PENGARUH PEMBERIAN PUPUK KIMIA PADA TANAH INCEPTISOL NAMOTRASI TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN JAGUNG (Zea mays L.) DENGAN METODE SUBSTRAKSI

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Benih merupakan suatu sarana yang penting dalam produksi pertanian dan menjadi pembawa perubahan teknologi dalam pertanian. Peningkatan produksi tanaman hortikultura disebabkan oleh penggunaan benih varietas unggul disertai teknik budidaya yang lebih baik dibandingkan masa sebelumnya (Sumpema, 2005).
Perkecambahan biji adalah proses pertumbuhan embrio dan komponen-komponen biji yang mempunyai kemampuan untuk tumbuh secara normal menjadi tanaman baru. Komponen biji seperti calon akar (radicle), calon daun/ batang (plumula). Dengan demikian ada 2 jenis aktivitas yaitu aktivitas morfologis dan aktivitas kimiawi. Aktivitas morfologis ditandai dengan adanya organ-organ tanaman seperti akar, batang, daun sedangkan aktivitas kimiawi diawali dengan aktivitas hormon dan enzim yang menyebabkan aktivitas perombakan zat cadangan makanan seperti karbonhidrat, protein, lemak (Ashari, 1995).
Pemupukan pada umumnya bertujuan untuk memelihara atau memperbaiki kesuburan tanah dengan memberikan zat-zat kepada tanah yang langsung atau tidak langsung dapat menyumbangkan bahan makanan pada tanam-tanaman. Biasanya zat-zat tersebut cukup terdapat dalam tanah untuk keperluan tanaman, tetapi pada pemupukan tersebut pengaruhnya tidak langsung pada saat diperlukan, misalnya mempengaruhi pH tanah dan memperbaiki lingkungan keadaan tanah. Bahan-bahan semacam itu disebut juga bahan perbaikan (http://www.tanindo.com, 2010).
Andisol terdapat di wilayah volkan, seringkali di lereng gunung. Tanah ini terbentuk dalam bahan abu volkan dan mempunyai horison A molik atau umbruik berwarna tua, horison B kambik. Bahan abu sangat ringan, bersifat amorf, tidak terkristal baik yang menyebabkan konsistensi tanah lemak, tanah andisol bersifat tiksotropik (Burigh, 2000).
Data analisis tanah Andisol dari berbagai wilayah menunjukkan bahwa andisol memiliki tekstur yang bervariasi dari berliat sampai berlempung kasar. Reaksi tanah umumnya bersifat masam, kandungan bahan organik lapisan atas sedang dampai tinggi dan lapisan bawahnya umumnya rendah dengan rasio C/N tergolong rendah. Kandungan P dan K potensial bervariasi ,mulai dari rendah sampai tinggi, jumlah basa dapat ditukarkan, KTK tanah sebagian besat sedang sampai tinggi dengan KB sedang. Dengan demikian potensial kesuburan andisol dinilai tergolong sedang sampai tinggi (Damanik, dkk; 2010).
Tujuan Percobaan
Adapun tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui Pengaruh Pemberian Pupuk Kimia Pada Tanah Andisol Terhadap Pertumbuhan Tanaman Jagung ( Zea mays L.) Dengan Metode Substraksi.
Hipotesis Percobaan
– Pemberian pupuk kimia pada tanah Andisol dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman Jagung ( Zea mays L. ).
– Pertumbuhan jagung pada tanah Andisol cukup baik.
Kegunaan Percobaan
– Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Dapat Mengikuti Praktikal Tes di Laboratorium Kesuburan Tanah dan Pemupukan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.
– Sebagai bahan informasi bagi pihak yang membutuhkan.

TINJAUAN PUSTAKA
Tanah Andisol
Tanah andisol merupakan tanah yang terbentuk dari bahan abu volkan muda, memiliki bobot isi rendah, mengandung mineral-mineral berordo pendek atau mineral amorf (alofan dan imogolit) serta berpotensi fiksasi fosfat yang tinggi dengan kesuburan tanah sedang sampai tinggi (Rayes, 2007).
Ciri morfologi tanah andisol yaitu horizon A1 yang tebal berwarna kelam, cokelat sampai hitam, sangat berporous, dan sangat gembur, struktur remah atau granular, terasa berminyak karena mengandung bahan organik antara 8% sampai 30 % dengan pH 4,5-6 sedangkan horizo B2 berwarna kuning sampai cokelat, tekstur sedang, struktur begumpaldengan granulasi yang tidak pulih, mengandung bahan organik antara 2 %-8% dengan kapasitas peningkatan air tinggi (Darmawijaya, 1999).
Ciri-ciri horison Mollik yaitu:
– Mengandung bahan organik lebih 1% (0,6% C-organik).
– Warna lembab dengan value lebih kurang 3, tebal 18 atau lebih.
– Kejenuhan basa ( NH4 Oac) lebih dari 50%.
– B.O. > 1%, tapi < 20% jika pasiran, atau 100 mm/bulan) 7-9 bulan dan bulan kering (<60 mm/bulan) 4-6 bulan (http://nugrohobarnito.blog.plasa.com, 2010).
Jagung membutuhkan kelembaban udara sedang sampai dengan tinggi (50% – 80%) agar keseimbangan metabolisme tanaman dapat berlangsung dengan optimal (http://nugrohobarnito.blog.plasa.com, 2010).
Jagung mempunyai kemampuan menyesuaikan diri dibandingkan dengan tanaman lainnya yang berasal dari jenis yang sama. Jagung berasal dari daerah-daerah tropis namun telah banyak dikembangkan pada daerah sub tropis. Dari berbagai sifat yang dimilikinya, jagung menghendaki hawa yang cukup panas untuk pertumbuhannya sebab pada temperature minimum akan mengganggu perkecambahan dan pada temperature suhu yang maksimum embrio biji jagung dapat rusak. Variasi temperaturnya adalah 90C – 100C untuk temperature minimum, 230C – 270C untuk temperature optimum 400C – 440C (http://wahyuaskari.wordpress.com/akademik/botani-jagung, 2010).
Jagung selama pertumbuhannya harus mendapat sinar matahari yang cukup, sebab tanaman jagung yang ternaungi akan menghambat perkembangan dan pertumbuhannya sehingga dapat memberikan hasil yang kurang maksimal (Rukmana, 2007).
Angin dapat membantu proses penyerbukan tanaman jagung, akan tetapi angin yang terlalu kencang dapat menggagalkan pembungaan maupun dapat merusakkan tanaman (http://nugrohobarnito.blog.plasa.com, 2010).
Tanah
Tanaman jagung dapat tumbuh pada ketinggian 0-1300 m dpl. Tanah yang kemiringannya tidak lebih dari 8% masih dapat ditanami jagung dengan arah barisan melintang searah kemiringan tanah dengan maksud mencegah erosi pada waktu terjadi hujan sehingga pertumbuhannya maksimal (http://wahyuaskari.wordpress.com/akademik/botani-jagung, 2010).
Jagung dapat tumbuh pada hampir semua jenis tanah mulai tanah dengan tekstur berpasir hingga tanah liat berat. Namun jagung akan tumbuh baik pada tanah yang gembur dan kaya akan humus dengan tingkat derajat kesamaan (pH) tanah antara 5,5 – 7,5, dengan kedalamam air tanah 50 – 200 cm dari permukaan tanah dan kedalamam permukaan perakaran (kedalam efektif tanah) mencapai 20 –6- cm dari permukaan tanah. Pada tanah yang berat, perlu dibuat drainase, karena tanaman jagung tidak tahan terhadap genangan air (http://nugrohobarnito.blog.plasa.com/archives/14, 2010).
Unsur hara
Nitrogen
Sumber nitrogen sekitar 78% dari udara. Nitogen ditransformasikan dalam bentuk yang tersedia bagi tanaman yaitu NH4 + dan NO3-. Mitrogen masuk ke Biosfer disebabkan oleh jasad renik pengikat N yang dapat hidup bebas sehinngga terbentuk protein (Sutedjo, 2005).
Absorbsi N oleh tanaman jagung berlangsung selama pertumbuhannya. Pada awal pertumbuhan, akumulasi N dalam tanaman relatif lambat dan setelah berumur 4 minggu akumulasi N sangat cepat. Pada saat pembungaan (bunga jantan muncul) tanaman jagung telah mengabsorbsi N sebanyak 50% dari seluruh kebutuhannya. Oleh karena itu untuk memperoleh hasil jagung yang baik, unsur hara N dalam tanah harus cukup tersedia dalam fase tersebut. Cara pemberian pupuk N yang baik adalah dengan jalan meletakkan pupuk di permukaan tanah dan segera di bumbun, atau ditugal disamping tanaman dan ditutup kembali dengan tanah (http://www.tanindo.com, 2010).
Nitrogen berasal dari bahan organik (sisa-sisa tanaman/sampah tanaman) yang melapuk, yang ternyata dapat menyuburkan tanaman dan memberikan hasil, pelapukan-pelapukan ini berhasil telah melangsungkan pembentukkan pupuk organik (Sutedjo, 2005).
Fosfor
Fosfor merupakan unsur yang diperlukan dalam jumlah yang besar (hara makro). Jumlah fosfor dalam tanaman lebih kecil dibandingkan dengan nitrogen dan kalium. Tanaman menyerap fosfor dalam bentuk ion ortofosfat primer (H2PO4) dan ion ortofosfat skunder (HPO42-) (Rosmakam dan Yuwono,2002 )
Tanaman jagung mengabsorbsi unsur P dalam jumlah relatif lebih sedikit daripada absorsi unsur N dan K. Pola akumulasi P tanaman jagung hampir sama dengan akumulasi hara N. Pada fase awal pertumbuhan akumulasi P relatif lebih lambat, namun setelah umur 4 minggu meningkat dengan cepat dan saat keluar bunga jantan, akumulasi P pada tanaman jagung mencapai 35% dari seluruh kebutuhannya (http://www.tanindo.com, 2010).
Cara yang dilakukan untuk memfiksasi P si dalam tanah yaitu dilakukukan dengan mengatur pH dengan pengapuran, pemberian bahan organik yang menghasilkan anion dan kation yang mengurangi fiksasi, mengurangi kontak langsung antara pupuk dengan tanah, mengurangi daya absorpsi P oleh tanah yang akhirnya mempercepat daya penguraian P-organik menjadi P yang tersedia (Sutedjo, 2005).
Kalium
Kalium dapayt diserap tanaman dalam bentuk ion K+, Kumlah banyaknya pupuk yang diberikan untuk memperoleh hasil yang maksimum ataupun lebih menguntungkan tergantung pada jenis tanaman, tingkat produksi tanaman. tingkat ketersediaan K di dalam tanah dan pergiliran tanaman yang menggunakan pupuk secara berlebihan (Damanik, dkk; 2010).
Kalium dibutuhkan oleh tanaman jagung dalam jumlah paling banyak dibanding dengan unsur N dan P. Pada fase pembungaan akumulasi hara K telah mencapai 60-75% dari seluruh kebutuhannya (http://www.tanindo.com, 2010).
Beberapa cara pemberian pupuk K untuk tanaman yaitu dengan pemberian pada jalur, disebar di permukaan, ditebar dan dibajak, pemberian jalur ke dalam lapisan bawah tanah. Bila takaran pupuk yang diberikan kecil maka aplikasi secara baris biasanya lebih efesien daripada aplikasi secara tebar (Damanik, dkk; 2010).

Magnesium
Magnesium diserap tanaman dalam bentuk kation Mg2+, sebagian besar Mg tersebut diambil dari larutan tanah melalui mass flow sedangkan mealui intersepsi sangat sedikit. Jumlah Mg yang diserap tanaman lebih sedikit dibandingkan Ca dan K (Winarso,2005).
Magnesium di dalam tanah mempunyai fungsi yang cukup banyak. Magnesium merupakan atom pusat dalam molekul klorofil sehingga sangat penting dalam fotosintesis. Magnesium dan nitrogen adalah hara yang diambil tanah yang merupakan komponen penyusun klorofil. Biji-bijian juga banyak mengandung Mg, juga magnesium berperan dalam membantu metabolisme fosfat, respirasi tanaman dan aktivator beberapa sistem enzim (http://www.tanindo.com, 2010).

Defisiensi Hara
Gejala sehubungan dengan kekurangan unsur hara ini dapat terlihat dimulai dari daunnya, warnanya yang hijau agak kekuningan selanjutnya berubah menjadi kuning . Jaringan daun mati dan inilah yang menyebabkan daun selanjutnya menjadi kering dan berwarna merah kecoklatan (http://yudhiwijaya.wordpress.com, 2009).
Pada tanaman dewasa pertumbuhan yang terhambat ini akan berpengaruh pada pertumbuhan, yang dalam hal ini perkembangan buah tidak sempurna, umumnya kecil-kecil dan cepat matang. Kandungan unsur N yang rendah dapat menimbulkan daun penuh dengan serat, hal ini dikarenakan menebalnya membran sel daun sedangkan selnya sendiri berukuran kecil-kecil (http://www.tanindo.com, 2010).
Fosfor
Gejala yang tanpak ialah warna daun seluruhnya berubah menjadi tua, mengkilap kemerahan, pada tepi daun, cabang dan batang berwarna merah-ungu yang lambat laun berubah menjadi kuning, buahnya kerdil-kerdil dan jelek, dan lebih capat matang (Lingga.
Fungsi fosfat dalam tanaman adalah dapat mempercepat pertumbuhan akar semai, mempercepat dan memperkuat pertumbuhan tanaman dewasa pada umumnya, meningkatkan produk biji-bijian dan memperkuat tubuh tanaman padi-padian sehingga tidak mudah rebah. Karena itu defisiensi unsur hara ini akan menimbulkan hambatan pada pertumbuhan sistem perakaran, daun, batang seperti misalnya pada tanaman serealia (padi-padian, rumput-rumputan, jewawut, gandum, jagung) daunnya berwarna hijau tua/ keabu-abuan, mengkilap, sering pula terdapat pigmen merah pada daun bagian bawah, selanjutnya mati. Tangkai daun kelihatan lancip. Pertumbuhan buah jelek, merugikan hasil biji (http://yudhiwijaya.wordpress.com, 2009).
Gejala lain yang tampak yaitu sistem perakaran tanaman yang miskin dan tidak berkembang, tangkai daun lancip-lancip, hasil yang diperoleh berupa biji dan buah menjadi merosot, pembentukkan buah pada tanaman yang menghasilkan biji berkurang (Suriatna, 1992).
Kalium
Ditandai dengan munculnya bercak-bercak kuning pada daun, diikuti dengan mati/"mengeringnya" ujung dan pinggiran daun. Kejadian ini dimulai dari bagian tanaman yang lebih tua (http://yudhiwijaya.wordpress.com, 2009).
Pada tanah yang kekurangan zat kalium memperlihatkan gejala-gejala seperti daun-daun berubah jadi mengerut terutama pada daun tua, tetapi tidak merata, kemudian timbul bercak-bercak berwarna merah cokelat, mongering lalu mati, buah tumbuh tidak sempurna, kecil, hasilnya rendah dan tidak dapat disimpan (Lingga, 1999).
Kekurangan hara K tampak pada daun yang berwarna kuning hingga kering dan mati. Selain itu pembentukan tongkol tidak sempurna, ujung tongkol tidak terisi oleh biji dan biji jagung tidak melekat secara kuat pada tongkolnya http://www.tanindo.com, 2010).

Magnesium
Gejala defisiensi Mg pertama Nampak pada daun-daun yang lebih tua atau bawah, sehingga Mg di dalam tanaman juga disebut mobil atau dapat ditranslokasikan. Tanaman yang defisiensi Mg akan menunjukkan daun-daun yang menguning, berwarna kecokelatan, kemerahan sedangkan bagian daun tetap hijau (Winarso, 2005).
Kekurangan Mg yang tersedia bagi tanaman akan menimbulkan gejala – gejala yang tampak pada bagian daun, terutama pada daun tua. Klorosis tampak pada diantara tulang-tulang daun, sedangkan tulang-tulang daun itu sendiri tetap berwarna hijau. Bagian diantara tulang-tulang daun itu secara teratur berubah menjadi kuning dengan bercak kecoklatan. Daun-daun ini mudah terbakar oleh terik matahari karena tidak mempunyai lapisan lilin, karena itu banyak yang berubah warna menjadi coklat tua/kehitaman dan mengkerut (http://yudhiwijaya.wordpress.com2009).
Selain itu gejala yang tampak pada tanaman yang kekurangan Mg ialah daun tua yang juga klorosis. Daun-daun ini mudah terbakar oleh terik matahari karena tidak mempunyai lapisan lilin, karena itu banyak yang berubah warna menjadi coklat tua/kehitaman dan mengkerut (Lingga, 1999).

BAHAN DAN METODE
Tempat dan Waktu Percobaan
Percobaan dilakukan di lahan Fakultas Pertanian, Laboratorium Kesuburan Tanah dan Pemupukan Departemen Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan dengan ketinggian tempat ± 25 meter di atas permukaan laut. Percobaan ini dilaksanakan pada Februari-Mei 2010.

Bahan dan Alat

Adapun bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah tanah Inceptisol Namotrasi yang digunakan sebagai tanah percobaan, pupuk urea, sp-36, MOP, dan kiserit yang digunakan sebagai pupuk, bibit jagung yang digunakan sebagai bibit yang akan ditanam, label nama yang digunakan untuk menamai polybag, air yang digunakan untuk menyiram tanaman setiap hari.
Adapun alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah polybag yang digunakan sebagai media tanam, plastik kecil yang digunakan sebagai tempat pupuk yng akan dipakai, cangkul yang digunakan untuk mengamil tanah dari tempatnya, goni yang digunakan sebagai tempat tanah, ayakan yang diunakan untuk mengayak tanah, label nama yang digunakansebagai penanda percobaan, batu bata sebagai tempat tumpuan polybag, meteran untuk mengukur tinggi tanaman, jangka sorong utuk mengukur diameter batang tanaman, buku data untuk tempat menulis dta pengamatan, alat tulis untuk menulis data pengamatan, cawan yang digunakan untuk tempat tanah kering oven, oven untuk mengeringkan tanah, spanduk untuk pembatas lahan.
Metode Percobaan
Adapun metode yang digunakan dalam percobaan ini adalah metode subtraksi.

Prosedur Percobaan

Pengambilan contoh tanah di Lapangan
– Dikunjungi lokasi contoh tanah yang akan diambil seminggu sebelum pengambilan.
– Diambil tanah secara komposit di areal Binjai.
– Diambil contoh tanah pada setiap titik dari areal atau lokasi pada kedalaman 0-20 cm.
– Digunakan metode zig zag pada pengambilan tanah yang digunakan.
Penanganan contoh tanah di Laboratorium
– Dikeringudarakan tanah di Laboratorium dengan menggunakan polybag setara 5 kg.
– Dihitung terlebih dahulu BTKU kemudian diovenkan dan ditimbang sehingga didapatkan BTKO.
– Dihitung % KA dengan menggunakan rumus:
% KA =
Penanganan di Lahan
– Diletakkan batu bata di lahan.
– Dipindahkan polibag berisi tanah ke lahan dan diletakkan di atas batu bata.
– Ditanam benih jagung ke dalam masing-masing polibag sebanyak 3 benih.
– Disiram setiap hari dan diamati pertumbuhan tanaman jagung.
– Dibersihkan lahan dari gulma seminggu sekali agar terhindar dari hama.
– Dipasang spanduk untuk menghidari serangan hama.
Peubah Amatan
– Tinggi Tanaman (cm)
– Jumlah Daun (helai)
– Diameter Batang (mm)
– Berat Kering Atas (gr)
– Berat Kering Bawah (gr)

Pelaksanaan Percobaan
Pengambilan Contoh Tanah
Laboratorium
Tanah dikeringudarakan di Laboratorium dengan menggunakan polybag setara 5 kg. Dihitug terlebuh dahulu BTKU kemudian diovenkan dan ditimbang sehingga didapatkan BTKO, kemudian dihitung % KA dengan menggunakan rumus:
% KA =
Lapangan
Tanah Inseptisol diambil secara komposit di areal Binjai. Pada setiap titik dari areal atau lokasi, contoh tanah diambil pada kedalaman 0-20 cm. Tanah ini diambil pada bulan Februri. Metode pengambilan tanah yang digunakan adalah metode zigzag.
Pemupukan

Pemberian pupuk dilakukan sehari sebelum tanam sesuai dengan dosis yang telah ditentukan. Pupuk dicampur dengan tanah dalam polybag sehomogen mungkin.
Penanaman Tanaman Indikator

Benih tanaman indikator ditanam sebanyak 3 butir di dalam setiap polybag.

Pemeliharaan Tanaman

Pemeliharaan tanaman meliputi penyiraman yang dilakukan setiap hari denan air PAM atau yang berasal dari air hujan.

Peubah Amatan
Tinngi Tanaman
Tinggi tanaman diukur 1 Minggu setelah tanam dan diukur setiap hari kamis. Tinggi tanaman diukur dengan menggunakan penggaris atau meteran.
Jumlah Daun
Jumlah daun diukur setiap hari kamis. Di dalam penghitungan jumlah daun juga diamati bagaimana kondisi dari daun.
Diameter Batang
Diameter batang diukur setiap hari kamis. Diameter batang diukur dengan menggunakan jangka sorong.
Berat Kelobot
Berat kelobot dihitung saat panen. Berat kelobot ini dihitung dengan menggunakan timbangan.
Berat Kering
Akar
Berat kering akar dihitung setelah panen dan diukur dengan menggunakan timbangan.
Batang
Berat kering batang dihitung setelah panen dan diukur dengan menggunakan timbangan

HASIL DAN PEMBAHSAN
Hasil
Tabel I. Tinggi Tanaman
Perlakuan Tinggi Tanaman Persentase terhadap lengkap
I II I II

Kontrol 123 80,2 83,95 54,74
Lengkap 128,5 146,5 82,25 100
-N 73,7 68,2 50,30 46,55
-P 128 116,5 87,37 79,52
-K 146 122 99,65 83,27
-Ca 130,5 125 89,07 83,95
-Mg 157 124 107,16 84,64
-NP 117,5 73,2 80,20 49,96
-NK 81,5 74,5 55,63 51,12
-PK 113,2 124,5 77,26 84,98
-KCa 119 183,5 81,22 84,30
-CaMg 178 183 121,50 124,91
-NPK 116,5 73,3 79,52 51,39

Tabel II Diameter Batang
Perlakuan Diameter Batang Persentase terhadap lengkap
I II I II
Kontrol 9,4 9,25 46,41 45,67
Lengkap 15,2 20,25 75,06 100
-N 7,3 12,35 36,04 60,98
-P 14,4 15,45 71,11 76,29
-K 18,45 19,45 91,11 96,04
-Ca 17,35 22,3 85,67 110,12
-Mg 19,45 19,3 96,04 95,30
-NP 10,45 8,3 51,35 40,98
-NK 10,25 9,25 70,86 76,29
-PK 14,35 15,45 70,86 76,29
-KCa 15,45 18,45 70,86 91,11
-CaMg 20,05 20,45 99,01 100,98
-NPK 9,4 8,5 46,41 41,97

Tabel III. Jumlah Helai Daun
Perlakuan Helai daun Persentase terhadap lengkap
I I II II
Kontrol 8 46,41 72,72 81,81
Lengkap 11 75,06 100 118,18
-N 7 36,04 63,63 63,63
-P 8 71,11 72,72 90,90
-K 13 91,11 118,18 118,18
-Ca 13 85,67 118,18 118,18
-Mg 13 96,04 118,18 109,09
-NP 11 51,35 100 63,63
-NK 10 70,86 90,90 81,81
-PK 10 70,86 90,90 72,72
-KCa 10 70,86 90,90 118,18
-CaMg 13 99,01 118,18 118,18
-NPK 10 46,41 90,90 63,63

Tabel V. Bobot Kering Tajuk Tanaman
Perlakuan Bobot kering akar Tanaman Persentase terhadap lengkap Kriteria
I II I II I II
Kontrol 13,74 5,60 32,02 13,05 Berat Gawat
Lengkap 42,90 100 100 233,1 Cukup Cukup
-N 4,58 3,75 10,67 8,74 Gawat Gawat
-P 42,71 57,54 99,55 134,12 Cukup Cukup
-K 81,54 69,12 190,06 161,11 Cukup Cukup
-Ca 13,94 4,39 32,49 10,23 Berat Gawat
-Mg 18,20 11,07 42,42 25,8 Berat Berat
-NP 30,17 54,55 70,32 127,15 Sedang Cukup
-NK 40,29 162,63 93,91 379,09 Cukup Cukup
-PK 157,79 148,82 367,8 346,9 Cukup Cukup
-KCa 24,95 11,20 58,15 26,1 Sedang Berat
-CaMg 45,06 70,40 105,03 164,10 Cukup Cukup
-NPK 57,86 72,05 134,87 167,94 Cukup Cukup

Tabel IV. Bobot Kering Akar Tanaman
Perlakuan Bobot kering akar Tanaman Persentase terhadap lengkap Kriteria
I II I II I II
Kontrol 2,34 9,62 5,16 21,23 Gawat Berat
Lengkap 45,30 100 100 220,75 Cukup Cukup
-N 12,44 4,69 27,46 10,35 Berat Gawat
-P 67,13 33,56 148,19 74,08 Cukup Sedang
-K 79,57 62,91 175,65 138,87 Cukup Cukup
-Ca 126,29 63,61 278,78 140,42 Cukup Cukup
-Mg 85,91 33,56 189,64 74,08 Cukup Sedang
-NP 24,88 8,92 54,92 19,69 Sedang Gawat
-NK 12,91 9,15 28,5 20,2 Berat Gawat
-PK 104,22 24,88 230 54,92 Cukup Sedang
-KCa 99,53 67,84 219,71 149,75 Cukup Cukup
-CaMg 474,17 79,57 1046,7 175,65 Cukup Cukup
-NPK 29,34 15,25 64,76 33,66 Sedang Berat

Data PUTK
Dari hasil pengamatan di lapangan, hasil PUTK yang didapat pada tanah inseptisol adalah bahwa kandungan unsur hara P rendah dan dosis pupuk SP-36 untuk tanaman jagung adalah 250 kg/Ha.

Pembahasan
Bobot kering akar tanaman yang tertinggi terhadap persentase perlakuan lengkap yaitu 220% pada ulangan II dibandingkan dengan ulangan I. Hal ini dapat dibuktikan bahwa bobot kering akar tanaman pada perlakuan lengkap terhadap ulangan II yaitu 100 gr sedangkan pada ulangan II yaitu 45.3. Hal ini terjadi karena adanya peranan unsur hara fosfat yang merupakan unsur yang diperlukan dalam jumlah besar. Hal ini sesuai dengan literatur Sutedjo ( 2002) yang menyatakan bahwa Secara umum fungsi dari fosfor (P) dalam tanaman yaitu dapat mempercepat pertumbuhan akar semai.
Bobot kering akar tanaman yang terendah terhadap persentase perlakuan lengkap yaitu 100%. Hal ini dapat dibuktikan bahwa bobot kering akar tanaman pada perlakuan lengkap terhadap ulangan I yaitu 45,3. Hal ini karena peranan unsur hara K terhadap penyerapan hara melalui akar. Hal ini sesuai dengan literatur Damanik, dkk (2010) yang menyatakan bahwa Kalium dapat diserap tanaman dalam bentuk ion K+, jumlah banyaknya pupuk yang diberikan untuk memperoleh hasil yang maksimum ataupun lebih menguntungkan tergantung pada jenis tanaman, tingkat produksi tanaman. tingkat ketersediaan K di dalam tanah dan pergiliran tanaman yang menggunakan pupuk secara berlebihan.
Berat kering tajuk tanaman yang tertinggi terhadap persentase perlakuan lengkap yaitu 233,1% pada ulangan II dibandingkan dengan ulangan I. Hal ini dapat dibuktikan bahwa berat kering tajuk tanaman pada perlakuan lengkap terhadap ulangan II yaitu 100 sedangkan pada ulangan II yaitu 42,9. Hal ini disebabkan adanya peran atau fungsi N yaitu untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman, dapat menyehatkan pertumbuhan daun, daun tanaman lebar dengan warna yang lebih hijau, meningkatkan kadar protein dalam tubuh tanaman, meningkatkan kualitas tanaman penghasil daun-daunan. Hal ini sesuai dengan literatur Sutedjo (2002) yang menyatakan bahwa fungsi N yaitu untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman, dapat menyehatkan pertumbuhan daun, daun tanaman lebar denga warna yang lebih hijau, meningkatkan kadar protein dalam tubuh tanaman, meningkatkan kualitas tanaman penghasil daun-daunan. Oleh karena itu untuk memperoleh hasil jagung yang baik, unsur hara N dalam tanah cukup tersedia dalam fase tersebut.
Berat kering tajuk tanaman yang terendah terhadap persentase perlakuan lengkap yaitu 100% pada ulangan I. Hal ini dapat dibuktikan bahwa berat kering tajuk tanaman pada ulangan I yaitu 42,9. Hal ini terjadi karena pertumbuhan tanaman jagung yang terhambat dan kandungan unsur N yang rendah. Hal ini sesuai literatur Damanik, dkk (2010) yang menyatakan bahwa hal ini disebabkan jumlah nitrogen yang terdapat di dalam tanah sedikit sedangkan yang diangkut tanaman dalam bentuk panenan setiap musim cukup banyak. Di samping itu, senyawa nitrogen anorganik sangat larut dan mudah hilang dalam air drainase, tercuci, dan menguap ke atmosfer.
Bobot kering akar tanaman terhadap perlakuan kontrol yaitu pada ulangan II bobot kering akar tanaman sebesar 21,23% sedangkan pada ulangan I bobot kering akar tanaman sebesar 5,16%. Ini menunjukkan bahwa bobot kering akar tanaman pada ulangan II lebih tinggi daripada ulangan I. Hal ini terjadi karena adanya peranan unsur hara fosfat yang merupakan unsur yang diperlukan dalam jumlah besar. Hal ini sesuai dengan literatur Sutedjo (2002) yang menyatakan bahwa secara umum fungsi dari fosfor (P) dalam tanaman yaitu dapat mempercepat pertumbuhan akar semai. Bobot kering tajuk tanaman terhadap perlakuan kontrol yaitu pada ulangan I bobot kering tajuk tanaman sebesar 32,02% sedangkan pada ulangan II bobot kering tajuk tanaman sebesar 13,05%. Ini menunjukkan bahwa bobot kering tajuk tanaman pada ulangan I lebih tinggi daripada ulangan II. Hal ini disebabkan adanya peran atau fungsi N yaitu untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman, dapat menyehatkan pertumbuhan daun, daun tanaman lebar dengan warna yang lebih hijau, meningkatkan kadar protein dalam tubuh tanaman, meningkatkan kualitas tanaman penghasil daun-daunan. Hal ini sesuai dengan literatur Sutedjo (2002) yang menyatakan bahwa fungsi N yaitu untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman, dapat menyehatkan pertumbuhan daun, daun tanaman lebar dengan warna yang lebih hijau, meningkatkan kadar protein dalam tubuh tanaman, meningkatkan kualitas tanaman penghasil daun-daunan. Oleh karena itu untuk memperoleh hasil jagung yang baik, unsur hara N dalam tanah cukup tersedia dalam fase tersebut.

KESIMPULAN

Kesimpulan
1. Bobot kering akar tanaman tertinggi terhadap persentase perlakuan lengkap yaitu pada ulangan II = 220,75% dengan berat kering akar tanaman= 100gr.
2. Bobot kering akar tanaman terendah terhadap persentase perlakuan lengkap yaitu pada ulangan I = 100% dengan berat kering akar tanaman= 45,3 gr.
3. Bobot kering tajuk tanaman tertinggi terhadap persentase perlakuan lengkap yaitu pada ulangan II = 233,1% dengan berat kering tajuk tanaman= 100 gr.
4. Bobot kering tajuk tanaman terendah pada ulangan I = 100% dengan berat kering akar tanaman= 42,90 gr.
5. Bobot kering akar tanaman pada perlakuan kontrol terhadap ulangan I = 2.34 dengan persentase terhadap lengkap = 5,16%. Sedangkan ulangan II = 9,62 dengan persentase terhadap lengkap = 21,23%.
6. Bobot kering tajuk tanaman pada perlakuan kontrol terhadap ulangan I = 13,74 dengan persentase terhadap lengkap = 32,02%. Sedangkan ulangan II = 5,6 dengan persentase terhadap lengkap = 13,05%.

DAFTAR PUSTAKA
Anonimous, 2010a. Jagung. Http://id.wikipedia.org. Diakses pada tanggal 16 April 2010.

Anonimous, 2010b. Syarat Tumbuh Jagung. Http://nugrohobarnito.blog.plasa.com. Diakses pada tanggal 16 April 2010.

Anonimous, 2010c. Budidaya Jagung. Http://teknis-budidaya.blogspot.com. Diakses pada tanggal 16 April 2010.

Anonimous, 2010d. Jagung. Http://wahyuaskari.wordpress.com. Diakses pada tanggal 16 April 2010.

Anonimous, 2010e. Unsur Hara. http://www.o-fish.com. Diakses pada tanggal 16 April 2010.

Anonimous, 2010¬f. Jagung. http://www.tanindo.com. Diakses pada tanggal 16 April 2010.

Anonimous, 2010g. Unsur Hara pada Tanaman. Http://yudhiwijaya.wordpress.com. Diakses pada tanggal 16 April 2010.

Ashari, S. 1995. Hortikultura Aspek Budidaya. UI-Press, Jakarta.

Damanik, M. M. B, B. E. H. Hasibuan, Fauzi, Sarifuddin, dan H. Hanum, 2010. Kesuburan Tanah dan Pemupukan. USU-Press, Medan.

Darmawijaya, M. I. 1999. Klasifikasi Tanah. UGM-Press, Yogyakarta.

Rayes, L. M. 2007. Metode Inventarisasi Sumber Daya Lahan. Penerbit ANDI, Yogyakarta.

Rosmarkam, A., dan N. W. Yuwono, 2002. Ilmu Kesuburan Tanah. Penerbit Kanisius, Yogyakarta.

Rukmana, H. R. 1997. Usaha Tani Jagung. Penerbit Kanisius, Yogyakarta.

Steenis, C. G. G. J. V, 1975. Flora untuk Sekolah di Indonesia. Pradnyaparamita, Jakarta.

Sumpema, U. 2005. Benih Sayuran. Penebar Swadaya, Jakarta.

Sutedjo, M. M, 2002. Pupuk dan Cara Pemupukan. Rineka Cipta, Jakarta.

Winarso, S. 2005. Kesuburan Tanah. Dasar Kesehatan dan Kualitas Tanah. Penerbit Gava Media, Yogyakarta.

About these ads

1 Komentar (+add yours?)

  1. lulu
    Feb 24, 2011 @ 07:15:27

    mohon maaf saya lulu dari jur.matematika FMIPA UNS. boleh saya minta file pdf untuk bahan skripsi saya.?
    terimakasih sebelumny

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: