FAKTOR TANAH DALAM PENGEMBANGAN BUAH MERAH (Pandanus conoideus Lamk.)

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Tanaman buah merah (Pandanus conoideus Lamk.) merupakan salah satu tanaman tradisional Papua, tumbuhmenyebar mulai dari dataran rendah hingga dataran tinggi. Tanaman tumbuh mengelompok di sekitar aliran sungai, dan beradaptasi dengan baik pada tanah tandus dengan pH masam (4,30−5,30). Tanaman umumnya dibudidayakan secara tradisional, tanpa pemupukan, dan penanganan pascapanen secara sederhana. Minyak yang dihasilkan dari buah merah digunakan sebagai penyedap masakan yang bernilai gizi tinggi karena mengandung beta-karoten, juga dimanfaatkan sebagai pewarna alami yang tidak mengandung logam berat dan mikroorganisme berbahaya. Minyak buah merah juga berkhasiat mengobati beberapa penyakit, seperti kanker, HIV, malaria, kolesterol, dan diabetes. Ampas dari pemerasan buah merah dapat digunakan sebagai pakan unggas. Karena kegunaannya yang beragam, minyak buah merah diminati konsumen baik di dalam negeri maupun mancanegara dengan harga yang cukup tinggi. Peluang pengembangan buah merah cukup baik, karena selain harganya yang mahal, budi daya dan cara pengolahannya sederhana (Litbang, 2009).
Iklim Papua sesuai bagi pertumbuhan tanaman buah merah. Data dari Stasiun Meteorologi dan Geofísika Kabupaten Jayawijaya tahun 2004 menunjukkan, curah hujan rata-rata sebesar 173 mm/ bulan, tertinggi pada bulan Desember dan terendah bulan Juli. Jumlah hari hujan 25 hari/bulan dengan suhu udara rata-rata 20,20°C dan kelembapan 84,70% (Badan Pusat Statistik Provinsi Papua, 2005).
Kondisi iklim tersebut sangat mendukung bagi pertumbuhan tanaman buah merah. Buah merah mengandung asam lemak terutama asam oleat sekitar 30%, sehingga bermanfaat untuk meningkatkan status gizi masyarakat. Buah merah juga mengandung antioksidan yang cukup tinggi, di antaranya karotenoid dan tokoferol. Antioksidan bermanfaat mencegah penyakit gondok, kebutaan, dan sebagai antikanker. Buah merah juga mengandung mineral Fe, Ca, dan Zn (Budi, 2003).
Buah merah merupaan salah satu komoditas unggulan papua. Secara tradisional buah merah dikenal masyarakat yang bermukim di daerah pantai mauun pegunungan( Litbang, 2009).
Tujuan Percobaan
Adapun tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui faktor tanah dalam pengembangan buah merah (Pandanus conoideus Lamk.).
Kegunaan Percobaan
– Sebagai salah satu syarat untuk dapat mengikuti pra praktikal tes di Laboratorium Budidaya Tanaman Hortikultura Universitas Sumatera Utara, Medan.
– Sebagai bahan informasi bagi pihak yang membutuhkan

TINJAUAN PUSTAKA
Botani Tanaman
Menurut wikipedia (2010), buah merah (Pandanus conoideus Lamk.) dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
Kingdom : Plantae
Divisio : Spermatophyta
Subdivisio : Magnoliophyta
Kelas : Liliopsida
Ordo : Pandanales
Famili : Pandanaceae
Genus : Pandanus
Spesies : Pandanus conoideus Lamk.
Akar buah merah memiliki akar tunjang 0,20−3,50 m, lingkar akar 6−20 cm, berwarna coklat dengan bercak putih, bentuk bulat, dan permukaan berduri. Jumlah akar dalam satu rumpun berkisar antara 11−97 (Lebang dkk., 2004).
Batang utama berkisar antara 20−40 cm, tinggi tanaman 2−3,50 m. Batang berwarna coklat dengan bercak putih, berbentuk bulat, berkas pembuluh tidak tampak jelas, keras, arah tumbuh vertikal atau tegak, jumlah percabangan 2−4, dan permukaan berduri. (Litbang, 2009).
Daun berukuran 96 cm x 9,30 cm sampai 323 cm x 15 cm. Ujung daun bertusuk (micronate), pangkal merompong (cut off), tepi daun dan bagian bawah tulang daun berduri. Komposisi daun tunggal dengan susunan daun berseling (alternate). Daun lentur, berwarna hijau tua, pola pertulangan daun sejajar, tanpa tangkai daun (sessile), dan tidak beraroma (Lebang dkk., 2004).
Bunga menyerupai bunga nangka dengan warna kemerahan. Muncul pada percabangan dengan merumpun ataupun tunggal. Buah menunjukan adanya pertumbuhan generatif dari tanaman tersebut (Limbong dan Uhi, 2005).
Buah berukuran panjang 68– 110 cm, diameter 10−15 cm, berbentuk silindris, ujung menumpul, dan pangkal menjantung. Saat masih muda, buah berwarna merah pucat, dan berubah menjadi merah bata saat tua (Lebang dkk., 2004).
Syarat Tumbuh
Iklim
Iklim Papua sesuai bagi pertumbuhan tanaman buah merah. Data dari Stasiun Meteorologi dan Geofísika Kabupaten Jayawijaya tahun 2004 menunjukkan, curah hujan rata-rata sebesar 173 mm/ bulan, tertinggi pada bulan Desember dan terendah bulan Juli. Jumlah hari hujan 25 hari/bulan dengan suhu udara rata-rata 20,20°C dan kelembapan 84,70% (BPPS Papua, 2005).
Vegetasi yang sesuai untuk kondisi lintang tersebut adalah hutan hujan tropis yang disertai dengan suhu panas dan kelembaban tinggi. Curah hujan rata-rata yang sesuai bagi pertumbuhan tanaman adalah sekitar 2000 mm per tahun dengan jumlah hari hujan 100-150 hari (Litbang, 2009).

Tanah
Tanaman buah merah tumbuh secara alami di dataran rendah hingga tinggi. Tanaman tumbuh mengelompok di sekitar aliran sungai dan beradaftasi pada tanah tandus dan ber-pH masam (3,50-5,30) (Wamaer dan Malik, 2009).
Berdasarkan hasil analisis tanah dari empat lokasi pengembangan buah merah di Papua (Hadad et al. 2005), umumnya tanaman buah merah dapat tumbuh pada tanah kurang subur, banyak mengandung pasir, dan bersifat agak masam (pH 4,30− 5,30) (Litbang, 2009).
Salah satu sentra pengembangan tanaman buah merah di Papua adalah Kecamatan Kelila, yang terletak pada ketinggian 2.500 m dpl, dan tanahnya didominasi Podsolik dengan tekstur gelum (Litbang, 2009).
Kedalaman tanah sampai batas batuan kasar atau lapisan akar tanaman mampu menembus tanah untuk menyerap unsur hara berkisar antara 100−150 cm (Sutarno, 2001).

Gambar 1: Bibit buah merah dan tanaman dewasa serta buah siap olah dari tipe
buah merah panjang
FAKTOR TANAH DALAM PENGEMBANGAN BUAH MERAH
Keadaan Sifat Fisik tanah
Pada umumnya sifat fisik tanah menjadi hal penting dalam menyesuaikan komoditi dan pertumbuhan tanaman. Namun tanaman buah merah tidaklah tanman yang manja untuk dapat tumbuhmenjadi tanman yang ideal. Faktor fisisk tanah bukanlah penghmabat karena secara umum tanaman ini dapat tumbuh dari dataran rendah hingga dataran tinggi. Untuk iklim tropis seperti indonesia wilayahnya dapat ditumbuhi tanaman liar ini (Litbang, 2009).
Bila tanaman yang dibudidayakan membutuhkan pemeliharaan yang intensif namun untuk buah merah tidaklahdemikian karena tanaman ini adalah tanaman tumbuh liar dan dapat tumbuh pada kesubutran rendah dan tanah masam ( Nainggolan, 2001).
Sifat fisik tanah bukanlah hal yang dianggap mendominasi keadaan tanamn namun secara umum tanaman ini mampu tumbuh optimal di tanh berpasir ( Litaban, 2009).
Tekstur Tanah dan Struktur Tanah
Sebagian besar tanaman buah merah masih tumbuh liar dan belum dibudidayakan walaupun sudah ada namun jumlahnya relatif kecil, karena secara ilmiah masih banyak orang yang beranggapan bahwa tanaman ini adalah tanaman liar. Tekstur untuk tanaman ini pada umumnya cocok pada daerah berpasir karena habitat asli berada di sekitar sungai dan aliran sungai (Litang, 2010).
Tekstur dan struktur tanah pada tanaman ini merupakan hal yang menentukan pertumbuhan tanaman ini. Karena pada dasaranya dalahtumbuhna liar maka tanaman ini mudah dibudidayakan( Naingggolan, 2001).
Tanaman buah merah dapat tumbuh pada dataran rendah hingga ketinggian 2.500 m dari permukaan laut (dpl), dengan kesuburan tanah rendah, masam sampai agak masam, dan naungan 0−15%, tanahnya podzolik dan teksturnya gelum (Nainggolan, 2001).
Tekstur Tanah Setempat
Tanaman buah merah (Pandanus conoideus Lamk.) merupakan salah satu tanaman tradisional Papua, tumbuh menyebar mulai dari dataran rendah hingga dataran tinggi. ( Litbang , 2009).
Tanaman tumbuh mengelompok di sekitar aliran sungai, dan beradaptasi dengan baik pada tanah tandus dengan pH masam (4,30−5,30). Tanaman umumnya dibudidayakan secara tradisional, tanpa pemupukan, dan penanganan pascapanen secara sederhana ( Sutarno, 2001).
Pengaruh Lingkungan
Pengaruh lingkunagan sangatlah berkaitan dengan pertumbuhan tanaman, namun tanman ini sangat resisten terhadap berbagai pengaruh lingkungan ( Usman, 2007).
Hal-hal yang menjadi pertimbangan dalam konsdisis lapang buah merah adalaha sebagai berikut: tanaman dapat beradaftasi secra luas budidaya cukup mudahdapat tumbuh pada keadaan kurang suburnamun cukup air, tanaman kurang disukai hama dan penyakit ( Litbang, 2009 ).
Umumnya tanamna buah merah tanaman buah merah dapat tumbuh pada tanah kurang subur, banyak mengandung pasir, dan bersifat agak masam (pH 4,30− 5,30). Tanaman tumbuh mengelompok di sekitar aliran sungai. Menurut Yuhono dan Malik (2006), lebih dari 90% tanaman buah merah tumbuh secara liar atau dipelihara dengan teknologi budi daya dan pascapanen seadanya. Dan tanaman ini sebenaranya tempat tumbuh yang optimal adalah padadaerah tropis di kepualuan Papua ( Hadad dkk., 2005 ).

PELUANG PENGEMBANGAN BUAH MERAH
Buah merah merupakan salah satu komoditas unggulan Papua. Secara tradisional, buah merah sudah dikenal masyarakat yang bermukim di daerah pantai maupun pegunungan. Daya tarik buah merah adalah kandungan kimianya, berupa zat gizi penting untuk ketahanan tubuh seperti beta-karoten, tokoferol (vitamin E), asam linolenat, asam oleat, asam stearat, dan asam palmitat. Beta-karoten dan tokoferol dikenal sebagai senyawa antioksidan yang dapat menghambat perkembangan radikal bebas di dalam tubuh manusia. Oleh karena itu, buah merah potensial dikembangkan sebagai bahan baku obat degeneratif, seperti gangguan jantung, lever, kolesterol, diabetes, asam urat, osteoporosis, serta sebagai antiinfeksi seperti HIV (Hadad dkk., 2005).
Lahan yang berpotensi untuk pengembangan komoditas perkebunan, termasuk buah merah, di Papua tersebar di beberapa kabupaten, antara lain Jayawijaya, Puncak Jaya, Tolikara, Yahukimo, Jayapura, Manokwari, Sorong, Merauke, Biak, Nabire, Paniai, Yapen Waropen, Mimika, dan Fakfak. Luasnya mencapai 7,20 juta ha, namun baru dimanfaatkan 165.885 ha (Rumbarar, 2002).
Pemanfaatan buah merah oleh masyarakat loka, baik sebgai sumber gzi, penyedap masakan, obat beberapa jenis penyakit, maupun pakan ternak ( Litbang, 2009 ).
Buah merah yang diperdagagangkan sebagian besar berasal dari tanamna yang tidak dibudidayakan, sehingga bea budidaya dianggap nol ( Karyono, 2003 ).
Pada sistem budidayanya walaupun tanaman buah merah oleh masyarakat dianggap sebagai tanman tradisional, upaya pengembangan perlu diikuti dengan teknik budidya yang sesuai meliputi pembibitan, penanaman dan pemeliharaan tanaman. Tanman diperbanyak secra vegetatif menggunakan stek tunas dari akar atau batang stek (Litbang, 2009).
Daya tarik buah merah adalah kandungan kimianya, yaitu zat gizi penting untuk ketahanan tubuh. Oleh karena itu, Hadad dkk., (2006) menyatakan, tanaman ini berpotensi dikembangkan sebagai bahan baku obat degeneratif untuk mengobati penyakit HIV, di samping sebagai penunjang makanan pokok sehari-hari. Tulisan ini menginformasikan peluang pengembangan buah merah, termasuk karakteristik botani, varietas, cara budi daya, panen, pascapanen, dan kegunaannya sebagai sumber pangan, pakan, pewarna alami maupun bahan baku obat-obatan.

