laporan hidroponik

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Hidroponik adalah istilah asingnya Hydroponics, adalah merupakan istilah yang digunakan untuk menjelaskan beberapa cara bercocok tanam tanpa menggunakan tanah sebagai tempat menanam tanaman. Istilah ini dikalangan umum lebih populer dengan sebutan berkebun tanpa tanah, termasuk dalam hal ini tanama dalam pot atau wadah lain yang menggunakan air tau bahan porous lainnya seperti kerikil, pecahan genteng, pasir kali, gabus putih dan lain-lainnya (Lingga, 1999).

Media tanam hidroponik berfungsi sebagai penegak tanaman agar tidak roboh dan juga sebagai penghantar cairan unsur hara. Jadi, ada beberapa jenis media tanam yang boleh dipakai, seperti pasir, tembikar, arang, dan sabut kelapa. Hanya, media yang akan kita gunakan itu harus kita sesuaikan dengan tanamannya. Apakah itu tanaman produktif seperti tomat, cabai atau terung, atau tanaman hias yang biasanya sering kita pindah-pindahkan. Nah, untuk tanaman hias disarankan menggunakan media tanam batu apung (Hasim, 1995).

Aglaonema adalah tanaman yang eksokotik. Daun Aglaonema sp. Ini biasanya berwarna hijau, dan daun yang muda berwarna lebih terang. Tulang-tulang daunnya tampak jelas dengan warna krem yang sedikit kemerahan. Demikian juga tangkainya daunnya, berwarna krem juga dengan sedikit kemerahan. Tanaman hias ini sangat cocok diletakkan diruang yang tertutup yang tidak terlalu luas, seperti di sudut ruang tamu, lorong-lorong, dan lain-lainnya (Redaksi Trubus, 1998).

Pemupukan mempunyai beberapa macam cara pemupukan, yaitu pemupukan melalui daun. Pemupukan melalui daun ini biasanya digunakan dalam pemupukan unsur hara mikro. Dikarenakan jumlahnya yang sedikit sehingga pemberian lebih merata dan efisien. Responnya terhadap pertumbuhan tanaman sangat cepat, pupuk yang digunakan haruslah pupuk cair atau larut sempurna dalam air. Konsentrasi larutan haranya tidak boleh terlalu pekat melebihi konsentrasi sel daun tanaman (Hasibuan, 2009).

Tanaman aglaonema suak pada keteduhan dan juga suka pada media tanam yang gembur dan lembap. Untuk itu, diharapkan diberikanlah pupk NPK dua minggu sekali secara teratur. Media tanamnya sebakinya terdiri dari campuran tanah kebun, pupuk kandang, dan humus (Hasim, 1995).

Dalam perkembangannya sejak mulai popular 40 tahun lampau, hidroponik telah banyak mengalami perubahan. Media yang digunakan lebih banyak yang sengaja dibuat khusus. Demikian juga dengan wadah-wadah yang digunakan, seperti pot. Ada yang sengaja dibuat khusus lengkap dengan alat penunjuk kebutuhan air, ada pula yang khusus seperti kerikil sintesis (perlit) (Untung, 2000).

Sebelum mulai mencoba hidroponik, hendaknya terlebih dahulu ditentukan tingkat suhu, kelembaban, serta jumlah sinar di tempat dimana kita mencoba hidroponik. Tingkat suhunya selain untuk mengatur tanaman dalam memperoleh energy, tapi juga erat kaitannya dengan kelembaban udara. Pada temperature 23ºC, kelembaban 40 % amat sesuai denagn tanaman. Sinar atau cahaya adalah salah satu bagian penting dalam proses fotosintesis      (Prihmantoro dan Indriani, 1999).

Tujuan Percobaan

Adapun tujuan dari penulisan jurnal ini adalah untuk mengetahui pola pertumbuhan tanaman Aglaonema sp. secara hidroponik.

Kegunaan Percobaan

–         Sebagai salah satu syarat untuk dapat mengikuti praktikal test di Laboratorium Fisiologi Tumbuhan, Fakultas pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan.

–         Sebagai bahan informasi bagi pihak yang membutuhkan.

TINJAUAN PUSTAKA

Botani Tanaman

Sistematika Aglaonema sp. Menurut Rukmana (1997) adalah seperti di bawah ini :

Kingdom          : Plantae

Divisio              : Magnoliophyta

Kelas               : Liliopsida

Ordo                : Alismatales

Family              : Araceae

Genus               : Aglaonema

Specis              : Aglaonema sp.

Akar tanaman Aglaonema sp. Adalah berakar serabut. Dengan warnanya yang putih yang menunjukkan bahwa tanaman Aglaonema sp. ini dalam keadaan sehat. Jika akarnya berwarna coklat maka menunjukkan bahwa tanaman Aglaonema sp. tersebut dalam keadaan tidak sehat atau sakit. Ukuran akarnya adalah berkisar 2-5 mm (http:// prosmayanti.blogspot.com, 2008).

Batang aglaonema berbuku-buku dan tidak berkayu dan batangnya cenderung berair. Batangnya berwarna putih, hijau, ataupun merah. Dengan ukuran yang relatif pendek dan kecil (http://unyitsflowers.blogspot.com, 2008).

Aglaonema memilki banyak ragam daun. Pada jenis spesies alam warna daunnya dominan hijau dan bercorak putih. Sedangkan pada jenis spesies hibrida warna daunnya ada yang berwarna merah. Daunnya menjadi daya tarik utama dan mempunyai pola warna yang bervariasi. Bentuk daunnya pun bervariasi (http://prosmayanti.blogspot.com, 2008).

Bunganya terbungkus oleh seludung yang berwana hijau pucat yang akan terbuka ketika bunga betinanya matang. Bunganya muncul di ketiak daun. Serbuk sari atau bunga jantannya terletak di bagian atas dan bunga betinanya terletak di bagian pangkal. Biasanya bunganya kurang menarik dibandingkan dengan bunga tanaman lain (http://unytisflowers.blogspot.com, 2008).

Buahnya berukuran diameter 1 cm. Buahnya akan muncul pada pangkal dengan bentuk tonjolan-tonjolan kecil. Sepintas buah aglaonema ini mirip dengan buah kopi. Buahnya akan matang setelah mencapai umur 8 bulan (http://prosmayanti.blogspot.com, 2008).

Syarat Tumbuh

Iklim

Tanaman Aglaonema sp. dapat tumbuh dengan baik di tempat yang terlindung namun tetap perlu kena sinar matahari, walaupun tidak terlalu banyak. Jika lokasi penanaman berada di daratan sedang, sebaiknya digunakan shading net 75% agar cahaya masuk hanya 25%. Semantara itu di dataran rendah sebaiknya menggunakan shading net 80-85% agar cahaya yang masuk hanya sekitar 20-15% (http://prosmayanti.blogspot.com, 2008).

Aglaonema membutuhkan lingkungan yang optimal, yaitu lingkungan yang memiliki suhu 20-24ºC dengan penyinaran yang sedikit dan kelembaban yang tinggi dengan cara perbanyakan melalui biji, pemisah rumput dan stek batang dengan batang yang memiliki akar dan tanaman di tempat terpisah (Palunkun, dkk, 1999).

Aglaonema dapat tumbuh ideal dan tumbuh dengan baik pada kondisi suhu di daerah dataran rendah ataupun di daerah datarn sedang. Kelembabannya sekitar 50-45%, dengan kelembaban aglaonema dapat tetap terlihat segar dan tunbuh dengan baik (http://prosmayanti.blogspot.com, 2008).

Tanah

Untuk memiliki tanaman aglaonema yang tumbuh sehat dan baik diantaranya adalah dengan menggunakan media dengan komposisi yang pas, media dengan tingkat keasaman atau pH dan porositas atau porous yang ideal sangatlah baik untuk pertumbuhan aglaonema (http://tanamanhidroponik.blogspot, 2009).

Mudah mengeluarkan kelebihan air adalah pengertian dari porous. Tingkat porositas yang dibutuhkan pada media tanam sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan, yaitu ketinggian, kelembaban pada daerah rendah dan panas serta curah hujan. Media tanam atau tanah sebaiknya harus bisa menahan air sehingga media tidak kekeringan (http://id.wikipedia.org, 2009).

PH yang cocok untuk tanaman aglaonema adalah pada PH 7 atau disebut juga PH netral yang kaya akan zat hara. Dengan begitu aglaonema dapat tumbuh dengan baik pada media. Angka pH selisih 0,5-1 masih dianggap ideal (http://tanamanhidroponik.blogspot.com, 2009).

Umumnya derajat keasaman suatu larutan pupuk berada pada kisaran pH 5,5-6,5 atau bersifat asam. Pada kisaran tersebut daya larut unsur-unsur hara makro dan mikro sangatlah baik. Bila angkanya berada di bawah pH 5,5 atau di atas pH 6,5 maka daya larut unsur hara tidak sempurna lagi. Bahkan, unsur hara mulai mengendap sehingga tidak dapat diserap oleh akar tanaman. Akibatnya adalah tanaman akan menampakkan gejala defisiensi unsur hara tertentu (Sutiyoso, 2003).

Pada habitat aslinya, tanaman ini tumbuh pada ketinggian dan lapisan humus yang ideal untuk pertumbuahannya. Dalam pembudidayaan, tanaman ini dapat  di tanam pada media berbahan humus, arang sekam, sekam lapuk, pasir kasar dan tanah-tanah kebun (Rukmana, 1997).

Hidroponik

Hidroponik adalah sebuah istilah yang menaungi banyak macam metoda. Prinsip-prinsip dasar hidroponik dapat diterapkan dalam macam cara, yang dapat disesuaikan dengan persyaratan-persyaratan finansial maupun keterbatasan ruang pada tiap orang yang ingin mengerjakannya. Metoda-metoda bercocok tanam hidroponik yang telah dikembangkan selama 45 tahun ini, dapat dibagi menjadi beberapa kategori. Pada metoda menggunakan air, tumbuh-tumbuhan ditanam semata-mata dalam air yang dilengkapi dengan larutan zat makanan. Metoda yang menggunakan pasir menuntut penanaman tumbuh-tumbuhan pada pasir yang disteril, ke dalamnya sejumlah air dan larutan zat makanan dipompakan masuk. Metoda agregasi menggantikan pasir dan dengan menggunakan serentetan material, seperti kerikil (Nicholls, 1996).

Cara pemberian pupuk yang umu dilakukan dengan menabur ke tanah atau menyemprotkan ke daun. Akan tetapi, pada hidroponik pupuk diberikan dalam bentuk larutan dan lebih dikenal dengan istilah nutrien. Kandungan unsur hara yang dibutuhkan untuk tanaman hidroponik tidak berbeda dengan tanaman di media tanah. Unsur hara yang dibutuhkan terdiri dari unsur makro (N, P, K, Ca, Mg, dan S) dan unsur mikro (Mn, Cu, Mo, Zn, dan Fe) (Palungkun, dkk, 1999).

Beberapa hal yang dapat menyebabkan hidroponik gagal dan kurang subur adalah tanamannya belum mengalami adaptasi, terjadi kesalahan dalam melakukan hidroponiknya. Contohnya batu apungnya kurang bersih atau kurang steril dari garam-garam mineral dan pasir (Hasim, 1995).

Bila menggunakan metoda kultur porous atau agregat biasanya harus disterilkan terlebih dahulu kerikil-kerikilnya. Mensterilkannya adalah dengan cara jalan pemanasan atau bisa pula dengan menyikatnya sampai bersih dengan menggunakan air sabun yang hangat. Menggunakan media kultur porous ini tergolong mudah. Hanya saja bila menggunakan media ini tanaman akan mudah kering, berarti kita harus rajin-rajin menyiramnya (Lingga, 1999).

Media tanam hidroponik harus memenuhi persyaratan sebagai berikut, yaitu dapat menyerap dari penghantar air, tidak mempengaruhi pH air, tidak mengubah warna, tidak mudah lapuk dan membusuk. Media tanam kultur hidroponik dapat dibagi menjadi dua, yaitu media tanam anorganik, contohnya batu apung yang berasal dari bebatuan larva gunung berapi. Sifatnya ringan, sukar lapuk, tidak mempengaruhi pH, porous mudah menyerap dan menyimpan air, serta mengalirkan air dalam jumlah yang banyak. Batu apung terbaik untuk media tanam hidroponik perlu direkayasa menjadi sebesar kerikil Fitter dan Hay, 1984).

Keuntungan bercocok tanam tanpa media tanah adalah : 1.) produksi tanaman lebih tinggi dibandingkan menggunakan media tanah biasa, 2.) lebih terbebas dari hama dan penyakit tanaman, 3.) tanaman lebih cepat tumbuh dan penggunaan pupuk lebih hemat, 4.) bila ada tanaman yang mati dapat langsung diganti dengan mudah dengan tanaman lain, 5.) kualitas bunga, buah, dan daun lebih baik dan tidak mudah kotor, 6.) keterbatasan ruang dan tempat bukanlah halangan (Lakitan, 2004).

Bayfolan

Yang dimaksud dengan bayfolan adalah pupuk cair yang berbentuk cair yang lengkap sebagai bahan makanan serta foliar dan akar, cocok untuk semuajenis tanaman agrikultural dan hortikultural serta tanaman-tanaman hias dan tanaman rumah (http://eapindo.com, 2009).

Bayfolan merupakan pupuk daun yang merupakan pupuk organik yang dirancang sebagai makanan seimbang yang sudah lengkap dengan unsur hara makro (N, P, K, Ca, Mg, dan S) dan juga unsur hara mikro (B, Fe, Mn, Cu, Zn, Mo, Co, dan Cl) untuk berbagai jenis tanaman (Lingga dan Marsono, 2001).

Untuk tanaman hidroponik, pupuk yang diberikan dalam bentuk larutan dan lebih dikenal dengan istilah nutrien. Nutrien atau kandungan unsur hara yang dibutuhkan untuk tanaman hidroponik adalah tidak berbeda dengan tanaman pada media tanah. Unsur hara yang diberikan atau dibutuhkan terdiri dari unsur hara makro (N, P, K, Ca, Mg, dan S) dan juga unsur hara mikro (B, Fe, Mn, Cu, Zn, Mo, Co, dan Cl)  (Palungkun, dkk, 1999).

Pupuk daun bayfolan ini juga mengandung antibiotik atau pemusnah kuman serta vitamin yang berfungsi untuk mengaktifkan sel-sel yang rusak atau sel-sel yang mati, mendorong pertumbuhan sel-sel baru, merangsang pertumbuhan batang, daun, agar lebih menghijau serta agar bunga lebih meningkat (http://digilib.umm.ac.id, 2008).

Kunci yang paling utama yang sangat perlu diperhatikan adalah memahami setiap unsur mineral yang diberikan serta fungsinya untuk tanaman. Garam pupuk yang akan diberikan harus harus mengandung semua unsur-unsur yang dibutuhkan oleh tanaman. Garam pupuk ini kita larutkan dengan kepekatan tertentu. Kemudian, kita siramlah dengan frekuensi yang tertentu pula       (Lingga, 1999).

Cara pemakaian pupuk daun adalah :

–    Kepekatan larutan = jumlah pupuk yang harus dilarutkan /liter air, misalnya adalah 1 gram pupuk /l air, 1 ml pupuk /l air

–    Dosis pupuk = jumlah larutan pupuk yang diperlukan setiap tanaman

1. Diperlukan alat semprot untuk pemupukandengan pupuk daun

2. Disemprotkan ke bagian daun yang menghadap ke bawah, karena mulut daun umumnya menghadap ke bawah

3. Penyemprotan dilakukan pada sore hari / pagi saat matahari tidak terik

4. Penyemprotan jangan dilakukan menjelang hujan, agar tidak habis tercuci oleh air hujan

5. Dosis pupuk per tanaman sudah ditetapkan sulit diaplikasikan maka penyemprotan dianggap cukup apabila daun sudah basah

6. Tanaman yang baru dipindahkan tangan disemprot dengan pupuk daun

(Hardjowigeno, 2007).



BAHAN DAN METODE

Tempat dan Waktu Percobaan

Percobaan ini dilakukan di Laboratorium Fisiologi Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan, pada tanggal 28 Agustus 2009, di atas ketinggian 25 m dpl.

Bahan dan Alat

Adapun bahan yang dipergunakan dalam percobaan ini adalah    Aglaonema sp. berfungsi sebagai tanaman yang akan ditanam, batu apung berfungsi sebagai media tanamnya, bayfolan berfungsi sebagai pupuk cair yang akan disemprot ke tanaman, gabus berfungsi sebagai penyerap air, lidi berfungsi sebagai media gabus, label nam berfungsi sebagai penanda, air berfungsi sebagai media tanam.

Adapun alat yang dipergunakan dalam percobaan ini adalah ember berfungsi sebagai media tanam Aglaonema sp., alat tulis berfungsi sebagai alat untuk mencatat data-data tanaman, tipe x berfungsi sebagai penanda,  pisau berfungsi sebagai alat pemotong, gunting berfungsi sebagai alat pemotong, pipa paralon berfungsi sebagai saluran air, dan penggaris berfungsi sebagai alat pengukur.

Prosedur Percobaan

–         Disterilkan batu apung dengan cara direbus dalam air panas selama lebih kurang 30 menit

–         Dibersihkan akar tanaman dari kotoran dan bagian akar yang sudah mati

–         Diamsukkan batu apung lebih kurang ⅓ bagian ember dan dimasukkan pipa paralon tegak di tengah pot

–         Dimasukkan tanaman aglaonemadan diisi batu apung lagi hingga tertutup akar tanamannya

–         Dimasukkan akar gabus yang telah ditusuk lidi pada pipa paralon yang ada di dalam pot untuk mengetahui ketinggian air

–         Diberi pupuk bayfolan setelah seminggu

–         Diamati tanaman pada tiap minggunya

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

  1. Dari hasil pengamatan diperoleh bahwa pada minggu pertama atau awal penanaman hidroponik, jumlah daunnya adalah 9 helai dengan 7 daun segar, 1 daun agak robek, dan 1 lagi daun bolong.
  2. Dari hasil pengamatan diperoleh bahwa pada minggu ketiga atau 3 MST tidak terjadi peningkatan pada jumlah daunnya, yaitu sebesar 9 helai dengan 7 daun segar, 1 daun agak robek, dan 1 lagi daun bolong.
  3. Dari hasil pengamatan diperoleh bahwa pada minggu kelima atau 5 MST juga tidak terjadi peningkatan pada jumlah daunnya, yaitu sebesar 9 helai dengan 7 daun segar, 1 daun agak robek, dan 1 lagi daun layu berwarna cokelat.
  4. Dari hasil pengamatan diperoleh bahwa pada minggu ketujuh atau 7 MST terjadi peningkatan jumlah daun, yaitu sebesar 10 helai dengan 8 daun segar, 1 daun robek, dan 1 lagi daun layu berwarna cokelat.
  5. Dari hasi pengamatan diperoleh bahwa pada minggu kedelapan atau pengambilan data terakhir, tidak terjadi lagi peningkatan pada jumlah daun, yaitu sebesar 10 helai dengan 8 daun segar, 1 daun robek, dan 1 lagi daun layu yang sudah mati.

Saran

Dalam percobaan ini, sebaiknya batu apung yang merupakan media tanam terlebih dahulu direbus agar benar-benar steril dan tanaman jangan sampai tidak disiram agar pertumbuhannya optimum.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: