laporan easar pemuliaan tanaman

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Prospek usaha tani jagung cukup cerah bila dikelola secara intensif dan komersial kaepada agrobisnis. Permintaan pasar dalam negeri dan peluang ekspor komoditas jagung cenderung meningkat dari tahun ke tahun, baik untuk memnuhi kebutuhan pangan maupun nonpangan. Produksi dan kualitas jagung dapat ditingkatkan melalui penerapan teknologi mutakhir (modern) yang disesuaikan dengan agroekologi setempat. Penyebarluasan teknologi budidaya, penerapan pasca panen, dan seluk beluk usaha tani jagung dapat dilakukan melalui informasi buku-buku praktek yang diperlukan oleh para peminat agribisnis jagung (Rukmana, 1997).
Usaha peningkatan produksi pertanian pada masa kemerdekaan dimulai dengan adanya plan kasimo yang merupakan rencana tiga tahunan (1948-1950) dengan mendirikan Balai Pendidikan Masyarakat Desa (BPMD) (Warisno, 1998).
Sasaran pengembangan usaha tani jagung nasional adalah berswasembada jagung yang bersifat “on trend” yaitu mengekspor bila terjadi surplus produksi dan mengimpor bila produksi deficit. Disamping itu, pengembangan usaha tani dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani, memperluas lapangan kerja dan kesempatan berusah, meningkatkan produksi untuk memenuhi kebutuhan pangan dan nonpangan didalam negeri, serta mengurangi impor jagung (Ginting, 1995).
Rendahnya hasil rata-rata jagung nasioanl, anatara lain disebabkan belum meluasnya penanaman varietas- varietas unggul dan belum memperhatikan penggunaan benih berkualitas ditingkat petani.n disamping itu, pengelolaan tanaman dilingkungan budidaya tanaman jagung misalnay teknik bercocok tanam, pemupukan, pengendlain hama dan penyakit, belum sesuai dengan paket teknologi maju yang berkembang di lapangn atau teknologi penelitian para pakar dibidangnya, hal inilah yang menjadi latar belakang usaha dalam upaya peningkatan produksi pertanian khususnya pertanian jagung di Indonesia (Rukmana, 1997).

Tujuan Percobaan
Adapun tujuan dalam penulisan laporan ini antara lain :
1. Untuk mengetahui mengetahui hasil akhir dari evaluasi karakter vegetatif dan generatif berdasarkan teknik silang dalam dan bersari bebas pada tanaman jagung (Zea mays L.).
2. Sebagai upaya untuk mengetahui pemeliharaan dalam usaha tani jagung.
Hipotesis Percobaan
– Ada pengaruh interaksi antar persilangan dengan varietas terhadap karakter vegetatif dan generastif berdasarkan teknik silang dalam dan bersari bebas pada bebrapa jagung (Zea mays L.).
– Ada pengaruh pengaruh persilangan terhadap karakter vegetatif dan generastif berdasarkan teknik silang dalam dan bersari bebas pada bebrapa jagung (Zea mays L.).
– Ada pengaruh varietas terhadap karakter vegetatif dan generastif berdasarkan teknik silang dalam dan bersari bebas pada bebrapa jagung (Zea mays L.).
Kegunaan Percobaan
– Sebagai syarat untuk mengikuti praktikal test di Laboratorium Dasar Pemuliaan Tanaman, Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.
– Sebagai bahan informasi dan wawasan bagi pihak yang membutuhkan khusunya mahasiswa Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara.
TINJAUAN PUSTAKA
Botani Tanaman

Menurut Rukamana (1997) kedudukan jagung (Zea mays L.) diklasifikasikan sebagai berikut:
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Class : Monocotyledoneae
Ordo : Poales
Famili : Poacea (Graminae)
Genus : Zea
Spesies : Zea mays L.
Tanamn jagung merupakan tumbuhan semusim (annual). Susunan tubuhnya (morfologi) terdiri dari akar, batang, daun bunga dan buah. Perakaran tanaman jagung terdiri dari akar utama, akar cabang, akar lateral, dan akar rambut. Sistem perakaran serabut yang berfungsi sebagai alat untuk menghisap air serta garam-garam yang terdapat dalam tanah, berupa mineral-mineral senyawa kimia yang mengeluarkan zat organic dari tanah dan alat pernafasan. Batang jagung beruas-ruas (berbuku-buku) dengan jumlah ruas bervariasi antara 10-40 ruas. Tanaman jagung tidak bercabang. Panjang bantangh jagung berkisar antara 60-300 cm (Rukmana, 1997).

Daun jagung tumbuh melekat pada buku-buku batang, struktur daun terdiri atas tiga bagian yaitu kelopak daun, lidah daun(ligula) dan helaian mdaun. Mbagian permukaan daun berbulu, dan terdiri dari sel-sel bulifor. Jumlah helaian daun bervariasi antar 8-48 helaian. Bunga jantan matang terlebih dahulu 1-2 hari dari pada bunga betian. Buah jagung terdiri atas tongkol, biji dan daun pembungkus. B iji jagung mempunyai bentuk , warna dan kandungan endosperm yang bervariasi tergantung jenisnya. Biji jagung terdiri atas tiga bagian utama yaitu kulit biji (seed coat), endosperm, dan embrio (Hasym, 2007).
Syarat Tumbuh
Iklim
Faktor-faktor yang paling penting dalam penanaman jajgung antara lain sinar matahari, air, hujan dan angina. Air yang memadai di daerah areal sekitar pertanian yang cukup akan membantu biji, bunga, dan buah dalam proses pertumbuhan dan disertai hujan yang relative optiamal. Keberadaan angin juga sangat penting didalam membantu penyerbukan. Temperature untuk jagung berkisar antara 23-27 0C (Allard, 1992).
Faktor-faktor iklim yang terpenting adalah jumlah dan pembagian dari sianar matahari dan curah hujan, temperatur, kelembapan, dan angin. Tempat penanaman jagung harus mendapatkan penyinaran matahari cukup dan jangan terlindung oleh pohon-pohonan atau bangunan. Bila tidak terdapat penyinaran dari sinar matahari, hasilnya akan berkurang. Temperatur optimum untuk pertumbuhan jagung adalah antara 23°-17°C ( (Rukmana, 1997).
Tanah
Tanaman jagung dapat hidup dengan pH berkisar antara 5,5-7,0. keasaman tanah sangat erat didalam pembentukan biji, buah serta pertumbuhan tanaman. Jenis tanah yang baik untuk jagung berupa tanah yang gembur dan remah-reamah. Tekstur tanah seperti lempung berdebu atau berpasir. Disisni juga diperlukan aerase yang baik untuk meningkatkan peredaran udar didalam tanah (Rukmana, 1997).
Untuk tanaman jagung kemirigan tanah optimum adalah 5-8 %. Hal ini dikarenakan kemungkinan terjadinya erosi tanah sangat rendah. Pada daerah dengan tingkat kemiringan lebih dari 8 % kurang sesuai untuk penanaman jagung (Warisno, 1998).
Varietas
Para ahli botani pertanian mengidentifikasikan bentuk asdli tanaman jagung kedalam tujuh jenis yaitu :
1. Jagung gigi kuda atau dent corn (Zea mays identata)
2. Jagung mutiara tau flint corn (Zea mays indurate)
3. Jagung manis atau sweet corn (Zea mays sacharata)
4. Jagung berondong atau pop corn (Zea mays everta)
5. Jagung pod atau pop corn(Zea mays tunicata)
6. Jagung ketan atau waxy corn (Zea mays ceratinae)
7. Jagung tepung atau flour corn (Zea mays amylacea)
(Warisno, 1998).

Dari beberapa jenis jagung yang telah diidentifikasi baru jagung mutiara dan jagung manis yang banyak dibudidyakan di Indonesia meskipun demikian, dari bentuk jenis asli ternyat ditemukan jenis-jenis jagung baru seperti jagung hibrida : jaya 1, bisi 8, 12, 16 dan DK 3 serta lain sebagainya dengan aneka macam varietas dan kultivar (Rukmana, 1997).
Varietas jagung bersari bebas (komposit) mempunyai kelebihan sebagai berikut : a) Daya adaptasi luas, dapat dikembangkan di lahan marginal maupun di lahan subur dan rawan kekeringan. b) Harga benih relative murah dan dapat digunakan sampai beberapa generasi. c) Sebagian berumur genjah. d) Daya hasil cukup tinggi (Suprapto, 1990).
Hibridisasi
Selfing
Selfing atau persilangan dalam adalah hasil persilangan antara individu yang ada hubungan keluarga untuk pembuahan sendiri dan mengarak ke peningkatan homozygot. Efek silang dalam istilah defresi silang pada silang dalam pada tanaman menyerbuk silang, seperti jagung maka akibat silang dalam sangat nyata sekali (Suprapto, 1986).
Tanaman yang menyerbuk silang terjadi dengan jatuhnya tepung sari pada rambut lebih kurang 95% dari bakal biji terjadi karena penyerbukan. Sedangkan hanya 5% terjadi karena penyerbukan sendiri, karena jagung merupakan tanaman berumah satu (Nurmala, 1997).

Bersari Bebas
Variasi bersari bebas adalah variasi yang untuk perbanyakan benih dilakukan secara persarian bebas artinya dalam persilangan ia mampu melakukan proses perkawinan dengan berbgai jenis jagung yang ada di tempat pertanian jagung, tanpa ada perlakuan khusus (Makmur, 2003).
Penyerbukan serbuk sari selama periode pembungaan bervariasi dari hari ke hari, namun penyerbukan maksimum terjadi pada saat cuaca hangat, kelembafan udara rendah serta kondisi udara berangin (Ginting, 1995).
Heritabilitas

Heritabilitas dapat didefenisikan sebagai proporsi kergaman yang disebabkan oleh faktor genetik terhadap keragaman fenotip dari suatu disebabkan oleh faktor genetic (V2G) dan factor lingkungan (V2e) (Suprapto, 1990).
Heritabilitas menyatakan perbandingan atau proporsi varian genetic terhadap varian total (Varian penotif) yang biasanya dinyatakan dalam persen(%). Dituliskan dengan huruf H atau h2, sehingga :
H atau h2

(Splittstoesser, 1984).

BAHAN DAN METODE
Tempat dan Waktu Penelitian
Percobaan dilaksanakan di lahan Laboratorium Dasar Pemuliaan Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan dengan ketinggian 25 m dpl. Percobaan dilaksanakan pada bulan Februari sampai Mei 2009.
Bahan dan Alat
Adapun bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah benih, jagung varietas DK3, varietas Jaya 1 dan Bisi 2 Sebagai objek yang diamati, pupuk NPK untuk membantu pertumbuhan tanaman, pupuk daun, pupuk kompos sebagai bahan organic untuk menambah unsur hara tanaman atau memperbaiki struktur tanah ,dolomite untuk menaikkan pH tanah.
Adapun alat yang digunakan adalah cangkul untuk membersihkan lahan an menggali tanah, gembor untuk menyiram tanaman, meteran untuk mengukur tinggi tanaman, buku data untuk mencatat data yang diambil, alat tulis untuk menulis data, plastik untuk menutup bunga betina, amplop .kertas untuk menutup bunga jantan, plank untuk memberi tanda pada lahan, timbangan untuk menimbang sampel yang diamati.
Metode Percobaan

Percobaan ini menggunakan metode RAK faktorial yang terdiri atas dua faktor.
Faktor I : Varietas
V1 : Varietas Jaya -1
V2 : Varietas Biji 2
V3 : Varietas DK-3
Faktor II : Persilangan
P1 : Silang Dalam
P2 : Silang Bebas
Analisis Data

Data hasil percobaan, dianalisis dengan sidik ragam berdasarkan model linear sebagai berikut:
, dimana :
= Respon pengamatan blok ke-1 dengan perlakuan varietas pada taraf ke-j dan pengaruh persilangan pada taraf ke-k.
= Nilai tengah.
= Pengaruh blok ke-i.
= Pengaruh perlakuan varietas pada taraf ke j.
= Pengaruh perlakuan persilangan pada taraf ke k.
= Efek perlakuan varietas pada taraf ke j akan pangaruh persilangan pada taraf ke-k..
= Efek galak pada blok ke-I yang disebabkan perlakuan varietas pada taraf ke-j dan pengaruh persilangan pada taraf ke-k

PELAKSANAAN PERCOBAAN
Persiapan lahan
Areal pertanaman yang digunakan terlebih dahulu diukur sesuai dengan kebutuhan lalu dibersihkan dari gulma yang ada hingga benar-benar bersih. Pengolahan tanah dilakukan dengan cara dicangkul dengan kedalaman sekitar 20-30 cm, dan dibuat parit pemisah antar blok selebar 50 cm dan antar plot selebar 30 cm sebagai drainase.
Penanaman
Penanaman dilakukan dengan membuat lubang tanam sedalam 3-4 cm, tiap lubang ditanam 2 benih jagung untuk setiap jenisnya dengan jarak tanam 60×20 cm dengan jarak dari tepi plot 20 cm.
Penjarangan
Penjarangan disesuaikan dengan jarak tanam karena jarak yang terlalu rapat dapat menghambat pertumbuhan tanaman jagung.
Pemupukan
Pemupukan dilakukan dengan pupuk tunggal yaitu pupuk urea dengan dosis 300 kg/Ha, pupuk TSP dengan dosis 200kg/Ha, dan KCl dengan dosis 100 kg/Ha. Pupuk urea diberikan dalam 3 kali yaitu 1/3 bagian pada saat tanam, 1/3 bagian waktu umur 2 MST dan 1/3 bagian diberi pada umur 4 MST. Pupuk TSP dan KCl diberikan.
Pemeliharaan Tanaman
Penyiraman
Penyiraman dilakukan setiap hari pada sore hari atau disesuaikan dengan kondisi lapangan.
Penyiangan
Penyiangan gulma dilakukan dengan interval 2 MST, 4 MST, dan 6 MST dengan menggunakan cangkul ataupun secara manual dengan cara mencabut gulma-gulma pada plot percobaan.
Pengendalian Hama dan Penyakit
Pengendalian hama dan penyakit dilakukan dengan menyemprotkan insektisida Decis 2,5 EC, sedangkan untuk penyakit dapat digunakan fungisida Dithane M-45.
Pembubunan
Pembubunan dilakukan apabila tongkol telah muncul. Hal ini dilakukan agar serbuk sari dari satu varietas tidak menyerbuki bunga betina (tongkol) varietas lain. Pembubunan dilakukan dengan menggunakan plastik transparan untuk menyungkup bunga betina (tongkol).
Selfing
Selfing dilakukan dengan cara memindahkan serbuk sari ke bunga betina pada varietas tanaman yang sama pada saat kedua bunga telah reseptif (masak). Setelah penyerbukan dilakukan, penyungkupan dilakukan kembali agar serbuk sari dari varietas lain tidak masuk ke dalam bunga pada varietas yang telah terserbuki. Penyilangan dilakukan pada saat pagi hari pada pukul 07.00 WIB. Penyerbukan dilakukan sesuai dengan perlakuan.
Panen
Pemanenan dilakukan setelah menunjukkan ciri-ciri untuk dipanen yaitu klobot berwarna kuning kecoklatan dan bijinya telah keras, kering dan mengkilat, bila ditekan dengan kuku tidak meninggalkan bekas.
Pengeringan dan Pemipilan
Pengeringan dilakukan sesudah tanaman dipanen dalam waktu 2 hari. Setelah jagung kering, dilakukan pemipilan terhadap tanaman yang dijadikan sampel untuk dihitung berat keringnya.
Pengamatan Parameter
Tinggi Tanaman (cm)
Tinggi tanaman diukur mulai dari pangkal batang hingga ujung tertinggi setelah daun dikuncupkan. Pengukuran dilakukan mulai tanaman berumur 2 MST. Pungukuran dilakukan seminggu sekali hingga keluar malai.
Jumlah Daun (helai)
Jumlah daun dihitung pada daun yang telah membuka sempurna. Perhitungan dilakukan sejak tanaman berumur 2 MST.
Kelengkungan daun
Kelengkungan daun dihitung pada waktu 3 MST. Perhitungan dilakukan sekali pada waktu percobaan ketika daun sudah sempurna dalam kelengkunganya dengan batas ketinggian tertentu. Dalam hal ini menggunakan rumus a/b untuk menghitung kelengkunganya.
Jumlah Daun di Atas Tongkol (helai)
Jumlah daun di atas tongkol dihitung dengan menghitung daun yang berada di atas tongkol paling atas. Perhitungan dilakukan satu kali pada saat tongkol sudah keluar semua.
Umur Berbunga Jantan (hari)
Umur keluar bunga jantan dihitung apabila telah muncul daun bendera pembungkus malai. Pengamatan dilakukan setiap hari pada tanaman sampel.
Umur Berbunga Betina (hari)
Umur keluar bunga betina dihitung apabila silk tongkol telah muncul. Pengamatan dilakukan setiap hari pada tanaman sampel.
Umur Panen (hari)
Umur panen dihitung sejak awal penanaman sampai tongkol telah masak fisiologis.

Laju Pengisian Biji (g/hari)
Laju pengisian biji dihitung pada semua tanaman sampel. Perhitungan dilakukan pada semua sampel dan dilakukan pada akhir percobaan.
Berat Tongkol Dengan Klobot (g)
Berat tongkol dengan klobot dihitung pada semua tanaman sampel. Perhitungan dilakukan pada semua sampel dan dilakukan pada akhir percobaan.
Berat Tongkol Tanpa Klobot (g)
Berat tongkol tanpa klobot dihitung pada semua tanaman sampel. Perhitungan dilakukan pada semua sampel dan dilakukan pada akhir percobaan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Dari hasil sidik ragam diketahui bahwa varietas berbeda nyata terhadap parameter tinggi tanaman 2 – 7 MST, umur keluar bunga jantan, umur keluar bunga betina, jumlah daun di atas tongkol, kelengkungan daun, umur panen , berat tongkol kering, berat tongkol tampa kelobot, dan bobot biji pertongkol. Persilangan berbeda nyata terhadap berat tongkol kering berat tongkol dengan kelobot, bobot biji pertongkol, dan interaksi berbeda nyata terhadap umur tinggi tanaman 3 MST, berat tongkol kering
Tinggi Tanaman (cm)

Dari hasil sidik ragam dapat diketahui bahwa varietas berbeda nyata terhadap tinggi tanaman 3 – 7 MST, persilangan tidak berbeda nyata terhadap parameter tinggi tanaman sedangkan interaksi antara varietas dengan persilangan berbeda nyata terhadap tinggi tanaman 3 MST.2
Rataan tinggi tanaman 2 MST dari varietas dan persilangan dapat dilihat pada tabel 1.
Tabel 1. Rataan Tinggi Tanaman (cm) dari Varietas dan persilangan pada 2 MST

Keterangan : Data yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5 %
Dari tabel 1. diketahui bahwa rataan tinggi tanaman 2 MST tertinggi pada varietas terdapat pada V3 (35,450 cm) dan terendah pada V2 (29,338 cm).
Dari tabel 1. diketahui bahwa rataan tinggi tanaman tertinggi pada perlakuan persilangan terdapat pada P1 (32,717 cm) dan terendah pada P2 (32,975 cm).
Rataan tinggi tanaman 3 MST dari varietas dan persilangan dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel 2. Rataan Tinggi Tanaman (cm) dari Varietas dan persilangan pada 3 MST

Keterangan : Data yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5 %

Dari tabel 2. diketahui bahwa rataan tinggi tanaman 3 MST tertinggi pada varietas terdapat pada V2 (57,075 cm) dan terendah pada V1 (52,650 cm).
Dari tabel 2. diketahui bahwa rataan tinggi tanaman tertinggi pada interaksi antara varietas dengan persilangan terdapat padaV2P2 (58,00 cm) dan terendah padaV3P2 (51,05 cm).

Rataan tinggi tanaman 4 MST dari varietas dan persilangan dapat dilihat pada tabel 3.
Tabel 3. Rataan Tinggi Tanaman (cm) dari Varietas dan persilangan pada 4 MST

Keterangan : Data yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5 %

Dari tabel 3. diketahui bahwa rataan tinggi tanaman 4 MST tertinggi pada varietas terdapat pada V1 (74,750 cm) dan terendah pada V2 (71,325 cm).
Rataan tinggi tanaman 5 MST dari varietas dan persilangan dapat dilihat pada tabel 4.
Tabel 4. Rataan Tinggi Tanaman (cm) dari Varietas dan persilangan pada 5 MST

Keterangan : Data yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5 %

Dari tabel 4. diketahui bahwa rataan tinggi tanaman 5 MST tertinggi pada varietas terdapat pada V1 (111,250 cm) dan terendah pada V2 (99,800 cm).
Rataan tinggi tanaman 6 MST dari varietas dan persilangan dapat dilihat pada tabel 5.

Tabel 5. Rataan Tinggi Tanaman (cm) dari Varietas dan persilangan pada 6 MST

Keterangan : Data yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5 %

Dari tabel 5. diketahui bahwa rataan tinggi tanaman 6 MST tertinggi pada varietas terdapat pada V1 (160,575 cm) dan terendah pada V2 (151,125 cm).
Rataan tinggi tanaman 7 MST dari varietas dan persilangan dapat dilihat pada tabel 6.
Tabel 6. Rataan Tinggi Tanaman (cm) dari Varietas dan persilangan pada 7 MST

Keterangan : Data yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5 %

Dari tabel 6. diketahui bahwa rataan tinggi tanaman 7 MST tertinggi pada varietas terdapat pada V1 (200,338 cm) dan terendah pada V2 (189,263 cm).

Jumlah Daun (helai)

Dari hasil sidik ragam dapat diketahui bahwa varietas belum berbeda nyata terhadap jumlah daun 3 – 7 MST, persilangan tidak berbeda nyata terhadap parameter tinggi tanaman sedangkan interaksi antara varietas dengan persilangan tidak berbeda nyata terhadap parameter jumlah daun.
Rataan tinggi tanaman 2 MST dari varietas dan persilangan dapat dilihat pada tabel 7.
Tabel 7. Rataan jumlah daun (helai) dari Varietas dan persilangan pada 2 MST

Keterangan : Data yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5 %

Dari tabel 7. diketahui bahwa rataan jumlah daun 2 MST tertinggi pada varietas terdapat pada V3 (3,844 helai) dan terendah pada V1 ( 3,50 helai).
Rataan tinggi tanaman 3 MST dari varietas dan persilangan dapat dilihat pada tabel 7.

Tabel 8. Rataan Jumlah daun (helai) dari Varietas dan persilangan pada 3 MST

Keterangan : Data yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5 %

Dari tabel 8. diketahui bahwa rataan Jumlah daun 3 MST tertinggi pada varietas terdapat pada V1 dan V3 (5,344 helai) dan terendah pada V2 (5,244 helai). .
Rataan Jumlah daun 4 MST dari varietas dan persilangan dapat dilihat pada tabel 9.
Tabel 9. Rataan Jumlah daun (helai) dari Varietas dan persilangan pada 4 MST

Keterangan : Data yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5 %

Dari tabel 9. diketahui bahwa rataan Jumlah daun 4 MST tertinggi pada varietas terdapat pada V3 (7,156 helai) dan terendah pada V2 (7,031 helai).
Rataan Jumlah daun 5 MST dari varietas dan persilangan dapat dilihat pada tabel 10.

Tabel 10. Rataan Jumlah daun (helai) dari Varietas dan persilangan pada 5 MST

Keterangan : Data yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5 %

Dari tabel 10. diketahui bahwa rataan jumlah daun 5 MST tertinggi pada varietas terdapat pada V3 (9,469 helai) dan terendah pada V2 (9,188 helai).
Rataan Jumlah daun 6 MST dari varietas dan persilangan dapat dilihat pada tabel 11.
Tabel 11. Rataan Jumlah daun (helai) dari Varietas dan persilangan pada 6 MST

Keterangan : Data yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5 %

Dari tabel 11. diketahui bahwa rataan Jumlah daun 6 MST tertinggi pada varietas terdapat pada V3 (11,188 helai) dan terendah pada V1 (10,594).

Rataan Jumlah daun 7 MST dari varietas dan persilangan dapat dilihat pada tabel 12.

Tabel 12. Rataan Jumlah daun (helai) dari Varietas dan persilangan pada 7 MST

Keterangan : Data yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5 %

Dari tabel 12. diketahui bahwa rataan Jumlah daun 7 MST tertinggi pada varietas terdapat pada V3 (15,125 helai) dan terendah pada V2 (15,031 helai).

Umur Berbunga Jantan (hari)

Dari daftar sidik ragam umur berbunga jantan diketahui bahwa varietas tidak berbeda nyata terhadap umur berbunga nyata, persilangan dan interaksi juga tidak berpengaruh nyata terhadap umur berbunga jantan.
Rataan umur berbunga jantan dari varietas dan persilangan dapat dilihat pada tabel 12.
Tabel 12. Rataan Umur Berbunga jantan (hari) dari Varietas dan persilangan

Keterangan : Data yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5 %

Dari tabel 12 dapat dilihat bahwa rataan umur berbunga jantan tertinggi pada varietas terdapat pada V3 (52,281 hari) dan terendah pada V2 (48,906 hari).

Umur Berbunga Betina (hari)

Dari daftar sidik ragam umur berbunga betina diketahui bahwa varietas berbeda nyata terhadap umur berbunga betina, persilangan dan interaksi tidak berpengaruh nyata terhadap umur berbunga betina.
Rataan umur berbunga betina dari varietas dan persilangan dapat dilihat pada tabel 13.
Tabel 13. Rataan Umur Berbunga betina (hari) dari Varietas dan persilangan

Keterangan : Data yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5 %

Dari tabel 13 dapat dilihat bahwa rataan umur berbunga betina tertinggi pada varietas V3 (53,206 hari) dan terendah pada V2 (51,081 hari).

Jumlah Daun di atas Tongkol (helai)

Dari hasil sidik ragam dapat diketahui bahwa varietas berbeda nyata terhadap jumlah daun diatas tongkol, persilangan tidak berbeda nyata terhadap jumlah daun diatas tongkol, sedangkan interaksi tidak berbeda nyata terhadap jumlah daun diatas tongkol.
Rataan jumlah daun diatas tongkol dari varietas dan persilangan dapat dilihat pada tabel 14.
Tabel 14. Rataan jumlah daun diatas tongkol dari Varietas dan Persilangan

Keterangan : Data yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5 %

Dari tabel 14 dapat dilihat bahwa rataan jumlah daun diatas tongkol tertinggi pada varietas V1 dan V3 (6,094 helai) dan terendah pada V2 (5,781 helai).

Kelengkungan Daun

Dari hasil sidik ragam dapat diketahui bahwa varietas berbeda nyata terhadap kelengkungan daun, persilangan tidak berpengaruh nyata terhadap kelengkungan daun, sedangkan interaksi tidak berpengaruh nyata terhadap kelengkungan daun
Rataan kelengkungan daun dari varietas dan persilangan dapat dilihat pada tabel 15.

Tabel 15. Rataan kelengkungan daun dari Varietas dan Persilangan

Keterangan : Data yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5 %

Dari tabel 15 dapat dilihat bahwa rataan kelengkungan daun tertinggi pada varietas terdapat pada V3 (0,668) dan terendah pada V1 (0,596).

Umur Panen (hari)

Dari hasil sidik ragam dapat diketahui bahwa varietas berbeda nyata terhadap umur panen, persilangan tidak berpengaruh nyata terhadap umur panen, sedangkan interaksi tidak berpengaruh nyata terhadap umur panen.
Rataan umur panen dari varietas dan persilangan dapat dilihat pada tabel 16.
Tabel 16. Rataan umur panen dari Varietas dan Persilangan

Keterangan : Data yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5 %

Dari tabel 16 dapat dilihat bahwa rataan umur panen tertinggi pada varietas terdapat pada V3 (89,600 hari) dan terendah pada V1 (82,431 hari).

Jumlah Biji Pertongkol (biji)

Dari hasil sidik ragam dapat diketahui bahwa varietas berbeda nyata terhadap jumlah biji pertongkol, persilangan tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah biji pertongkol, sedangkan interaksi tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah biji pertongkol.
Rataan jumlah biji pertongkol dari varietas dan persilangan dapat dilihat pada tabel 17.
Tabel 17. Rataan jumlah biji pertongkol dari Varietas dan Persilangan

Keterangan : Data yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5 %

Dari tabel 17 dapat dilihat bahwa rataan jumlah biji pertongkol tertinggi pada varietas terdapat pada V3 (311,313 biji) dan terendah pada V1 (258,375 biji).

Berat Tongkol kering (g)

Dari hasil sidik ragam dapat diketahui bahwa varietas berbeda nyata terhadap berat tongkol kering, persilangan tidak berpengaruh nyata terhadap berat tongkol kering, sedangkan interaksi tidak berpengaruh nyata terhadap berat tongkol kering.
Rataan berat tongkol kering dari varietas dan persilangan dapat dilihat pada tabel 18.
Tabel 18. Rataan berat tongkol kering dari Varietas dan Persilangan

Keterangan : Data yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5 %

Dari tabel 18 dapat dilihat bahwa rataan berat tongkol kering tertinggi pada varietas terdapat pada V3 (148,884 g) dan terendah pada V1 (108,166 g).

Berat Tongkol Dengan Kelobot (g)
Dari hasil sidik ragam dapat diketahui bahwa varietas berbeda nyata terhadap berat tongkol dengan kelobot, persilangan tidak berpengaruh nyata terhadap berat tongkol dengan kelobot, sedangkan interaksi tidak berpengaruh nyata terhadap berat tongkol dengan kelobot.

Rataan berat tongkol dengan kelobot dari varietas dan persilangan dapat dilihat pada tabel 19.
Tabel 19. Rataan berat tongkol dengan kelobot dari Varietas dan Persilangan

Keterangan : Data yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5 %

Dari tabel 19 dapat dilihat bahwa rataan berat tongkol dengan kelobot tertinggi pada varietas terdapat pada V3 (162,209 g) dan terendah pada V1 (121,491 g).

Laju Pengisian Biji (g/hari)
Dari hasil sidik ragam dapat diketahui bahwa varietas berbeda nyata terhadap laju pengisian biji, persilangan tidak berpengaruh nyata terhadap laju pengisian biji, sedangkan interaksi tidak berpengaruh nyata terhadap laju pengisian biji.
Rataan laju pengisian biji dari varietas dan persilangan dapat dilihat pada tabel 20.

Tabel 20. Rataan laju pengisian biji dari Varietas dan Persilangan

Keterangan : Data yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5 %

Dari tabel 20. dapat dilihat bahwa rataan laju pengisian biji tertinggi pada varietas terdapat pada V3 (3,455 g/hari) dan terendah pada V1 (2,833 g/hari).

Heritabilitas

Dari data pengamatan di dapat bahwa nilai heritabilitas tinggi terdapat pada parameter tinggi tanaman 2 MST, 3 MST, 5-7 MST, jumlah daun 2 MST, umur panen, berat tongkol kering, berat tongkol dengan kelobot dan bobot biji pertongkol. Nilai heritabilitas sedang terdapat pada parameter tinggi tanaman 4 MST, jumlah daun 7 MST, umur keluar bunga jantan, umur keluar bungan betina, jumlah daun diatas tongkol, kelengkungan daun dan nilai heritabilitas rendah terdapat pada parameter jumlah daun 4 MST, jumlah daun 5 MST, jumlah daun 6 MST

Parameter H2
Tinggi Tanaman 2 MST (cm) 0,92t
Tinggi Tanaman 3 MST(cm) 0,53t
Tinggi Tanaman 4 MST (cm) 0,37s
Tinggi Tanaman 5 MST (cm) 0,78t
Tinggi Tanaman 6 MST (cm) 0,77t
Tinggi Tanaman 7 MST (cm) 0,94t
Jumlah Daun 2 MST (helai) 0,61t
Jumlah Daun 3 MST (helai) 0,05r
Jumlah Daun 4 MST (helai) 0,03r
Jumlah Daun 5 MST(helai) 0,04r
Jumlah Daun 6 MST (helai) 0,03r
Jumlah Daun 7 MST (helai) 0,41s
Umur Keluar Bunga Jantan (hari) 0,32s
Umur Keluar Bunga Betina (hari) 0,3s
Jumlah Daun Diatas Tongkol (helai) 0,32s
Kelengkungan Daun 0,37s
Umur Panen (hari) 0,87t
Berat Tongkol Kering (g) 0,89t
Berat Tongkol dengan Kelobot (g) 0,89t
Bobot Biji Pertongkol (g) 0,89t

Pembahasan

Dari hasil pengamatan dan sidik ragam (lampiran 1- 40) dapat dilihat bahwa varietas berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman tinggi tanaman 2 – 7 MST, umur keluar bunga jantan, umur keluar bunga betina,jumlah daun di atas tongkol, kelengkungan daun, umur panen , berat tongkol kering, berat tongkol tampa kelobot, dan bobot biji pertongkol. Dimana rataan tinggi tanaman 2 MST tertinggi pada varietas terdapat pada V3 (35,450 cm) dan terendah pada V2 (29,338 cm), rataan tinggi tanaman 3 MST tertinggi pada varietas terdapat pada V2 (57,075 cm) dan terendah pada V1 (52,650 cm), rataan tinggi tanaman 4 MST tertinggi pada varietas terdapat pada V1 (74,750 cm) dan terendah pada V2 (71,325 cm), rataan tinggi tanaman 5 MST tertinggi pada varietas terdapat pada V1 (111,250 cm) dan terendah pada V2 (99,800 cm), rataan tinggi tanaman 6 MST tertinggi pada varietas terdapat pada V1 (160,575 cm) dan terendah pada V2 (151,125 cm). rataan tinggi tanaman 7 MST tertinggi pada varietas terdapat pada V1 (200,338 cm) dan terendah pada V2 (189,263 cm). Rataan umur berbunga jantan tertinggi pada varietas terdapat pada V3 (52,281 hari) dan terendah pada V2 (48,906 hari). Rataan umur berbunga betina tertinggi pada varietas V3 (53,206 hari) dan terendah pada V2 (51,081 hari). Rataan jumlah daun diatas tongkol tertinggi pada varietas V1 dan V3 (6,094 helai) dan terendah pada V2 (5,781 helai). Rataan kelengkungan daun tertinggi pada varietas terdapat pada V3 (0,668) dan terendah pada V1 (0,596). Rataan umur panen tertinggi pada varietas terdapat pada V3 (89,600 hari) dan terendah pada V1 (82,431 hari). rataan umur panen tertinggi pada varietas terdapat pada V3 (89,600 hari) dan terendah pada V1 (82,431 hari), rataan jumlah biji pertongkol tertinggi pada varietas terdapat pada V3 (311,313 biji) dan terendah pada V1 (258,375 biji), rataan berat tongkol kering tertinggi pada varietas terdapat pada V3 (148,884 g) dan terendah pada V1 (108,166 g), rataan berat tongkol dengan kelobot tertinggi pada varietas terdapat pada V3 (162,209 g) dan terendah pada V1 (121,491 g). rataan berat tongkol dengan kelobot tertinggi pada varietas terdapat pada V3 (162,209 g) dan terendah pada V1 (121,491 g) dan rataan laju pengisian biji tertinggi pada varietas terdapat pada V3 (3,455 g/hari) dan terendah pada V1 (2,833 g/hari) Secara umum waktu yang digunakan ketiga varietas untuk parameter diatas secara fisiologis sangat berbeda dari yang terdapat pada deskripsinya. Terjadinya perbedaan antara parameter diduga disebabkan oleh faktor genetik dan juga lingkungan yang berbeda dari daerah asalnya. Hal ini sesuai dengan literatur Mangoendidjojo (2003) yang menyatakan variasi yang terjadi untuk setiap golongan tanaman dapat dijumpai berdasarkan faktor genetik dan lingkungan, misalnya kemampuan adaptasi akibat kondisi iklim dan sebagainya.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

1. Jagung adalah sebuah komoditas pangan yang sangat strategis posisinya setelah kebutuhan akan beras.
2. Teknik persilangan jagung secara alami di alami adalah tipe penyerbukan silang bebas.
3. Teknik penyerbukan buatan pada jagung meliputi hibridisasi dan selfing
4. Teknik hibridisasi akan menghasilkan jenis jagung hibrida yang mempunyai sifat yang unggul
5. Teknik selfing pada jagung di lakukan dengan cara menyatukan serbuk sari ke kepala putik dengan menggunakan kuas, dengan terlebih dahulu dilakukan penutupan pada alat kelamin jantan dan betina untuk menghindarkan penyerbukan silang bebas di alam

Saran

Sebaiknya dalam proses pengerjaan percobaan ini praktikan diajarkan bagaimana caranya menghitung dan mengolah data yang telah didapat, sehingga ilmu yang didapatkan oleh praktikan dapat berguna tidak hanya untuk saat ini saja, tetapi untuk pembuatan laporan-laporan selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA

Allard, R.W., 1992. Pemuliaan Tanaman 1. Penerjemah Manna. Rhineka Cipta, Jakarta

, 1994. Pemuliaan Tanaman 2. Penerjemah Manna. Rhineka Cipta, Jakarta

Decoteau, R.D., 2000. Vegetable Crops. Prentice Hall, New York

Ginting, S., 1995. Jagung. USU Press, Medan

Hasyim, H., 2008. Diktat Pengantar Pemuliaan Tanaman. USU Press, Medan

Makmur, A. 2003. Pemuliaan Lingkungan Tanaman Bagi Lingkungan Spesifik. IPB. Bogor

Mangoendidjojo, W., 2003. Dasar-Dasar Pemuliaan Tanaman. Kanisius, Yogyakarta

Nurmala, S.W.T, 1998. Serealia Sumber Karbohidrat Utama. Rhineka Cipta, Jakarta

Rukmana, H. R. 1997. Usaha Tani Jagung. Kanisius. Jakarta

Rubatzky E.V. dan Yamaguchi M., 1998. Sayuran Dunia I. Terjemahan Catur Horizon. ITB Press, Bandung

Suprapto, H., Machmud, M., Soewito, T., Pasaribu, D., Sutrisno, Adang, K., Nono, M., 1992. Hasil Penelitian Tanaman Pangan. Balai Penelitian Tanaman Pangan, Bogor

Splittstoesser, E.W., 1984. Vegetable Growing Hand Book. Second Edition. Von Nostrand Reinhold, New York

Steenis, V C E G J. 1978. Flora Untuk Sekolah Indonesia. PT. Prodaya Pramita.
Jakarta

Thompson, C.H. and Kelly., 1987. Vegetable Crops. Mc Graw Hill, New York

Warisno. 1998. Budidaya Jagung Hibrida. Kanisius. Jakarta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: