16.33 38.98 38.88 38.88 38.88 38.88
P3 29.70 44.43 44.43 44.43 44.43 44.43
Interaksi
M0P0 33.30 44.42 44.42 44.42 44.42 44.42
M0P1 25.90 44.44 44.44 44.44 44.44 44.44
M0P2 29.60 55.55 55.55 55.55 55.55 55.55
M0P3 33.30 55.55 55.55 55.55 55.55 55.55
M1P0 33.30 55.55 44.44 44.44 44.44 44.44
M1P1 22.20 22.20 22.20 22.20 22.20 22.20
M1P2 3.07 22.40 22.20 22.20 22.20 22.20
M1P3 25.90 33.30 33.30 33.30 33.30 33.30

Dari Tabel 1. Diketahui bahwa pengaruh media tanam terhadap parameter persentase mata melentis (%) stump mata tidur pada karet yang tertinggi terdapat pada perlakuan M0 pada 4-8 MST, yaitu 49,9 % dan yang terendah terdapat pada perlakuan M1 pada 3 MST, yaitu sebesar 21,17 %.
Dari Tabel 1. Diketahui bahwa pengaruh pupuk P (fosfat) terhadap parameter persentase mata melentis (%) stump mata tidur karet yang tertingi terdapat pada perlakuan P0 pada 4 MST, yaitu sebesar 49,99% sedangkan perlakuan terendah terdapat pada P1 pada 3 MST, yaitu 2,05%.
Dari Tabel 1. Diketahui bahwa pengaruh media tanam dengan pupuk fosfat (MxP) terhadap parameter persentase mata melentis (%) stump mata tidur karet yang tertinggi terdapat pada perlakuan M0P2 dan M0P3 pada 4-8 MST, yaitu sebesar 55,55%, sedangkan perlakuan terendah terdapat pada perlakuan M1P2 pada 3 MST sebesar 3,07%.
Gambar 1. Diagram Batang Pengaruh Media Tanam Terhadap Persentase Mata Melentis (%)

Gambar 2. Grafik Pengaruh Pupuk P (fosfat) Terhadap Persentase Mata Melentis (%)

Gambar 3. Grafik Pengaruh Interaksi (MxP) Terhadap Persentase Mata Melentis

Tinggi Tunas (cm)
Tinggi tunas stump mata tidur karet (cm) pada pengaruh media tanam dan pupuk P (fosfsat) serta interaksi (MxP) dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel 2. Pengaruh Pupuk P (fosfat) dan Media Tanam Terhadap Tinggi Tunas (cm)
Perlakuan MST
1 2 3 4 5 6 7 8
Media tanam
M0 1.64 3.18 4.44 5.57 6.56 7.30 8.24 9.21
M1 0.09 2.27 2.16 3.03 3.64 4.30 4.92 5.22
Perlakuan
P0 2.47 6.15 6.27 7.09 8.07 9.07 9.93 10.47
P1 0.38 1.31 1.23 2.61 3.04 3.25 4.08 4.26
P2 0.36 2.18 4.08 5.31 6.27 6.86 7.72 9.07
P3 0.25 1.26 1.62 2.21 3.02 4.02 4.59 5.08
Interaksi
M0P0 4.93 6.02 6.97 7.64 8.53 8.63 9.76 10.85
M0P1 0.75 1.3 1.75 2.74 3.24 3.48 3.85 4.16
M0P2 0.71 4.36 7.03 9.15 10.83 11.95 13.58 15.57
M0P3 0.16 1.04 1.99 2.76 3.64 5.13 5.75 6.26
M1P0 0 3.14 5.56 6.53 7.61 9.51 10.1 10.08
M1P1 0 0.66 0.7 2.48 2.84 3.01 4.3 4.36
M1P2 0 0 1.13 1.46 1.70 1.76 1.86 2.56
M1P3 0.17 0.74 1.24 1.66 2.39 2.90 3.43 3.89

Dari Tabel 2. Diketahui bahwa pengaruh media tanam terhadap parameter tinggi tunas karet (cm) yang tertinggi yaitu pada M0 pada 8 MST (9,21) dan terendah pada M1 pada 1 MST (0,09).
Dari Tabel 2. Diketahui bahwa pengaruh pupuk P (fosfat) terhadap parameter tinggi tunas karet (cm) yang tertinggi terdapat pada P0 pada 8 MST (10,47) dan terendah pada P3 pada 1 MST (0,25).
Dari Tabel 2. Diketahui bahwa pengaruh interaksi anatara media tanam dengan pupuk P (fosfat) yang tertinggi terdapat pada perlakuan M0P0 pada 8 MST (10,85) dan terendah pada perlakuan M1P1, M1P2 dan M1P3 pada 1 MST (0).
Gambar 4. Diagram Batang Pengaruh Media Tanam Terhadap Tinggi Tunas (cm)

Gambar 5. Grafik Pengaruh Pupuk P (fosfat) Terhadap Tinggi Tunas (cm)

Gambar 6. Grafik pengaruh Pupuk P (fosfat) dan Media Tanam Terhadap Tinggi Tunas (cm)

Diameter Tunas (mm)
Diameter tunas stump mata tidur karet (mm) dari perlakuan media tanam dan pupuk P (fosfat), serta interaksi antara media tanam dan pupuk (MxP) dapat dilihat pada tabel 3.
Tabel 3. Pengaruh Pupuk P (fosfat) dan Media Tanam Terhadap Diameter Tunas (mm)
Perlakuan MST
1 2 3 4 5 6 7 8
Media tanam
M0 0.43 0.98 1.54 4.30 2.07 2.29 2.79 3.13
M1 0.14 0.20 0.59 3.23 1.52 1.38 1.34 1.82
Perlakuan
P0 0.47 1.09 1.55 3.39 2.17 2.26 2.05 2.32
P1 0.27 0.42 0.55 2.37 0.86 0.99 1.49 1.44
P2 0.15 0.26 1.25 4.80 1.95 2.29 2.79 3.62
P3 0.26 0.59 0.92 4.50 2.21 1.80 1.94 2.52
Interaksi
M0P0 0.93 2.04 2.31 2.65 2.75 2.77 3.12 3.58
M0P1 0.20 0.41 0.65 2.37 0.88 1.06 1.76 1.29
M0P2 0.29 0.52 1.60 6.50 2.63 3.00 3.77 4.85
M0P3 0.30 0.96 1.59 5.66 2.02 2.35 2.50 2.79
M1P0 0.00 0.14 0.78 4.13 1.58 1.75 0.97 1.06
M1P1 0.35 0.42 0.45 2.37 0.84 0.93 1.21 1.59
M1P2 0.00 0.00 0.90 3.10 1.27 1.57 1.80 2.38
M1P3 0.21 0.23 0.24 3.33 2.40 1.25 1.37 2.25

Dari Tabel 3. Diketahui bahwa pengaruh media tanam terhadap parameter diameter tunas (mm) stump mata tidur karet yang tertinggi terdapat pada M0 pada 4 MST (4,30) dan terendah pada perlakuan M1 pada 1MST (0,14).
Dari Tabel 3. Diketahui bahwa pengaruh pupuk P (fosfat) terhadap parameter diameter tunas (mm) stump mata tidur karet tertinggi pada P2 pada 8 MST (3,13) dan terendah pada perlakuan P2 pada 1 MST (0,15).
Dari Tabel 3. Diketahui bahwa pengaruh interaksi media tanam dan pupuk P (fosfat) terhadap parameter diameter tunas (mm) stump mata tidur karet tertinggi pada M0P2 pada 8 MST (4,85) dan terendah pada perlakuan M1P0 (0)
Gambar 7. Diagram Batang Pengaruh Media Tanam Terhadap Diameter Tunas (mm)

Gambar 8. Grafik Pengaruh Pupuk P (fosfat) Terhadap Diameter Tunas (mm)

Gambar 9. Grafik Pengaruh Pupuk P (fosfat) dan Media Tanam Terhadap Diameter Tunas (mm)

Pembahasan
Dari hasil pengamatan diketahui bahwa pengaruh media tanam terhadap parameter persentase mata melentis stump mata tidur karet yang tertinggi terdapat pada perlakuan M0 pada 4-8 MST, yaitu 49,9 % dan yang terendah terdapat pada perlakuan M1 pada 3 MST, yaitu sebesar 21,17 %. Hal ini disebabkan karena stum okulasi mata tidur (OMT) yang digunakan adalah batang bawah yang telah diokulasi dengan mata okulasi terpilih dan terjadi respon positif terhadap media tanamnya yaitu top soil. Hal ini sesuai dengan literatur Harahap (1986) yang menyatakan bahwa bibit karet klonal atau stum okulasi mata tidur (OMT) adalah batang bawah yang telah diokulasi dengan mata okulasi terpilih. Stum okulasi mata tidur tahan hidup, seragam, mudah dikemas, mudah diatur dan mudah diangkut. Bibit karet yang akan ditanan di lapang harus berasal dari klon unggul yang terpilih, pertumbuhan bibit dalam kondisi prima, terhindar dari hama/penyakit, dan sebagainya.
Dari hasil pengamatan diketahui bahwa pengaruh pupuk P (fosfat) terhadap parameter persentase mata melentis (%) stump mata tidur karet yang tertingi terdapat pada perlakuan P0 pada 4 MST, yaitu sebesar 49,99% sedangkan perlakuan terendah terdapat pada P1 pada 3 MST, yaitu 2,05%. Hal ini disebabkan karena media tanam yang digunakan gembur dan halus, sehingga akar baru yang keluar tidak terhambat pertumbuhannya. Hal ini sesuai dengan literautr Widianto (2000) yang menyatakan bahwa media yang digunakan untuk penyemaian biasa hanya terdiri atas pasir saja tetapi kadang-kadang juga diberi campuran sekam padi, lumut yang telah membusuk, tanah gembur, kompos, topsoil, dan benih. Asalkan tanahnya gembur dan halus, sehingga akar baru yang keluar tidak terhambat pertumbuhannya.
Dari hasil pengamatan diketahui bahwa pengaruh media tanam dengan pupuk fosfat (MxP) terhadap parameter persentase mata melentis (%) stump mata tidur karet yang tertinggi terdapat pada perlakuan M0P2 dan M0P3 pada 4-8 MST, yaitu sebesar 55,55%, sedangkan perlakuan terendah terdapat pada perlakuan M1P2 pada 3 MST sebesar 3,07%. Hal ini disebabkan karena fosfor mempunyai peranan penting dalam metabolisme energi. Hal ini sesuai dengan literautr Soepardi (1981) yang menyatakan bahwa ia diinkorporasikan dalam adenosin trifosfat, ATP, yang merupakan bagian dan paket dari ”energi umum” semua sel hidup dari spesies apapun.
Dari hasil pengamatan diketahui bahwa pengaruh media tanam terhadap parameter tinggi tunas karet (cm) yang tertinggi yaitu pada M0 pada 8 MST (9,21) dan terendah pada M1 pada 1 MST (0,09). Hal ini disebabkan karena stum okulasi mata tidur (OMT) yang digunakan adalah batang bawah yang telah diokulasi dengan mata okulasi terpilih dan terjadi respon positif terhadap media tanamnya yaitu top soil. Hal ini sesuai dengan literatur Harahap (1986) yang menyatakan bahwa bibit karet klonal atau stum okulasi mata tidur (OMT) adalah batang bawah yang telah diokulasi dengan mata okulasi terpilih. Stum okulasi mata tidur tahan hidup, seragam, mudah dikemas, mudah diatur dan mudah diangkut. Bibit karet yang akan ditanan di lapang harus berasal dari klon unggul yang terpilih, pertumbuhan bibit dalam kondisi prima, terhindar dari hama/penyakit, dan sebagainya.
Dari hasil pengamtan diketahui bahwa pengaruh pupuk P (fosfat) terhadap parameter tinggi tunas karet (cm) yang tertinggi terdapat pada P0 pada 8 MST (10,47) dan terendah pada P3 pada 1 MST (0,25). Hal ini disebabkan karena fosfor mempunyai peranan penting dlam meatbolisme energi. Hal ini sesuai dengan literatur Soepardi (1981) yang menyatakan bahwa ia diinkorporasikan dalam adenosin fosfat yang merupakan bagian umum semua sel hidup dari spesies apapun.
Dari hasil pengammatan diketahui bahwa pengaruh interaksi anatara media tanam dengan pupuk P (fosfat) terhadap parameter tinggi tunas yang tertinggi terdapat pada perlakuan M0P0 pada 8 MST (10,85) dan terendah pada perlakuan M1P1, M1P2 dan M1P3 pada 1 MST (0). Hal ini disebabkan karena terjadi interaksi yang positif antara media tanam maupun pupuk pada 8 MST. Hal ini sesuai dengan literatur Widianto (2000) yang menyatakan bahwa media yang digunakan untuk penanaman biasanya hanya terdiri atas topsoil yang memiliki kandungan bahan organik tinggi dan unsur hara yang kaya.
Dari hasil pengamatan diketahui bahwa pengaruh media tanam terhadap parameter diameter tunas (mm) stump mata tidur karet yang tertinggi terdapat pada M0 pada 4 MST (4,30) dan terendah pada perlakuan M1 pada 1MST (0,14). Hal ini disebabkan karena stum okulasi mata tidur (OMT) yang digunakan adalah batang bawah yang telah diokulasi dengan mata okulasi terpilih dan terjadi respon positif terhadap media tanamnya yaitu top soil. Hal ini sesuai dengan literatur Harahap (1986) yang menyatakan bahwa bibit karet klonal atau stum okulasi mata tidur (OMT) adalah batang bawah yang telah diokulasi dengan mata okulasi terpilih. Stum okulasi mata tidur tahan hidup, seragam, mudah dikemas, mudah diatur dan mudah diangkut. Bibit karet yang akan ditanan di lapang harus berasal dari klon unggul yang terpilih, pertumbuhan bibit dalam kondisi prima, terhindar dari hama/penyakit, dan sebagainya.
Dari hasil pengamatan diketahui bahwa pengaruh pupuk P (fosfat) terhadap parameter diameter tunas (mm) stump mata tidur karet tertinggi pada P2 pada 8 MST (3,13) dan terendah pada perlakuan P2 pada 1 MST (0,15). Hal ini disebabkan karena fosfor mempunyai peranan penting dlam meatbolisme energi. Hal ini sesuai dengan literatur Soepardi (1981) yang menyatakan bahwa ia diinkorporasikan dalam adenosin fosfat yang merupakan bagian umum semua sel hidup dari spesies apapun.
Dari hasil pengamatan diketahui bahwa pengaruh interaksi media tanam dan pupuk P (fosfat) terhadap parameter diameter tunas (mm) stump mata tidur karet tertinggi pada M0P2 pada 8 MST (4,85) dan terendah pada M1P0 (0). Hal ini disebabkan karena terjadi interaksi yang positif antara media tanam maupun pupuk pada 8 MST. Hal ini sesuai dengan literatur Widianto (2000) yang menyatakan bahwa media yang digunakan untuk penanaman biasanya hanya terdiri atas topsoil yang memiliki kandungan bahan organik tinggi dan unsur hara yang kaya.

KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
1. Pada paramater persentase mata melentis dengan pengaruh media tanamnya nilai tertinggi terdapat pada perlakuan M0 pada 4-8 MST, yaitu 49,9 %, sedangkan pengaruh pupuk fosfat yang tertinggi pada perlakuan P0 pada 4 MST, yaitu sebesar 49,99%, dan pada interaksi nilai tertinggi pada perlakuan M0P2 dan M0P3 pada 4-8 MST, yaitu sebesar 55,55%.
2. Pada parameter persentase mata melentis dengan pengaruh media tanamnya nilai terendah terdapat pada perlakuan M1 pada 3 MST, yaitu sebesar 21,17%, sedangkanpengaruh pupuk fosfat terendah terdapat pada perlakuan P1 pada 3 MST, yaitu 2,05%, dan pada interaksi nilai terendah terdapat pada perlakuan M1P2 pada 3 MST sebesar 3,07%
3. Pada parameter tinggi tunas dengan pengaruh media tanam, nilai tertinggi terdapat pada perlakuan M0 pada 8 MST (9,21), sedankan pengaruh pupuk P (fosfat) terdapat pada perlakuan P0 pada 8 MST (10,47), dan pada interaksi nilai tertinggi terdapat pada perlakuan M0P0 pada 8 MST (10,85).
4. Pada parameter tinggi tunas pada stump mata tidur dengan pengaruh media tanam, nilai terendah terdapat pada perlakuan M1 pada 1 MST (0,09), seddangkan pengaruh pupuk terdapat pada perlakuan P3 pada 1 MST (0,25), dan pada interaksi terdapat pada perlakuan M1P1, M1P2 dan M1P3 pada 1 MST (0).
5. Pada parameter diameter tunas (mm) stump mata tidur nilai tertinggi dengan pengaruh media tanam terdapat pada perlakuan M0 pada 4 MST (4,30), sedangkan pengaruh pupuk tertinggi terdapat pada perlakuan P2 pada 8 MST (3,13), dan pengaruh interaksi tertinggi terdapat pada perlakuan M0P2 pada 8 MST (4,85)
6. Pada parameter diameter tunas, nilai terendah dengan pengaruh media tanamnya terdapat pada perlakuan M1 pada 1MST (0,14), sedangkan pengaruh pupuk terdapat pada perlakuan P2 pada 1 MST (0,15), dan interaksi terendah pada perlakuan M1P0 (0).
Saran
Diharapkan pada penyajian data untuk lebih teliti agar tidak terjadi kesalahan.

DAFTAR PUSTAKA
Anwar, C., 2001. Manajemen Teknologi Budidaya Karet. Diakses dari http://ipard.com. Diakses tanggal 03 November 2010.
Buckman, H.D., dan N.C. Brady., 1982. Ilmu Tanah. Terjemahan Soegiman B. Karya Aksara, Jakarta.
Daryanto, 1975. Tinjauan Problema dan Perbanyakan Vegetatif pada Karet. Menara Perkebunan, Jakarta.
Hartmann, H.T., J. William, Klacker, M. Anton., dan Konfrafrek., 1981. Plant Science. Pretince Hall Inc, New Jersey.
http://deptan.disbun.com, 2010. Karet. Diakses tanggal 03 November 2010.
Kartasapoetra, A. G dan Sutedjo, 2000. Pupuk dan Cara Pemupukannya. Rineka Cipta, Jakarta.
Mahida, U. M., 1984. Pencemaran Air Dan Pemanfaatan Limbah Industri. Rajawali, Jakarta.
Nyakpa, M. Y., A. M. Lubis., Mamat. A. P., A. G. Amran., Ali, M. G.B. Hong dan N. Hakim, 1988. Kesuburan Tanah. Penerbit Universitas Lampung, Lampung.
Setiawan, D.H., dan A. Andoko., 2005. Petunjuk Lengkap Budidaya Karet. Agromedia Pustaka, Jakarta.
Setyamidjaja, D., 1989. Karet. Kanisius, Yogyakarta.
Sianturi, H.S.D., 2001. Budidaya Tanaman Karet. USU Press, Medan.
Supriyanto. A., 2001. Aplikasi Wastewater Sludge untuk Proses Pengomposan Serbuk Gergaji. http://www.mail-archive.com/zoa. biotek @ sinergy-forumnet.feb. Diakses tanggal 03 November 2010.
Syamsulbahri, 1996. Bercocok Tanam Tanaman Perkebunan Tahunan. UGM Press, Yogyakarta
http://www.feedmap.net/blog/document-penelitian-karet.php, 2010. Syarat Tumbuh Karet. Diakses tanggal 03 November 2010.
http://www.kehati.com/florakita/browser-php?docsid=865, 2010. Karet sintetis. Diakses tanggal 03 November 2010.

Bagan Percobaan
Ulangan
I II III
U

PENGARUH PEMBERIAN PUPUK KIMIA PADA TANAH INCEPTISOL NAMOTRASI TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN JAGUNG (Zea mays L.) DENGAN METODE SUBSTRAKSI

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Benih merupakan suatu sarana yang penting dalam produksi pertanian dan menjadi pembawa perubahan teknologi dalam pertanian. Peningkatan produksi tanaman hortikultura disebabkan oleh penggunaan benih varietas unggul disertai teknik budidaya yang lebih baik dibandingkan masa sebelumnya (Sumpema, 2005).
Perkecambahan biji adalah proses pertumbuhan embrio dan komponen-komponen biji yang mempunyai kemampuan untuk tumbuh secara normal menjadi tanaman baru. Komponen biji seperti calon akar (radicle), calon daun/ batang (plumula). Dengan demikian ada 2 jenis aktivitas yaitu aktivitas morfologis dan aktivitas kimiawi. Aktivitas morfologis ditandai dengan adanya organ-organ tanaman seperti akar, batang, daun sedangkan aktivitas kimiawi diawali dengan aktivitas hormon dan enzim yang menyebabkan aktivitas perombakan zat cadangan makanan seperti karbonhidrat, protein, lemak (Ashari, 1995).
Pemupukan pada umumnya bertujuan untuk memelihara atau memperbaiki kesuburan tanah dengan memberikan zat-zat kepada tanah yang langsung atau tidak langsung dapat menyumbangkan bahan makanan pada tanam-tanaman. Biasanya zat-zat tersebut cukup terdapat dalam tanah untuk keperluan tanaman, tetapi pada pemupukan tersebut pengaruhnya tidak langsung pada saat diperlukan, misalnya mempengaruhi pH tanah dan memperbaiki lingkungan keadaan tanah. Bahan-bahan semacam itu disebut juga bahan perbaikan (http://www.tanindo.com, 2010).
Andisol terdapat di wilayah volkan, seringkali di lereng gunung. Tanah ini terbentuk dalam bahan abu volkan dan mempunyai horison A molik atau umbruik berwarna tua, horison B kambik. Bahan abu sangat ringan, bersifat amorf, tidak terkristal baik yang menyebabkan konsistensi tanah lemak, tanah andisol bersifat tiksotropik (Burigh, 2000).
Data analisis tanah Andisol dari berbagai wilayah menunjukkan bahwa andisol memiliki tekstur yang bervariasi dari berliat sampai berlempung kasar. Reaksi tanah umumnya bersifat masam, kandungan bahan organik lapisan atas sedang dampai tinggi dan lapisan bawahnya umumnya rendah dengan rasio C/N tergolong rendah. Kandungan P dan K potensial bervariasi ,mulai dari rendah sampai tinggi, jumlah basa dapat ditukarkan, KTK tanah sebagian besat sedang sampai tinggi dengan KB sedang. Dengan demikian potensial kesuburan andisol dinilai tergolong sedang sampai tinggi (Damanik, dkk; 2010).
Tujuan Percobaan
Adapun tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui Pengaruh Pemberian Pupuk Kimia Pada Tanah Andisol Terhadap Pertumbuhan Tanaman Jagung ( Zea mays L.) Dengan Metode Substraksi.
Hipotesis Percobaan
– Pemberian pupuk kimia pada tanah Andisol dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman Jagung ( Zea mays L. ).
– Pertumbuhan jagung pada tanah Andisol cukup baik.
Kegunaan Percobaan
– Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Dapat Mengikuti Praktikal Tes di Laboratorium Kesuburan Tanah dan Pemupukan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.
– Sebagai bahan informasi bagi pihak yang membutuhkan.

TINJAUAN PUSTAKA
Tanah Andisol
Tanah andisol merupakan tanah yang terbentuk dari bahan abu volkan muda, memiliki bobot isi rendah, mengandung mineral-mineral berordo pendek atau mineral amorf (alofan dan imogolit) serta berpotensi fiksasi fosfat yang tinggi dengan kesuburan tanah sedang sampai tinggi (Rayes, 2007).
Ciri morfologi tanah andisol yaitu horizon A1 yang tebal berwarna kelam, cokelat sampai hitam, sangat berporous, dan sangat gembur, struktur remah atau granular, terasa berminyak karena mengandung bahan organik antara 8% sampai 30 % dengan pH 4,5-6 sedangkan horizo B2 berwarna kuning sampai cokelat, tekstur sedang, struktur begumpaldengan granulasi yang tidak pulih, mengandung bahan organik antara 2 %-8% dengan kapasitas peningkatan air tinggi (Darmawijaya, 1999).
Ciri-ciri horison Mollik yaitu:
– Mengandung bahan organik lebih 1% (0,6% C-organik).
– Warna lembab dengan value lebih kurang 3, tebal 18 atau lebih.
– Kejenuhan basa ( NH4 Oac) lebih dari 50%.
– B.O. > 1%, tapi < 20% jika pasiran, atau 100 mm/bulan) 7-9 bulan dan bulan kering (<60 mm/bulan) 4-6 bulan (http://nugrohobarnito.blog.plasa.com, 2010).
Jagung membutuhkan kelembaban udara sedang sampai dengan tinggi (50% – 80%) agar keseimbangan metabolisme tanaman dapat berlangsung dengan optimal (http://nugrohobarnito.blog.plasa.com, 2010).
Jagung mempunyai kemampuan menyesuaikan diri dibandingkan dengan tanaman lainnya yang berasal dari jenis yang sama. Jagung berasal dari daerah-daerah tropis namun telah banyak dikembangkan pada daerah sub tropis. Dari berbagai sifat yang dimilikinya, jagung menghendaki hawa yang cukup panas untuk pertumbuhannya sebab pada temperature minimum akan mengganggu perkecambahan dan pada temperature suhu yang maksimum embrio biji jagung dapat rusak. Variasi temperaturnya adalah 90C – 100C untuk temperature minimum, 230C – 270C untuk temperature optimum 400C – 440C (http://wahyuaskari.wordpress.com/akademik/botani-jagung, 2010).
Jagung selama pertumbuhannya harus mendapat sinar matahari yang cukup, sebab tanaman jagung yang ternaungi akan menghambat perkembangan dan pertumbuhannya sehingga dapat memberikan hasil yang kurang maksimal (Rukmana, 2007).
Angin dapat membantu proses penyerbukan tanaman jagung, akan tetapi angin yang terlalu kencang dapat menggagalkan pembungaan maupun dapat merusakkan tanaman (http://nugrohobarnito.blog.plasa.com, 2010).
Tanah
Tanaman jagung dapat tumbuh pada ketinggian 0-1300 m dpl. Tanah yang kemiringannya tidak lebih dari 8% masih dapat ditanami jagung dengan arah barisan melintang searah kemiringan tanah dengan maksud mencegah erosi pada waktu terjadi hujan sehingga pertumbuhannya maksimal (http://wahyuaskari.wordpress.com/akademik/botani-jagung, 2010).
Jagung dapat tumbuh pada hampir semua jenis tanah mulai tanah dengan tekstur berpasir hingga tanah liat berat. Namun jagung akan tumbuh baik pada tanah yang gembur dan kaya akan humus dengan tingkat derajat kesamaan (pH) tanah antara 5,5 – 7,5, dengan kedalamam air tanah 50 – 200 cm dari permukaan tanah dan kedalamam permukaan perakaran (kedalam efektif tanah) mencapai 20 –6- cm dari permukaan tanah. Pada tanah yang berat, perlu dibuat drainase, karena tanaman jagung tidak tahan terhadap genangan air (http://nugrohobarnito.blog.plasa.com/archives/14, 2010).
Unsur hara
Nitrogen
Sumber nitrogen sekitar 78% dari udara. Nitogen ditransformasikan dalam bentuk yang tersedia bagi tanaman yaitu NH4 + dan NO3-. Mitrogen masuk ke Biosfer disebabkan oleh jasad renik pengikat N yang dapat hidup bebas sehinngga terbentuk protein (Sutedjo, 2005).
Absorbsi N oleh tanaman jagung berlangsung selama pertumbuhannya. Pada awal pertumbuhan, akumulasi N dalam tanaman relatif lambat dan setelah berumur 4 minggu akumulasi N sangat cepat. Pada saat pembungaan (bunga jantan muncul) tanaman jagung telah mengabsorbsi N sebanyak 50% dari seluruh kebutuhannya. Oleh karena itu untuk memperoleh hasil jagung yang baik, unsur hara N dalam tanah harus cukup tersedia dalam fase tersebut. Cara pemberian pupuk N yang baik adalah dengan jalan meletakkan pupuk di permukaan tanah dan segera di bumbun, atau ditugal disamping tanaman dan ditutup kembali dengan tanah (http://www.tanindo.com, 2010).
Nitrogen berasal dari bahan organik (sisa-sisa tanaman/sampah tanaman) yang melapuk, yang ternyata dapat menyuburkan tanaman dan memberikan hasil, pelapukan-pelapukan ini berhasil telah melangsungkan pembentukkan pupuk organik (Sutedjo, 2005).
Fosfor
Fosfor merupakan unsur yang diperlukan dalam jumlah yang besar (hara makro). Jumlah fosfor dalam tanaman lebih kecil dibandingkan dengan nitrogen dan kalium. Tanaman menyerap fosfor dalam bentuk ion ortofosfat primer (H2PO4) dan ion ortofosfat skunder (HPO42-) (Rosmakam dan Yuwono,2002 )
Tanaman jagung mengabsorbsi unsur P dalam jumlah relatif lebih sedikit daripada absorsi unsur N dan K. Pola akumulasi P tanaman jagung hampir sama dengan akumulasi hara N. Pada fase awal pertumbuhan akumulasi P relatif lebih lambat, namun setelah umur 4 minggu meningkat dengan cepat dan saat keluar bunga jantan, akumulasi P pada tanaman jagung mencapai 35% dari seluruh kebutuhannya (http://www.tanindo.com, 2010).
Cara yang dilakukan untuk memfiksasi P si dalam tanah yaitu dilakukukan dengan mengatur pH dengan pengapuran, pemberian bahan organik yang menghasilkan anion dan kation yang mengurangi fiksasi, mengurangi kontak langsung antara pupuk dengan tanah, mengurangi daya absorpsi P oleh tanah yang akhirnya mempercepat daya penguraian P-organik menjadi P yang tersedia (Sutedjo, 2005).
Kalium
Kalium dapayt diserap tanaman dalam bentuk ion K+, Kumlah banyaknya pupuk yang diberikan untuk memperoleh hasil yang maksimum ataupun lebih menguntungkan tergantung pada jenis tanaman, tingkat produksi tanaman. tingkat ketersediaan K di dalam tanah dan pergiliran tanaman yang menggunakan pupuk secara berlebihan (Damanik, dkk; 2010).
Kalium dibutuhkan oleh tanaman jagung dalam jumlah paling banyak dibanding dengan unsur N dan P. Pada fase pembungaan akumulasi hara K telah mencapai 60-75% dari seluruh kebutuhannya (http://www.tanindo.com, 2010).
Beberapa cara pemberian pupuk K untuk tanaman yaitu dengan pemberian pada jalur, disebar di permukaan, ditebar dan dibajak, pemberian jalur ke dalam lapisan bawah tanah. Bila takaran pupuk yang diberikan kecil maka aplikasi secara baris biasanya lebih efesien daripada aplikasi secara tebar (Damanik, dkk; 2010).

Magnesium
Magnesium diserap tanaman dalam bentuk kation Mg2+, sebagian besar Mg tersebut diambil dari larutan tanah melalui mass flow sedangkan mealui intersepsi sangat sedikit. Jumlah Mg yang diserap tanaman lebih sedikit dibandingkan Ca dan K (Winarso,2005).
Magnesium di dalam tanah mempunyai fungsi yang cukup banyak. Magnesium merupakan atom pusat dalam molekul klorofil sehingga sangat penting dalam fotosintesis. Magnesium dan nitrogen adalah hara yang diambil tanah yang merupakan komponen penyusun klorofil. Biji-bijian juga banyak mengandung Mg, juga magnesium berperan dalam membantu metabolisme fosfat, respirasi tanaman dan aktivator beberapa sistem enzim (http://www.tanindo.com, 2010).

Defisiensi Hara
Gejala sehubungan dengan kekurangan unsur hara ini dapat terlihat dimulai dari daunnya, warnanya yang hijau agak kekuningan selanjutnya berubah menjadi kuning . Jaringan daun mati dan inilah yang menyebabkan daun selanjutnya menjadi kering dan berwarna merah kecoklatan (http://yudhiwijaya.wordpress.com, 2009).
Pada tanaman dewasa pertumbuhan yang terhambat ini akan berpengaruh pada pertumbuhan, yang dalam hal ini perkembangan buah tidak sempurna, umumnya kecil-kecil dan cepat matang. Kandungan unsur N yang rendah dapat menimbulkan daun penuh dengan serat, hal ini dikarenakan menebalnya membran sel daun sedangkan selnya sendiri berukuran kecil-kecil (http://www.tanindo.com, 2010).
Fosfor
Gejala yang tanpak ialah warna daun seluruhnya berubah menjadi tua, mengkilap kemerahan, pada tepi daun, cabang dan batang berwarna merah-ungu yang lambat laun berubah menjadi kuning, buahnya kerdil-kerdil dan jelek, dan lebih capat matang (Lingga.
Fungsi fosfat dalam tanaman adalah dapat mempercepat pertumbuhan akar semai, mempercepat dan memperkuat pertumbuhan tanaman dewasa pada umumnya, meningkatkan produk biji-bijian dan memperkuat tubuh tanaman padi-padian sehingga tidak mudah rebah. Karena itu defisiensi unsur hara ini akan menimbulkan hambatan pada pertumbuhan sistem perakaran, daun, batang seperti misalnya pada tanaman serealia (padi-padian, rumput-rumputan, jewawut, gandum, jagung) daunnya berwarna hijau tua/ keabu-abuan, mengkilap, sering pula terdapat pigmen merah pada daun bagian bawah, selanjutnya mati. Tangkai daun kelihatan lancip. Pertumbuhan buah jelek, merugikan hasil biji (http://yudhiwijaya.wordpress.com, 2009).
Gejala lain yang tampak yaitu sistem perakaran tanaman yang miskin dan tidak berkembang, tangkai daun lancip-lancip, hasil yang diperoleh berupa biji dan buah menjadi merosot, pembentukkan buah pada tanaman yang menghasilkan biji berkurang (Suriatna, 1992).
Kalium
Ditandai dengan munculnya bercak-bercak kuning pada daun, diikuti dengan mati/"mengeringnya" ujung dan pinggiran daun. Kejadian ini dimulai dari bagian tanaman yang lebih tua (http://yudhiwijaya.wordpress.com, 2009).
Pada tanah yang kekurangan zat kalium memperlihatkan gejala-gejala seperti daun-daun berubah jadi mengerut terutama pada daun tua, tetapi tidak merata, kemudian timbul bercak-bercak berwarna merah cokelat, mongering lalu mati, buah tumbuh tidak sempurna, kecil, hasilnya rendah dan tidak dapat disimpan (Lingga, 1999).
Kekurangan hara K tampak pada daun yang berwarna kuning hingga kering dan mati. Selain itu pembentukan tongkol tidak sempurna, ujung tongkol tidak terisi oleh biji dan biji jagung tidak melekat secara kuat pada tongkolnya http://www.tanindo.com, 2010).

Magnesium
Gejala defisiensi Mg pertama Nampak pada daun-daun yang lebih tua atau bawah, sehingga Mg di dalam tanaman juga disebut mobil atau dapat ditranslokasikan. Tanaman yang defisiensi Mg akan menunjukkan daun-daun yang menguning, berwarna kecokelatan, kemerahan sedangkan bagian daun tetap hijau (Winarso, 2005).
Kekurangan Mg yang tersedia bagi tanaman akan menimbulkan gejala – gejala yang tampak pada bagian daun, terutama pada daun tua. Klorosis tampak pada diantara tulang-tulang daun, sedangkan tulang-tulang daun itu sendiri tetap berwarna hijau. Bagian diantara tulang-tulang daun itu secara teratur berubah menjadi kuning dengan bercak kecoklatan. Daun-daun ini mudah terbakar oleh terik matahari karena tidak mempunyai lapisan lilin, karena itu banyak yang berubah warna menjadi coklat tua/kehitaman dan mengkerut (http://yudhiwijaya.wordpress.com2009).
Selain itu gejala yang tampak pada tanaman yang kekurangan Mg ialah daun tua yang juga klorosis. Daun-daun ini mudah terbakar oleh terik matahari karena tidak mempunyai lapisan lilin, karena itu banyak yang berubah warna menjadi coklat tua/kehitaman dan mengkerut (Lingga, 1999).

BAHAN DAN METODE
Tempat dan Waktu Percobaan
Percobaan dilakukan di lahan Fakultas Pertanian, Laboratorium Kesuburan Tanah dan Pemupukan Departemen Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan dengan ketinggian tempat ± 25 meter di atas permukaan laut. Percobaan ini dilaksanakan pada Februari-Mei 2010.

Bahan dan Alat

Adapun bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah tanah Inceptisol Namotrasi yang digunakan sebagai tanah percobaan, pupuk urea, sp-36, MOP, dan kiserit yang digunakan sebagai pupuk, bibit jagung yang digunakan sebagai bibit yang akan ditanam, label nama yang digunakan untuk menamai polybag, air yang digunakan untuk menyiram tanaman setiap hari.
Adapun alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah polybag yang digunakan sebagai media tanam, plastik kecil yang digunakan sebagai tempat pupuk yng akan dipakai, cangkul yang digunakan untuk mengamil tanah dari tempatnya, goni yang digunakan sebagai tempat tanah, ayakan yang diunakan untuk mengayak tanah, label nama yang digunakansebagai penanda percobaan, batu bata sebagai tempat tumpuan polybag, meteran untuk mengukur tinggi tanaman, jangka sorong utuk mengukur diameter batang tanaman, buku data untuk tempat menulis dta pengamatan, alat tulis untuk menulis data pengamatan, cawan yang digunakan untuk tempat tanah kering oven, oven untuk mengeringkan tanah, spanduk untuk pembatas lahan.
Metode Percobaan
Adapun metode yang digunakan dalam percobaan ini adalah metode subtraksi.

Prosedur Percobaan

Pengambilan contoh tanah di Lapangan
– Dikunjungi lokasi contoh tanah yang akan diambil seminggu sebelum pengambilan.
– Diambil tanah secara komposit di areal Binjai.
– Diambil contoh tanah pada setiap titik dari areal atau lokasi pada kedalaman 0-20 cm.
– Digunakan metode zig zag pada pengambilan tanah yang digunakan.
Penanganan contoh tanah di Laboratorium
– Dikeringudarakan tanah di Laboratorium dengan menggunakan polybag setara 5 kg.
– Dihitung terlebih dahulu BTKU kemudian diovenkan dan ditimbang sehingga didapatkan BTKO.
– Dihitung % KA dengan menggunakan rumus:
% KA =
Penanganan di Lahan
– Diletakkan batu bata di lahan.
– Dipindahkan polibag berisi tanah ke lahan dan diletakkan di atas batu bata.
– Ditanam benih jagung ke dalam masing-masing polibag sebanyak 3 benih.
– Disiram setiap hari dan diamati pertumbuhan tanaman jagung.
– Dibersihkan lahan dari gulma seminggu sekali agar terhindar dari hama.
– Dipasang spanduk untuk menghidari serangan hama.
Peubah Amatan
– Tinggi Tanaman (cm)
– Jumlah Daun (helai)
– Diameter Batang (mm)
– Berat Kering Atas (gr)
– Berat Kering Bawah (gr)

Pelaksanaan Percobaan
Pengambilan Contoh Tanah
Laboratorium
Tanah dikeringudarakan di Laboratorium dengan menggunakan polybag setara 5 kg. Dihitug terlebuh dahulu BTKU kemudian diovenkan dan ditimbang sehingga didapatkan BTKO, kemudian dihitung % KA dengan menggunakan rumus:
% KA =
Lapangan
Tanah Inseptisol diambil secara komposit di areal Binjai. Pada setiap titik dari areal atau lokasi, contoh tanah diambil pada kedalaman 0-20 cm. Tanah ini diambil pada bulan Februri. Metode pengambilan tanah yang digunakan adalah metode zigzag.
Pemupukan

Pemberian pupuk dilakukan sehari sebelum tanam sesuai dengan dosis yang telah ditentukan. Pupuk dicampur dengan tanah dalam polybag sehomogen mungkin.
Penanaman Tanaman Indikator

Benih tanaman indikator ditanam sebanyak 3 butir di dalam setiap polybag.

Pemeliharaan Tanaman

Pemeliharaan tanaman meliputi penyiraman yang dilakukan setiap hari denan air PAM atau yang berasal dari air hujan.

Peubah Amatan
Tinngi Tanaman
Tinggi tanaman diukur 1 Minggu setelah tanam dan diukur setiap hari kamis. Tinggi tanaman diukur dengan menggunakan penggaris atau meteran.
Jumlah Daun
Jumlah daun diukur setiap hari kamis. Di dalam penghitungan jumlah daun juga diamati bagaimana kondisi dari daun.
Diameter Batang
Diameter batang diukur setiap hari kamis. Diameter batang diukur dengan menggunakan jangka sorong.
Berat Kelobot
Berat kelobot dihitung saat panen. Berat kelobot ini dihitung dengan menggunakan timbangan.
Berat Kering
Akar
Berat kering akar dihitung setelah panen dan diukur dengan menggunakan timbangan.
Batang
Berat kering batang dihitung setelah panen dan diukur dengan menggunakan timbangan

HASIL DAN PEMBAHSAN
Hasil
Tabel I. Tinggi Tanaman
Perlakuan Tinggi Tanaman Persentase terhadap lengkap
I II I II

Kontrol 123 80,2 83,95 54,74
Lengkap 128,5 146,5 82,25 100
-N 73,7 68,2 50,30 46,55
-P 128 116,5 87,37 79,52
-K 146 122 99,65 83,27
-Ca 130,5 125 89,07 83,95
-Mg 157 124 107,16 84,64
-NP 117,5 73,2 80,20 49,96
-NK 81,5 74,5 55,63 51,12
-PK 113,2 124,5 77,26 84,98
-KCa 119 183,5 81,22 84,30
-CaMg 178 183 121,50 124,91
-NPK 116,5 73,3 79,52 51,39

Tabel II Diameter Batang
Perlakuan Diameter Batang Persentase terhadap lengkap
I II I II
Kontrol 9,4 9,25 46,41 45,67
Lengkap 15,2 20,25 75,06 100
-N 7,3 12,35 36,04 60,98
-P 14,4 15,45 71,11 76,29
-K 18,45 19,45 91,11 96,04
-Ca 17,35 22,3 85,67 110,12
-Mg 19,45 19,3 96,04 95,30
-NP 10,45 8,3 51,35 40,98
-NK 10,25 9,25 70,86 76,29
-PK 14,35 15,45 70,86 76,29
-KCa 15,45 18,45 70,86 91,11
-CaMg 20,05 20,45 99,01 100,98
-NPK 9,4 8,5 46,41 41,97

Tabel III. Jumlah Helai Daun
Perlakuan Helai daun Persentase terhadap lengkap
I I II II
Kontrol 8 46,41 72,72 81,81
Lengkap 11 75,06 100 118,18
-N 7 36,04 63,63 63,63
-P 8 71,11 72,72 90,90
-K 13 91,11 118,18 118,18
-Ca 13 85,67 118,18 118,18
-Mg 13 96,04 118,18 109,09
-NP 11 51,35 100 63,63
-NK 10 70,86 90,90 81,81
-PK 10 70,86 90,90 72,72
-KCa 10 70,86 90,90 118,18
-CaMg 13 99,01 118,18 118,18
-NPK 10 46,41 90,90 63,63

Tabel V. Bobot Kering Tajuk Tanaman
Perlakuan Bobot kering akar Tanaman Persentase terhadap lengkap Kriteria
I II I II I II
Kontrol 13,74 5,60 32,02 13,05 Berat Gawat
Lengkap 42,90 100 100 233,1 Cukup Cukup
-N 4,58 3,75 10,67 8,74 Gawat Gawat
-P 42,71 57,54 99,55 134,12 Cukup Cukup
-K 81,54 69,12 190,06 161,11 Cukup Cukup
-Ca 13,94 4,39 32,49 10,23 Berat Gawat
-Mg 18,20 11,07 42,42 25,8 Berat Berat
-NP 30,17 54,55 70,32 127,15 Sedang Cukup
-NK 40,29 162,63 93,91 379,09 Cukup Cukup
-PK 157,79 148,82 367,8 346,9 Cukup Cukup
-KCa 24,95 11,20 58,15 26,1 Sedang Berat
-CaMg 45,06 70,40 105,03 164,10 Cukup Cukup
-NPK 57,86 72,05 134,87 167,94 Cukup Cukup

Tabel IV. Bobot Kering Akar Tanaman
Perlakuan Bobot kering akar Tanaman Persentase terhadap lengkap Kriteria
I II I II I II
Kontrol 2,34 9,62 5,16 21,23 Gawat Berat
Lengkap 45,30 100 100 220,75 Cukup Cukup
-N 12,44 4,69 27,46 10,35 Berat Gawat
-P 67,13 33,56 148,19 74,08 Cukup Sedang
-K 79,57 62,91 175,65 138,87 Cukup Cukup
-Ca 126,29 63,61 278,78 140,42 Cukup Cukup
-Mg 85,91 33,56 189,64 74,08 Cukup Sedang
-NP 24,88 8,92 54,92 19,69 Sedang Gawat
-NK 12,91 9,15 28,5 20,2 Berat Gawat
-PK 104,22 24,88 230 54,92 Cukup Sedang
-KCa 99,53 67,84 219,71 149,75 Cukup Cukup
-CaMg 474,17 79,57 1046,7 175,65 Cukup Cukup
-NPK 29,34 15,25 64,76 33,66 Sedang Berat

Data PUTK
Dari hasil pengamatan di lapangan, hasil PUTK yang didapat pada tanah inseptisol adalah bahwa kandungan unsur hara P rendah dan dosis pupuk SP-36 untuk tanaman jagung adalah 250 kg/Ha.

Pembahasan
Bobot kering akar tanaman yang tertinggi terhadap persentase perlakuan lengkap yaitu 220% pada ulangan II dibandingkan dengan ulangan I. Hal ini dapat dibuktikan bahwa bobot kering akar tanaman pada perlakuan lengkap terhadap ulangan II yaitu 100 gr sedangkan pada ulangan II yaitu 45.3. Hal ini terjadi karena adanya peranan unsur hara fosfat yang merupakan unsur yang diperlukan dalam jumlah besar. Hal ini sesuai dengan literatur Sutedjo ( 2002) yang menyatakan bahwa Secara umum fungsi dari fosfor (P) dalam tanaman yaitu dapat mempercepat pertumbuhan akar semai.
Bobot kering akar tanaman yang terendah terhadap persentase perlakuan lengkap yaitu 100%. Hal ini dapat dibuktikan bahwa bobot kering akar tanaman pada perlakuan lengkap terhadap ulangan I yaitu 45,3. Hal ini karena peranan unsur hara K terhadap penyerapan hara melalui akar. Hal ini sesuai dengan literatur Damanik, dkk (2010) yang menyatakan bahwa Kalium dapat diserap tanaman dalam bentuk ion K+, jumlah banyaknya pupuk yang diberikan untuk memperoleh hasil yang maksimum ataupun lebih menguntungkan tergantung pada jenis tanaman, tingkat produksi tanaman. tingkat ketersediaan K di dalam tanah dan pergiliran tanaman yang menggunakan pupuk secara berlebihan.
Berat kering tajuk tanaman yang tertinggi terhadap persentase perlakuan lengkap yaitu 233,1% pada ulangan II dibandingkan dengan ulangan I. Hal ini dapat dibuktikan bahwa berat kering tajuk tanaman pada perlakuan lengkap terhadap ulangan II yaitu 100 sedangkan pada ulangan II yaitu 42,9. Hal ini disebabkan adanya peran atau fungsi N yaitu untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman, dapat menyehatkan pertumbuhan daun, daun tanaman lebar dengan warna yang lebih hijau, meningkatkan kadar protein dalam tubuh tanaman, meningkatkan kualitas tanaman penghasil daun-daunan. Hal ini sesuai dengan literatur Sutedjo (2002) yang menyatakan bahwa fungsi N yaitu untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman, dapat menyehatkan pertumbuhan daun, daun tanaman lebar denga warna yang lebih hijau, meningkatkan kadar protein dalam tubuh tanaman, meningkatkan kualitas tanaman penghasil daun-daunan. Oleh karena itu untuk memperoleh hasil jagung yang baik, unsur hara N dalam tanah cukup tersedia dalam fase tersebut.
Berat kering tajuk tanaman yang terendah terhadap persentase perlakuan lengkap yaitu 100% pada ulangan I. Hal ini dapat dibuktikan bahwa berat kering tajuk tanaman pada ulangan I yaitu 42,9. Hal ini terjadi karena pertumbuhan tanaman jagung yang terhambat dan kandungan unsur N yang rendah. Hal ini sesuai literatur Damanik, dkk (2010) yang menyatakan bahwa hal ini disebabkan jumlah nitrogen yang terdapat di dalam tanah sedikit sedangkan yang diangkut tanaman dalam bentuk panenan setiap musim cukup banyak. Di samping itu, senyawa nitrogen anorganik sangat larut dan mudah hilang dalam air drainase, tercuci, dan menguap ke atmosfer.
Bobot kering akar tanaman terhadap perlakuan kontrol yaitu pada ulangan II bobot kering akar tanaman sebesar 21,23% sedangkan pada ulangan I bobot kering akar tanaman sebesar 5,16%. Ini menunjukkan bahwa bobot kering akar tanaman pada ulangan II lebih tinggi daripada ulangan I. Hal ini terjadi karena adanya peranan unsur hara fosfat yang merupakan unsur yang diperlukan dalam jumlah besar. Hal ini sesuai dengan literatur Sutedjo (2002) yang menyatakan bahwa secara umum fungsi dari fosfor (P) dalam tanaman yaitu dapat mempercepat pertumbuhan akar semai. Bobot kering tajuk tanaman terhadap perlakuan kontrol yaitu pada ulangan I bobot kering tajuk tanaman sebesar 32,02% sedangkan pada ulangan II bobot kering tajuk tanaman sebesar 13,05%. Ini menunjukkan bahwa bobot kering tajuk tanaman pada ulangan I lebih tinggi daripada ulangan II. Hal ini disebabkan adanya peran atau fungsi N yaitu untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman, dapat menyehatkan pertumbuhan daun, daun tanaman lebar dengan warna yang lebih hijau, meningkatkan kadar protein dalam tubuh tanaman, meningkatkan kualitas tanaman penghasil daun-daunan. Hal ini sesuai dengan literatur Sutedjo (2002) yang menyatakan bahwa fungsi N yaitu untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman, dapat menyehatkan pertumbuhan daun, daun tanaman lebar dengan warna yang lebih hijau, meningkatkan kadar protein dalam tubuh tanaman, meningkatkan kualitas tanaman penghasil daun-daunan. Oleh karena itu untuk memperoleh hasil jagung yang baik, unsur hara N dalam tanah cukup tersedia dalam fase tersebut.

KESIMPULAN

Kesimpulan
1. Bobot kering akar tanaman tertinggi terhadap persentase perlakuan lengkap yaitu pada ulangan II = 220,75% dengan berat kering akar tanaman= 100gr.
2. Bobot kering akar tanaman terendah terhadap persentase perlakuan lengkap yaitu pada ulangan I = 100% dengan berat kering akar tanaman= 45,3 gr.
3. Bobot kering tajuk tanaman tertinggi terhadap persentase perlakuan lengkap yaitu pada ulangan II = 233,1% dengan berat kering tajuk tanaman= 100 gr.
4. Bobot kering tajuk tanaman terendah pada ulangan I = 100% dengan berat kering akar tanaman= 42,90 gr.
5. Bobot kering akar tanaman pada perlakuan kontrol terhadap ulangan I = 2.34 dengan persentase terhadap lengkap = 5,16%. Sedangkan ulangan II = 9,62 dengan persentase terhadap lengkap = 21,23%.
6. Bobot kering tajuk tanaman pada perlakuan kontrol terhadap ulangan I = 13,74 dengan persentase terhadap lengkap = 32,02%. Sedangkan ulangan II = 5,6 dengan persentase terhadap lengkap = 13,05%.

DAFTAR PUSTAKA
Anonimous, 2010a. Jagung. Http://id.wikipedia.org. Diakses pada tanggal 16 April 2010.

Anonimous, 2010b. Syarat Tumbuh Jagung. Http://nugrohobarnito.blog.plasa.com. Diakses pada tanggal 16 April 2010.

Anonimous, 2010c. Budidaya Jagung. Http://teknis-budidaya.blogspot.com. Diakses pada tanggal 16 April 2010.

Anonimous, 2010d. Jagung. Http://wahyuaskari.wordpress.com. Diakses pada tanggal 16 April 2010.

Anonimous, 2010e. Unsur Hara. http://www.o-fish.com. Diakses pada tanggal 16 April 2010.

Anonimous, 2010¬f. Jagung. http://www.tanindo.com. Diakses pada tanggal 16 April 2010.

Anonimous, 2010g. Unsur Hara pada Tanaman. Http://yudhiwijaya.wordpress.com. Diakses pada tanggal 16 April 2010.

Ashari, S. 1995. Hortikultura Aspek Budidaya. UI-Press, Jakarta.

Damanik, M. M. B, B. E. H. Hasibuan, Fauzi, Sarifuddin, dan H. Hanum, 2010. Kesuburan Tanah dan Pemupukan. USU-Press, Medan.

Darmawijaya, M. I. 1999. Klasifikasi Tanah. UGM-Press, Yogyakarta.

Rayes, L. M. 2007. Metode Inventarisasi Sumber Daya Lahan. Penerbit ANDI, Yogyakarta.

Rosmarkam, A., dan N. W. Yuwono, 2002. Ilmu Kesuburan Tanah. Penerbit Kanisius, Yogyakarta.

Rukmana, H. R. 1997. Usaha Tani Jagung. Penerbit Kanisius, Yogyakarta.

Steenis, C. G. G. J. V, 1975. Flora untuk Sekolah di Indonesia. Pradnyaparamita, Jakarta.

Sumpema, U. 2005. Benih Sayuran. Penebar Swadaya, Jakarta.

Sutedjo, M. M, 2002. Pupuk dan Cara Pemupukan. Rineka Cipta, Jakarta.

Winarso, S. 2005. Kesuburan Tanah. Dasar Kesehatan dan Kualitas Tanah. Penerbit Gava Media, Yogyakarta.

PENGUJIAN AGEN ANTAGONIS DALAM PENGENDALIAN PATOGEN PENYAKIT TANAMAN SECARA IN VITRO

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Sekarang ini istilah “manajemen penyakit” memiliki kecenderungan menggantikan istilah dari “pengendalian penyakit”. Idealnya tujuan dari sistem manajemen penyakit tumbuhan adalah untuk menghasilkan pengendalian secara lengkap. Di dalam praktek manajemen penyakit akan dikatakan sukses apabila dapat menghasilkan pengembalian ekonomi secara nyata. Sistem ini seyogyanya difokuskan untuk penyelamatan pertanaman, jangan hanya pada individu tanaman saja. Alasannya adalah perlakuan manajemen yang ditujukan hanya untuk tanaman secara individu saja jarang yang secara lengkap berhasil, untuk itu diperlukan adanya penyatuan program (integrated programme) (Yudiarti, 2007).
Dewasa ini banyak diketahui bahwa Trichoderma spp. dan Glioclodium spp dapat dipakai untuk mengendalikan berbagai penyakit bawaan pada tanah. Pengendalian secara biologis juga dapat dilakukan dengan patogen yamg tidak virulen dari jenis yang sama sebagai pesaing (kompetitor) ( Schlegel, 1994).
Dalam fitopatologi pada umumnya diikuti batasan, yang menyatakan bahwa pengendalian biologis meliputi setiap usaha untuk mengurangi intensitas sesuatu penyakit tumbuhan dengan memakai bantuan satu atau lebih jasad hidup, selain tumbuhan inang sendiri dan manusia. Dengan mengikuti batasan itu pengendalian fisiologis tidak meliputi pengendalian dengan penanaman tanaman yang tahan, meskipun pengendalian ini juga bersifat biologis (Semangun, 1996).
Mikroorganisme tanah, meskipun jarang, memiliki kehidupan yang lengkap pada habitatnya di alam secara in vivo . Namun demikian, sejak pertumbuhan mikroba dan hasilnya berdampak pada pertumbuhan di ekosistem dikontrol oleh faktor biotik dan dan interaksi abiotik dengan ekosistem, evaluasi tentang aktivitas mikroba pada kultur campurannya lebih jarang daripada pada di kultur alaminya (Tate, 1986).
Layu Fusarium pada pisang, yang sering juga disebut penyakit Panama, dianggap sebagai penyakit yang paling penting pada pisang dis eluruh dunia. Bahkan penyakit ini termasuk kelompok penyakit-penyakit tumbuhan yang paling merugikan di tropika. Untuk pertama kali penyakit ditemukan di Amerika tropika menjelang berakhirnya abad ke-19. Tetapi kerugian karena layu Fusarium baru terasa pada tahun 1910-an, pada waktu jenis “Gros Michel” (pisang ambon) diperkebunan secara besar-besaran disana (Semangun, 1994).

Tujuan Percobaan
Adapun tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui agen antagonis mengendalikan patogen penyebab penyakit tanaman secara in vitro.
Hipotesis Percobaan
1. Adanya interaksi antara agen antagonis dengan patogen penyakit tanaman secara in vitro.
2. Adanya kemampuan agen antagonis yang berbeda dalam menekan perkembangan jamur patogen tanaman.

Kegunaan Percobaan
 Sebagai salah satu syarat untuk dapat mengikuti praktikal tes di Laboratorium Bioteknologi Pertanian Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan.
– Sebagai bahan informasi bagi pihak yang membutuhkan.

TINJAUAN PUSTAKA
Biologi Penyebab Penyakit
Fusarium oxysporium f.sp cubens
Di alam jamur membentuk konidium pada suatu badan yang disebut sporodokium, yang dibentuk pada permukaan tangkai atau daun sakit pada tingkat yang telah lanjut. Sporodokium jamur keluar dari mulut kulit. Konidiofor bercabang-cabang, rata-rata mempunyai panjang 70 µm. Cabang-cabang samping biasanya bersel satu, panjangnya sampai 14 µm. Konidium terbentuk pada ujung utama atau cabang samping. Mikrokonodium bersel 1 atau bersel 2, hialin, jorong atau agak memanjang, berukuran 5-7 x 2,5-3 µm. Mikrokonodium berbentuk sabit, bertangkai kecil, kebanyakan bersel 4, hialin, berukuran 22-36 x 4-5 µm. Klamidospora bersel 1, jorong atau bulat, berukuran 7-13 x 7-8 µm, terbentuk ditengah hifa atau pada makrokonidium (Semangun, 1994).
Fusarium oxysporium f.sp licopersici
Semua Fusarium yang menyebabkan penyakit layu dan berada dalam pembuluh (vascular disease) dikelompokkan dalam satu jenis (spesies), yaitu Fusarium oxysporium Schlecht. Jenis ini mempunyai banyak bentuk (forma) yang mengkhususkan diri pada jenis (spesies) tumbuhan tertentu. Jamur F.oxysporium f.sp lycopersici diketahui mempunyai banyak ras fisiologi. Menurut Suhardi dan Bustaman (1979), yang paling banyak terdapat dibanyak negara adalah ras 1, sedang meskipun agak sedikit ras 2 juga terdapat. Seterusnya menurut Suhardi, ras 1 terdiri dari 2 galur. Galur putih mempunyai virulensi yang lebih tinggi daripada galur ungu. Adanya ras-ras dan galur-galur ini akan mempersulit usaha untuk memperoleh varietas tomat yang tahan ( Semangun, 1996).
Sclerotium roftsii

Daur Hidup
F. oxysporium f.sp lycopersici dapat bertahan lama dalam tanah dalam bentuk klamidospora. Jmaur ini adalah jamur tanah, atau yang lazim disebut sebagai soil inhabitant. Jamur mengadakan infeksinya pada akar, terutama melalui luka-luka, atau melalui luka pada akar yang terjadi akibat munculnya akar lateral. Meskipun demikian jamur dapat juga mengadakan infeksi pada akar yang tidak mempunyai luka, khususnya pada ujung akar. Jamur berkembang sebentar dalam jaringan parenkim, lalu menetap dan berkembang dalam berkas pembuluh (Semangun, 1996).
Jamur mengadakan infeksi melalui akar-akar. Jamur tidak dapat menginfeksi batang atau akar-rimpang meskipun bagian ini dilukai. Setelah masuk kedalam akar jamur berkembang sepanjang akar menuju ke batang, dan di sini jamur berkembang secara meluas dalam jaringan pembuluh sebelum masuk ke dalam batang palsu. Tingkat infeksi selanjutnya, miselium dapat meluas dari jaringan pembuluh ke parenkim. Jamur membentuk banyak spora dalam jaringan tanaman, dan mikrokonodium dapat terangkut dalam arus transpirasi (Semangun, 1994).

Gejala Serangan
Gejala awal dari penyakit F. oxysporium f.sp lycopersici adalah menjadi pucatnya tulang-tulang daun, terutama daun-daun atas, kemudian diikuti dengan menggulungnya daun yang lebih tua (epinasti) karena merunduknya tangkai daun, dan akhirnya tanaman menjadi layu secara keseluruhan. Pada batang kadang-kadang terbentuk akar adventif. Tanaman kerdil dan merana tumbuhnya (Semangun, 1996).
Tepi daun-daun bawah berwarna kuning tua, yang lalu menjadi coklat dan mengering. Tangkai daun paah disekeliling batang palsu. Kadang-kadang lapisan luar batang palsu terbelah dari permukaan tanah. Jika pangkal batang dibelah membujur, terlihat garis-garis coklat atau hitam menuju ke semua arah, dari bonggol ke atas melalui jaringan pembuluh ke pangkal daun dan tangkai. Berkas pembuluh akar biasanya tidak berubah warnanya, namun sering kali akar tanaman sakit berwarna hitam dan membusuk (Semangun, 1994).
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi
Penyakit layu Fusarium berkembang pada suhu tanah 21-33 oC, dengan suhu optimumnya adalah 28 oC. Sedangkan kelembapan tanah yang membantu tanaman, ternyata juga membantu perkembangan penyakit. Seperti kebanyakan Fusarium, penyebab penyakit ini dapat hidup pada pH tanah yang luas variasinya (Semangun, 1996).
Penyakit layu Fusarium lebih merugikan di tanah aluvial yang asam. Pada umumnya di tanah geluh yang bertekstur ringan atau di tanah geluh berpasir, penyakit dapat meluas dengan lebih cepat (Semangun, 1994).
Pengendalian
Adapun pengendalian yang dilakukan dalam mengendalikan Fusarium, yaitu dengan 1) Penanaman varietas tahan, 2) Pemakaian fungisida, 3) Mencegah infestasi tanah, 4) Perlakuan tanah, 5) Mengendalikan populasi media (Semangun, 1996).
Jika kelak kerugian karena penyakit ini meningkat, usaha-usaha berikut dapat dilakukan. 1) tidak menanam jenis pisang yang rentan di lahan yang terinfestasi patogen, 2) hanya menanam bahan tanaman (anakan) yang sehat, 3) tanaman yang sakit beserta dengan tanah disekelilingnya dibongkar dan dikeluarkan dari kebun, 4) memelihara tanaman dengan hati-hati untuk mengurangi terjadinya luka-luka pada akar 5) mengendalikan cacing-cacing akar (Nematoda) dengan nematisida (Semangun, 1994).

Biologi Agen Antagonis

Sistematika Trichoderma harzianum menurut Semangun (2000) adalah sebagai berikut:
Kingdom : Fungi
Phylum : Ascomycota
Class : Ascomycetes
Subclass : Hypocreomycetidae
Ordo : Hypocreales
Family : Hypcreaceae
Genus : Trichoderma
Species : Trichoderma harzianum
Sistematika Trichoderma koningii menurut Semangun (2000) adalah sebagai berikut:
Kingdom : Fungi
Phylum : Ascomycota
Class : Ascomycetes
Subclass : Hypocreomycetidae
Ordo : Hypocreales
Family : Hypcreaceae
Genus : Trichoderma
Species : Trichoderma koningii
Sistematika Gliocladium spp. menurut Semangun (2000) adalah sebagai berikut:
Kingdom : Fungi
Phylum : Ascomycota
Class : Ascomycetes
Subclass : Hypocreomycetidae
Ordo : Hypocreales
Family : Hypcreaceae
Genus : Gliocladium
Species : Gliocladium spp.

Manfaat dan Keunggulan
Mendapatkan strain unggul Trichoderma yang mampu mengkolonisasi akar dan bersifat endofit pada tanaman pisang sehingga efektif dalam pengendalian penyakit layu Fusarium. Kemampuan kolonisasi dan keberadaan endofit Trichoderma pada akar bibit pisang belum relefan dengan peningkatan jumlah daun bibit pisang, tetapi ada kecendrungan interaksi Trichoderma spp dengan ketiga jenis pisang dapat meningkatkan jumlah daun bibit pisang (http://lp.unand.ac.id, 2010).

BAHAN DAN METODE
Tempat dan Waktu Percobaan
Adapun percobaan dilaksanakan di Laboratorium Bioteknologi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara Medan dengan ketinggian ± 25 m diatas permukaan laut pada tanggal 29 April 2010 pukul 15.00 sampai dengan selesai.
Bahan dan Alat Percobaan
Adapun bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah Potato Dextrose Agar (PDA) sebagai media yang digunakan dalam biakan murni, alkohol sebagai pensteril alat dan tangan, jamur antagonis Trichoderma koningii, T. harzianum dan Gliocladium spp. sebagai agen antagonis, jamur patogen Fusarium oxysporium f.sp cubens, F. oxysporium f.sp lycopersici dan Sclerotium rolfsii sebagai patogen penyebab penyakit tanaman dan label nama sebagai penanda polibag.
Adapun alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah petridisk sebagai tempat menaruh media PDA, cling wrap sebagai plastik penutup pada petridisk supaya tidak terkontaminasi, jarum inokulasi sebagai alat untuk menaruh potongan agar patogen dan agen kedalam media yang baru, bor gabus untuk memotong media dalam biakan murni, lampu bunsen sebagai alat untuk pensteril alat dan media erlenmeyer sebagai tempat untuk membuat media PDA, aluminium foil sebagai pelapis untuk menutup erlenmeyer, autoklaf sebagai alat untuk mensterilisasi media dan alat yang akan digunakan, dan buku data sebagai tempat untuk menulis data dan alat tulis sebagai alat untuk menulis.
Metode Percobaan
Praktikum ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap yang terdiri dari 3 faktor, yaitu :
Faktor 1 adalah patogen
P1 : Fusarium oxysporium f.sp cubens
P2 : Fusarium oxysporium f.sp lycopersici
P3 : Sclerotium rolfsii
Faktor 2 adalah agen antagonis, yaitu :
A1 : Trichoderma koningii
A2 : Trichoderma harzianum
A3 : Gliocladium spp.
Faktor 3 adalah posisi letak agen antagonis, yaitu :
K1 : 2 titik (two points)
K2 : 3 titik (three points)
Adapun perlakuan kombinasi dari praktikum ini adalah :
P1A1K1 P1A1K2 P1A2K1 P1A2K2 P1A3K1 P1A3K2
P2A1K1 P2A1K2 P2A2K1 P2A2K2 P2A3K1 P2A3K2
P3A1K1 P3A1K2 P3A2K1 P3A2K2 P3A3K1 P3A3K2
Kombinasi perlakuan : 18
Ulanagn sebanyak 3 kali, diperoleh dari :
(t-1) (r-1) ≥ 15
(18-1) (r-1) ≥ 15
17r-17 ≥ 15
r ≥ 32/17
r ≥ 1,882
r = 3
Pelaksanaan Percobaan

Persiapan Media
Media yang digunakan yaitu media PDA (Potato Dextrose Agar).
 Ditimbang 250 gr kentang, 20 gr agar dan 20 gr dextrose
 Dikupas kentang dan dicuci hingga bersih
 Dipotong-potong kentang dengan bentuk dadu kecil
 Direbus potongan kentang dengan menggunakan aquadest secukupnya hingga mendidih
 Disaring ekstrak kentang dengan menggunakan kain muslin dan dimasukkan kedalam beaker glass
 Dicampurkan ekstrak kentang dengan dextrose dan agar, dan ditambahkan aquadest hingga volume larutan mencapai 1000 ml
 Dicairkan larutan PDA didalam beaker glass dalam rendaman air mendidih selama lebih kurang 15 menit atau hingga mendidih dan diaduk secara perlahan. Sebagai alternatif lain, dapat juga digunakan magnetic stirer ke dalam beaker glass dan panaskan diatas hot plate
 Dimasukkan larutan PDA yang telah teraduk rata ke dalam erlenmeyer
 Ditutup/disumbat mulut erlenmeyer dengan kapas padat
 Dibungkus rapat mulut erlenmeyer dengan aluminum foil dan cling wrap
 Diberi label pada erlenmeyer dengan spidol
Sterilisasi Media
 Diperiksa terlebih dahulu banyaknya air didalam autoklaf sebelum melakukan sterilisasi
 Dimasukkan media yang akan disterilisasi, kemudian tutup dengan skrup pengaman
 Dinyalakan api dan dibiarkan katup udara terbuka sehingga semua udara di dalam autoklaf di ganti oleh uap
 Pergantian udara dengan uap ini diikuti oleh peningkatan tekanan dan suhu
Pada saat tekanan mencapai 15 lbs dan suhu meningkat 121 oC, proses sterilisasi dimulai. Waktu yang diperlukan untuk mensterilkan media sekitar 15-20 menit.
 Setelah proses sterilisasi, api dimatikan dan tekanan dibiarkan turun sehingga mencapai 0. Autoklaf tidak boleh dibuka sebelum tekanan mencapai angka 0, karena cairan dalam tabung erlenmeyer dapat tumpah keluar disebabkan penurunan suhu yang mendadak
 Dibuka autoklaf, kemudian diambil erlenmeyer atau tabung dengan penjepit. Perhatikan bahwa peralatan dan cairan yang baru dikeluarkan dari autoklaf bersuhu tinggi sehingga dapat menimbulkan luka bakar.

Penuangan Media
 Disiapkan cawan petri yang steril
 Dibuka tutup/penyumbat erlenmeyer dan dipegang kapas diantara jari tengah dan telunjuk dengan tangan kiri saat memanaskan mulut erlenmeyer
 Dibuka tutup cawan dan dituangkan media agar hingga menutupi dasar cawan atau sebanyak 15 ml
 Dipanaskan cawan petri dan mulut erlenmeyer dengan kapas
 Dituang media ke cawan berikutnya dengan cara yang sama
 Dibiarkan hingga dingin dan mengeras
Pengujian Antagonisme
 Disiapkan biakan murni Trichoderma koningii, Trichoderma harzianum, Gliocladium spp.
 Disiapkan biakan murni patogen yang akan diuji
 Diambil patogen dan agen antagonis dengan menggunakan coke borer dan jarum inokulasi dan diletakkan di dalam petri yang berisi PDA, dengan metode 2 point dan 3 point
 Diamati dan dicatat diameter jamur dan inhibiting zone selama 7 hari

Agen
Patogen Antagonis

Patogen
Agen

2 point
3 point

Pengamatan
 Pengamatan dilakukan setiap hari dengan mengukur pertumbuhan masing-masing mikroba
 Inhibiting zone

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Tabel 1. Pengamatan Diameter Patogen

Perlakuan Ulangan I Ulangan II Ulangan III
1 2 3 4 5 6 1 2 3 4 5 6 1 2 3 4 5 6
P1A1K1 0,35 0,8 1,8 1,6 2,0 2,0 – 1,3 1,3 1,6 2,1 2,2 0,35 0,8 4,8 1,6 2,0 2,0
P1A1K2 0,2 0,6 0,8 0,8 0,7 0,7 – 1,2 1,7 – – – 0,2 0,6 0,8 0,8 0,7 0,7
P1A2K1 0,6 2,3 2,9 3 4,1 4,1 2,0 2,2 2,5 2,5 2,4 2,0 0,9 2,0 2,3 2,4 2,5 2,5
P1A2K2 0,5 0,5 0,5 1,3 1,3 1,3 0,85 1,0 1,5 1,7 1,8 1,8 1,2 1,3 1,5 1,5 1,8 1,8
P1A3K1 0,2 1,3 1,5 1,3 1,0 1,0 1,9 1,2 1,0 0,8 0,9 1,0 2,5 2,7 4,1 4,5 4,6 -
P1A3K2 0,4 0,6 0,65 0,9 1,5 1,5 0,25 0,25 0,2 0,1 0,05 0,025 1 0,5 0,5 0,8 1 1
P2A1K1 0,7 3,8 5,5 3,5 3,8 3,8 5,0 5,5 6,1 5,3 5,4 5,6 1 1 3 3,3 3,5 3,5
P2A1K2 0,6 1 1,1 1,2 1,2 1,2 0,35 0,5 1 1,3 – – 0,2 1,2 1,9 2,1 2,2 2,2
P2A2K1 0,6 1,4 2,1 3,0 3,5 3,5 – 0,4 0,4 1,5 1,7 1,9 2,2 7,5 2 1,5 1,2 1,2
P2A2K2 0,6 0,8 1,0 1,2 1,2 1,2 1 2 2,2 2,5 2,5 2,4 1,2 1,2 1,9 2,0 2,4 2,4
P2A3K1 0,6 1,4 2,5 3,4 7 7 1,2 1,5 – – – – 4,6 7 2 1,5 – -
P2A3K2 – 0,8 1,8 2,4 – – 1,8 2 2,1 2,2 2,2 2,3 1 1 1,1 1,2 1,2 1,2
P3A1K1 – 5,4 6,2 6,4 6,5 6,7 1,5 1,7 3,0 4,0 – – 1,2 1,7 3,6 4,0 – -
P3A1K2 0,9 2,3 2,5 2,5 2,7 3 0,9 2,3 2,5 2,5 2,7 3 2,5 3,0 3,6 7,3 – -
P3A2K1 – 1,7 2,1 1,8 1,6 1,4 3,3 4,7 5,2 5,5 6 – 3,3 4,7 5,2 5,5 6 -
P3A2K2 – 3,7 3,5 3,4 3,2 3,1 – 3,7 3,5 3,4 3,2 3,1 2,5 2,6 3,7 2,9 3,3 -
P3A3K¬1 – 1,3 1,9 1,9 2 2,3 6,2 6,6 6,5 8,1 8 – 6,2 6,6 6,5 8,1 8 -

Tabel 2. Pengamatan Diameter Antagonis

Perlakuan Ulangan I Ulangan II Ulangan III
1 2 3 4 5 6 1 2 3 4 5 6 1 2 3 4 5 6
P1A1K1 1 1,9 4,9 6,4 6,5 6,5 1,5 2,4 2,6 2,9 3,2 3,4 1 1,9 4,9 6,4 6,5 6,5
P1A1K2 2,0 2,33 2,5 2,93 2,96 2,96 2,2 2,3 8,2 8,4 8,5 8,6 2,0 2,33 2,5 2,93 2,96 2,96
P1A2K1 2,8 7,5 7,7 8,0 8,0 8,0 2,5 2,8 3 5 5,2 5,4 4,1 6,6 7,4 7,5 7,6 7,6
P1A2K2 2,36 2,7 2,75 4,6 4,75 4,75 0,5 0,9 2 2 2 2 2,5 3,3 3,43 3,5 3,73 3,73
P1A3K1 0,5 2,5 4,0 5,1 5,2 5,2 4,5 4,7 5,1 8,5 8,4 8,4 7,3 7,8 8 8 8 -
P1A3K2 1,3 2,03 2,05 2,2 2,3 2,3 3,6 3,68 2,7 3,4 3,85 3,875 2,75 3,8 3,6 3,73 1,8 1,8
P2A1K1 0,6 1,5 1,8 2,5 3,7 3,7 5,0 5,5 6,1 5,3 5,2 5,2 3,1 3,5 3,7 3,8 4 4
P2A1K2 1,76 4,4 5,16 5,6 6,7 6,7 1,5 1,57 1,63 2,5 2,4 2,4 3,03 3,3 3,2 3,23 3,3 3,3
P2A2K1 1,3 5,6 8,0 6,2 7,5 7,5 – 0,8 0,9 6,25 6,7 7,4 4,8 5,4 6 6,3 6,4 6,4
P2A2K2 1,06 1,7 2,86 3,4 3,86 3,86 2,6 3,15 3,4 3,5 3,4 3,4 1,69 1,9 2,3 1,96 3,23 3,23
P2A3K1 0,8 2,4 3 – – – 2,6 2,8 8,4 8,4 8,0 8,0 3,9 5 6 8,3 8,3 8,3
P2A3K2 0,5 3,4 5,2 4,2 8,4 8,7 – – – – – – 1,76 2,8 3,4 3,3 4,1 4,1
P3A1K1 – 3,6 3,7 3,6 4,6 4,8 2,5 2,7 6,0 6,0 – – 2,2 2,7 3,5 6,0 – -
P3A1K2 1,7 2,1 2,3 2,1 3,0 3,3 1,7 2,1 2,7 2,7 3,0 3,3 2,0 2,83 3,1 – – -
P3A2K1 – 5,5 6 6,25 6,35 6,5 1,5 1,9 1,9 1,9 1,9 2,55 1,5 1,8 5,3 7,0 8,0 -
P3A2K2 – 1,5 1,8 2,3 2,5 2,8 – 1,5 2,3 2,3 2,5 2,8 1,5 1,9 1,9 1,9 1,9 2,55
P3A3K¬1 – 4,4 4,7 4,5 4,7 4,9 2,8 2,9 4,3 4,3 4,9 – 2,8 2,9 3,9 4,3 4,9 -
P3A3K2 – 4,15 4,42 4,5 4,6 5,1 – 4,15 4,5 4,5 4,6 5,1 – – – – – -
P3A3K2 – 1,3 1,9 1,9 2 2,3 – 1,3 1,9 1,5 2,3 2,3 – – – – – -

Tabel 3. Pengamatan Inhibiting Zone

Perlakuan
Ulangan I Ulangan II Ulangan III
1 2 3 4 5 6 1 2 3 4 5 6 1 2 3 4 5 6
P1A1K1 0 0.5 0.4 0.2 0.2 0.2 0 0 0 0 0 0 0 0.5 0.2 0.2 0.2 0.2
P1A1K2 0 0.3 0.2 0.1 0 0 0 0.7 0.37 0 0 0 0 0.3 0.4 0.1 0 0.2
P1A2K1 0 0 0 0.2 0.4 0.4 0.7 0.7 0.5 0 0 0 0.2 2.0 0.2 3.0 3.0 3.0
P1A2K2 0 1.3 0.3 1.6 0.2 0.2 0.5 0.7 0.93 1.5 1.18 1.24 3.0
P1A3K1 0 0 0.2 0 0 0 0.4 0.9 1.3 0 0 0
P1A3K2 0 0.2 0.5 1 1.1 1.1 0.2 0.2 0.1 0.1 0.05 0.025 0 0 0.23 1.2 1.85 1.85
P2A1K1 0 0 0 0.8 1.2 1.2 0.7 0.5 0.3 0.2 0.2 0.1 1.5 1.3 1 0.9 0.7 0.2
P2A1K2 0 0 0 0.8 1.2 1.2 0.5 1 2 0.2 0 0 0 0 0 0.3 0.56 0.56
P2A2K1 0 0 0 0.3 0.4 0.4 1.1 0.7 0.5 0 0 0 0 0 0 1.4 1.6 1.6
P2A2K2 0 0.21 0.3 0.7 0.9 0.9 1 1.1 2 2.1 2.0 1.8 0.73 0.96 0.86 0.96 0 0
P2A3K1 0 0 0 0.9 0.9 0.9 1.2 0.7 0 0 0 0 0.1 2.7 1.2
P2A3K2 0 0.7 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2.3 2.3 2.3 2.5 2.7 2.7
P3A1K1 0 1.3 2.1 2.4 3.2 3.4 2.5 2.3 0.5 2.5 2.3 0.5
P3A1K2 0 0.2 0.3 0.5 0.8 0.9 0 0.2 0.3 0.5 0.8 0.9 1.1 0.2
P3A2K1 0 1.8 1.5 0 0 0 3.5 3.0 0.8 0.3 0.1 3.5 3.0 0.8 0.3 0.1
P3A2K2 0 2.5 2.55 2.26 2.1 2.0 0 2.5 2.55 2.26 2.4 2.0 1.0 1.0 0 0.15 0.9
P3A3K1 0 0.4 0.2 0.2 0.2 0.2 0 1.8 1.9 2.0 0.7 0 1.8 1.9 2.0 0.7
P3A3K2 0 0.5 1.1 0.2 0.5 0.3 0 0.5 1.1 0.2 0.5 0.3

Pembahasan
Dari data diatas didapatkan bahwa diameter patogen tertinggi terdapat pada per lakuan P3A1K1 hari ke-6 sebesar 6,7 cm (ulangan I), perlakuan P3A3K¬1 hari ke-4 sebesar 8,1 cm (ulangan II), perlakuan P3A3K¬1 hari ke-4 sebesar 8,1 cm (ulangan III). Hal ini menunjukkan bahwa Sclerotium rolfsii tidak dapat dikendalikan oleh agen antagonis yaitu Trichoderma harzianum, sehingga diameter dari patogen tersebut semakin melebar dan perkembangbiakannya semakin meluas. Adapun agen antagonis yang cocok untuk mengendalikan pathogen ini adalah Gliocladium virens. Hal ini sesuai dengan literatur Winconsin (2003) yang menyatakan bahwa pada pengendalian hayati Sclerotium rolfsii , perkecambahan konidia atau klamidospora akan memudahkan agensia hayati seperti Gliocladium virens untuk menyerang miselium F. oxysporum. G. virens juga dapat menghambat penyebab penyakit lainnya seperti Rhizoctonia spp., Pythium spp., dan Sclerotium rolfsii penyebab damping-off dan penyebab penyakit akar, diduga enzimnya beta glucanase.
Dari data diatas didapatkan bahwa diameter patogen terendah terdapat pada perlakuan P2A3K2 hari ke-6 sebesar 0 cm (ulangan I), perlakuan P1A1K2 hari ke-6 sebesar 0 cm (ulangan II), perlakuan P1A3K1 hari ke-6 sebesar 0 cm (ulangan III). Hal ini menunjukkan jika pengendalian agen antagonis terhadap pathogen berhasil, sehingga diameter patogen tidak ada. Hal ini sesuai dengan literatur Semnagun (1993) yang menyatakan bahwa pemanfaatan agen hayati Trichoderma spp. dan Gliocladium spp. yang diaplikasikan pada kantong pesemaian sebanyak 5 gram per kantong, 3 hari sebelum penanaman benih atau bersamaan dengan penanaman benih.
Dari data diatas didapatkan bahwa diameter antagonis tertinggi terdapat pada perlakuan P2A3K2 hari ke-6 sebesar 8,7 cm (ulangan I), perlakuan P1A1K2 hari ke-4 sebesar 8,6 cm (ulangan II), perlakuan P2A3K1 hari ke-4 sebesar 8,3 cm (ulangan III). Hal ini menunjukkan bahwa peranan jamur antagonis sebagi contoh jamur potensi jamur Trichoderma yang merupakan jamur antagonis yang bersifat preventif bagi tanaman. Hal ini sesuai dengan literatur Harman (1998) yang menyatakan bahwa Potensi jamur Trichoderma sebagai jamur antagonis yang bersifat preventif terhadap serangan penyakit tanaman telah menjadikan jamur tersebut semakin luas digunakan oleh petani dalam usaha pengendalian organisme pengganggu tumbuhan (OPT).
Dari data diatas didapatkan bahwa diameter antagonis terendah terdapat pada perlakuan P2A3K1 hari ke-6 sebesar 0 cm((ulangan I), perlakuan P2A3K2 hari ke-6 sebesar 0 cm (ulangan II), perlakuan P3A3K2 hari ke1-6 sebesar 0 cm (ulangan III). Trichoderma memparasitmiselium jamur lain dengan menembus sel untuk mengambil zat makanan dari dalamnya sehingga jamur patogenik mati. Hal ini sesuai dengan literatur Suwahyono dan Wahyudi (2005) yang menyatakan bahwa Trichoderma merupakan jamur saprofit yang hidup di dalam tanah, serasah dan kayu mati. Dalam kompetisi trichoderma mempunyai kemampuan memperebutkan sumber makanan atau di sekitar perakaran tanaman menghasilkan enzim β 1.3 glukanase dan kitinase.
Dari data diatas didapatkan bahwa zona penghamat tertinggi terdapat pada perlakuan P3A1K1 hari ke-6 sebesar 3.4 cm (ulangan I), perlakuan P3A2K2 hari ke-2 sebesar 2,55 cm (ulangan II), perlakuan P1A2K1 hari ke-6 sebesar 3,0 cm (ulangan III), Hal ini menunjukkan bahwa peranan jamur antagonis sebagi contoh jamur potensi jamur Trichoderma yang merupakan jamur antagonis yang bersifat preventif bagi tanaman. Hal ini sesuai dengan literatur Harman (1998) yang menyatakan bahwa Potensi jamur Trichoderma sebagai jamur antagonis yang bersifat preventif terhadap serangan penyakit tanaman telah menjadikan jamur tersebut semakin luas digunakan oleh petani dalam usaha pengendalian organisme pengganggu tumbuhan (OPT).
Dari data diatas didapatkan bahwa zona penghamat terendah terdapat pada perlakuan P3A2K1 hari ke-1 sebesar 0 cm (ulangan I), perlakuan P1A1K1 hari ke-1 sebesar 0 cm (ulangan II), perlakuan P2A3K1 hari ke-3 sebesar 1,2 cm (ulangan III), Trichoderma memparasitmiselium jamur lain dengan menembus sel untuk mengambil zat makanan dari dalamnya sehingga jamur patogenik mati. Hal ini sesuai dengan literatur Suwahyono dan Wahyudi (2005) yang menyatakan bahwa Trichoderma merupakan jamur saprofit yang hidup di dalam tanah, serasah dan kayu mati. Dalam kompetisi trichoderma mempunyai kemampuan memperebutkan sumber makanan atau di sekitar perakaran tanaman menghasilkan enzim β 1.3 glukanase dan kitinase.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

1. Pada data diatas didapatkan bahwa diameter patogen tertinggi terdapat pada per lakuan P3A1K1 hari ke-6 sebesar 6,7 cm (ulangan I), perlakuan P3A3K¬1 hari ke-4 sebesar 8,1 cm (ulangan II), perlakuan P3A3K¬1 hari ke-4 sebesar 8,1 cm (ulangan III).
2. Pada data diatas didapatkan bahwa diameter patogen terendah terdapat pada perlakuan P2A3K2 hari ke-6 sebesar 0 cm (ulangan I), perlakuan P1A1K2 hari ke-6 sebesar 0 cm (ulangan II), perlakuan P1A3K1 hari ke-6 sebesar 0 cm (ulangan III).
3. Pada data diatas didapatkan bahwa diameter antagonis tertinggi terdapat pada perlakuan P2A3K2 hari ke-6 sebesar 8,7 cm (ulangan I), perlakuan P1A1K2 hari ke-4 sebesar 8,6 cm (ulangan II), perlakuan P2A3K1 hari ke-4 sebesar 8,3 cm (ulangan III).
4. Pada data diatas didapatkan bahwa diameter antagonis terendah terdapat pada perlakuan P2A3K1 hari ke-6 sebesar 0 cm((ulangan I), perlakuan P2A3K2 hari ke-6 sebesar 0 cm (ulangan II), perlakuan P3A3K2 hari ke1-6 sebesar 0 cm (ulangan III).
5. Pada data diatas didapatkan bahwa zona penghamat tertinggi terdapat pada perlakuan P3A1K1 hari ke-6 sebesar 3.4 cm (ulangan I), perlakuan P3A2K2 hari ke-2 sebesar 2,55 cm (ulangan II), perlakuan P1A2K1 hari ke-6 sebesar 3,0 cm (ulangan III).
6. Pada data diatas didapatkan bahwa zona penghamat terendah terdapat pada perlakuan P3A2K1 hari ke-1 sebesar 0 cm (ulangan I), perlakuan P1A1K1 hari ke-1 sebesar 0 cm (ulangan II), perlakuan P2A3K1 hari ke-3 sebesar 1,2 cm (ulangan III).

Saran

Pada proses praktikum ini berlangsung sebaiknya praktikan dalam keadaan steril agar terhindar dari kontaminasi yang berkelanjutan.

DAFTAR PUSTAKA
Abadi, A. L. 2003. Ilmu Penyakit Tumbuhan III. Bayumedia. Malang.

Gaman, P. M dan K. B Sherrington. 1994. Ilmu Pangan Pengantar Ilmu Pangan, Nutrisi dan Mikrobiologi. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
http://lp.unand.ac.id. 2010. Pengendalian Fusarium oxysporum f. sp. cubense Penyebab Penyakit Layu Fusarium pada Pisang dengan Trichoderma spp Indigenus Rizosfir Pisang. Diakses melalui http://lp.unand.ac.id/?pModule=penelitian&pSub=penelitian&pAct=detail&id=885&bi=21 pada tanggal 27 Mei 2010.

Pelczar, M. J. 1988. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Penerbit Universitas Indonesia. Jakarta.

Rao, N. S. S. 1994. Mikroorganisme Tanah dan Pertumbuhan Tanaman. Penerbit Universitas Indonesia. Jakarta.

Schlegel, H. G. 1994. Mikrobiologi Umum. Gadjah Mada University. Yogyakarta.

Semangun, H. 1994. Penyakit-Penyakit Tanaman Hortikultura Di Indonesia. Gadjah Mada University. Yogyakarta.

Semangun, H. 1996. Pengantar Ilmu Penyakit Tumbuhan. Gadjah Mada University. Yogyakarta.

Sinaga, M. S. 2003. Dasar-Dasar Ilmu Penyakit Tumbuhan. Penebar Swadaya. Jakarta.

Tate, R. L. 1986. Microbial Autecology A Method For Environmental Studies. John Wiley & Sons. New York.

Yudiarti, T. 2007. Ilmu Penyakit Tumbuhan. Graha Ilmu. Jakarta.

Lampiran Foto

Hari ke-1 Hari ke-2

Hari ke-3

PENGUJIAN AGEN ANTAGONIS DALAM PENGENDALIAN PATOGEN PENYAKIT TANAMAN SECARA IN VIVO

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Hubungan-hubungan simbiotik, yang sedikit banyak merugikan hospes secara mencolok terdapat antara mikroorganisme atau antara mikrorganisme di satu pihak dan hewan atau tumbuhan di lain pihak. Mengenai berbagai bentuk parasitisme telah dikemukakan, misalnya mengenai bakteri-bakteri parasitik Bdellovibrio bacterivorus, Rickettsia dan Chlamydia yang obligat parasitik penyebab penyakit tumbuhan (Erwinia, Corynebacterium, Pseudomonas, Uredo, Ustilago, Puccinia, Claviceps) dan penyebab penyakit pada hewan ( Schlegel, 1994).
Layu Fusarium pada pisang, yang sering juga disebut penyakit Panama, dianggap sebagai penyakit yang paling penting pada pisang diseluruh dunia. Bahkan penyakit ini termasuk kelompok penyakit-penyakit tumbuhan yang paling merugikan di tropika. Untuk pertama kali penyakit ditemukan di Amerika tropika menjelang berakhirnya abad ke-19. Tetapi kerugian karena layu Fusarium baru terasa pada tahun 1910-an, pada waktu jenis “Gros Michel” (pisang ambon) diperkebunan secara besar-besaran disana (Semangun, 1994).
Masalah hubungan antara mikroorganisme dengan berbagai komponen dengan mikrohabitat mereka mempunyai arti dasar yang penting. Sebagai contoh, pertanyaan tentang sumber dan konsentrasi bahan gizi, tumbuhan yang mengalami infeksi, bertahan hidup, kolonisasi, penghamburan dan sebagainya, terkait dengan pertumbuhan mikro dan bertahan hidup (Tate, 1986).
Dalam fitopatologi pada umumnya diikuti batasan, yang menyatakan bahwa pengendalian biologis meliputi setiap usaha untuk mengurangi intensitas sesuatu penyakit tumbuhan dengan memakai bantuan satu atau lebih jasad hidup, selain tumbuhan inang sendiri dan manusia. Dengan mengikuti batasan itu pengendalian fisiologis tidak meliputi pengendalian dengan penanaman tanaman yang tahan, meskipun pengendalian ini juga bersifat biologis (Semangun, 1996).
Sekarang ini istilah “manajemen penyakit” memiliki kecenderungan menggantikan istilah dari “pengendalian penyakit”. Idealnya tujuan dari sistem manajemen penyakit tumbuhan adalah untuk menghasilkan pengendalian secara lengkap. Di dalam praktek manajemen penyakit akan dikatakan sukses apabila dapat menghasilkan pengembalian ekonomi secara nyata. Sistem ini seyogyanya difokuskan untuk penyelamatan pertanaman, jangan hanya pada individu tanaman saja. Alasannya adalah perlakuan manajemen yang ditujukan hanya untuk tanaman secara individu saja jarang yang secara lengkap berhasil, untuk itu diperlukan adanya penyatuan program (integrated programme) (Yudiarti, 2007).
Tujuan Percobaan
Adapun tujuan dari percobaan ini adalah untuk menguji agen antagonis dalam mengendalikan patogen penyebab penyakit tanaman secara in vivo (bio assay).
Hipotesis Percobaan
1. Adanya interaksi antara agen antagonis dengan patogen penyakit tanaman secara in vivo.
2. Adanya kemampuan agen antagonis yang berbeda dalam menekan perkembangan jamur patogen tanaman.
Kegunaan Percobaan
 Sebagai salah satu syarat untuk dapat mengikuti praktikal tes di Laboratorium Bioteknologi Pertanian Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan.
– Sebagai bahan informasi bagi pihak yang membutuhkan.

TINJAUAN PUSTAKA
Biologi Penyebab Penyakit
Sistematika Fusarium oxysporum f.sp. cubense menurut Semangun (2000) adalah sebagai berikut:
Kingdom : Fungi
Phylum : Ascomycota
Class : Sordariomycetes
Subclass : Hypocreomycetidae
Ordo : Hypocreales
Family : Nectriaceae
Genus : Fusarium
Species : Fusarium oxysporum f.sp. cubense
Daur Hidup
Jamur mengadakan infeksi melalui akar-akar. Jamur tidak dapat menginfeksi batang atau akar-rimpang meskipun bagian ini dilukai. Setelah masuk kedalam akar jamur berkembang sepanjang akar menuju ke batang, dan di sini jamur berkembang secara meluas dalam jaringan pembuluh sebelum masuk ke dalam batang palsu. Tingkat infeksi selanjutnya, miselium dapat meluas dari jaringan pembuluh ke parenkim. Jamur membentuk banyak spora dalam jaringan tanaman, dan mikrokonodium dapat terangkut dalam arus transpirasi (Semangun, 1994).

Gejala Serangan
Tepi daun-daun bawah berwarna kuning tua, yang lalu menjadi coklat dan mengering. Tangkai daun patah disekeliling batang palsu. Kadang-kadang lapisan luar batang palsu terbelah dari permukaan tanah. Jika pangkal batang dibelah membujur, terlihat garis-garis coklat atau hitam menuju ke semua arah, dari bonggol ke atas melalui jaringan pembuluh ke pangkal daun dan tangkai. Berkas pembuluh akar biasanya tidak berubah warnanya, namun sering kali akar tanaman sakit berwarna hitam dan membusuk (Semangun, 1994).
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi
Penyakit layu Fusarium lebih merugikan di tanah aluvial yang asam. Pada umumnya di tanah geluh yang bertekstur ringan atau di tanah geluh berpasir, penyakit dapat meluas dengan lebih cepat (Semangun, 1994).
Pengendalian
Jika kelak kerugian karena penyakit ini meningkat, usaha-usaha berikut dapat dilakukan. 1) tidak menanam jenis pisang yang rentan di lahan yang terinfestasi patogen, 2) hanya menanam bahan tanaman (anakan) yang sehat, 3) tanaman yang sakit beserta dengan tanah disekelilingnya dibongkar dan dikeluarkan dari kebun, 4) memelihara tanaman dengan hati-hati untuk mengurangi terjadinya luka-luka pada akar 5) mengendalikan cacing-cacing akar (Nematoda) dengan nematisida (Semangun, 1994).

Biologi Agen Antagonis
Sistematika Trichoderma harzianum menurut Semangun (2000) adalah sebagai berikut:
Kingdom : Fungi
Phylum : Ascomycota
Class : Ascomycetes
Subclass : Hypocreomycetidae
Ordo : Hypocreales
Family : Hypcreaceae
Genus : Trichoderma
Species : Trichoderma harzianum
Jamur ini hidup dalam tanah, selulotik, dan tumbuhnya cepat. Mekanisme umumnya kompetisi dan mikoparasitik. Contoh T. harzianum. Pengendali hayati pada beberapa jamur patogen (Abadi, 2003).
Sistematika Trichoderma koningii menurut Semangun (2000) adalah sebagai berikut:
Kingdom : Fungi
Phylum : Ascomycota
Class : Ascomycetes
Subclass : Hypocreomycetidae
Ordo : Hypocreales
Family : Hypcreaceae
Genus : Trichoderma
Species : Trichoderma koningii
Untuk menjamin adanya antagonis yang efektif dalam tanah, sejak beberapa tahun yang lalu tersedia campuran ”Sako-P” yang mengandung T. koningii untuk menginokulasi tanah (jamur diproduksi oleh Pusat Penelitian Karet Sungai Putih) (Semangun, 1996).
Sistematika Gliocladium spp. menurut Semangun (2000) adalah sebagai berikut:
Kingdom : Fungi
Phylum : Ascomycota
Class : Ascomycetes
Subclass : Hypocreomycetidae
Ordo : Hypocreales
Family : Hypcreaceae
Genus : Gliocladium
Species : Gliocladium spp.
Jamur ini hidup dalam tanah, tumbuhnya agak lambat. Mekanisme antagonisme dalam pengendalian hayati membunuh dengan enzim dan toksin (gliotoksin). Contoh : G. virens, G. virens dan G. roseum. Pengendalian hayati pada beberapa jamur patogen (Abadi, 2003).
Manfaat dan Keunggulan
Mendapatkan strain unggul Trichoderma yang mampu mengkolonisasi akar dan bersifat endofit pada tanaman pisang sehingga efektif dalam pengendalian penyakit layu Fusarium. Kemampuan kolonisasi dan keberadaan endofit Trichoderma pada akar bibit pisang belum relefan dengan peningkatan jumlah daun bibit pisang, tetapi ada kecendrungan interaksi Trichoderma spp dengan ketiga jenis pisang dapat meningkatkan jumlah daun bibit pisang (http://lp.unand.ac.id, 2010).
Untuk dapat dipakai sebagai agen antagonis harus mempunyai sifat-sifat dan mekanisme kerja antara lain, dapat dibiakkan secara buatan dalam waktu yang cepat, mudah mengerjakannya, mudah mendapatkannya, dapat beradaptasi cepat dengan lingkungan yang baru setelah diintroduksikan ke lapangan, efektif dalam aplikasi pengendalian patogen di lapangan (Djafaruddin, 2000).

BAHAN DAN METODE
Tempat dan Waktu Percobaan
Adapun percobaan dilaksanakan di Laboratorium Bioteknologi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara Medan dengan ketinggian ± 25 m diatas permukaan laut pada tanggal 06 Mei 2010 pukul 15.00 sampai dengan selesai.
Bahan dan Alat Percobaan
Adapun bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah Potato Dextrose Agar (PDA), sebagai media yang digunakan dalam biakan murni. Media beras dan jagung sebagai media untuk mengbangbiakkan patogen. Jamur antagonis Trichoderma koningii, T. harzianum dan Gliocladium spp. Sebagai agen antagonis. Jamur patogen Fusarium oxysporium fsp cubens sebagai patogen penyebab penyakit tanaman. Tanaman tomat sebagai indikator dari perlakuan yang diberikan. Label nama sebagai penanda polibag.
Adapun alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah Plastik tahan panas sebagai wadah untuk perkembangbiakan patogen, karet gelang sebagai pengikat plastik, petridish sebagai tempat menaruh media PDA, jarum inokulasi sebagai alat untuk menaruh potongan agar patogen kedalam plastik, lampu bunsen sebagai alat untuk pensteril alat dan media. Polibag sebagai wadah untuk menanam tanaman yang diberi agen dan patogen dan buku data sebagai tempat untuk menulis data dan alat tulis sebagai alat untuk menulis.

Metode Percobaan
Praktikum ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok yang terdiri dari 2 faktor, yaitu :
Faktor 1 adalah patogen
P : Fusarium oxysporium f.sp cubens
Faktor 2 adalah agen antagonis, yaitu :
A0 : Tanpa agen antagonis
A1 : Trichoderma koningii
A2 : Trichoderma harzianum
A3 : Gliocladium spp.
Adapun perlakuan kombinasi dari praktikum ini adalah :
PA0 PA1 PA2 PA3
Kombinasi perlakuan : 4
Ulanagn sebanyak 14 kali, diperoleh dari :
t (r-1) ≥ 15
4 (r-1 ≥ 15
4r-4 ≥ 15
r ≥ 19/4
r ≥ 7,25
r = 14

Pelaksanaan Percobaan
Persiapan Media
 Disiapkan jagung dan beras dan dicuci hingga bersih dengan air
 Ditimbang sebanyak 10 gr dan masukkan kedalam plastik tahan panas dan diikat dengan karet
 Diautoklaf jagung dan beras tersebut selama ± 30 menit dan disimpan pada suhu ruang
Persiapan Agen Antagonis
Perbanyakan agen antagonis dilakukan dengan menggunakan media jagung. Media jagung diinokulasikan dengan Trichoderma koningii, Trichoderma harzianum dan Gliocladium spp. 2-3 coke borer dan diinkubasi selama 7 hari, biakan jamur siap diaplikasikan.
Persiapan Patogen
Perbanyakan patogen dilakukan dengan menggunakan media beras. Media beras diinokulasikan dengan Fusarium oxysporium f.sp cubens 2-3 coke borer dan diinkubasi selama 14 hari, biakan jamur siap diaplikasikan.
Pengujian Agen Antagonis Secara Invivo
 Disiapkan agen antagonis dalam media jagung
 Terlebih dahulu media tanam (tanah) dicampur dengan agen antagonis
 Dimasukkan tanah ke dalam polibag
 Diinokulasikan jamur Fusarium ke media tanam
 Dipelihara tanaman dan diamati perkembangannya setiap hari selama 3 minggu

Pengamatan
1. Periode inkubasi
Pengamatan dilakukan setiap hari dengan melihat gejala layu dari setiap tanaman.
2. Persentase serangan
Persentase serangan dihitung pada 2 hari setelah tanam dengan menggunakan rumus :
P = a/b x 100 %
P : persentase serangan
a : jumlah tanaman terserang
b : jumlah tanaman seluruhnya
3. Tinggi Tanaman
Tinggi tanaman diukur pada 7 dan 14 hari setelah tanam yang dimulai dari pangkal batang hingga daun terpanjang.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Tabel 1. Pengamatan Tinggi Tanaman (cm)
Perlakuan Ulangan

I II III IV V VI
1 MST 2 MST 1 MST 2 MST 1 MST 2 MST 1 MST 2 MST 1 MST 2 MST 1 MST 2 MST
P A0 4.6 5.4 5 5.8 3.6 5.2 4.3 5.9 2.8 4.2 4.6 5.4
P A1 4.7 5.1 7.4 9.1 6.2 7.5 5.4 4.3 3.7 5.2 2.1 3.7
P A2 3.6 4.3 5.3 6.2 3.4 4.3 4 6.1 4.2 9.9 3.6 4.3
P A3 3.5 4.4 6.1 6.9 4.5 6 4.6 5.4 5 5.8 3.5 4.4

Ulangan

VII VIII IX X XI XII XIII XIV
1 MST 2 MST 1 MST 2 MST 1 MST 2 MST 1 MST 2 MST 1 MST 2 MST 1 MST 2 MST 1 MST 2 MST 1 MST 2 MST
5 5.8 3.6 5.2 5 6.1 3 6 6.5 7.1 6.2 6.5 6 7 8 11
7.4 9.1 6.2 7.5 4.2 6 4.3 3.7 7.2 7.5 4.7 4.9 7.8 8.5 5 6.5
5.5 6.1 5 8.2 6.3 8.1 5.5 6.9 4.7 5.6 7.2 8.8 3.6 4.8 5.5 7.1
5 7 7.5 9.5 6.5 7.6 7.2 8.5 4.5 5.8 7.2 8.8 – – – –

Tabel 2. Pengamatan Gejala Layu

Perlakuan Ulangan
I II III IV V VI VII VIII IX X XI XII XIII XIV
P A0 14 HST – – 7 HST 10 HST 14 HST – – – – – – – -
P A1 14 HST – – 11 HST – – 14 HST – 11 HST – – -
P A2 14 HST 14 HST 14 HST – – – 14 HST – – – – – 8 HST -
P A3 – – 8 HST – – – – – – – – – – -

Dari pengamatan gejala layu didapatkan persentse serangan pada setiap perlakuan yakni:
Persentase serangan P A0 Persentase serangan P A1
P = a/b X 100% P = a/b X 100%
= 4/14 X 100% = 4/14 X 100%
= 28.57% = 28.57%
Persentase serangan P A2 Persentase serangan P A3
P = a/b X 100% P = a/b X 100%
= 5/14 X 100% = 1/14 X 100%
= 35.71% = 7.14%

Pembahasan
Berdasarkan hasil percobaan diperoleh data persentase serangan melalui pengamatan gejala layu tanaman yang tertinggi terdapat pada perlakuan P A2 (I, II, III, VII, XIII) yakni sebesar 35.71%. Hal ini menunjukkan bahwa Fusarium mencapai populasi optimum pada 2 minggu setelah inokulasi sehingga Trichoderma harzianum sudah tidak dapat menangani masalah kerusakan tanaman akibat patogen. Hal ini sesuai dengan literatur Semangun (1994).yang menyatakan bahwa penyakit layu Fusarium lebih merugikan di tanah aluvial yang asam. Pada umumnya di tanah geluh yang bertekstur ringan atau di tanah geluh berpasir, penyakit dapat meluas dengan lebih cepat.
Berdasarkan hasil percobaan diperoleh data persentase serangan melalui pengamatan gejala layu tanaman yang terendah terdapat pada perlakuan P A3 (III) yakni sebesar 7.14%. Hal ini menunjukkan bahwa agen antagonis Gliocladium spp menghambat pertumbuhan Fusarium sehingga persentase serangan patogen terhadap tanaman kecil. Hal ini sesuai dengan literatur Abadi (2003) yang menyatakan bahwa jamur ini hidup dalam tanah, tumbuhnya agak lambat. Mekanisme antagonisme dalam pengendalian hayati membunuh dengan enzim dan toksin (gliotoksin). Berdasarkan hasil percobaan diperoleh data tinggi tanaman tertinggi terdapat pada perlakuan P A2 (V) pada 2 MST yakni sebesar 9.9 cm. Hal ini menunjukkan pada perlakuan tersebut agen antagonis Trichoderma harzianum dapat berkompetisi dengan patogen dan dapat membantu pertumbuhan tanaman. Hal ini sesuai dengan literatur Abadi (2003) yang menyatakan bahwa Jamur ini hidup dalam tanah, selulotik, dan tumbuhnya cepat. Mekanisme umumnya kompetisi dan mikoparasitik. Contoh T. harzianum. Pengendali hayati pada beberapa jamur patogen.
Berdasarkan hasil percobaan diperoleh data tinggi tanaman terendah terdapat pada perlakuan P A1 (VI) pada 1 MST yakni sebesar 2.1 cm. Hal ini menunjukkan pada perlakuan tersebut belum terjadi mekanisme antagonis Trichoderma koningii
sehingga patogen dapat menghambat pertumbuhan tanaman. Hal ini sesuai dengan literatur Djafaruddin (2000) yang menyatakan bahwa untuk dapat dipakai sebagai agen antagonis harus mempunyai sifat-sifat dan mekanisme kerja antara lain, dapat dibiakkan secara buatan dalam waktu yang cepat, mudah mengerjakannya, mudah mendapatkannya, dapat beradaptasi cepat dengan lingkungan yang baru setelah diintroduksikan ke lapangan.
Berdasarkan hasil percobaan diperoleh data gejala layu tercepat terlihat pada perlakuan P A0 (IV) pada 7 HST. Hal ini menunjukkan pada 7 HST mekanisme patogen lebih cepat menyerang tanaman karena tidak adanya perlakuan agen antagonis dalam pengujian. Hal ini sesuai dengan literatur Soesanto (2008) yang menyatakan bahwa manfaat dan keunggulan dari agen antagonis adalah menekan populasi jamur patogen sampai di bawah batas ambang ekonomis dan mempunyai sifat antagonis yang tinggi terhadap jamur-jamur patogen tanaman budidaya. Berdasarkan hasil percobaan diperoleh data gejala layu terlama terlihat pada perlakuan P A2 (I, II, III) pada 14 HST. Hal ini menunjukkan bahwa agen antagonis menekan pertumbuhan patogen sehingga penyerangan petogen terhadap tanaman lebih lama. Djafaruddin (2000) agen antagonis harus mempunyai sifat-sifat dan mekanisme kerja antara lain dapat beradaptasi cepat dengan lingkungan yang baru setelah diintroduksikan ke lapangan, efektif dalam aplikasi pengendalian patogen di lapangan.

KESIMPULAN
1. Persentase serangan melalui pengamatan gejala layu tanaman yang tertinggi terdapat pada perlakuan P A2 (I, II, III, VII, XIII) yakni sebesar 35.71%.
2. Persentase serangan melalui pengamatan gejala layu tanaman yang terendah terdapat pada perlakuan P A3 (III) yakni sebesar 7.14%.
3. Tinggi tanaman tertinggi terdapat pada perlakuan P A2 (V) pada 2 MST yakni sebesar 9.9 cm.
4. Tinggi tanaman terendah terdapat pada perlakuan P A1 (VI) pada 1 MST yakni sebesar 2.1 cm.
5. Gejala layu tercepat terlihat pada perlakuan P A0 (IV) pada 7 HST.
6. Gejala layu terlama terlihat pada perlakuan P A2 (I, II, III) pada 14 HST.

DAFTAR PUSTAKA
Abadi, A. L. 2003. Ilmu Penyakit Tumbuhan III. Bayumedia. Malang.
Djafaruddin, 1996. Dasar-Dasar Perlindungan Tanaman (Umum). Bumi Aksara. Jakarta.
http://lp.unand.ac.id. 2010. Pengendalian Fusarium oxysporum f. sp. Cubense Penyebab Penyakit Layu Fusarium pada Pisang dengan Trichoderma spp Indigenus Rizosfir Pisang. Diakses melalui http://lp.unand.ac.id/?pModule=penelitian&pSub=penelitian&pAct=detail&id=885&bi=21 pada tanggal 27 Mei 2010.

Schlegel, H. G. 1994. Mikrobiologi Umum. Gadjah Mada University. Yogyakarta.

Semangun, H. 1994. Penyakit-Penyakit Tanaman Hortikultura Di Indonesia. Gadjah Mada University. Yogyakarta.

Semangun, H. 1996. Pengantar Ilmu Penyakit Tumbuhan. Gadjah Mada University. Yogyakarta.
Semangun, H., 2000. Penyakit Tanaman Hortikultura di Indonesia. UGM Press. Yogyakarta.
Tate, R. L. 1986. Microbial Autecology A Method For Environmental Studies. John Wiley & Sons. New York.

Yudiarti, T. 2007. Ilmu Penyakit Tumbuhan. Graha Ilmu. Jakarta.

Previous Older Entries

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.