KESIMPULAN
1. Peluang pengembangan tanaman buah merah ke depan cukup baik karena budi daya tanaman dan cara pengolahan minyaknya mudah dilaksanakan di tingkat petani, selain harga minyak cukup tinggi.
2. Masyarakat meyakini bahwa minyak buah merah memiliki berbagai manfaat, antara lain sebagai bahan baku obat-obatan, makanan, pewarna alami, kosmetik, dan limbahnya sebagai pakan.
3. Buah merah merupakan tanaman yang mampu hidup pada tanah yang kurang baik atau tandus dan pH masam
4. Pengembangan tanaman buah merah harus dilakukan engan menerapkan teknologi budi daya dan pascapanen sesuai dengan sifat dan karakter biologis tanaman
5. Faktor tanah dalam pengembangan buah merah menjadi hal yang cukup penting untuk pertumbuhan dan perkembangan
6. Tanaman buah merah dapat tumbuh optimal di tanah yang kurang subur atau tandus sekalipun kareana itu tanman ini biasa disebut tanaman liar
7. pH masam dan tekstur berpasir adalah kondisi tanah yang ideal untuk pertumbuhan
8. Kesuburan tanah yang rendah bukanah faktor pembatas dalam penentuan kondisi fisik tanah untuk tanaman buah

DAFTAR PUSTAKA
Badan Pusat Statistik Provinsi Papua. 2005. Papua dalam Angka Tahun 2004/2005.
.
Budi, M. 2003. Potensi Kandungan Gizi Buah Merah (p. Conoideus lamk.) Sebagai Sumber Pangan Alternatif Untuk Mendukung Ketahanan Pangan Masyarakat Papua. Kerja Sama Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Jayapura Dengan Universitas Negeri Papua.
Hadad, M., Atekan, A. Malik, dan D. Wamaer. 2006. Karakteristik dan Potensial Tanaman Buah Merah (Pandanus conoideus Lamk.). Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian. Bogor.
Karyono, O.K. 2003. Nilai Ekonomi Buah Merah di Bawah Tegakan Hutan Rakyat; Studi Kasus di Kabupaten Wamena. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan, Bogor.
Lebang, A., Amiruddin, J. Limbongan, G.I. Kore, S. Pambunan, dan I M. Budi. 2004. Laporan Usulan Pelepasan Varietas Buah Merah Mbarugum. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Provinsi Papua.
Limbongan, J. dan H.T. Uhi. 2005. Penggalian Data Pendukung Domestikasi dan Komersialisasi Jenis, Spesies dan Varietas Tanaman Buah di Provinsi Papua. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura. Jakarta.
Litbang. 2009. Jurnal Litbang Pertanian. Bogor.
Nainggolan, D. 2001. Aspek Ekologis Kultivar Buah Merah Panjang (Pandanus conoideus Lamk.) di Daerah Dataran Rendah Manokwari.Universitas Negeri Papua. Manokwari.
Rumbarar, L. 2002. Kebijakan Pembangunan Wilayah Perkebunan.Jayapura
Sutarno, S. 2001. Tumbuhan Penghasil Warna Alami dan Pemanfaatannya dalam Kehidupan Suku Meyah di Desa Yoom Nuni. Universitas Negeri Papua. Manokwari.
Usman. 2007. Pemanfaatan Pasta Buah Merah Sebagai Pakan Alternatif Ayam Buras Periode Grower. BPTP. Papua,
Wamaer, D. dan A. Malik. 2009. Analisis Finansial Pascapanen Buah Merah (Pandanus conoideus Lamk.). Jurnal Tambue Universitas Moh. Yamin Solok.
Wikipeda. 2010. Buah Merah. Http://wiki.buahmerah. Diaksese 28 Oktober 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.