PENGARUH PEMBERIAN PUPUK P DAN MEDIA TANAM PADA PERTUMBUHAN STUMP MATA TIDUR TANAMAN KARET (Hevea brassiliensis Muell. Arg)

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Tanaman karet termasuk famili Euphorbiaceae atau tanaman getah-getahan. Dinamakan demikian karena golongan famili ini mempunyai jaringan tanaman yang banyak mengandung getah (lateks) dan getah tersebut mengalir keluar apabila jaringan tanaman terlukai. Mengingat manfaat dan kegunaannya, tanaman ini digolongksn ke dalam tanaman industry. Tanaman karet berasal dari lembah Amazone. Karet liar atau semi liar masih ditemukan di bagian utara benua Amerika Selatan, mulai dari Brazil hingga Venezuela dan dari Kolombia hingga Peru dan Bolivia (Syamsulbahri, 1996).
Di Indonesia, karet merupakan komoditi yang penting. Hal ini disebabkan karena selain potensi ekonominya, juga potensi alam/iklim yang mendukungnya. Tambahan lagi areal untuk memperkebunkan tanaman ini msih tersedia sangat luas. Selanjutnya peningkatan permintaan karet dunia masih cukup tinggi, yakni sekitar 4-5 % per tahun (Anwar, 2001).
Sejak tahun 1883 karet menjadi primadona perkebunan di negara-negara tropis. Pada sekitar tahun itu pula Charles Goodyear menemukan vulkanisasi karet dengan cara mencampurkannya dengan belerang dan memanaskannya pada suhu 120- 130o C. Alexander Parkes juga mengembangkan cara vulkanisasi ini. Penemuan tentang vulkanisasi memberikan inspirasi Dunlop pada tahun 1888 untuk membuat ban mobil yang selanjutnya dikembangkan oleh Goldrich (Daryanto, 1975).
Di perkebunan karet pada umumnya selama masa tanaman belum menghasilkan, gawangan ditanami dengan tanaman penutup tanah leguminosa yang merambat atau legume cover crop (LCC). Dalam budidaya tanaman karet, pengelolaan LCC selama periode belum menghasilkan sudah merupakan standard baku teknis. Walaupun sudah terbukti berdampak positif, penanaman LCC pada perkebunan rakyat kurang berkembang. Hal ini disebabkan karena pekebun tidak dapat merasakan keuntungannya secara langsung dari tanaman penutup tanah (http://deptan.di.deptan.go.id, 2010).
Ketersediaan fosfor (P) dalam jumlah yang cukup akan meningkatkan perkembangan perakaran. Jumlah asam nukleat, phytin dan fosfolipida yang cukup pada awal pertumbuhan tanaman adalah penting pada fase piramida tanaman yang selanjutnya untuk bagian produktif lainnya (Nyakpa, dkk, 1988).
Tanah yang diisi kedalam kantong adalah tanah bagian atas (topsoil) 30 cm. Tanah galian parit-parit batas tertentu. Penyusunan kantong plastik ( 15 cm) dapat juga diambil sebagai bahan pengisi. Tanah tersebut dihancurkan sehingga tidak terdapat bongkah. Kemudian hancuran tanah diayak untuk membuang akar-akar, kayu, batu, dan lain-lain (Sianturi, 2001).
Sludge adalah benda padat yang tenggelam di dasar bak pengendapan dalam sarana pengelolaan limbah dan harus dibuang atau dikelola untuk mengurangi pencemaran lingkungan. Tetapi sludge yang dihasilkan dari Pengolahan Minyak Sawit (PMS) mengandung unsur hara nitrogen, fosfor, kalium, magnesium dan kalsium yang cukup tinggi sehingga dapat digunakan sebagai pupuk. Limbah mengandung bahan yang dapat digunakan sebagai pupuk dalam jumlah yang cukup tinggi. Banyak pertanian telah dan sekarang masih tetap berhasil menanam tanaman dengan hasil panen yang tinggi dengan memakai limbah (Mahida, 1984).
Tujuan Percobaan
Untuk mengetahui pengaruh pemberian pupuk P dan media tanam pada pertumbuhan stump mata tidur tanaman karet (Hevea brassiliensis Muell. Arg).
Hipotesis Percobaan
Diduga ada pengaruh media tanam dan pemberian pupuk P (Fosfat)
serta interaksi keduanya terhadap pertumbuhan stump mata tidur
karet (Hevea brassiliensis Muell. Arg.).
Kegunaan Percobaan
- Sebagai salah satu syarat untuk dapat mengikuti Praktikal Tes di Laboratorium Teknologi Budidaya Tanaman Perkebunan, Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.
- Sebagai bahan informasi bagi pihak yang membutuhkan.

TINJAUAN PUSTAKA
Botani Tanaman
Menurut Setiawan dan Andoko (2005), sistematika tanaman karet adalah sebagai berikut:
Kingdom : Plantae
Divisio : Spermatophyta
Subdivisio : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Ordo : Euphorbiales
Famili : Euphorbiaceae
Genus : Hevea
Spesies : Hevea brassiliensis Muell. Arg
Sebagai tanaman berbiji belah, akar tanaman karet berupaa akar tunggang yang mampu menopang batang tanaman yang tumbuh tinggi ke atas. Dengan akar yang bisa mencapai 25 meter (Setiawan dan Andoko, 2005).
Batang tanaman biasanya tumbuh lurus dan memiliki percabangan yang tinggi di atas. Di beberapa kebun karet ada beberapa kecondongan arah tumbuh tanamannya agak miring ke utara. Batang tanaman ini mengandung getah yang dikenal dengan nama lateks (http://deptan.disbun.com, 2010).
Daun karet terdiri dari tangkai daun utama dan tangkai anak daun. Panjang tangkai daun utama 3 – 20 cm. Panjang tangkai anak daun sekitar 3 – 10 cm dan pada ujungnya terdapat kelenjar. Biasanya ada tiga anak daun yang terdapat pada sehelai daun karet. Anak daun berbentuk eliptis, memanjang dengan ujung meruncing. Tepinya rata dan gundul (http://deptan.disbun.com, 2010).
Bunganya bergerombol muncul dari ketiak daun (axillary), individu bunga bertangkai pendek, bunga betina terletak di ujung. Proporsi bunga jantan lebih banyak dibandingkan bunga betina (60-80 bunga jantan untuk 1 bunga betina). Bunga jantan dan waktu mwkar hanya satu hari kemudian luruh. Bunga betina mekar selama 3-4 hari, pada waktu yang sama masih ada beberapa bunga jantan yang mekar (Syamsulbahri, 1996).
Buah karet dengan diameter 3 – 5 cm, terbentuk dari penyerbukan bunga karet dan memiliki pembagian ruangan yang jelas, biasanya 3 – 6 ruang. Setiap ruangan berbentuk setengah bola. Jika sudah tua, buah karet akan pecah dengan sendirinya menurut ruang-ruangnya dan setiap pecahan akan tumbuh menjadi individu baru jika jatuh ke tempat yang tepat (Setiawan dan Andoko, 2005).
Biji karet terdapat dalam setiap ruang buah. Jadi, jumlah biji biasanya tiga, kadang enam, sesuai dengan jumlah ruang. Ukuran biji besar dengan kulit keras. Warnanya cokelat kehitaman dengan bercak-bercak berpola yang khas (http://deptan.disbun.com, 2010).
Syarat Tumbuh
Iklim
Daerah yang cocok untuk penanaman karet adalah pada zona antara 15o LS dan 15oLU. Di luar itu, pertumbuhan tanaman karet agak lambat, sehingga produksi juga menjadi terlambat. Ketinggian tempat yang optimal di dataran rendah, yakni pada ketinggian sampai 200 m dpl maka makin lambat dan hasilnya rendah. Ketinggian lebih dari 600 m dpl tidak cocok untuk tanaman karet (www.feedmap.net/blog, 2010).
Tanaman karet tumbuh baik pada dataran rendah. Yang ideal adalah pada tinggi 0 – 200 m dari permukaan laut (dpl). Pada tinggi lebih dari 200 m dpl laju pertumbuhan lilit batang lebih lambat, sehingga lebih lambat 3 – 6 bulan setiap naik 200 m. Tanaman karet tumbuh baik di daerah yang mempunyai curah hujan 2000 – 4000 mm per tahun. Tanaman karet dapat tumbuh baik pada suhu diantara 25 – 35oC. Suhu terbaik adalah rata-rata 28o C. Kelembaban yang sesuai untuk tanaman karet adalah rata-rata berkisar antara 75 – 90% (Sianturi, 2001).
Angin juga mempengaruhi pertumbuhan tanaman karet. Angin yang kencang pada musim tertentu dapat mengakibatkan kerusakan pada tanaman karet yang berasal dari klon-klon tertentu yang peka terhadap angin kencang (Setyamidjaja, 1989).
Tanah
Secara umum karet menghendaki tanah dengan struktur ringan, sehingga mudah ditembus air. Meskipun demikian, tanah dengan kandungan pasir kuarsa tinggi kurang bagus untuk penanaman karet. Sementara itu, derajat kemasaman atau pH tanah yang sesuai untuk tanaman karet adalah mendekati normal (4 – 9) dan untuk pertumbuhan optimalnya 5 – 6. Kontur atau topografi tanah juga berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman karet. Kontur tanah yang datar lebih baik dibandingkan dengan yang berbukit-bukit (Setiawan dan Andoko, 2005).
Tanaman karet dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah, baik pada tanah-tanah vulkanis muda ataupun vulkanis tua, aluvial dan bahkan tanah bambut. Reaksi tanah yang umum ditanami karet mempunyai pH antara 3,0-8,0 tanah di bawah 3,0 atau di atas 8,0 menyebabkan pertumbuhan tanaman yang terhambat (Syamsulbahri, 1996).
Agar produktivitas tinggi, karet sangat bagus jika dibudidayakan di tanah yang subur. Karena karet relatif toleran terhadap tanah marginal yang kurang subur. Dengan penambahan pupuk, tanaman karet yang dibudidayakan di tanah yang kurang subur masih bisa berproduksi optimal. Tanah dengan padas di bagian atas yakni kurang dari dua meter dari permukaan tidak baik untuk penanaman karet akar tanaman sulit untuk menembus tanah untuk mendapatkan hara yang dibutuhkan tanah (www.kehati.com, 2010).
Media Tanam
Tanah untuk media tanam ini harus subur dan humus yang bisa diambil dari tanah permukaan (topsoil) dengan kedalaman maksimum 15 cm. Tanah tidak perlu dicampur pupuk kandang, pasir atau bahan lainnya. Setelah itu kecambah karet di tanam dengan cara yang sama dengan menanam kecambah karet dipersemaian di lahan (Buckman dan Brady, 1982).
Tanah yang diisi kedalam kantong adalah tanah bagian atas (topsoil) 30 cm. Tanah galian parit-parit batas tertentu. Penyusunan kantong plastik ( 15 cm) dapat juga diambil sebagai bahan pengisi. Tanah tersebut dihancurkan sehingga tidak terdapat bongkah. Kemudian hancuran tanah diayak untuk membuang akar-akar, kayu, batu, dan lain-lain (Sianturi, 2001).
Partikel-partikel pasir yang ukurannya jauh lebih besar dan memiliki permukaan yang kecil (dengan berat yang sama) dibandingkan dengan debu dan liat. Oleh karena itu peranannya dalam mengatur sifat-sifat kimia tanah adalah kecil, maka fungsi utamanya adalah untuk perbaikan sifat-sifat tanah. Semakin tinggi persentase pasir dalam tanah, semakin banyak pori-pori diantara partikel tanah dan hal ini dapat memperlancar gerakan udara/air (Hartman, dkk, 1981).
Sludge adalah benda padat yang tenggelam di dasar bak pengendapan dalam sarana pengelolaan limbah dan harus dibuang atau dikelola untuk mengurangi pencemaran lingkungan. Tetapi sludge yang dihasilkan dari Pengolahan Minyak Sawit (PMS) mengandung unsur hara nitrogen, fosfor, kalium, magnesium dan kalsium yang cukup tinggi sehingga dapat digunakan sebagai pupuk (Mahida, 1984).
Secara umum dapat dikatakan bahwa air limbah sludge merupakan mikroorganisme yang bekerja untuk mengurai komponen organik dalam sistem pengolahan air limbah. Sludge akan selalu diproduksi sebagai hasil dari pertumbuhan bakteri/ mikroorganisme pengurai selama proses berlangsung (Supriyanto, 2001).
Pupuk Fosfor (P)
Peran pupuk fosfor untuk tanaman antara lain : dapat mempercepat dan memperkuat pertumbuhan tanaman muda menjadi tanaman muda pada umumnya, dapat mempercepat pembungaan dan pemasakan buah, biji atau gabah, dapat meningkatkan produksi biji-bijian (Kartasapoetra dan Sutedjo, 2000).
Ketersediaan fosfor dalam jumlah yang cukup akan meningkatkan perkembangan perakaran. Jumlah asam nukleat, phytin dan fosfolipida yang cukup pada awal pertumbuhan tanaman adalah penting pada fase piramida tanaman yang selanjutnya untuk bagian produktif lainnya (Nyakpa, dkk., 1988).
Di dalam tanah, fungsi fosfor terhadap tanaman adalah sebagai zat pembangun dan terikat dalam senyawa – senyawa organis. Hanya sebagian kecil saja yang tersedia dalam bentuk anorganis sebagai ion – ion fosfat, sebagai bahan pembentuk fosfor (Kartasapoetra dan Sutedjo, 2000).
BAHAN DAN METODE PERCOBAAN
Tempat dan Waktu Percobaan
Percobaan ini dilaksanakan di Laboratorium Teknologi Budidaya Tanaman Perkebunan Departemen Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan dengan ketinggian tempat ± 25 m dpl, dimulai pada tanggal 04 September 2010 sampai selesai.
Bahan dan Alat
Adapun bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah stump mata tidur tanaman karet (Hevea brassiliensis Muell. Arg) sebagai bahan percobaan, top soil sebagai media tanam, sub soil, pasir dan sludge sebagai media tanam, pupuk P untuk meningkatkan pertumbuhan stump, polybag sebagai wadah penanaman, air untuk menyiram tanaman, label nama untuk menandai polybag dan buku data untuk mencatat data.
Adapun alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah cangkul untuk mencampur media tanam dan mengolah lahan, ayakan untuk mengayak pasir, top soil dan sub soil, meteran untuk mengukur tinggi tunas, gembor untuk menyiram tanaman, ember sebagai wadah sludge, timbangan untuk menimbang pupuk P, alat tulis untuk mencatat data, dan kalkulator untuk menghitung rataan data.
Metode Percobaan
Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) factorial dengan 2 faktor perlakuan, yaitu :
Faktor 1 : Media Tanam (M) dengan 2 taraf
M0 : Top soil
M1 : Sub soil + pasir + sludge (2:1:1)
Faktor 2 : Pupuk P (TSP) dengan 4 taraf
P0 : 0 g/ tanaman
P1 : 15 g/ tanaman
P2 : 30 g/ tanaman
P2 : 45 g/ tanaman
Maka didapat 8 kombinasi perlakuan, yaitu :
M0P0 M1P0
M0P1 M1P1
M0P2 M1P2
M0P3 M1P3
Jumlah ulangan = 3
Jumlah stump per plot = 3
Jumlah stump seluruhnya = 72 tanaman

PELAKSANAAN PERCOBAAN
Persiapan lahan
Lahan dibersikan dari gulam dan di buat bedengan dengan ukuran 1m x 1m sebagai tempat peletakan polibag dan parit keliling selebar 30 cm.
Persiapan Media Tanam
Media tanam yang digunakan adalah topsoil dan sub soil + pasir + sludge (2:1:1), kemudian dimasukkan ke dalam polybag ukuran 10 kg.
Penanaman
Stump mata tidur tanaman karet (Hevea brassiliensis Muell Arg.) ditanam dalam polybag dimana bagian radikula dibenamkan ke dalam tanah.
Aplikasi Pupuk
Setelah penanaman, pupuk P diaplikasikan keesokan harinya dengan cara membenamkan pupuk P ke dalam tanah.
Pemeliharaan Tanaman
Penyiraman
Penyiraman dilakukan setiap hari pada sore hari dan selanjutnya dikurangi bila keadaan tanah masih basah dan lembab.
Penyiangan
Penyiangan dilakukan dengan menggunakan tangan pada saat gulma mulai tumbuh di media tanam maupun diareal penanaman.
Pengamatan Parameter
Persentase mata melentis (%)
Persentase mata melentis karet dapat dihitung dengan mengunakan

rumus : Jumlah tunas yang tumbuh
% mata melentis = —————————————– x 100 %
Jumlah stump yang ditanam
Tinggi Tunas (cm)
Tinggi tunas dihitung setiap minggu pada pada batang tanaman karet yang tumbuh.
Diameter Tunas (mm)
Diameter tunas dihitung tiap minggu pada batang tanaman karet yang tumbuh dengan menggunakan jangka sorong.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Persentase Mata Melentis (%)
Persentase mata melentis stump mata tidur karet (%) dari perlakuan pupuk P (fosfat) dan media tanam serta interaksi (M x P) dapat dilihat pada tabel 1.
Tabel 1. Pengaruh Media Tanam dan Pupuk P Terhadap Persentase Mata Melentis (%).
Perlakuan MST
3 4 5 6 7 8
Media tanam
M0 30.52 49.99 49.99 49.99 49.99 49.99
M1 21.17 33.36 30.54 30.54 30.54 30.54
Pupuk
P0 33.33 49.99 44.43 44.43 44.43 44.43
P1 2.05 33.32 33.32 33.32 33.32 33.32
P2 16.33 38.98 38.88 38.88 38.88 38.88
P3 29.70 44.43 44.43 44.43 44.43 44.43
Interaksi
M0P0 33.30 44.42 44.42 44.42 44.42 44.42
M0P1 25.90 44.44 44.44 44.44 44.44 44.44
M0P2 29.60 55.55 55.55 55.55 55.55 55.55
M0P3 33.30 55.55 55.55 55.55 55.55 55.55
M1P0 33.30 55.55 44.44 44.44 44.44 44.44
M1P1 22.20 22.20 22.20 22.20 22.20 22.20
M1P2 3.07 22.40 22.20 22.20 22.20 22.20
M1P3 25.90 33.30 33.30 33.30 33.30 33.30

Dari Tabel 1. Diketahui bahwa pengaruh media tanam terhadap parameter persentase mata melentis (%) stump mata tidur pada karet yang tertinggi terdapat pada perlakuan M0 pada 4-8 MST, yaitu 49,9 % dan yang terendah terdapat pada perlakuan M1 pada 3 MST, yaitu sebesar 21,17 %.
Dari Tabel 1. Diketahui bahwa pengaruh pupuk P (fosfat) terhadap parameter persentase mata melentis (%) stump mata tidur karet yang tertingi terdapat pada perlakuan P0 pada 4 MST, yaitu sebesar 49,99% sedangkan perlakuan terendah terdapat pada P1 pada 3 MST, yaitu 2,05%.
Dari Tabel 1. Diketahui bahwa pengaruh media tanam dengan pupuk fosfat (MxP) terhadap parameter persentase mata melentis (%) stump mata tidur karet yang tertinggi terdapat pada perlakuan M0P2 dan M0P3 pada 4-8 MST, yaitu sebesar 55,55%, sedangkan perlakuan terendah terdapat pada perlakuan M1P2 pada 3 MST sebesar 3,07%.
Gambar 1. Diagram Batang Pengaruh Media Tanam Terhadap Persentase Mata Melentis (%)

Gambar 2. Grafik Pengaruh Pupuk P (fosfat) Terhadap Persentase Mata Melentis (%)

Gambar 3. Grafik Pengaruh Interaksi (MxP) Terhadap Persentase Mata Melentis

Tinggi Tunas (cm)
Tinggi tunas stump mata tidur karet (cm) pada pengaruh media tanam dan pupuk P (fosfsat) serta interaksi (MxP) dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel 2. Pengaruh Pupuk P (fosfat) dan Media Tanam Terhadap Tinggi Tunas (cm)
Perlakuan MST
1 2 3 4 5 6 7 8
Media tanam
M0 1.64 3.18 4.44 5.57 6.56 7.30 8.24 9.21
M1 0.09 2.27 2.16 3.03 3.64 4.30 4.92 5.22
Perlakuan
P0 2.47 6.15 6.27 7.09 8.07 9.07 9.93 10.47
P1 0.38 1.31 1.23 2.61 3.04 3.25 4.08 4.26
P2 0.36 2.18 4.08 5.31 6.27 6.86 7.72 9.07
P3 0.25 1.26 1.62 2.21 3.02 4.02 4.59 5.08
Interaksi
M0P0 4.93 6.02 6.97 7.64 8.53 8.63 9.76 10.85
M0P1 0.75 1.3 1.75 2.74 3.24 3.48 3.85 4.16
M0P2 0.71 4.36 7.03 9.15 10.83 11.95 13.58 15.57
M0P3 0.16 1.04 1.99 2.76 3.64 5.13 5.75 6.26
M1P0 0 3.14 5.56 6.53 7.61 9.51 10.1 10.08
M1P1 0 0.66 0.7 2.48 2.84 3.01 4.3 4.36
M1P2 0 0 1.13 1.46 1.70 1.76 1.86 2.56
M1P3 0.17 0.74 1.24 1.66 2.39 2.90 3.43 3.89

Dari Tabel 2. Diketahui bahwa pengaruh media tanam terhadap parameter tinggi tunas karet (cm) yang tertinggi yaitu pada M0 pada 8 MST (9,21) dan terendah pada M1 pada 1 MST (0,09).
Dari Tabel 2. Diketahui bahwa pengaruh pupuk P (fosfat) terhadap parameter tinggi tunas karet (cm) yang tertinggi terdapat pada P0 pada 8 MST (10,47) dan terendah pada P3 pada 1 MST (0,25).
Dari Tabel 2. Diketahui bahwa pengaruh interaksi anatara media tanam dengan pupuk P (fosfat) yang tertinggi terdapat pada perlakuan M0P0 pada 8 MST (10,85) dan terendah pada perlakuan M1P1, M1P2 dan M1P3 pada 1 MST (0).
Gambar 4. Diagram Batang Pengaruh Media Tanam Terhadap Tinggi Tunas (cm)

Gambar 5. Grafik Pengaruh Pupuk P (fosfat) Terhadap Tinggi Tunas (cm)

Gambar 6. Grafik pengaruh Pupuk P (fosfat) dan Media Tanam Terhadap Tinggi Tunas (cm)

Diameter Tunas (mm)
Diameter tunas stump mata tidur karet (mm) dari perlakuan media tanam dan pupuk P (fosfat), serta interaksi antara media tanam dan pupuk (MxP) dapat dilihat pada tabel 3.
Tabel 3. Pengaruh Pupuk P (fosfat) dan Media Tanam Terhadap Diameter Tunas (mm)
Perlakuan MST
1 2 3 4 5 6 7 8
Media tanam
M0 0.43 0.98 1.54 4.30 2.07 2.29 2.79 3.13
M1 0.14 0.20 0.59 3.23 1.52 1.38 1.34 1.82
Perlakuan
P0 0.47 1.09 1.55 3.39 2.17 2.26 2.05 2.32
P1 0.27 0.42 0.55 2.37 0.86 0.99 1.49 1.44
P2 0.15 0.26 1.25 4.80 1.95 2.29 2.79 3.62
P3 0.26 0.59 0.92 4.50 2.21 1.80 1.94 2.52
Interaksi
M0P0 0.93 2.04 2.31 2.65 2.75 2.77 3.12 3.58
M0P1 0.20 0.41 0.65 2.37 0.88 1.06 1.76 1.29
M0P2 0.29 0.52 1.60 6.50 2.63 3.00 3.77 4.85
M0P3 0.30 0.96 1.59 5.66 2.02 2.35 2.50 2.79
M1P0 0.00 0.14 0.78 4.13 1.58 1.75 0.97 1.06
M1P1 0.35 0.42 0.45 2.37 0.84 0.93 1.21 1.59
M1P2 0.00 0.00 0.90 3.10 1.27 1.57 1.80 2.38
M1P3 0.21 0.23 0.24 3.33 2.40 1.25 1.37 2.25

Dari Tabel 3. Diketahui bahwa pengaruh media tanam terhadap parameter diameter tunas (mm) stump mata tidur karet yang tertinggi terdapat pada M0 pada 4 MST (4,30) dan terendah pada perlakuan M1 pada 1MST (0,14).
Dari Tabel 3. Diketahui bahwa pengaruh pupuk P (fosfat) terhadap parameter diameter tunas (mm) stump mata tidur karet tertinggi pada P2 pada 8 MST (3,13) dan terendah pada perlakuan P2 pada 1 MST (0,15).
Dari Tabel 3. Diketahui bahwa pengaruh interaksi media tanam dan pupuk P (fosfat) terhadap parameter diameter tunas (mm) stump mata tidur karet tertinggi pada M0P2 pada 8 MST (4,85) dan terendah pada perlakuan M1P0 (0)
Gambar 7. Diagram Batang Pengaruh Media Tanam Terhadap Diameter Tunas (mm)

Gambar 8. Grafik Pengaruh Pupuk P (fosfat) Terhadap Diameter Tunas (mm)

Gambar 9. Grafik Pengaruh Pupuk P (fosfat) dan Media Tanam Terhadap Diameter Tunas (mm)

Pembahasan
Dari hasil pengamatan diketahui bahwa pengaruh media tanam terhadap parameter persentase mata melentis stump mata tidur karet yang tertinggi terdapat pada perlakuan M0 pada 4-8 MST, yaitu 49,9 % dan yang terendah terdapat pada perlakuan M1 pada 3 MST, yaitu sebesar 21,17 %. Hal ini disebabkan karena stum okulasi mata tidur (OMT) yang digunakan adalah batang bawah yang telah diokulasi dengan mata okulasi terpilih dan terjadi respon positif terhadap media tanamnya yaitu top soil. Hal ini sesuai dengan literatur Harahap (1986) yang menyatakan bahwa bibit karet klonal atau stum okulasi mata tidur (OMT) adalah batang bawah yang telah diokulasi dengan mata okulasi terpilih. Stum okulasi mata tidur tahan hidup, seragam, mudah dikemas, mudah diatur dan mudah diangkut. Bibit karet yang akan ditanan di lapang harus berasal dari klon unggul yang terpilih, pertumbuhan bibit dalam kondisi prima, terhindar dari hama/penyakit, dan sebagainya.
Dari hasil pengamatan diketahui bahwa pengaruh pupuk P (fosfat) terhadap parameter persentase mata melentis (%) stump mata tidur karet yang tertingi terdapat pada perlakuan P0 pada 4 MST, yaitu sebesar 49,99% sedangkan perlakuan terendah terdapat pada P1 pada 3 MST, yaitu 2,05%. Hal ini disebabkan karena media tanam yang digunakan gembur dan halus, sehingga akar baru yang keluar tidak terhambat pertumbuhannya. Hal ini sesuai dengan literautr Widianto (2000) yang menyatakan bahwa media yang digunakan untuk penyemaian biasa hanya terdiri atas pasir saja tetapi kadang-kadang juga diberi campuran sekam padi, lumut yang telah membusuk, tanah gembur, kompos, topsoil, dan benih. Asalkan tanahnya gembur dan halus, sehingga akar baru yang keluar tidak terhambat pertumbuhannya.
Dari hasil pengamatan diketahui bahwa pengaruh media tanam dengan pupuk fosfat (MxP) terhadap parameter persentase mata melentis (%) stump mata tidur karet yang tertinggi terdapat pada perlakuan M0P2 dan M0P3 pada 4-8 MST, yaitu sebesar 55,55%, sedangkan perlakuan terendah terdapat pada perlakuan M1P2 pada 3 MST sebesar 3,07%. Hal ini disebabkan karena fosfor mempunyai peranan penting dalam metabolisme energi. Hal ini sesuai dengan literautr Soepardi (1981) yang menyatakan bahwa ia diinkorporasikan dalam adenosin trifosfat, ATP, yang merupakan bagian dan paket dari ”energi umum” semua sel hidup dari spesies apapun.
Dari hasil pengamatan diketahui bahwa pengaruh media tanam terhadap parameter tinggi tunas karet (cm) yang tertinggi yaitu pada M0 pada 8 MST (9,21) dan terendah pada M1 pada 1 MST (0,09). Hal ini disebabkan karena stum okulasi mata tidur (OMT) yang digunakan adalah batang bawah yang telah diokulasi dengan mata okulasi terpilih dan terjadi respon positif terhadap media tanamnya yaitu top soil. Hal ini sesuai dengan literatur Harahap (1986) yang menyatakan bahwa bibit karet klonal atau stum okulasi mata tidur (OMT) adalah batang bawah yang telah diokulasi dengan mata okulasi terpilih. Stum okulasi mata tidur tahan hidup, seragam, mudah dikemas, mudah diatur dan mudah diangkut. Bibit karet yang akan ditanan di lapang harus berasal dari klon unggul yang terpilih, pertumbuhan bibit dalam kondisi prima, terhindar dari hama/penyakit, dan sebagainya.
Dari hasil pengamtan diketahui bahwa pengaruh pupuk P (fosfat) terhadap parameter tinggi tunas karet (cm) yang tertinggi terdapat pada P0 pada 8 MST (10,47) dan terendah pada P3 pada 1 MST (0,25). Hal ini disebabkan karena fosfor mempunyai peranan penting dlam meatbolisme energi. Hal ini sesuai dengan literatur Soepardi (1981) yang menyatakan bahwa ia diinkorporasikan dalam adenosin fosfat yang merupakan bagian umum semua sel hidup dari spesies apapun.
Dari hasil pengammatan diketahui bahwa pengaruh interaksi anatara media tanam dengan pupuk P (fosfat) terhadap parameter tinggi tunas yang tertinggi terdapat pada perlakuan M0P0 pada 8 MST (10,85) dan terendah pada perlakuan M1P1, M1P2 dan M1P3 pada 1 MST (0). Hal ini disebabkan karena terjadi interaksi yang positif antara media tanam maupun pupuk pada 8 MST. Hal ini sesuai dengan literatur Widianto (2000) yang menyatakan bahwa media yang digunakan untuk penanaman biasanya hanya terdiri atas topsoil yang memiliki kandungan bahan organik tinggi dan unsur hara yang kaya.
Dari hasil pengamatan diketahui bahwa pengaruh media tanam terhadap parameter diameter tunas (mm) stump mata tidur karet yang tertinggi terdapat pada M0 pada 4 MST (4,30) dan terendah pada perlakuan M1 pada 1MST (0,14). Hal ini disebabkan karena stum okulasi mata tidur (OMT) yang digunakan adalah batang bawah yang telah diokulasi dengan mata okulasi terpilih dan terjadi respon positif terhadap media tanamnya yaitu top soil. Hal ini sesuai dengan literatur Harahap (1986) yang menyatakan bahwa bibit karet klonal atau stum okulasi mata tidur (OMT) adalah batang bawah yang telah diokulasi dengan mata okulasi terpilih. Stum okulasi mata tidur tahan hidup, seragam, mudah dikemas, mudah diatur dan mudah diangkut. Bibit karet yang akan ditanan di lapang harus berasal dari klon unggul yang terpilih, pertumbuhan bibit dalam kondisi prima, terhindar dari hama/penyakit, dan sebagainya.
Dari hasil pengamatan diketahui bahwa pengaruh pupuk P (fosfat) terhadap parameter diameter tunas (mm) stump mata tidur karet tertinggi pada P2 pada 8 MST (3,13) dan terendah pada perlakuan P2 pada 1 MST (0,15). Hal ini disebabkan karena fosfor mempunyai peranan penting dlam meatbolisme energi. Hal ini sesuai dengan literatur Soepardi (1981) yang menyatakan bahwa ia diinkorporasikan dalam adenosin fosfat yang merupakan bagian umum semua sel hidup dari spesies apapun.
Dari hasil pengamatan diketahui bahwa pengaruh interaksi media tanam dan pupuk P (fosfat) terhadap parameter diameter tunas (mm) stump mata tidur karet tertinggi pada M0P2 pada 8 MST (4,85) dan terendah pada M1P0 (0). Hal ini disebabkan karena terjadi interaksi yang positif antara media tanam maupun pupuk pada 8 MST. Hal ini sesuai dengan literatur Widianto (2000) yang menyatakan bahwa media yang digunakan untuk penanaman biasanya hanya terdiri atas topsoil yang memiliki kandungan bahan organik tinggi dan unsur hara yang kaya.

KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
1. Pada paramater persentase mata melentis dengan pengaruh media tanamnya nilai tertinggi terdapat pada perlakuan M0 pada 4-8 MST, yaitu 49,9 %, sedangkan pengaruh pupuk fosfat yang tertinggi pada perlakuan P0 pada 4 MST, yaitu sebesar 49,99%, dan pada interaksi nilai tertinggi pada perlakuan M0P2 dan M0P3 pada 4-8 MST, yaitu sebesar 55,55%.
2. Pada parameter persentase mata melentis dengan pengaruh media tanamnya nilai terendah terdapat pada perlakuan M1 pada 3 MST, yaitu sebesar 21,17%, sedangkanpengaruh pupuk fosfat terendah terdapat pada perlakuan P1 pada 3 MST, yaitu 2,05%, dan pada interaksi nilai terendah terdapat pada perlakuan M1P2 pada 3 MST sebesar 3,07%
3. Pada parameter tinggi tunas dengan pengaruh media tanam, nilai tertinggi terdapat pada perlakuan M0 pada 8 MST (9,21), sedankan pengaruh pupuk P (fosfat) terdapat pada perlakuan P0 pada 8 MST (10,47), dan pada interaksi nilai tertinggi terdapat pada perlakuan M0P0 pada 8 MST (10,85).
4. Pada parameter tinggi tunas pada stump mata tidur dengan pengaruh media tanam, nilai terendah terdapat pada perlakuan M1 pada 1 MST (0,09), seddangkan pengaruh pupuk terdapat pada perlakuan P3 pada 1 MST (0,25), dan pada interaksi terdapat pada perlakuan M1P1, M1P2 dan M1P3 pada 1 MST (0).
5. Pada parameter diameter tunas (mm) stump mata tidur nilai tertinggi dengan pengaruh media tanam terdapat pada perlakuan M0 pada 4 MST (4,30), sedangkan pengaruh pupuk tertinggi terdapat pada perlakuan P2 pada 8 MST (3,13), dan pengaruh interaksi tertinggi terdapat pada perlakuan M0P2 pada 8 MST (4,85)
6. Pada parameter diameter tunas, nilai terendah dengan pengaruh media tanamnya terdapat pada perlakuan M1 pada 1MST (0,14), sedangkan pengaruh pupuk terdapat pada perlakuan P2 pada 1 MST (0,15), dan interaksi terendah pada perlakuan M1P0 (0).
Saran
Diharapkan pada penyajian data untuk lebih teliti agar tidak terjadi kesalahan.

DAFTAR PUSTAKA
Anwar, C., 2001. Manajemen Teknologi Budidaya Karet. Diakses dari http://ipard.com. Diakses tanggal 03 November 2010.
Buckman, H.D., dan N.C. Brady., 1982. Ilmu Tanah. Terjemahan Soegiman B. Karya Aksara, Jakarta.
Daryanto, 1975. Tinjauan Problema dan Perbanyakan Vegetatif pada Karet. Menara Perkebunan, Jakarta.
Hartmann, H.T., J. William, Klacker, M. Anton., dan Konfrafrek., 1981. Plant Science. Pretince Hall Inc, New Jersey.
http://deptan.disbun.com, 2010. Karet. Diakses tanggal 03 November 2010.
Kartasapoetra, A. G dan Sutedjo, 2000. Pupuk dan Cara Pemupukannya. Rineka Cipta, Jakarta.
Mahida, U. M., 1984. Pencemaran Air Dan Pemanfaatan Limbah Industri. Rajawali, Jakarta.
Nyakpa, M. Y., A. M. Lubis., Mamat. A. P., A. G. Amran., Ali, M. G.B. Hong dan N. Hakim, 1988. Kesuburan Tanah. Penerbit Universitas Lampung, Lampung.
Setiawan, D.H., dan A. Andoko., 2005. Petunjuk Lengkap Budidaya Karet. Agromedia Pustaka, Jakarta.
Setyamidjaja, D., 1989. Karet. Kanisius, Yogyakarta.
Sianturi, H.S.D., 2001. Budidaya Tanaman Karet. USU Press, Medan.
Supriyanto. A., 2001. Aplikasi Wastewater Sludge untuk Proses Pengomposan Serbuk Gergaji. http://www.mail-archive.com/zoa. biotek @ sinergy-forumnet.feb. Diakses tanggal 03 November 2010.
Syamsulbahri, 1996. Bercocok Tanam Tanaman Perkebunan Tahunan. UGM Press, Yogyakarta
http://www.feedmap.net/blog/document-penelitian-karet.php, 2010. Syarat Tumbuh Karet. Diakses tanggal 03 November 2010.
http://www.kehati.com/florakita/browser-php?docsid=865, 2010. Karet sintetis. Diakses tanggal 03 November 2010.

Bagan Percobaan
Ulangan
I II III
U

3 Komentar (+add yours?)

  1. roufalhakim
    Jan 31, 2011 @ 22:51:53

    oke juga kang*

    Balas

  2. roufalhakim
    Feb 05, 2011 @ 20:16:02

    bagus juga

    Balas

  3. Sarman Samsuddin
    Des 27, 2011 @ 04:07:50

    Informasi yang bagus untuk para penanggkar bibit karet, ma kasih infonya

    Balas

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: