TANGGAP PERTUMBUHAN TANAMAN SAWI (Brassica juncea L.) VARIETAS TOSAKAN TERHADAP PEMBERIAN BERBAGAI DOSIS PUPUK UREA DAN TSP

ABSTRACT

The objective of this experiment was to know growth response of sawi crop (Brassica juncea L.) tosakan variaty to gift various doses fertilizers urea and TSP. The experiment was conducted in Teknologi Budidaya Tanaman Hortikultura Laboratory Land, Agriculture Faculty, North Sumatera University with altitude ± 25 m above sea level, from October until November 2010. The experiment used Randomized Complete Block Design (RAK) with 2 factors and 4 replications. The first factor was urea fertilizer, 0 g, 10 g, 20 g, and 30 g. The second one was TSP fertilizer, 0 g, 10 g, 20 g, and 30 g. The experiment result showed that urea and TSP gave significant effect of growth of sawi.

Key words : urea, TSP, sawi

ABSTRAK

Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui tanggap pertumbuhan tanaman sawi (Brassica juncea L.) varietas tosakan terhadap pemberian berbagai dosis pupuk urea dan TSP. Percobaan ini dilaksanakan di lahan percobaan Laboratorium Teknologi Budidaya Tanaman Hortikultura pada ketinggian tempat ± 25 m di atas permukaan laut, mulai dari Oktober sampai dengan November 2010 dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 2 faktor perlakuan dan 4 ulangan. Faktor I adalah faktor pupuk urea, yaitu 0 g, 10 g, 20 g, dan 30 g. Faktor II adalah faktor pupuk TSP, yaitu 0 g, 10 g, 20 g, dan 30 g. Hasil percobaan menunjukan bahwa pupuk urea dan pupuk TSP berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan sawi.

Kata kunci: pupuk urea, pupuk TSP, sawi

RIWAYAT HIDUP
Firlana lahir di Medan, 26 Oktober 1989. Anak dari Bapak
Budianto dan Ibu Poniah. Anak ke 3 dari 7 bersaudara.
Adapun pendidikan yang pernah ditempuh adalah:
SD NEGERI 117860 PATOK BESI tamat tahun 2003
SMP NEGERI 1 AEK KUO tamat tahun 2005
SMA NEGERI 1 MERBAU tamat tahun 2008
Pada tahun 2008 dan sampai saat ini masih terdaftar sebagai mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan Program Studi Ilmu Tanah melalui jalur SNMPTN pilihan kedua.

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan YME karena atas berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan laporan ini tepat pada waktunya.
Adapun judul dari laporan ini adalah “TANGGAP PERTUMBUHAN TANAMAN SAWI (Brassica juncea L.) VARIETAS TOSAKAN TERHADAP PEMBERIAN BERBAGAI DOSIS PUPUK UREA DAN TSP”. Laporan ini merupakan salah satu syarat untuk dapat mengikuti praktikal tes di Laboratorium Teknologi Budidaya Tanaman Hortikultura Departemen Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada
Ir. Hj. Sabar Ginting, MS., Ir. Jasmani Ginting, MP., Ir. Asil Barus, MS.,
Ir. Mariati Sinuraya, MSc., Ir. Rosita Sipayung, MP. selaku dosen pengajar mata kuliah Teknologi Budidaya Tanaman Hortikultura dan kepada asisten-asisten yang telah banyak memembantu dalam penulisan laporan ini.
Penulis menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun.
Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih, semoga laporan ini bermanfaat bagi kita semua.
Medan, November 2010

Penulis
DAFTAR ISI

ABSTRAK i
ABSTRACT ii
RIWAYAT HIDUP iii
KATA PENGANTAR iv
DAFTAR ISI v
DAFTAR TABEL vii
DAFTAR GAMBAR viii
DAFTAR LAMPIRAN ix
PENDAHULUAN
Latar Belakang 1
Tujuan Percobaan 2
Hipotesis Percobaan 2
Kegunaan Percobaan 3
TINJAUAN PUSTAKA
Botani Tanaman 4
Syarat Tumbuh 5
Iklim 5
Tanah 5
Pupuk Urea 6
Pupuk TSP 6
METODE PERCOBAAN
Lokasi dan Waktu 8
Bahan dan Alat 8
Metode Percobaan 9
Persiapan Lahan 10
Persemaian 10
Aplikasi Pupuk Dasar 11
Penanaman 11
Penjarangan Tanaman 11
Aplikasi Pupuk Urea dan TSP 11

PEMELIHARAAN TANAMAN
Penyiraman 13
Penyiangan 13
Penyulaman 13
Pengendalian Hama dan Penyakit 13
Panen 13
PARAMETER YANG DIUKUR
Tinggi Tanaman (cm) 14
Jumlah Daun (helai) 14
Bobot Biomassa Per Tanaman Sampel (g) 14
Bobot Segar Jual Per Tanaman Sampel (g) 14
Indeks Panen (g) 14
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil 15
Pembahasan 18
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan 19
Saran 19
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

DAFTAR TABEL

No. Tabel Hal
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9. Tinggi Tanaman 2 MST (cm).
Tinggi Tanaman 3 MST (cm).
Tinggi Tanaman 4 MST (cm).
Jumlah Daun 2 MST (helai)
Jumlah Daun 3 MST (helai)
Jumlah Daun 4 MST (helai)
Bobot biomassa pertanaman sampel (gr)
Bobot segar jual pertanaman sampel (gr)
Indeks panen

16
17
17
19
19
19
20
21
22

DAFTAR GAMBAR

No. Gambar Hal
1.
2.
3
4. Lahan
plank
praktikan di lahan
plot dan tanaman
30
30
30
31

DAFTAR LAMPIRAN

No. Lampiran Hal.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14. Jumlah Daun Tanaman 2 MST 32
Sidik Ragam 32
Jumlah Daun Tanaman 3 MST 33
Sidik Ragam 33
Jumlah Daun Tanaman 4 MST 34
Sidik Ragam 34
Tinggi Tanaman 2 MST 35
Sidik Ragam 35
Tinggi Tanaman 3 MST 36
Sidik Ragam 36
Tinggi Tanaman 4 MST 37
Sidik Ragam 37
Produksi Per Plot (Kg) 38
Sidik Ragam 38

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Sawi merupakan tanaman semusim. Bentuknya hampir menyerupai caisim. Sawi dan Caisim kadang sukar dibedakan. Sawi berdaun lonjong, halus tidak berbulu dan tidak berkrop. Kedua jenih sayuran ini dapat disilangkan (kawin silang). Tanaman sawi mempunyai batang pendek dan lebih langsing dari batang petsai. Urat daun uatama lebih sempit daripada petsai, tetapi daunnya lebih liat. Pada umumnya pola daunnya berserak (roset) hingga sukar membentuk krop (Fitter dan Hay, 1991).

Pupuk Nitrogen cukup banyak perannya namun kalau diamati di pasaran tidak semua pupuk tersedia dan dijual. Hal ini erat kaitannya dengan kebiasaan petani dalam penggunaannya. Umunya petani hanya memiliki Urea dan ZA sehingga tentu saja pedagang pupuk tidak akan menjual puuk lain, selain dari Urea dan ZA (Marsono, 1998).

Di dalam tanaman Fosfor merupakan unsur yang mobil dan bilaman terjadi kekurangan unsur ini pada suau tanaman maka Fosfor pada jaringan-jaringan tua akan di translokasikan ke jaringan yang masih efektif. Apabila terjadi kekurangan unsur Fosfor akan menghambat pertumbuhan tanaman (Hakim, dkk., 1986).

Tanaman menyerap sulfur dalam bentuk ion silfat (SO42-) yang tidak banyak terdapat dalam tanah mineral. Karena bermuatan negatif ion sulfat mudajh hilang dari daerah perakaran karena tercuci oleh aliran air. Kususnya terjadi pada tanah berpasir. Sebagian besar sulfur di dalam tanah berasal dari bahan organik yang telah terdekomposisi, sulfur elemental (bubuk/batu belerang) dari aktivitas vulkanis dan partikel dari cerobong asap pabrik yang terbawa ketanah oleh hujan (Novizan, 2007).
Tujuan Percobaan
Tujuan percobaan ini adalah untuk mengetahui pengaruh dosis pemberian pupuk Nitrogen dan Posfor terhadap pertumbuhan tanaman Sawi (Brassica juncea L.).

Hipotesa Percobaan
• Adanya pengaruh dosis pemberian pupuk Nitrogen terhadap pertumbuhan tanaman Sawi (Brassica juncea L.).
• Adanya pengaruh dosis pemberian pupuk Posfor terhadap pertumbuhan tanaman Sawi (Brassica juncea L.).
• Adanya interaksi antara dosis pemberian pupuk Nitrogen dan Posfor terhadap pertumbuhan tanaman Sawi (Brassica juncea L.).

Kegunaan Percobaan
• Sebagai salah satu syarat untuk dapat mengikuti praktikal test di Laboratorium Teknologi Budidaya Tanaman Hortikultura Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.
• Sebagai bahan informasi bagi pihak-pihak yang membutuhkan.

TINJAUAN PUSTAKA
Botani Tanaman
Menurut Rubatzky dan Yamaguchi (1995) sistematika tanaman Sawi (Brassica juncea L.) antara lain:
Kingdom : Plantae
Divisio : Spermatophyta
Sub-divisio : Angiospermae
Class : Dicocotyledoneae
Ordo : Papaforales
Family : Cruciveraceae
Genus : Brassica
Species : Brassica juncea L.
Tanaman sawi mempunyai akar tunggang dengan akar samping yang banyak tetapi tetap dangkal. System perakaran tanaman sawi ini relative dangkal yakni menembus pada kedalaman tanah antara 20 – 30 cm (http://id.wikipedia.org, 2008).
Batang tanaman sawi umumnya pendek, langsing dan banyak mengandung air. Disekeliling batang hingga titik tumbuh terdapat helai daun yang bertangkai pendek (Subekti, et al., 2009).
Sawi berdaun lonjong, halus. Tidak berbulu, dan tidak memiliki krop.urat daun utamanya lebih sempit daripada urat daun petsai, tetapi tekstur daunnya lebih liat dari petsai. Pada umumnya pola pertumbuhan daunnya berserak (roset) hingga sukar membentuk krop (Devlin, 1975).
Struktur bunga sawi terdiri dari 4 helai daun kelopak berwarna hijau, 4 helai daun mahkota berwarna kuning, 4 helai benang sari bertangkai panjang, 2 helai benang sari bertangkai pendek dan satu buah putik yang beruang 2. selam 1-2 bulan tanaman sawi dapat berbunga terus dan jumlah bunga yang dihasilkan mencapai lebih dari 500 kuntum. Tanaman sawi termasuk mudah sekali kawin silang, tetapi sukar untuk mengadakan peniyerbukan sendiri (Tim penulis, 1993).
Buah-buah sawi berbentuk polong, panjang dan ramping berisi biji. Biji-bijinya bulat kecil berwarna coklat sampai kehitam-hitaman. Biji-biji inilah yang digunakan sebagai bahan perbanyakan tanaman sawi (Sunarjono, 2008).
Biji tanaman sawi berbentuk bulat dengan ukuran yang sangat kecil. Biji tanaman sawi berwarna kehitaman, dalam 1 bunga terbentuk berpuluh-puluh biji (Rubatzky dan Yamaguchi, 1997).
Syarat Tumbuh
Iklim
Sawi dapat ditanam di dataran tinggi maupun dataran rendah. Akan tetapi, umumnya sawi diusahalan orang di dataran rendah, yaitu di pekarangan, di ladang atau disawah, jarang diusahakan di daearah pegunungan (http://www.tanindo.com, 2009).
Sawi termasuk tanaman sayuran yang tahan terhadap hujan. Sehingga, ia dapat ditanam di sepanjang tahun, asalkan pada saat musim kemarau disediakan air yang cukup untuk penyiraman (Fisher and Goldsworthy, 1992).

Pada mulanya sawi dikenal sebagai sayuran daerah dingin (sub tropis, sehingga di Indonesia cocok ditanam didataran tinggi antara 1000 – 3000 m dpl yang suhu udaranya dingin dan lembab. Kisaran kelembban antara 80 – 90% (Splittstoesser, 1984).
Tanaman sawi dapat tumbuh baik di tempat yang berhawa panas maupun berhawa dingin, sehingga dapat diusahakan dari dataran rendah sampai dataran tinggi.Pada kenyataannya hasil yang diperoleh lebih baik di dataran tinggi pertumbuhan yang optimal pada kisaran suhu 160C-18,50C. Tanaman tidak tumbuh baik apabila suhu maksimum 27- 290C dan suhu minimum 6- 80C. Sayuran dataran tinggi memiliki penyesuaian yang baik dengan dataran rendah (Noggle dan Fritzs, 1979).
Tanah
Keadaan tanah yang dikehendaki adalah tanah gembur, banyak mengandung humus, dan drainase baik dengan derajat kemasaman tanahnya (pH) berkisar antara 6-7 (Tim Penulis, 1993).
Adapun syarat-syarat penting bertanam sawi adalah tanahnya gembur, banyak menagndung humus (subur), drainaenya baik dan pH tanah nya ssekitar 6-7. waktu tanam yang baik adalah pada akir musim huan (Maret) (Sunarjono, 2008).
Tanah yang cocok pada tanaman sawi adalah tanah latosol, andosol dan regosol. Derajat kemasaman tanah (pH) yang cocok untuk tanaman sawi adalah 6-7 dan kandungan air tanah yang dibutuhkan adalah air tersedia. Dalam pertumbuhannya tanaman sawi membutuhkan kandungan air tanah yang cukup (http://www.tanindo.com, 2009).
Pupuk Nitrogen
Ditinjau dari segi fisiologinya Nitrogen mempunyai peranan antara lain: 1. reduksi metabolik nitrat dan asimilasi amonia. Nitrogen yang tersedia dalam tanah yang dapat diserab oleh akar tanaman ialah dalam bentuk ion-ion nitrat. Asimilasi amonia pada sebagian besar tanaman menjadi asam glutamat (Glutamic acid) (Nyakpa, dkk., 1988).

Fungsi Nitrogen yang selengkapnya bagi tanaman adalah sebagai berikut: untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman, dapat menyehatkan pertumbuhan daun, meningkatkan kadar protein dalam tubuh tanaman, meningkatkan kualitas tanaman penghasil daun, meningkatkan perkembangan mikroorganisme dalam tanah (Kartasapoetra dan Sutedja, 2000).

Tanaman akan tumbuh dengan lambat bilamana kekurangan Nitrogen, tampak kurus, kerdil dan berwarna pucat dibanding dengan tanaman sehat. Kekurangan Nitrogen membatasi produksi protein dan bahan-bahan penting lainnya dalam pembentukan sel-sel baru. Kecepatan pertumbuhan tanaman berjalan proporsional dengan suplai Nitrogen (Hasibuan, 2008).

Pupuk Fosfor
Peran pupuk Fosfor untuk tanaman antara lain : dapat mempercepat dan memperkuat pertumbuhan tanaman muda menjadi tanaman muda pada umumnya. Dapat mempercepat pembungaan dan pemasakan buah, biji atau gabah, dapat meningkatkan produksi biji-bijian (http://langit-langit.commod, 2009).

Di dalam tanah, fungsi Fosfor terhadap tanaman adalah sebagai zat pembangun dan terikat dalam senyawa-senyawa organis dengan demikian adalah statis, hanya sebagian kecil saja yang tersedia dalam bentuk anorganis sebagai ion-ion fosfat, sebagai bahan pembentuk pospor yang terpencar-pencar dalam tubuh tanaman (Rosmarkam dan Yuwono, 2002).

Di dalam tanaman Fosfor merupakan unsur yang mobil dan bilaman terjadi kekurangan unsur ini pada suau tanaman maka Fosfor pada jaringan-jaringan tua akan di translokasikan ke jaringan yang masih efektif. Apabila terjadi kekurangan unsur Fosfor akan menghambat pertumbuhan tanaman dan gejalanya sulit diketahui sebagaimana gejala-gejala yang kelihatan pada tanaman-tanaman yang kurang unsur Nitrogen dan Kalium (Buckman dan Brady, 1982).

BAHAN DAN METODE
Tempat dan Waktu Percobaan
Percobaan ini dilakukan di Lahan Percobaan Teknologi Budidaya Tanaman Hortikultura Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan. Dengan ketinggian tempat ±25m dpl. Percobaan ini dimulai pada bulan Oktober 2010 sampai dengan November 2010.

Bahan dan Alat
Adapun bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah benih Sawi (Brassica juncea L.) sebagai objek percobaan, pupuk Nitrogen dan Posfor.

Adapun alat yang digunakan pada percobaan ini adalah cangkul untuk mencangkul tanah dan membersihkan tanah (lahan) dari gulma, gembor untuk menyiram tanaman, kalkulator untuk menghitung data, alat tulis untuk mencatat data, meteran untuk mengukur tinggi tanaman, jangka sorong untuk mengukur diameter batang, plastik untuk memungut hasil panen.

Metode Percobaan
Percobaan dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan dua Faktor perlakuan, yaitu:
Faktor I : pemberian pupuk Nitrogen yang terdiri dari 4 perlakuan, yaitu:
N0 : 0 gr/ tanaman
N1 : 1 gr/ tanaman
N2 : 2 gr/ tanaman
N3 : 3 gr/ tanaman
Faktor II : pemberian pupuk Posfor yang terdiri dari 4 perlakuan:
P0 : 0 gr/ tanaman
P1 : 1 gr/ tanaman
P2 : 2 gr/ tanaman
P3 : 3 gr/ tanaman
Sehingga diperoleh 12 kombinasi perlakuan sebagai berikut:
N0PO N0PI N0P2 N0P3
N1P0 NIP1 N1P2 N1P3
N2P0 N2P1 N2P2 N2P3
N3P0 N3P1 N3P2 N3P3
Jumlah plot : 41
Jumlah tanaman / plot : 25
Jumlah tanaman seluruhnya : 1025
Jumlah tanaman sampel/plot : 5
Ukuran plot : 200 cm x 150 cm
Jarak tanam : 40 cm x 30 cm
Dari hasil percobaan dianalisis sidik ragam rancang acak kelompok (RAK) dengan model linier sebagai berikut:
Y ijk = µ + ρi + αj + βk + (αβ)jk + εijk
Dimana ;
Y ijk :nilai pengamatan pada blok ke-i, persilangan ke-j, dan varietas ke-k.
µ : nilai tengah
ρi : efek blok ki-i
αj : efek persilangan ke-j
Βk : efek varietas ke-k
(αβ)jk : efek persilangan ke-j dan varietas ke-k
Εijk :efek eror yang disebabkan oleh blok ke-i, persilangan ke-j, varietas ke-k.

PELAKSANAAN PERCOBAAN
Persemaian
Sebelum ditanam di lapangan, sawi terlebih dahulu harus disemaikan. Persemaian dilakukan dikotak persemaian. Umu persemaian tanaman berusia 2 minggu setelah itu baru di tanam di lapangan.

Persiapan Lahan
Lahan percobaan terlebih dahulu dibersihkan dari gulma dan sisa-sisa tanaman dengan menggunakan cangkul. setelah itu dilakukan penggemburan dan selanjutnya pembuatan plot-plot percobaan sesuai dengan ukuran plot yang telah ditentukan dan setip pinggir plot dibuat parit keliling sebagai drainase. Petak plot dengan ukuran 2m × 1,5m dan dibuat parit pemisah antar blok dan plot sebagai drainase dengan lebar 50 cm.

Penanaman
Penanaman dilakukan setelah tanaman berumur 3-4 minggu sejak biji disemaikan. Jarak tanam yang digunakan 40cm x 30cm. Kegiatan penanaman dilakukan pada saat sore hari.

Pemupukan
Pupuk kompos diberikan pada saat pengolahan lahan atau sebagai pupuk dasar. Setelah tanaman berusia 2 bulan dilakukan pemupukan susulan urea dan TSP.
Pemeliharaan
Penyiraman
Setelah tanaman dipindahkan ke lapangan, penyiraman dilakukan dengan menggunakan gembor. Penyiraman sesuai dengan kondisi di lapangan.

Penyulaman
Penyulaman dilakukan apabila di lapangan tampak ada tanaman yang mati atau pertumbuhannya kurang sempurna. Hal ini dilakukan seminggu setelah tanaman ditanam agar diperoleh pertumbuhan yang serentak.

Penyiangan
Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Kegiatan ini dilakukan dua minggu sekali.

Pengamatan Parameter
Tinggi Tanaman (cm)
Tinggi tanaman diukur mulai dari pangkal batang bawah hingga ujung. Pengukuran mulai dilakukan setiap minggunya hingga akar masa vegetatif tanaman.

Jumlah Daun (Helai)
Jumlah daun dihitung tiap minggu mulai 2 MST. Dilakukan setiap minggunya hingga akar masa vegetatif tanaman.

Berat Basah Tanaman (gr)
Berat basah tanaman dihitung pada semua tanaman sampel, perhitungan dilakukan pada saat pemanenan.

Indeks Panen (gr)
Produksi per sampel dihitung pada semua tanaman sampel, perhitungan dilakukan pada saat pemanenan.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
1. Tinggi Tanaman (cm)
Data rataan tinggi tanaman dapat dilihat pada lampiran pengamatan 2 MST, 3 MST dan 4 MST.
Dari pengamatan data rataan tinggi tanaman, diperoleh bahwa perlakuan pemberian pupuk Urea dan TSP berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman 2 MST sampai 4 MST.
Data pengaruh pemberian pupuk Urea dan TSP terhadap tinggi tanaman dapat dilihat pada tabel 1 di bawah ini.
Tabel 1.Rataan Tinggi Tanaman 2 MST

Dari data tabel 1 diperoleh grafik seperti terlihat dibawah ini.
Grafik 1. Grafik Tinggi Tanaman (cm) 2 MST terhadap Nitrogen.

Grafik 2. Rataan Tinggi Tanaman (cm) pada 2 MST Terhadap Nitrogen dan Phospor.

Tabel 2. Rataan Tinggi Tanaman 3 MST

Grafik 3. Rataan Tinggi Tanaman (cm) pada 3 MST Terhadap Nitrogen

Grafik 4. Rataan Tinggi Tanaman (cm) pada 3 MST Terhadap Nitrogen dan Phospor.

Tabel 3. Rataan Tinggi Tanaman 4 MST

Grafik 5. Rataan Tinggi Tanaman (cm) pada 4 MST Terhadap Nitrogen

Grafik 6. Rataan Tinggi Tanaman (cm) pada 4 MST Terhadap Nitrogen dan pospor

Dari data pengaruh pemberian pupuk Urea dan TSP terhadap tinggi tanaman diperoleh bahwa rata-rata tinggi tanaman tertinggi pada 2 MST yaitu pada perlakuan N1P3 sebesar 31,63 cm dan terendah pada perlakuan N2P3 sebesar 19,64 cm. Rata-rata tinggi tanaman tertinggi pada 3 MST yaitu pada perlakuan N2P2 sebesar 36,85 cm dan terendah pada perlakuan N2P0 sebesar 22,34 cm. Rata-rata tinggi tanaman tertinggi pada 4 MST yaitu pada perlakuan N1P0 sebesar 43.05 cm dan terendah pada perlakuan N2P 0sebesar 24,94 cm.
2. Jumlah Daun (helai)
Data rataan jumlah daun dapat dilihat pada lampiran pengamatan 2 MST, 3 MST dan 4 MST.
Dari pengamatan data rataan jumlah daun, diperoleh bahwa perlakuan pemberian pupuk Urea dan TSP berpengaruh nyata terhadap jumlah daun 2 MST, 3 MST dan 4 MST.
Data pengaruh pemberian pupuk Urea dan TSP terhadap jumlah daun dapat dilihat pada tabel 4 di bawah ini.
Tabel 4.Rataan Jumlah Daun 2 MST.

Tabel 5.Rataan Jumlah Daun 3 MST.

Tabel 6.Rataan Jumlah Daun 4 MST.

Dari data pengaruh pemberian pupuk urea dan TSP terhadap jumlah daun diperoleh bahwa rata-rata tinggi tanaman tertinggi pada 2 MST yaitu pada perlakuan N3P2 sebesar 7,50 dan terendah pada perlakuan N0P2 sebesar 4,93. Rata-rata jumlah daun tertinggi pada 3 MST yaitu pada perlakuan N3P2 sebesar 9,07 dan terendah pada perlakuan N0P2 sebesar 5,67. Rata-rata jumlah daun tertinggi pada 4 MST yaitu pada perlakuan N0P0 sebesar 10,50 dan terendah pada perlakuan N2P3 sebesar 7.80.

3. Bobot Biomassa Per Tanaman Sampel (g)
Data bobot biomassa per sampel dapat dilihat pada lampiran pengamatan produksi per sampel.
Dari pengamatan data bobot biomassa per sampel diperoleh bahwa perlakuan pemberian pupuk Urea dan TSP berpengaruh nyata terhadap produksi persampel.
Data pengaruh pemberian pupuk Urea dan TSP terhadap bobot biomassa per sampel dapat dilihat pada tabel 7 di bawah ini.
Tabel 7. Pengaruh pemberian pupuk Urea dan TSP terhadap bobot biomassa per sampel

Grafik 7. Rataan Bobot Biomassa (gr) Terhadap Phospor.

Grafik 8. Rataan Bobot Biomassa (gr) Terhadap Nitrogen dan Phospor.

Dari data produksi persampel diperoleh bahwa rata-rata bobot biomassa per sampel tertinggi yaitu pada perlakuan N3P1 sebesar 269,67 g dan terendah pada perlakuan N3P2 yaitu sebesar 83,00 g.
4. Bobot Segar Jual Per Tanaman Sampel (g)
Data Bobot Segar Jual Per Tanaman Sampel dapat dilihat pada lampiran pengamatan produksi per sampel.
Dari pengamatan data Bobot Segar Jual Per Tanaman Sampel diperoleh bahwa perlakuan pemberian pupuk urea dan TSP berpengaruh nyata terhadap produksi persampel.
Data pengaruh pemberian pupuk urea dan TSP terhadap bobot supertopdapat dilihatpada tabel 8 di bawah ini.
Tabel 8.Rataan Bobot Segar Jual (gr)

Grafik 9. Rataan Bobot Segar Jual (gr) Phospor.

Grafik 10. Rataan Bobot Segar Jual (gr) Terhadap Nitrogen dan Phospor.

Dari data Bobot Segar Jual Per Tanaman Sampel bahwa Bobot Segar Jual Per Tanaman Sampel tertinggi yaitu pada perlakuan N3P1 sebesar 217,33 g dan terendah pada perlakuan N3P2 yaitu sebesar 70,33 g.

5. Indeks Panen
Dari pengamatan data indeks panen diperoleh bahwa perlakuan pemberian pupuk Urea dan TSP berpengaruh nyata terhadap indeks panen.
Data pengaruh pemberian pupuk Urea dan TSP terhadap indeks panen dapat dilihat pada tabel 9 di bawah ini.
Tabel 9.Rataan Pengaruh pemberian pupuk Urea dan TSP terhadap indeks panen

Grafik 11. Rataan indeks panen (gr) Phospor.

Grafik12. Rataan indeks panen (gr) Terhadap Nitrogen dan Phospor.

Dari data indeks panen bahwa indeks panen tertinggi yaitu pada perlakuan N0P1 sebesar 0,91 dan terendah pada perlakuan N3P0 yaitu sebesar 0,47.
Pembahasan
Berdasarkan hasil percobaan diperoleh bahwa pemberian pupuk Urea berpengaruh tidak nyata terhadap jumlah daun 2, 3 dan 4 MST serta berpengaruh tidak nyata terhadap tinggi tanaman 2 MST, sangat nyata terhadap tinggi tanaman 3 dan 4 MST dan nyata terhadap produksi per sampel. Rata-rata tinggi tanaman tertinggi pada 4 MST yaitu pada perlakuan N1P0 sebesar 43,05 cm dan terendah pada perlakuan N2P0 sebesar 24.94 cm. Dalam perlakuan ini di gunakan pupuk urea sebagai tambahan unsur hara untuk tanaman karena memiliki banyak keuntungan. Hal ini sesuai dengan literatur Marsono dan Sigit (2000) yang menyatakan bahwa keuntungan menggunakan urea adalah mudah diserap tanaman. Selain itu kandungan N yang tinggi pada urea sangat dibutuhkan pada pertumbuhan awal tanaman. Kekurangannya bila dimasukkan ke dalam tanah yang miskin hara akan berubah ke wujud atau bahan awalnya, yakni ammonia dan karbondioksida yang mudah menguap. Selain itu, kedua gas tersebut mudah tercuci oleh air hujan atau irigasi.
Berdasarkan hasil percobaan diperoleh bahwa pemberian pupuk Urea dan TSP berpengaruh tidak nyata terhadap jumlah daun 2, 3 dan 4 MST serta tinggi tanaman 2 MST, 3 MST dan 4 MST. Dapat dilihat data rataan jumlah dauntertinggi pada 4 MST yaitu pada perlakuan N0P0 sebesar 10,50 dan terendah pada perlakuan N2P3 sebesar 7.80. Hal ini mungkin dikarenakan dosis pupuk yang digunakan belum tepat, pemberiannya tidak merata dan adanya faktor yang mendukung pertumbuhan seperti curah hujan dan sinar matahari serta kelembaban udara. Hal ini sesuai dengan pendapat Haryanto dkk (1994) yang mengemukakan bahwa tanaman sawi memerlukan udara yang sejuk, maka tanaman sawi akanlebih cepat berkembang jika ditanam pada daerah yang kelembabannya tinggi. Akan tetapi, tanaman sawi juga tidak menyukai air yang menggenang, sehingga tanaman sawi cocok ditanam pada akhir musm penghujan.
Berdasarkan hasil percobaan diperoleh bahwa pemberian pupuk Urea dan TSP Dari pengamatan data bobot biomassa per sampel diperoleh bahwa perlakuan pemberian pupuk Urea dan TSP berpengaruh nyata terhadap produksi persampel. Dari data produksi persampel diperoleh bahwa rata-rata bobot biomassa per sampel tertinggi yaitu pada perlakuan N3P1 sebesar 269,67 g dan terendah pada perlakuan N3P2 yaitu sebesar 83.00 g. Hal ini mungkin disebabkan karena pemberian pupuk fosfor dan pupuk Nitrogen yang baik untuk bisa merangsang pertumbuh akar sehingga dapat menghasilkan bobot biomassa yang tinggi. Hal ini sesuai dengan literatur Rinsema(1993) yang mengatakan bahwa nitrogen ditinjau dari berbagai sudut, mempunyai pengaruh positif, yaitu berpengaruh besar dalam menaikkan potensi pembentukan daun-daunan ranting, mempunyai pengaruh positif terhadap kadar protein pada rumput dan tanaman makanan ternak lainnya dan berpengaruh pada berbagai tanaman seperti menaikkan kadar protein pada butir gandum yang menyebabkan kenaikan volume butir.
Dari pengamatan data Bobot Segar Jual Per Tanaman Sampel diperoleh bahwa perlakuan pemberian pupuk Urea dan TSP berpengaruh nyata terhadap produksi persampel. Dari data Bobot Segar Jual Per Tanaman Sampel bahwa Bobot Segar Jual Per Tanaman Sampel tertinggi yaitu pada perlakuan N3P21 sebesar 217.33 g dan terendah pada perlakuan N2P0 yaitu sebesar 86.67 g. Hal ini mungkin disebabkan karena pemberian pupuk fosfor dan pupuk Nitrogen yang baik untuk bisa merangsang pertumbuh akar sehingga dapat menghasilkan bobot biomassa yang tinggi. Hal ini sesuai dengan literatur Rinsema(1993) yang mengatakan bahwa nitrogen ditinjau dari berbagai sudut, mempunyai pengaruh positif, yaitu berpengaruh besar dalam menaikkan potensi pembentukan daun-daunan ranting, mempunyai pengaruh positif terhadap kadar protein pada rumput dan tanaman makanan ternak lainnya dan berpengaruh pada berbagai tanaman seperti menaikkan kadar protein pada butir gandum yang menyebabkan kenaikan volume butir
Dari pengamatan data indeks panen diperoleh bahwa perlakuan pemberian pupuk Urea dan TSP berpengaruh nyata terhadap indeks panen. Dari data indeks panen bahwa indeks panen tertinggi yaitu pada perlakuan N0P1 sebesar 0,91 dan terendah pada perlakuan N3P0 yaitu sebesar 0,47. Dari hal ini dapat dilihat bahwa indeks panennya tidak seimbang. Mungkin karena kekurangan unsur hara lain yang tidak ada pada pupuk kimia. Hal ini sesuai dengan literatur Hardjowigeno (1987) yang mengemukakan bahwa selain pemberian pupuk organik, pemberian pupuk urea sebagai sumber hara N merupakan usaha yang banyak dilakukan dalam meningkatkan produktivitas sayuran khususnya kacang panjang. Pupuk urea sebagai sumber hara N dapat memperbaiki pertumbuhan vegetatif tanaman, dimana tanaman yang tumbuh pada tanah yang cukup N, berwarna lebih hijau.

KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
1. Dari pengamatan data rataan tinggi tanaman, diperoleh bahwa perlakuan pemberian pupuk Urea dan TSP belum berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman 2 MST dan berpengaruh sangat nyata terhadap tinggi tanaman 3 serta 4 MST dengan rataan tinggi tanaman tertinggi pada 4 MST yaitu pada perlakuan N1P0 sebesar 43,05 cm dan terendah pada perlakuan N2P0 sebesar 24.94 cm.
2. Dari pengamatan data rataan jumlah daun, diperoleh bahwa perlakuan pemberian pupuk Urea dan TSP belum berpengaruh nyata terhadap jumlah daun 2 MST, 3 MST dan 4 MST dengan rata-rata jumlah daun tertinggi pada 4 MST yaitu pada perlakuan N0P0 sebesar 10,50 dan terendah pada perlakuan N2P3 sebesar 7.80.
3. Dari pengamatan data bobot biomassa per sampel diperoleh bahwa perlakuan pemberian pupuk Urea dan TSP berpengaruh nyata terhadap produksi persampel dengan rata-rata bobot biomassa per sampel tertinggi yaitu pada perlakuan N3P1 sebesar 269,67 g dan terendah pada perlakuan N3P2 yaitu sebesar 83.00 g.
4. Dari pengamatan data Bobot Segar Jual Per Tanaman Sampel diperoleh bahwa perlakuan pemberian pupuk Urea dan TSP berpengaruh nyata terhadap produksi persampel dengan Bobot Segar Jual Per Tanaman Sampel tertinggi yaitu pada perlakuan N3P21 sebesar 217.33 g dan terendah pada perlakuan N2P0 yaitu sebesar 86.67 g.
5. Dari pengamatan data indeks panen diperoleh bahwa perlakuan pemberian pupuk Urea dan TSP berpengaruh nyata terhadap indeks panen dengan indeks panen tertinggi yaitu pada perlakuan N0P1 sebesar 0,91 dan terendah pada perlakuan N3P0 yaitu sebesar 0,47.
Saran
Supaya dalam pemberian pupuk harus sesuai dosis. Kelebihan pemberian pupuk mengakibatkan tanaman berwarna kuning dan bisa juga menyebabkan kematian tanaman. Tanaman jadi rusak apabila penggunaan pupuk tidak tepat dosis.

DAFTAR PUSTAKA
Buckman, H. O. dan N. C. Brady. 1982. Ilmu tanah. Terjemahan Prof. Dr. Soegiman. Penerbit Bhratara Karya Aksara. Jakarta.
Devlin, Robert M. 1975. Plant Physiology Third Edition. New York : D. Van
Nostrand.
Fitter , A. H, dan Hay, R. K. M., 1991. Fisiologi Lingkungan Tanaman. Diterjemahkan Oleh S. Andani dan E. D. Purbayanti. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Fisher, N. M. and Goldsworthy, P. R., 1992. Fisiologi Tanaman Budidaya Tropik. Diterjemahkan oleh Tohari. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Hakim, N., M. N. Nyakpa., A. M. Lubis., S. G. Nugroho., M. A. Diha., G. B. Hong dan H. H. Bailey. 1986. Dasar-dasar ilmu tanah. Penerbit Universitas Lampung. Lampung.

Hasibuan, B. E. 2008. Pupuk dan pemupukan. FP USU. Medan.

http://bangkittani.com/kiat-sukses/tanaman-kailan-digemari-wisatawan. Diakses pada tanggal 14 November 2010.

http://langit-langit.commod.php?mod=diskusi&op=90. 2009. Fungsi unsur hara makro (N-P-K). diakses pada tanggal 14 November 2010.

Kartasapoetra., A. G. dan Sutedjo. 2000. Pupuk dan cara pemupukannya. Rieneka cipta. Jakarta.

Marsono, P. L. 1998. Petunjuk penggunaan pupuk. Penebar Swadaya. Jakarta.

Novizan, 2007. Petunjuk pemupukan yang efektif. Agromedia. Jakarta.

Nyakpa, M. Y., A. M. Lubis., Mamat. A. P., A. G. Amran., Ali. M., G. B. Hong., dan N. Hakim. 1988. Kesuburan Tanah. Penerbit Unversitas Lampung. Lampung.

Noggle, Ray, R dan Fritzs, J. George. 1979. Introductor Plant Physiology. New Delhi : Mall of India Private Ilmited.
Rosmarkam, A dan N. W. Yuwono. 2002. Ilmu kesuburan tanah. Kanisius. Yogyakarta.

Rubatzky, V. E. dan M. Yamaguchi, 1995. Sayuran Dunia. ITB-Press. Bandung.

Rukmana, R. 2008. Kubis Bungan & Broccoli. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.

Subekti, et, al. 2009. morfologi tanaman dan fase pertumbuhan sawi. diakses dari situs http://balitsereal.litbang.deptan.go.id/bjagung/e patpdf. pada tanggal 03 Mei 2009.

Sunarjono, H. H. 2008. Bertanam 30 Jenis Sayur. Penebar Swadaya. Jakarta.
Splittstoesser, W. E., 1984. Vegetable Growing Handbook. Van Nostrand Reinhold Company, New York.

Tim Penulis PS. 1993. Sayur Komersil. Penebar Swadaya. Jakarta.

About these ads

8 Komentar (+add yours?)

  1. Ahmad
    Feb 09, 2011 @ 06:58:24

    Thanks buat artikelnya.

    Balas

  2. Sepeda Gunung
    Mar 25, 2011 @ 14:45:19

    Thank’s infonya! Asyik!!! Sangat berguna.

    Balas

  3. Sepeda MTB
    Apr 05, 2011 @ 08:04:12

    Info yang menarik untuk dicoba.

    Balas

  4. sri Junery
    Apr 08, 2011 @ 10:02:28

    tHanks buanget ya bg,,,
    berkat blog abang neh q gag pening lg bwt ngerjain jurnal dasgro yang misterius iTu,,,

    Balas

  5. restu elisabet
    Apr 08, 2011 @ 10:04:27

    thx yoo bg,,,,,,,,,,,,,,
    ne bantu bgt buat laporan dasgro qmi
    go anag USU

    Balas

  6. axon
    Apr 09, 2011 @ 07:27:50

    boleh kirimkan teori mengenai penelitian anda mengenai pertumbuhan dan perkembangan serta hasil sawi putih (Brassica pekinensia L)ke alamat ku Regirobeth@yahoo.co.id.bantuan anda sangat berarti bagiku.axon mahasiswa pertanian jurusan agroteknologi wamena.

    Balas

  7. mansyuri
    Apr 30, 2011 @ 09:38:35

    peneliyian kamu bagus x
    bisa gk klw qm membuat makalah lg ttg pengaruh peengunaan pupuk bayfolan terhadap pertmbuhan tanaman sawi

    Balas

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: