PEMELIHARAAN TANAMAN KARET (Hevea brassiliensis Muell. Arg.)

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Karet alam merupakan salah satu komoditas pertanian yang penting untuk Indonesia dan lingkup internasional. Di Indonesia, karet merupakan salah satu hasil pertanian yang banyak menunjang perekonomian Negara. Hasil devisa yang diperoleh dari karet cukup besar. Bahkan, Indonesia pernah menguasai produksi karet dunia dengan mengungguli hasil dari negara-negara lain dan negara asal tanaman karet sendiri yaitu di daratan Amerika Selatan (Tim Penulis PS, 2008).
Karet merupakan tanaman yang berasal dari Amerika Latin, khususnya Brasil. Karenanya, nama ilmiahnya Herea brasiliensis. Sebelum dipopulerkan sebagai tanaman budidaya yang dikebunkan secara besar-besaran, penduduk asli Amerika Selatan, Afrika, dan Asia sebenarnya telah memanfaatkan beberapa jenis tanaman penghasilan getah (Setiawan dan Andoko, 2005).
Tanaman karet termasuk famili Euphorbiare atau tanaman getah-getahan. Dinamakan demikian karena golongan famili ini mempunyai jaringan tanaman yang banyak mengandung getah (latek) dan getah tersebut mengalir keluar apabila jaringan tanaman terlukai. Mengingat manfaat dan kegunaannya, tanaman ini digolongkan ke dalam tanaman industri (Syamsulbahri, 1996).
Sistem perkebunan karet muncul pada abad ke-19. Akan tetapi sistem perkebunan di Asia Tenggara tidak terjadi sebelum akhir abad ke-19, ketika permintaan menuntut perluasan sumber penawaran. Sistem diperkenalkan oleh beberapa ahli tumbuh-tumbuhan di inggris (http://www.icraf.org, 2010 ).
Karena lebih dari 80% dikelola oleh rakyat, perkebunan juga merupakan sumber mata pencaharian dan pendapatan sebagian besar penduduk Indonesia. Sebagai sumber pertumbuhan bahan baku industri, lapangan kerja, pendapatan, devisa, maupun pelestarian alamm, perkebunan masih akan tetap memegang peranan penting (BPPP, 1997).
Kulit biji yang keras dapat disebabkan oleh pengaruh genetik maupun lingkungan. Pematahan dormansi kulit biji ini dapat dilakukan dengan skarifikasi mekanik. Pre treatment skarifikasi digunakan untuk mematahkan dormansi kulit biji, sedangkan stratifikasi digunakan untuk mengatasi dormansi embrio. Skarifikasi merupakan salah satu upaya ore trearment atau perawatan awal pada benih yang dutunjukan untuk mematahkan dormansi serta mempercepat perkembangan biji yang sergam (http://agrica.wordpress.com, 2010).
Ada 4 fungsi media tanam yang harus mendukung pertumbuhan tanaman yang baik, yaitu sebagai tempat unsur hara, harus dapat memegang air yang tersedia bagi tanaman dapat melatukan pertukaran udara antar akar dari atmosfer di atas media dan berakhir harus dapat menyokong tanaman asal tidak kokoh (Nelson, 1981). Pada awalnya seluruh karet dikumpulkan dari tanaman liar, awalnya karet dari Brazil tetapi ada juga dari daerah lain dalam jumlah perbandingan yang kecil. Karena permintaan yang bertambah dan lebih cepat dibandingkan dengan persediaan yang ada dan harga yang melambung tinggi. Ini memungkinkan terjadinya pelanggaran terhadap pengelupasan benih dilanggar dan pohon karet pula diperkenalkan kepada kerajaan-kerajaan kolonial di bagian dunia lain (Schery, 1961).

Tujuan Percobaan
Adapun tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui Pemeliharaan Tanaman Karet (Hevea brassiliensis Muell. Arg.).
Kegunaan Percobaan
 Sebagai salah satu syarat untuk dapat mengikuti praktikum di Laboratorium Teknologi Budidaya Tanaman Perkebunan Universitas Sumatera Utara, Medan
 Sebagai bahan informasi bagi pihak yang membutuhkan.

TINJAUAN PUSTAKA
Botani Tanaman
Menurut http://www.plantamor.com (2010), karet dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
Kingdom : Plantae
Divisio : Spermatophyta
Subdivisio : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliosida
Ordo : Euphorbiales
Famili : Euphorbiareae
Genus : Hevea
Spesies : Hevea brasililensis Muell. Arg
Tanaman karet berupa pohon, ketinggiannya dapat mencapai 30-40 meter. Sistem perakarannya padat/kompak, akar tunggangnya dapat menghunjam tanah hingga kedalaman 1-2 meter, sedangkan akar lateralnya dapat menyebar sejauh 10 meter (Syamsulbahri, 1996).
Tanaman karet berupa pohon yang tingginya bisa mencapai 25 meter dengan diameter batang cukup besar. Umumnya batang karet tumbuh lurus ke atas dengan percabangan dibagian atas. Dibatang inilah terkandung getah yang lebih terkenal dengan nama lateks (Setiawan dan Andoko, 2005).
Daun berselang-seling, tangkai daun panjang, 3 anak daun yang licin berkilat. Petiola tipis, hijau dan berpanjang 3,5 – 30 cm. Helaian anak daun bertangkai pendek dan berbentuk lonjong oblong (Sianturi, 2001).
Tanaman karet adalah tanaman berumah satu (monoecus). Pada satu tangkai bunga yang berbentuk bunga majemuk terdapat bunga betina dan bunga jantan (Setyamidjaja, 1999).
Buah karet dengan diameter 3-5 cm, terbentuk dari penyerbukan bunga karet dan memiliki pembagian ruangan yang jelas, biasanya 3-6 ruang. Setiap ruangan berbentuk setengah bola (Setiawan dan Andoko, 2005).
Biji karet terdapat dalam setiap ruang buah. Jadi, jumlah biji biasanya tinga, kadang enam. Ukuran biji besar dengan kulit keras. Warnanya cokelat kehitaman dengan bercak-bercak berpola khas (http://www.incraf.org, 2010).
Syarat Tumbuh
Iklim
Tanaman karet dapat tumbuh baik dan berproduksi tinggi pada kondisi iklim sebagai berikut, yaitu didataran rendah sampai dengan ketinggian 200 m diatas permukaan laut, suhu optimal 28 (http://www.pustaka_deptan.go.id, 2010).
Daerah yang cocok untuk tanaman karet adalah pada zone antara 15 dan 15. Bila ditanam diluar zone tersebut, pertumbuhannya agak lambat, sehingga memulai produksinya pun lebih lambat (Setyamidjaja, 1999).
Vegetasi yang sesuai untuk kondisi lintang tersebut adalah hutan hujan tropis yang disertai dengan suhu panas dan kelembaban tinggi. Curah hujan rata-rata yang sesuai bagi pertumbuhan tanaman karet adalah sekitar 2000 mm per tahun dengan jumlah hari hujan 100-150 hari (Syamsulbahri, 1996).

Tanah
Tanah yang dikehendaki adalah bersolom dalam, jeluk lapisan padas lebih darii 1 m, permukaan air tanah rendah yaitu 1 m. Sangat toleran terhadap keasaman tanah, dapat tumbuh pada hingga 8,0 (Sianturi, 2001).
Tanaman karet dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah, baik pada tanah-tanah vulkanis muda ataupun vulkanis tua, aluvial dan bahkan tanah gambut. Tanah-tanah vukanis umumnya memiliki sifat-sifat fisika yang cukup baik, terutama dari segi struktur, tekstur, solom, kedalaman air tanah, aerase, dan drainasenya (Setyamidjaja, 1999).
Tanaman karet dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah seperti tanah berpasir hingga laterit merah dan padsolik kuning, tanah abu gunung, tanah berilat serta tanah yang mengandung peat. Tampaknya tanaman karet tidak memerlukan kesuburan tanah yang khusus ataupun topografi tertentu (Syamsulbahri, 1996).

PEMELIHARAAN TANAMAN KARET( Hevea brassiliensis Muell. Arg.) TANAMAN MENGHASILKAN
Penyiangan
Penyiangan dalam budidaya karet bertujuan membebaskan tanaman karet dari gangguan gulam yang tumbuh di lahan. Karenaya, kegiatan pnyiangan sebenarnay bisa dilakukan setiap saat, yaitu ketika pertumbuhan gulma sudah mulai mengganggu perkembangan tanaman karet. Meskipun demikian, umumnya penyiangan dilakukan 3 kali dalam setahun untuk emnghemat tenaga dan bea ( Setiawan dan Andoko, 2005).
Lakukan penyiangan untuk menghindari persaingan tanaman didalam pengambilan unsur hara. Penyulaman dilakukan untuk mengganti tanaman yang telah mati sampai dengan tanaman telah berumur 2 tahun pada saat musim penghujan. Tunas palsu harus dibuang selama 2 bulan pertama dengan rotasi 2 minggu sekali, sedangkan tunas lain dibuang sampai tanaman mencapai ketinggian 1,80 m. Setelah tanaman berumur 2-3 tahun, dengan ketinggian 3,5 m dan bila belum bercabang, perlu diadakan perangsangan dengan cara pengeratan batang, pembungkusan pucuk daun dan pemenggalan ( http:// Litbangdeptan.com, 2010).
Jenis-Jenis Hama dan Penyakit
Hama yang menyerang tanaman karet pada fase penanaman hingga produksi diantaranya:
 Rayap
Rayap yang menjadi hama tanaman karet, terutama spesies Microtermes inspiratus dan Captotermes curvignathus.
 Kutu
Kutu tanaman yang menjadi hama bagi tanaman bagi tanaman karet adalah Saissetia nigra, Laccifer greeni, Laccifer virgata, Ferrisiana virgata dan Planococcus citri yang masing-masing memiliki ciri yang berbeda.
 Tungau
Tungau yang menjadi hama bagi tanaman karet pada fase penanaman hingga produksi ini adalah Hemitarsonemus dengan warna pucat hingga hijau.
 Babi hutan
Babi hutan (Sus verrucosus) adalah hama bagi hampir semua tanaman perkebunan termasuk karet terutama yang ditanam dekat hutan.
 Rusa dan kijang
Rusa dan kijang menjadi hama bagi tanaman dengan cara memakan daun-daunya.
 Tapir
Sama dengan kijang tapir ( Tapirus indicus ) menjadi hama bagi tanaman karet juga dengan cara memakan daun tanaman muda.
 Tupai
Tupai menjadi hama karena mengerat batang tanaman karet dengan bentuk spiral.
 Gajah
Gajah ( Elephas maximus ) hanya menjadi hama yang diudsahakan di pulaau Sumatera, terutama jika areal tersebut berdekatan dengan hutan yang merupakn habitat hewan ini.
( Setiawan dan Andoko, 2005 ).
Penyakit adalah gangguan yang terus menerus pada tanaman yang disebabakan oleh patogen, virus, bakteri dan jasad renix lain.
Beberapa jenis yang cukup merugikan antara lain:
1. Penyakit Embun Tepung
2. Penyakit Daun Colletotrichum
3. Penyakit Kanker garis
4. Penyakit Jamur Upas.
5. Penyakit Bidang Sadapan
6. Penyakit Cendawan Akar putih
( Http ://budidayakaret.html, 2010 ).
Pengendalian Hama dan Penyakit
Pengendalian hama dan penyakit dilakukan secara rutin dengan memperhatikan tingkat serangan yang terjadi. Untuk mengetahui akan terjadinya serangan hama/penyakit sejak awal maka perlu dilakukan pengontrolan tanaman secara rutin (early warning system). Pada cara ini terdapat tim yang bertugas mengidentifikasi tingkat serangan dan tim pengendalian serangan hama/penyakit. Pengendalian hama pada umumnya dilakukan dengan cara menakut-nakuti, mencegah kehadiranya, menangkap dan meracuni. Pada tanaman menghasilkan lebih banyak mengalami serangan penyakit dari pada hama. Penyakit gugur daun yang menyerang daun muda (setelah gugur daun) sering dijumpai di lapangan jika kondisi iklim lembab. Pada tanaman yang disadap cukup berat juga sering dijumpai penyakit kekeringan alur sadap (http://binaukm.com, 2010).
Penyakit tanaman karet tanaman menghasilkan yang umum ditemukan pada perkebunan dan cara penegndalianya adalah :
 Jamur Akar Putih (Rigidoporus microporus)
Penyakit akar putih disebabkan oleh jamur Rigidoporus microporus (Rigidoporus lignosus). Penyakit ini mengakibatkan kerusakan pada akar tanaman. Gejala pada daun terlihat pucat kuning dan tepi atau ujung daun terlipat ke dalam. Kemudian daun gugur dan ujung ranting menjadi mati. Ada kalanya terbentuk daun muda, atau bunga dan buah lebih awal. Pada perakaran tanaman sakit tampak benang‐benang jamur berwarna putih dan agak tebal (rizomorf). Jamur kadang‐kadang membentuk badan buah mirip topi berwarna jingga kekuning‐kuningan pada pangkal akar tanaman. Pada serangan berat, akar tanaman menjadi busuk sehingga tanaman mudah tumbang dan mati. Kematian tanaman sering merambat pada tanaman tetangganya. Penularan jamur biasanya berlangsung melalui kontak akar tanaman sehat ke tunggultunggul, sisa akar tanaman atau perakaran tanaman sakit. Penyakit akar putih sering dijumpai pada tanaman karet umur 1‐5 tahun terutama pada pertanaman yang bersemak, banyak tunggul atau sisa akar tanaman dan pada tanah gembur atau berpasir. Pengobatan tanaman sakit sebaiknya dilakukan pada waktu serangan dini untuk mendapatkan keberhasilan pengobatan dan mengurangi resiko kematian tanaman. Bila pengobatan dilakukan pada waktu serangan lanjut maka keberhasilan pengobatan hanya mencapai di bawah 80%. Cara penggunaan dan jenis fungisida anjuran yang dianjurkan adalah :
 Pengolesan : Calixin CP, Fomac 2, Ingro Pasta 20 PA dan Shell CP.
 Penyiraman : Alto 100 SL, Anvil 50 SC, Bayfidan 250 EC, Bayleton 250 EC,
 Calixin 750 EC, Sumiate 12,5 WP dan Vectra 100 SC.
 Penaburan : Anjap P, Biotri P, Bayfidan 3 G, Belerang dan Triko SP+
 Kekeringan Alur Sadap (Tapping Panel Dryness, Brown Bast)
Penyakit kekeringan alur sadap mengakibatkan kekeringan alur sadap sehingga tidak mengalirkan lateks, namun penyakit ini tidak mematikan tanaman. Penyakit ini disebabkan oleh penyadapan yang terlalu sering, terlebih jika disertai dengan penggunaan bahan perangsang lateks ethepon. Adanya kekeringan alur sadap mula‐mula ditandai dengan tidak mengalirnya lateks pada sebagian alur sadap. Kemu‐dian dalam beberapa minggu saja kese‐luruhan alur sadap ini kering tidak me‐ngeluarkan lateks. Bagian yang kering akan berubah warnanya menjadi cokelat karena pada bagian ini terbentuk gum (blendok). Kekeringan kulit tersebut dapat meluas ke kulit lainnya yang seumur, tetapi tidak meluas dari kulit perawan ke kulit pulihan atau sebaliknya. Gejala lain yang ditimbulkan penyakit ini adalah terjadinya pecah‐pecah pada kulit dan pembengkakan atau tonjolan pada batang tanaman. Pengendalian penyakit ini dilakukan dengan: Menghindari penyadapan yang terlalu sering dan mengurangi pemakaian Ethepon terutama pada klon yang rentan terhadap kering alur sadap yaitu BPM 1, PB 235, PB 260, PB 330, PR 261 dan RRIC 100. Bila terjadi penurunan kadar karet kering yang terus menerus pada lateks yang dipungut serta peningkatan jumlah pohon yang terkena kering alur sadap sampai 10% pada seluruh areal, maka penyadapan diturunkan intensitasnya dari 1/2S d/2 menjadi 1/2S d/3 atau 1/2S d/4, dan penggunaan Ethepon dikurangi atau dihentikan untuk mencegah agar pohon‐pohon lainnya tidak mengalami kering alur sadap. Pengerokan kulit yang kering sampai batas 3‐4 mm dari kambium dengan memakai pisau sadap atau alat pengerok. Kulit yang dikerok dioles dengan bahan perangsang pertumbuhan kulit NoBB atau Antico F‐96 sekali satu bulan dengan 3 ulangan. Pengolesan NoBB harus diikuti dengan penyemprotan pestisida Matador 25 EC pada bagian yang dioles sekali seminggu untuk mencegah masuknya kumbang penggerek (Gambar 4.10). Penyadapan dapat dilanjutkan di bawah kulit yang kering atau di panel lainnya yang sehat dengan intensitas rendah (1/2S d/3 atau 1/2S d/4). Hindari penggunaan Ethepon pada pohon yang kena kekeringan alur sadap. Pohon yang mengalami kekeringan alur sadap perlu diberikan pupuk ekstra untuk mempercepat pemulihan kulit (Anwar, 2001).
Gulma Tanaman Karet
Pada daerah barisan tanaman karet harus bebas dari gulma. Untuk itu digunakan pengendalian gulma secara kimia/herbisida. Pengendalian gulma dengan herbisida dilakukan 1 bulan sebelum pemberian pupuk agar pada saat pemupukan tanaman dapat menyerap pupuk secara optimal. Walaupun pada daerah gawangan terdapat gulma lunak tetapi tidak boleh tumbuh gulma berkayu seperti Melastoma malabatrichum (http://binaukm.com, 2010).
Areal pertanaman karet, baik tanaman belum menghasilkan (TBM) maupun tanaman sudah menghasilkan (TM) harus bebas dari gulma seperti alang-alang, Mekania, Eupatorium, dll. (Anwar, 2001).

Pemberantasan Gulma
Pengendalian gulma pada tanaman karet menghasilkan lebih diarahkan pada daerah 1 meter sebelah kiri dan kanan barisan tanaman karet, sedangkan gawangan karet tetap dapat ditumbuhi gulma lunak. sehingga tanaman dapat tumbuh dengan baik. Untuk mencapai hal tersebut, penyiangan pada tahun pertama dilakukan berdasarkan umur tanaman seperti berikut:
Tabel 1. Frekuensi Pengendalian Gulma dengan Herbisida berdasarkan Umur
Umur tanaman
(tahun) Kondisi tajuk Aplikasi Herbisida Lebar piringan/jalur
Frekuens Waktu
Tanaman Belum Menghasilkan:
2 ‐ 3 tahun

4 – 5 tahun
Tanaman menghasilkan:
6 – 8 tahun

9 – 15 tahun

>15 tahun

Belum menutup

Mulai menutup

Sudah menutup

Sudah menutup

Sudah menutup

3‐4 kali

2‐3 kali

2‐3 kali

2 kali

2 kali

Maret, Juni, September, Desember*)
Maret, September, Juni*)

Maret, September, Juni*)

Maret, September

Maret, September

1.5 – 2.0 m

1.5 – 2.0 m

2.0 – 3.0 m

2.0 – 3.0 m

2.0 – 3.0 m
( Anwar, 2001).
Pengendalian gulma ada beberapa cara, tergantung di mana pengendalian tersebut dilakukan. Pengendalian gulma di pembibitan berbeda dengan di areal kebun, baik untuk tanaman yang belum menghasilkan maupun tanaman yang sudah menghasilkan (Http://guulmakaret.html, diakses 23 September 2010).
Kerugian Hama dan Penyakit serta Gulma
Masalah gulma di perkebunan karet dianggap serius karena bisa mengakibatkan terjadinya persaingan dalam penyerapan unsur hara, air, cahaya, dan ruang tempat tumbuh. Di samping itu, juga ada beberapa jenis gulma yang bisa mengeluarkan zat penghambat pertumbuhan sehingga tanaman terhambat dan menjelang waktu penyadapan produksinya rendah. Gulma juga dapat menjadi tanaman inang (host plant) dari hama dan penyakit tanaman. Oleh karena itu, gulma harur diberantas. Pengendalian gulma harus dilakukan sejak tanaman masih di pembibitan. Hal ini dilakukan untuk menjaga pertumbuhan tanaman agar tetap baik. Pengendalian gulma dapat dilakukan dengan cangkul, kored, dengan tangan, atau dengan bahan kimia (Http://guulmakaret.html, 2010).
Penyakit karet sering menimbulkan kerugian ekonomis di perkebunan karet. Kerugian yang ditimbulkannya tidak hanya berupa kehilangan hasil akibat kerusakan tanaman, tetapi juga biaya yang dikeluarkan dalam upaya pengendaliannya. Oleh karena itu langkah‐langkah pengendalian secara terpadu dan efisien guna memperkecil kerugian akibat penyakit tersebut perlu dilakukan. Lebih 25 jenis penyakit menimbulkan kerusakan di perkebunan karet. Penyakit tersebut dapat digolongkan berdasarkan nilai kerugian ekonomis yang ditimbulkannya ( Anwar, 2001).
PEMBAHASAN
Tanaman karet merupakan salah satu komoditi perkebunan yang menduduki posisi cukup penting sebagai sumber devisa non migas bagi Indonesia, sehingga memiliki prospek yang cerah. Oleh sebab itu upaya peningkatan produktifitas usahatani karet terus dilakukan terutama dalam bidang teknologi budidayanya. Pemeliharaan yang umum dilakukan pada perkebunan tanaman karet meliputi pengendalian gulma, pemupukan dan pemberantasan penyakit tanaman.
Pengendalian gulma Areal pertanaman karet, baik tanaman belum menghasilkan (TBM) maupun tanaman sudah menghasilkan (TM) harus bebas dari gulma seperti alang-alang, Mekania, Eupatorium, dll sehingga tanaman dapat tumbuh dengan baik.
Lakukan penyiangan untuk menghindari persaingan tanaman didalam pengambilan unsur hara. Penyulaman dilakukan untuk mengganti tanaman yang telah mati sampai dengan tanaman telah berumur 2 tahun pada saat musim penghujan. Tunas palsu harus dibuang selama 2 bulan pertama dengan rotasi 2 minggu sekali, sedangkan tunas lain dibuang sampai tanaman mencapai ketinggian 1,80 m. Setelah tanaman berumur 2-3 tahun, dengan ketinggian 3,5 m dan bila belum bercabang, perlu diadakan perangsangan dengan cara pengeratan batang, pembungkusan pucuk daun dan pemenggalan.
Hama-hama penting yang sering menyerang karet adalah:
a . Pseudococcus citri
Pengendaliannnya dengan menggunakan insektisida jenis
Metamidofos, dilarutkan dalam air dengan konsentrasi 0,05 -0,1%.
b. Kutu Lak (Laeciper greeni)
Dapat diberantas dengan insektisida Albolinium (Konsentrasi 2%)
ditambah Surfactan citrowett 0,025%.
Penyakit-penyakit yang ditemui pada tanaman karet adalah: penyakit embun tepung, penyakit daun, penyakit jamur upas, penyakit cendawan akar putih-dan penyakit gugur dawn: Pencegahannya dengan menanam Klon yang sesuai dengan lingkungan dan lakukan pengelolaan , tanaman secara tepat dan teratur:

KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
1. Karet merupakan salah satu tanaman industri di Indonesia
2. Pemeliharaan karet TM merupakan hal yang sangat pokok untuk meningkatkan produksi
3. Pemeliharaan karet TM meliputi penyiangan, pengendalian hama dan penyakit, pemeberantasan gulma.
4. Pengelolaan dan pemeliharaan karet harus dilakukan secra intensif dan efesien agar tidak menimbulkan kerugian ekonomis sehingga dapat berproduksi optimal
5. Masalah gulma di perkebunan karet dianggap serius karena bisa mengakibatkan terjadinya persaingan dalam penyerapan unsur hara, air, cahaya, dan ruang tempat tumbuh sedangakan penyakit karet dapat menimbulkan menurunya hasil produksi serta mematikan tanaman
6. Penyakit-penyakit yang ditemui pada tanaman karet adalah: penyakit embun tepung, penyakit daun, penyakit jamur upas, penyakit cendawan akar putih-dan penyakit gugur dawn
7. Pencegahan penyakit karet dengan menanam Klon yang sesuai dengan lingkungan dan lakukan pengelolaan , tanaman secara tepat dan teratur
8. Gulma tanaman karet seperti alang-alang, Mekania, Eupatorium, dll, pengendalainya dapat dilakukan secara mekanis, amaupun kimia.

DAFTAR PUSTAKA
Anwar, C., 2001. Pusat penelitian karet, Mig Crop: Medan.
BPPP, 1997. 5 Tahun Penelitian dan Pengembangan Pertanian 1992-1996. Departemen Pertanian, Jakarta.

http://www.icraf.org, 2010. Okulasi Karet. Diakses pada tanggal 12 April 2010.
Http://binaukm.com, diakses 23 September 2010.
http://www.plantamor.com, diakses 23 September 2010
Http://guulmakaret.html, diakses 23 September 2010.
Http:// Litbangdeptan.com, diakases 23 September 2010.
Http://pustaka-deptan.go.id, 2010. Budidaya Tanaman Karet. Diakses 23 September 2010
Http ://budidayakaret.html, diakses 23 September 2010 .
http://agrica.wordpress.com, 2009. Dormansi biji. Diakses 23 September 2010.

Schery, R. W., 1961. Plants for Man. Prentice Hall Inc, New York.

Setiawan, D. H. dan A. Andoko, 2005. Petunjuk Lengkap Budidaya Karet. Agromedia Pustaka, Jakarta.

Setyamidjaja, D., 1999. Karet. Kanisius, Yogyakarta.

Sianturi, H. S. D., 2001. Budidaya Tanaman Karet. Universitas Sumatera Utara Press, Medan.

Syamsulbahri, 1996. Bercocok Tanam Tanaman Perkebunan Tahunan. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Tim Penulis PS, 2008. Panduan Lengkap Karet. Penebar Swadaya, Jakarta.

1 Komentar (+add yours?)

  1. charles simarmata
    Agu 28, 2012 @ 07:04:21

    its good

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: