laporan agroklimatologi

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Dalam atmosfer (lautan udara) senantiasa terdapat uap air. Kadar uap air dalam udara disebut kelembaban (lengas udara). Kadar ini selalu berubah-ubah tergantung pada temperatur udara setempat. Kelembaban udara adalah persentase kandungan uap air dalam udara. Kelembaban udara ditentukan  oleh jumlah uap air yang terkandung di dalam udara. Total  massa uap air per satuan volume udara disebut sebagai kelembaban absolut. Perbandingan antara massa uap air dengan massa udara lembab dalam satuan volume udara tertentu disebut sebagai kelembaban spesifik. Massa udara lembab adalah total massa dari seluruh gas-gas atmosfer yang terkandung, termasuk uap air;jika massa uap air tidak diikutkan, maka disebut sebagai massa udara kering                                        ( http://one.indoskripsi.com, 2009 ).

Kelembapan udara menyatakan banyaknya uap air dalam udara. jumlah uap air dalam udara ini sebetulnya hanya merupakan sebagian kecil saja dari seluruh atmosfer. Yaitu  hanya kira-kira 2 % dari jumlah masa. Akan tetapi uap air ini merupakan komponen udara yang sangat penting ditinjau dari segi cuaca dan iklim ( Guslim, dkk., 1987 ).

Semua uap air yang ada di dalam udara berasal dari penguapan. Penguapan adalah perubahan air dari keadaan cair kekeadaan gas. Pada proses penguapan diperlukan atau dipakai panas, sedangkan pada pengembunan dilepaskan panas. Seperti diketahui, penguapan tidak hanya terjadi pada permukaan air yang terbuka saja, tetapi dapat juga terjadi langsung dari tanah dan lebih-lebih dari tumbuh-tumbuhan. Penguapan dari tiga tempat itu disebut dengan Evapora (Karim,1985).

Kandungan uap air atmosfer dapat diperlihatkan dengan berbagai cara. Tekanan uap yang dinyatakan dalam minibar, tetapi dalam penggunaanya yang lebih sering, satuan lainya dipakai untuk menyatakan kandungan uap air                 ( Guslim, 2009 ).

Tujuan Percobaan

Adapun tujuan dari penulisan laporan ini adalah untuk mengetahui suhu dan kelembapan yang sebenarnya pada daerah bervegetasi dan non vegetasi.

Kegunaan Percobaan

–                Sebagai salah satu syarat untuk dapat mengikuti praktikal test di Laboratorium Agroklimatologi, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan.

–                Sebagai bahan informasi bagi pihak yang membutuhkan.

TINJAUAN PUSTAKA

Kelembaban udara dalam ruang tertutup dapat diatur sesuai dengan keinginan. Pengaturan kelembaban udara ini didasarkan atas prinsip kesetaraan potensiair antara udara dengan larutan atau dengan bahan padat tertentu. Jika ke dalam suatu ruang tertutup dimasukkan larutan, maka air dari larutan tersebut akan menguap sampai terjadi keseimbangan antara potensi air pada udara dengan potensi air larutan. Demikian pula halnya jika hidrat kristal garam-garam  (salt cristal bydrate) tertentu dimasukkan dalam ruang tertutup makaair dari hidrat kristal garam akan menguap sampai terjadi keseimbangan potensi air                     ( Lakitan, 1994 ).

Kelembaban udara menyatakan banyaknya uap air dalam udara. Jumlah uap air dalam udara ini sebetulnya hanya merupakan sebagian kecil saja dari seluruh atmosfer uap air ini merupakan komponen udara yang sangat penting ditinjau dari segi cuaca dan iklim ( http://agung4.wordpress.com, 2009 ).

Kelembaban udara menggambarkan kandungan uap air di udara yang dapat dinyatakan sebagai kelembaban mutlak, kelembaban nisbi (relatif) maupun defisit tekanan uap air. Kelembaban mutlak adalah kandungan uap air (dapat dinyatakan dengan massa uap air atau tekanannya) per satuan volume. Kelembaban nisbi membandingkan antara kandungan/tekanan uap air aktual dengan keadaan jenuhnya atau pada kapasitas udara untuk menampung uap air. Kapasitas udara untuk menampung uap air tersebut (pada keadaan jenuh) ditentukan oleh suhu udara. Sedangkan defisit tekanan uap air adalah selisih antara tekanan uap jenuh dan tekanan uap aktual. Masing-masing pernyataan kelembaban udara tersebut mempunyai arti dan fungsi tertentu dikaitkan dengan masalah yang dibahas   (  Handoko, 1994  ).

Kapasitas udara untuk menampung uap air (pada keadaan jenuh) tergantung pada suhu udara. Defisit tekanan uap air adalah selisih antara tekanan uap air jenuh dengan tekanan uap aktual. Pengembunan akan terjadi bila kelembaban nisbi mencapai 100%( http://abuhaniyya.files.wordpress.com, 2009 ).

Kelempan adalah banyaknya  uap air yang ada diudara  meskipun uap airnya hanya merupakan sebagian kecil saja dari atmosfer , rata-rata kurang lebih dari 2 % masa keseluruhan. Total masa uap air per satuan volume udara disebut kelembapan absolut ( absolute humidity ) umumnya dinyatakan dalam satuan kg/m3 ( Hanum, 2009 ).

Keadaan kelembapan diatas permukaan bumi berbeda-beda. Pada umumnya, kelembapan tertinggi ada di khatulistiwa sedangkan terendah ada pada lintang 40o daerah rendah ini disebut horse latitude, curah hujanya kecil                  ( Kartasapoetra, 2004 ).

BAHAN DAN METODE

Tempat dan Waktu Percobaan

Percobaan ini dilakukan di areal Fakultas Pertanian dan hutan Dharmawangsa, Universitas Sumatera Utara, Medan, pada tanggal 3 Oktober 2009, di atas ketinggian 25 m dpl.

Bahan dan Alat

Adapun bahan yang dipergunakan dalam percobaan ini adalah udara sebagai objek pengamatan dan air  sebagai bahan untuk membasahi kain kasa pada TBB.

Adapun alat yang dipergunakan dalam percobaan ini adalah sling psycrometer  yang berfungsi sebagai alat pengukur suhu dan kelembaban pada daerah yang bervegetasi dan non vegetasi.

Gambar Alat

Gambar I : Sling Psycrometer

Prinsip kerja alat:

Alat ini bekerja dengan berdasarkan konveksi alam atau perbedaan tekanan sehingga udara luar masuk ke dalam melalui lubang ventilasi dan mempengaruhi termometer bola basah dan bola kering.

Gambar 2: Asman Psychrometer

Prinsip kerja alat:

Alat ini bekerja dengan berdasarkan energi kinetik yang dibutuhkan oleh perputaran gas aspirator sehingga udara dari luar masuk ke dalam tabung aspirator, sehingga termometer bola basah dan bola kering.

Prosedur Percobaan

a)       Sling Psychrometer

–        Diperiksa keadaan alat

–        Diputar kunci pegas sebanyak 3-4 kali searah jarum jam selama 1 menit pada ketinggian 50 cm, 100 cm, 150 cm, dan 200 cm di atas permukaan tanah

–        Dicatat dan diamati perubahan skala pada TBK dan TBB

b)      Asman Psychrometer

–        Diperiksa keadaan alat

–        Diputar kunci pegas sebanyak 3-4 kali searah jarum jam

–        Digantung alat pada ketinggian 50 cm, 100 cm, 150 cm, dan 200 cm di atas permukaan tanah masing-masing selama 1 menit.

–        Diamati perubahan skala TBK dan TBB

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Data pengamatan di lapangan

Non vegetasi

Keterangan TBK TBB RH(%)
50 cm 30 25 66,67 %
100 cm 32 26 78,6 %
150 cm 30 25 75,3 %
200 cm 31 26 66,19 %

Vegetasi

Keterangan TBK TBB RH(%)
50 cm 28 25 78,4 %
100 cm 28,5 25,5 62,14 %
150 cm 28,5 25 66,67  %
200 cm 29,6 24,5 67,29 %

Tabel I : Data pengamatan di lapangan

Data BMG

Kelembapan nisbi ( % )
Tanggal 07.00 13.00 18.00 Rata-rata
1 87 64 82 80
2 92 65 82 83
3 90 71 78 82
4 89 64 81 81
5 90 63 81 81
6 93 71 84 84
7 93 74 80 80
Rata-rata 90.57143 67.42857 81.14286 81.57143

Tabel II : Data pengamatan BMG

Perhitungan

Rumus kelembaban

E          =  EBB – A x P ( TBK – TBB )

RH       =  E/Emaks x 100 %

Daerah non vegetasi

Ketinggian 50 cm

E          = 31,58 – 0,00067 x 1013 ( 30 – 25 ) = 28,19

RH       = 28,19/42,28 x 100 % = 66,67 %

Ketinggian 100 cm

E          = 32,53 – 0,00067 x 1013 ( 28,5 – 25,5 ) = 30,5

RH       = 30,5/38,78 x 100 % = 78,6 %

Ketinggian 150 cm

E          = 31,58 – 0,00067 x 1013 ( 28,5 – 25 ) = 29,31

RH       = 29,31/38,78 x 100 % = 75,3 %

Ketinggian 200 cm

E          = 30,66 – 0,00067 x 1013 ( 29,6 – 24,5 ) = 27,2

RH       = 27,2/41,09 x 100 % = 66,19 %

Daerah bervegetasi

Ketinggian 50 cm

E          = 31,58 – 0,00067 x 1013 ( 28 – 25 ) = 29,55

RH       = 29,55/37,67 x 100 % = 78,4 %

Ketinggian 100 cm

E          = 31,51 – 0,00067 x 1013 ( 32 – 26 ) = 29,44

RH       = 29,44/47,37 x 100 % = 62,14 %

Ketinggian 150 cm

E          = 31,58 – 0,00067 x 1013 ( 30 – 25 ) = 28,19

RH       = 28,19/42,28 x 100 % = 66,67  %

Ketinggian 200 cm

E          = 31,51 – 0,00067 x 1013 ( 31 – 26 ) = 30,12

RH       = 30,12/44,76 x 100 % = 67,29 %

Pembahasan

Dari hasil pengamatan menunjukan bahwa data kelembaban  tertinggi dari data BMG adalah 95 % pada pukul 07.00 wib, hal ini disebabkan karena pada pagi hari kelembaban temperatur kelembaban meningkat, sedangkan pada sore hari menurun. Hal ini sesuai dengan literatur Guslim, dkk., ( 1987 ) yang menyatakan bahwa variasi harian kelembaban relatif umumnya berlawanan dengan temperatur, maksimum menjelang pagi dan minimum pada sore hari.

Dari hasil pengamatan menunjukan bahwa data kelembababn  terendah dari data pengamtan BMG adalah 63% pada pukul 13.00 wib, hal ini disebabkan karena pada siang hari radiasi sinar matahari   meningkat sehingga kelembabanya menurun dimana kelembaban berbanding terbalik dengan suhu, bila suhu meningkat maka kelembaban akan menurun. Hal ini sesuai dengan literatur Guslim, dkk., ( 1987 )   yang menyatakan bahwa variasi harian kelembaban relatif umumnya berlawanan dengan temperatur, maksimum menjelang pagi dan minimum pada sore hari.

Dari data pengamatan BMG menunjukan bahwa data kelembaban rata-rata yang tertinggi adalah 93% hal ini disebabkan faktor kelembaban relatif dimana kelembaban dipengaruhi oleh temparatur udara. Hal ini sesuai dengan literatur Guslim, dkk., ( 1987 ) yang menyatakan bahwa variasi harian kelembaban relatif umumnya berlawanan dengan temperatur, maksimum menjelang pagi dan minimum pada sore hari.

Dari data pengamatan BMG menunjukan bahwa data kelembaban rata-rata yang terendah adalah 81% hal ini disebabkan faktor kelembaban relatif dimana kelembaban dipengaruhi oleh temparatur udara. Hal ini sesuai dengan literatur Guslim, dkk., ( 1987 ) yang menyatakan bahwa variasi harian kelembaban relatif umumnya berlawanan dengan temperatur, maksimum menjelang pagi dan minimum pada sore hari.

Dari data percobaan menunjukan bahwa data  kelembababan tertinggi di lapangan adalah 78,6% pada ketinggian 100 cm di daerah non vegetasi, hal ini dikarenakan penambahan uap air hasil evaporasi pada permukaan pada siang hari. Hal ini sesuai dengan literatur Lakitan ( 1994 ) yang menyatakan bahwa kelembaban udara lebih tinggi pada udara dekat permukaan pada siang hari disebabkan karena penamabahan uap air hasil evapotranspirasi dari permukaan.

Dari hasil percobaan menujukan bahwa data kelembaban terendah yaitu 66,14% pada ketinggian 200 cm di daerah bervegetasi hal ini dikarenakan pengaruh dari angin yang menyebabkan rendahnya kelembaban dimana daerah yang lebih tinggi cenderung engaruh angin lebih besar sehingga kelembaban turun. Hal ini sesuai dengan literatur  Lakitan ( 1994 ) yang menyatkan bahwa kelembaban udara pada ketinggian 2 meter dari permukaan tidak menunjukan  perbedaan yang nyata antara malam dan siang hari. Pada lapisan udara yang lebih tinggi tersebut, pengaruh angin menjadi lebih besar.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

  1. Dari hasil pengamatan menunjukan bahwa data kelembaban  tertinggi dari data BMG adalah 95 % pada pukul 07.00 wib
  2. Dari hasil pengamatan menunjukan bahwa data kelembababn  terendah dari data pengamtan BMG adalah 63% pada pukul 13.00 wib
  3. Dari data pengamatan BMG menunjukan bahwa data kelembaban rata-rata yang tertinggi adalah 93%
  4. Dari data pengamatan BMG menunjukan bahwa data kelembaban rata-rata yang terendah adalah 81%
  5. Dari hasil percobaan menujukan bahwa data kelembaban terendah yaitu 66,19% pada ketinggian 200 cm
  6. Dari data percobaan menunjukan bahwa data  kelembababan tertinggi di lapangan adalah 78,6% pada ketinggian 100 cm.

Saran

Dalam percobaan ini, sebaiknya ketinggian tempat pengamatan lebih diperhatikan dan dikondisikan baik yang bervegetasi maupun non vegetasi.

DAFTAR PUSTAKA

Guslim. 2009. Agroklimatologi. USU Press. Medan.

Guslim, O.K Nazaruddin H, Roeswandi, A. Hamdan, dan Rosmayati. 1987.  Klimatologi Pertanian. USU Press. Medan.

Handoko. 1994. Klimatologi Dasar, landasan pemahaman fisika atmosfer dan unsur-unsur iklim.  PT. Dunia Pustaka Jaya, Jakarta.

Hanum, C. 2009. Penuntun Praktikum Agroklimatologi. Program Studi Agronomi, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan.

http://agung4.wordpress.com. 2009. Iklim dan Cuaca,  diakses pada tanggal           6 November 2009.

http://abuhaniyya.files.wordpress.com. 2009. Kelembaban Udara, diakses pada tanggal  6 November 2009.

http://one.indoskripsi.com/node/714. 2009. Kelembaban Udara,  diakses pada tanggal  6 November 2009.

Kartasapoetra, A.G. 2004. Klimatologi : Pengaruh iklim Terhadap Tanah dan Tanaman Edisi Revisi. Bumi Aksara. Jakarta.

Karim, K. 1985. Diktat Kuliah Dasar-Dasar Klimatologi. Diterbitkan dengan Biaya Proyek Peningkatan dan Pengembangan Perguruan Tinggi Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh.

Lakitan, B. 1994. Dasar-Dasar Klimatologi. PT.  Raja Grafindo Persada, Jakarta.

2 Komentar (+add yours?)

  1. indah
    Jan 02, 2011 @ 04:44:00

    tengss eah,,,
    laporannya sangat membantu :))

    Balas

  2. soujye
    Mar 08, 2012 @ 14:45:06

    materi tentang radiasi matahari ada g????

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: