BUDIDAYA KENTANG HITAM ( Soleneotemon rotundifolius (Poir) J. K. Mort.) PADA TANAH MINERAL MASAM

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Tampilan pertumbuhan yang diperlihatkan Kentang hitam (Soleneotemon rotundifolius (Poir) J. K. Mort.) pada dataran rendah Bengkulu sangat baik. Tampilan ini merupakan hasil uji coba pada dataran rendah di ketinggian 6 m dpl pada lahan lahan percobaan (Priyadi dan Hodiyah, 2001).
Kentang Hitam merupakan tanaman pangan yang potensial sebagai sumber pangan alternatif, namun pembudidayaan di masyarakat saat ini semakin langka. Tanaman ini merupakan lumbung pangan karena biasanya ditanam di pekarangan dan dipanen bila diperlukan. Kentang hitam merupakan tanaman pangan yang mempunyai kandungan karbohidrat yang tinggi, khususnya pati (Suwandi dan Ashandi, 1986).
Kentang hitam disebut juga tanaman obat-obatan karena berkhasiat untuk
penyembuhan penyakit maag. Daun Kentang Hitam menyerupai daun nilam dengan bagian pinggir daun bergerigi, dan bunga berbentuk memanjang ke atas bewarna unggu. Kerabat tanaman ini merupakan tanaman hias populer (koleus) (Subhan dan Asahndi, 1998).
Umbi kentang hitam berukuran kecil, sebesar ibu jari dan berwarna coklat tua hingga hitam. Umbi mengandung gizi sampai 21.9% karbohidrat dan sekitar 1.3% protein (Nkansah, 2004).
Kentang hitam relatif resisten terhadap penyakit namun sangat peka terhadap nematoda. Perawatan pada budidaya kentang hitam relatif mudah dan murah (Yamaghuci dan Rubatzky, 1998).
Adaptasi Kentang Hitam yang berasal dari dataran rendah pantai Timur Sumatera ke dataran pantai Barat Sumatera cukup baik. Hal ini terlihat dari pertumbuhan dan hasil dari adaptasi di dataran rendah pantai Barat Bengkulu ( Suhardi, 2002).
Konsumsi kentang hitam untuk pasar tradisional mencakup 80 persen dari total kentang di Indonesia, belum lagi peluang pasar lainnya seperti swalayan, restoran dan untuk baku industri (Sunarjono, 1975).
Kentang juga merupakan komoditas hortikultura yang paling berpeluang untuk pengembangan agribisnis dan agroindustri dibandingkan dengan komoditas hortikultura lainnya. Besarnya peluang ini disebabkan harga kentang relatif stabil, potensi bisnisnya tinggi, segmen usaha dapat dipilih sesuai dengan modal, pasar terjamin dan pasti (Http://teknis-budidaya.blogspot.com, 2010).
Tujuan Percobaan
Adapun tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui Budidaya Kentang Hitam (Soleneotemon rotundifolius (Poir) J. K. Mort.) Pada Tanah Mineral Masam
Kegunaan Percobaan
– Sebagai salah satu syarat untuk dapat mengikuti pra praktikal tes di Laboratorium Budidaya Tanaman Hortikultura Universitas Sumatera Utara, Medan.
– Sebagai bahan informasi bagi pihak yang membutuhkan.
TINJAUAN PUSTAKA
Botani Tanaman
Menurut wikipedia (2010), menyatakan bahwa Kentang hitam (Soleneotemon rotundifolius (Poir) J. K. Mort.) dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
Kingdom : Plantae
Divisio : Spermatophyta
Subdivisio : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Lamiales
Famili : Lamiaceae
Genus : Soleneotemon
Spesies : Soleneotemon rotundifolius (Poir) J. K. Mort.
Akar membentuk sistem umbi dengan perakaran memanjang ke dalam tanah memebentuk akar halus dari umbi dan percabanganya. Akar berasal dari titik mata tunas dan dapat dijadikan sebagai penyokong alat perkembangbiakan (Rukmana, 1997).
Batang menjalar dipermukaan tanah berwarna hijau sedikit kemerahan. Batang silindris dan berbulu. Batang memebnetuk sisitem percabangan pada setiap sisinya(Wikipedia, 2010).
Daun Kentang Hitam menyerupai daun nilam dengan bagian pinggir daun bergerigi terdiri dari daun yang merumpun dan menjalar diatas permukaan \tanah berwarna hijau mudah dan sedikit oval (Wienny., 1999).
Bunga terdiri dari bunga tunggal yang tumbuh pada setiap percabangan. Berwarna ungu terdiri dari serbuk sari, dan kepala putik (Rukmana, 1997).
Umbi kentang hitam berukuran kecil, sebesar ibu jari dan berwarna coklat tua hingga hitam. Umbi mengandung gizi sampai 21.9% karbohidrat dan sekitar 1.3% protein (Nkansah, 2004).
Buah kentang berwarna hiaju agak membulat, buah menghaslkan biji untuk perkembangan kentang. Namun sebelum buah berkembang biasanya buah telah dipanen. Perkembangan buah dianggap tidak begitu berarti sebab yang dimanfaatkan adalah umbi sebagai produksi dalam pembudidayaan tanaman (Http://teknis-budidaya.blogspot.com, 2010).
Syarat Tumbuh
Iklim
Tanaman kentang hitam ini dapat tumbuh pada ketinggian 40-1.300 m dpl dan menyukai tanah yang gembur serta berdrainase baik (Suhardi, 2002). Kentang Hitam tumbuh toleran terhadap suhu panas, dan dapat berproduksi dengan baik pada daerah dengan curah hujan 2500 – 3300 mm per tahun. Tanaman kentang hitam tumbuh baik pada tanah ber-pH 4,9 – 5,7 (Suhardi, 2002).
Pertumbuhan tanaman kentang sangat dipengaruhi oleh keadaan cuaca. Tanaman kentang tumbuh baik pada lingkungan dengan suhu rendah, yaitu 15 sampai 20 oC, cukup sinar matahari, dan kelembaban udara 80 sampai 90 % (Sunarjono, 1975).
Kentang termasuk tanaman yang dapat tumbuh di daerah tropika dan subtropika (Ewing dan Keller, 1982), dapat tumbuh pada ketinggian 500 sampai 3000 m di atas permukaan laut, dan yang terbaik pada ketinggian 1300 m di atas permukaan laut (Wikipedia, 2010).
Tanah
Kentang Hitam tumbuh baik pada tanah mineral masam marjinal. Karakteristik kimia pada media pertanaman Kentang Hitam adalah bersifat masam dengan pH 4.80, dengan kandungan N-total termasuk rendah yaitu 0.14%, P-tersedia rendah dengan kandungan 9.20 ppm, dan Al-dd sebesar 1.36 me 100g-1. Ketersediaan kation-kation basa termasuk sedang dengan kandungan Ca, Mg, K, dan Na berturut-turut 6.18; 2.64; 0.42; dan 0.56 me 100g-1. Bahan organik termasuk sedang dengan kandungan C-organik sebesar 2.15% (Nkansah, 2004).
Susunan fraksi tanah dengan kandungan pasir sebesar 21.60%, debu sebesar 47.75%, dan liat sebesar 30.65% dan termasuk kelas tekstur lempung berliat. Pengolahan tanah sebelum penanaman memberikan ruang tumbuh yang baik bagi pertumbuhan tanaman dan perkembangan umbi Kentang hitam ( Suhardi, 2002).
Tanaman kentang hitam tumbuh baik pada tanah ber-pH 4,9 – 5,7. Kentang hitam relatif resisten terhadap penyakit namun sangat peka terhadap nematoda (Suhardi, 2002).
Media yang cocok untuk budidaya tanaman kentang, yakni media tanah dengan struktur remah, gembur, banyak mengandung bahan organik, berdrainase baik dan memiliki lapisan olah yang dalam (Rukmana, 1997).
BUDIDAYA KENTANG HITAM
Pembibitan Kentang Hitam
Umbi bibit berasal dari umbi produksi berbobot 30-50 gram, umur 150-180 hari, tidak cacat, dan varitas unggul. Pilih umbi berukuran sedang, memiliki 3-5 mata tunas dan hanya sampai generasi keempat saja. Setelah tunas + 2 cm, siap ditanam. Bila bibit membeli (usahakan bibit yang bersertifikat), berat antara 30-45 gram dengan 3-5 mata tunas( Wikipedia , 2010).
Setelah dilakukan seleksi terhadap bibit, kemudian dikeringanginkan selama dua minggu, dilanjutkan perlakuan bibit dengan pestisida. Pestisida yang digunakan adalah bakterisida berbahan aktif Streptomisin sulfat dan fungisida berbahan aktif Benomil ( Suhardi, 2002).
Bibit kemudian dimasukkan ke dalam kotakkotak kayu bercelah dengan ukuran 60 x 40 x 30 cm yang telah dilapisi dengan kertas koran bekas pada bahagian dalamnya. Kotak diisi 3/4 bagian (20-30 kg umbi kentang). Kemudian ditutup dengan kain kasa dan disimpan pada gudang penyimpanan secara selang-seling dengan tujuan supaya sirkulasi udara merata, dan bibit kentang bertunas dengan normal (Http://teknis-budidaya.blogspot.com, 2010).
Pengolahan Media Tanam Kentang
Pengolahan tanah dilakukan dua kali yaitu olah pertama dengan traktor sedalam 20-30 cm, kemudian diistirahatkan dua minggu yang bertujuan untuk memperbaiki aerasi tanah(Suhardi, 2002).
Olah tanah kedua dapat dilakukan dengan cangkul untuk membersihkan rumput-rumput atau gulma yang terdapat dipermukaan tanah, bedengan dibuat dengan lebar 70 cm (1 jalur tanaman)/140 cm (2 jalur tanaman), tinggi 30 cm dan buat saluran pembuangan air sedalam 50 cm dan lebar 50 cm (Nkansah, 2004).
Pada lahan tersebut disiapkan tiga blok yang dipisahkan dengan jarak antar blok 1 m dan jarak antar petak 0,5 m. Tiap blok terdiri atas 16 petak, setiap petak berukuran 2,0 m x 1,5 m dan satu petak berisi 12 tanaman. Sebagai pupuk dasar pupuk N dengan dosis 30 kg ha-1 yang diberikan 2 kali yaitu 1/3 saat tanam dan 2/3 pada saat empat minggu setelah tanam, 50 kg ha-1 P2O5 dan 60 kg ha-1 K2O (Http://teknis-budidaya.blogspot.com, 2010.).
.Pengendalian Hama dan Penyakit
Beberapa jenis hama yang umum pada tanaman kentang diantaranya adalah :
– Ulat grayak (Spodoptera litura)
– Gejala: ulat menyerang daun hingga habis daunnya. Pengendalian: (1) memangkas daun yang telah ditempeli telur; (2) penyemprotan Natural Vitura dan sanitasi lingkungan.
– Kutu daun (Aphis Sp.)
Gejala: kutu daun menghisap cairan dan menginfeksi tanaman, juga dapat menularkan virus. Pengendalian: memotong dan membakar daun yang terinfeksi, serta penyemprotan Pestona atau BVR.
– Orong-orong (Gryllotalpa Sp.)
Gejala: menyerang umbi di kebun, akar, tunas muda dan tanaman muda. Akibatnya tanaman menjadi peka terhadap infeksi bakteri. Pengendalian: Pengocoran Pestona.
– Hama penggerek umbi (Phtorimae poerculella Zael.)
Gejala: daun berwarna merah tua dan terlihat jalinan seperti benang berwarna kelabu yang merupakan materi pembungkus ulat. Umbi yang terserang bila dibelah, terlihat lubang-lubang karena sebagian umbi telah dimakan. Pengendalian : Pengocoran Pestona.
– Hama trip ( Thrips tabaci )
Gejala: pada daun terdapat bercak-bercak berwarna putih, berubah menjadi abu-abu perak dan mengering. Serangan dimulai dari ujung-ujung daun yang masih muda. Pengendalian: (1) memangkas bagian daun yang terserang; (2) mengunakan Pestona atau BVR
(Http://teknis-budidaya.blogspot.com, 2010).
Berikut jenis-jenis penyakit yang umum dijumpai pada tanaman kentang yaitu
– Penyakit busuk daun
Penyebab: jamur Phytopthora infestans. Gejala: timbul bercak-bercak kecil berwarna hijau kelabu dan agak basah hingga warnanya berubah menjadi coklat sampai hitam dengan bagian tepi berwarna putih yang merupakan sporangium dan daun membusuk/mati. Pengendalian: sanitasi kebun. Pencegahan dengan penggunaan Natural Glio pada sebelum atau awal tanam.
– Penyakit layu bakteri
Penyebab: bakteri Pseudomonas solanacearum. Gejala: beberapa daun muda pada pucuk tanaman layu dan daun tua, daun bagian bawah menguning. Pengendalian: sanitasi kebun, pergiliran tanaman. Pencegahan dengan penggunaan Natural Glio pada sebelum atau awal tanam.
– Penyakit busuk umbi
Penyebab: jamur Colleotrichum coccodes. Gejala: daun menguning dan menggulung, lalu layu dan kering. Bagian tanaman yang berada dalam tanah terdapat bercak-bercak berwarna coklat. Infeksi akan menyebabkan akar dan umbi muda busuk. Pengendalian: pergiliran tanaman , sanitasi kebun dan penggunaan bibit yang baik. Pencegahan dengan penggunaan Natural Glio pada sebelum atau awal tanam
– Penyakit fusarium
Penyebab: jamur Fusarium sp. Gejala: busuk umbi yang menyebabkan tanaman layu. Penyakit ini juga menyerang kentang di gudang penyimpanan. Infeksi masuk melalui luka-luka yang disebabkan nematoda/faktor mekanis. Pengendalian: menghindari terjadinya luka pada saat penyiangan dan pendangiran. Pencegahan dengan penggunaan Natural Glio pada sebelum atau awal tanam.
– Penyakit bercak kering (Early Blight)
Penyebab: jamur Alternaria solani. Jamur hidup disisa tanaman sakit dan berkembang di daerah kering. Gejala: daun berbercak kecil tersebar tidak teratur, warna coklat tua, meluas ke daun muda. Permukaan kulit umbi berbercak gelap tidak beraturan, kering, berkerut dan keras. Pengendalian: pergiliran tanaman. Pencegahan : Natural Glio sebelum/awal tanam
– Penyakit karena virus
Virus yang menyerang adalah: (1) Potato Leaf Roll Virus (PLRV) menyebabkan daun menggulung; (2) Potato Virus X (PVX) menyebabkan mosaik laten pada daun; (3) Potato Virus Y (PVY) menyebabkan mosaik atau nekrosis lokal; (4) Potato Virus A (PVA) menyebabkan mosaik lunak; (5) Potato Virus M (PVM) menyebabkan mosaik menggulung; (6) Potato Virus S (PVS) menyebabkan mosaik lemas. Gejala: akibat serangan, tanaman tumbuh kerdil, lurus dan pucat dengan umbi kecil-kecil/tidak menghasilkan sama sekali; daun menguning dan jaringan mati. Penyebaran virus dilakukan oleh peralatan pertanian, kutu daun Aphis spiraecola, A. gossypii dan Myzus persicae, kumbang Epilachna dan Coccinella dan nematoda. Pengendalian: tidak ada pestisida untuk mengendalikan virus, pencegahan dan pengendalian dilakukan dengan menanam bibit bebas virus, membersihkan peralatan, memangkas dan membakar tanaman sakit, mengendalikan vektor dengan
Pestona atau BVR dan melakukan pergiliran tanaman
(Wikipedia, 2010).
Jika pengendalian hama penyakit dengan menggunakan pestisida alami belum mengatasi dapat dipergunakan pestisida kimia yang dianjurkan. Agar penyemprotan pestisida kimia lebih merata dan tidak mudah hilang oleh air hujan tambahkan Perekat Perata AERO 810, dosis + 5 ml (1/2 tutup)/tangki ( Suhardi, 2002).

Pemeliharaan Tanaman
Pemeliharan tanaman mencakup penyulaman yaitu untuk mengganti tanaman yang tidak tumbuh/tumbuhnya jelek dilakukan 15 hari semenjak tumbuh (Nkansah, 2004).
Pada varietas kentang yang berbunga sebaiknya dipangkas untuk mencegah terganggunya proses pembentukan umbi, karena terjadi perebutan unsur hara. Kemudian dilanjutkan dengan pengairan. Pengairan 7 hari sekali secara rutin dengan di gembor, Power Sprayer atau dengan mengairi selokan sampai areal lembab (sekitar 15-20 menit) ( Suhardi, 2002).
Pupuk yang diberikan :
1) Urea/ZA: 21 hari setelah tanam 300 kg/ha dan 45 hst 150 kg/ha.
2) SP-36: 21 hst 250 kg/ha.
3) KCl: 21 hst 150 kg/ha dan 45 hst 75 kg/ha.
Pupuk diberikan jarak 10 cm dari batang tanaman
(Wikipedia, 2010).
Penyiangan
Penyiangan dilakukan minimal dua kali selama masa penanaman 2-3 hari sebelum/bersamaan dengan pemupukan susulan dan penggemburan ( Rukmana, 1997).
Penyiangan sebaiknya dilakukan secara efektif mula pertumbuhan vegetatif tanaman sebab akan dapat mempengaruhi perkembangan dan pertumbuhan umbi pada kentang (Wikipedia, 2010).
Penyiangan bertujuan untuk mengnedalikan populasi gulama agar lebih toleran pada tanman kentang. Penyiangan yang tepat adalah pada saat mulai pertumbuha vegetatif(Suhardi, 2002).
Pengelolaan Panen
Umur panen kentang berbeda menurut jenisnya, tetapi umumnya dipanen saat berumur 3-4 bulan setelah tanam. Setelah panen, sebaiknya kentang dipungut seminggu setelah daun dan ujung batangnya kering( Rukmana, 1997).
Bila belum kering, mutu umbinya akan rendah dan kulitnya akan lecet sehingga tidak bisa dijadikan bibit. Penggalian untuk memungut umbi harus berhati-hati jangan sampai umbinya terluka kena cangkul atau alat penggali lainnya ( Suhardi, 2002).
Kemampuan produksi Kentang Hitam > 10 ton ha-1 dengan waktu panen 3 bulan menunjukkan bahwa Kentang Hitam cukup potensial untuk mendiversifikasi sumber karbohidrat sebagai bahan pangan masyarakat yang bersifat eksotis (Rukmana, 1997).

PERBANYAKAN TANAMAN KENTANG HITAM
Perbanyakan tanaman dapat dilakukan dengan stek batang sepanjang 10-15 cm atau umbi. Lahan untuk penanaman kentang hitam memerlukan penambahan pupuk organik berserat yang terkompos dengan baik. Masa panen dapat dilakukan 150-200 hari setelah tanam dan pemupukan NPK (16-8-8) lebih kurang 125 kg ha-1 (Nkansah, 2004).
Perbanyakan bibit Kentang Hitam dilakukan dengan menggunakan stek batang berukuran 10 cm yang dibibitkan pada polibag yang berisi campuran tanah mineral dan kompos. Tanaman muda berumur 2 minggu dipindahkan ke lahan tanam yang telah disiapkan terlebih dahulu. (Nkansah., 2004).
Kentang hitam relatif resisten terhadap penyakit namun sangat peka terhadap nematoda. Perawatan pada budidaya kentang hitam relatif mudah dan murah. Kentang hitam dapat dipanen dalam waktu tiga bulan dengan hasil berkisar 7 – 20 ton ha-1 (Wikipedia, 2008).
Tanaman muda berumur 2 minggu dipindahkan ke lahan tanam yang telah disiapkan terlebih dahulu. Pada lahan tersebut disiapkan tiga blok yang dipisahkan dengan jarak antar blok 1 m dan jarak antar petak 0,5 m (Rukmana, 1997).
Sebenarnya kentang hitam dapat tumbuh secra umum di wilayah sumatera. Adaftasi kentang hitam secara khusus berasal dari dataran re ndah pantai timur sumatera ke dataran pantai barat sumatera cukup baik dan optimal karena sesuai dengan syarat tumbuhnya. Untuk sumatera utara sebenranya dapat tumbuh namun belum optimal karena untuk di sumatera pengaruh intrusi air laut tidak begitu bantyak. Dan lagi kentang hitam menghendaki tanah yang bersifat masam sedangkan di sumatera utara umumnya tanahnya mineral dengan pH 6,5. Hal ini sesuai dengan literatur Nkansah(2004) menyatakan bahwa karakteristik media paada pertanaman kentang hitam adalah bersifat masam dengan pH4,80.

Gambar 1: Tampilan Kentang Hitam Pada Tanah Mineral Masam

KENTANG HITAM PADA TANAH MINERAL MASAM
Kentang Hitam tumbuh baik pada tanah mineral masam marjinal. Karakteristik kimia pada media pertanaman Kentang Hitam adalah bersifat masam dengan pH 4.80, dengan kandungan Ntotal termasuk rendah yaitu 0.14%, P-tersedia rendah dengan kandungan 9.20 ppm, dan Al-dd sebesar 1.36 me 100g-1 ( Nkansah, 2004).
Ketersediaan kation-kation basa termasuk sedang dengan kandungan Ca, Mg, K, dan Na berturut-turut 6.18; 2.64; 0.42; dan 0.56 me 100g- 1. Bahan organik termasuk sedang dengan kandungan C-organik sebesar 2.15%. Jenis tanah diklasifikasikan sebagai Tipik Haplohumult. Susunan fraksi tanah dengan kandungan pasir sebesar 21.60%, debu sebesar 47.75%, dan liat sebesar 30.65% dan termasuk kelas tekstur lempung berliat (Suhardi, 2002).
Pengolahan tanah sebelum penanaman memberikan ruang tumbuh yang baik bagi pertumbuhan tanaman dan perkembangan umbi Kentang Hitam (Rukmana, 1997).
Tampilan tanaman Kentang Hitam yang ditumbuhkan pada tanah mineral masam Tipik Haplohumult sangat baik antara lain ditunjukkan oleh rata-rata panjang tanaman umur panen 3 bulan yaitu 110 cm dengan tanaman terpanjang 179 cm, dan jumlah cabang rata-rata sebanyak 26 buah dan jumlah cabang tertinggi sebanyak 44 cabang (Wikipedia, 2010).
Kemampuan produksi Kentang Hitam > 10 ton ha-1 dengan waktu panen 3 bulan menunjukkan bahwa Kentang Hitam cukup potensial untuk mendiversifikasi sumber karbohidrat sebagai bahan pangan masyarakat yang bersifat eksotis (Nkansah, 2004).

KESIMPULAN
1. Kentang Hitam sangat adaptif ditumbuhkan pada dataran rendah pantai Barat Bengkulu yang beriklim panas dengan curah hujan rata-rata bulanan 265 mm dan hari hujan 19 hari bulan-1, suhu rata-rata harian 26.5 0C, suhu rata-rata maksimum 32.90C dan suhurata-rata minimum 22.2 0C, dan kelembaban nisbi rata-rata 84%.
2. Kentang Hitam tumbuh baik pada tanah mineral masam marjinal dengan pH 4.8 dan Aldd 1.36 me 100g-1
3. Pertumbuhan Kentang Hitam pada umur panen 3 bulan memberikan hasil > 10 ton Ha-1
4. Kentang hitam memiliki daya adaftasi yang luas dan dapat tumbuh optimal pada tanah masam
5. Pada tanah mioneral masam tanaman kentang hitam masih mampu berproduksi dan memberikan kuantiitas yang mencukupi.

DAFTAR PUSTAKA
Http://teknis-budidaya.blogspot.com, diakses 28 Oktober 2010.
Nkansah, G. O. 2004. Solenostemon rotundifolius (Poir.) J. K. Morton. PROTA 2 : Vegetables/ Legumes. Wageningen, Netherlands.
Priyadi, R., dan I. Hodiyah. 2001. Pengaruh takaran porasi kotoran domba terhadap hasil kentang (Solanum tuberosum L.) kultivar Granola. Jurnal Penelitian Lembaga Penelitian Universitas Siliwangi Edisi Khusus Juni 2002.
Rukmana, R. 1997. Kentang budidaya dan pasca panen. Kanisius, Yogyakarta.
Sarief, S. 1989. Kesuburan dan Pemupukan Tanah Pertanian. Pustaka Buana, Bandung.
Subhan, dan A.A. Asandhi. 1998. Pengaruh penggunaan pupuk urea dan ZA terhadap pertumbuhan dan hasil kentang di dataran medium. Jurnal Hortikultura 8 (1).
Sunarjono, H. 1975. Budidaya kentang. N.V. Soeroengan, Jakarta.
Suhardi. 2002. Hutan dan Kebun Sebagai Sumber Pangan Nasional. Kanisius. Yogyakarta.
Wieny H.R. 1999. Pertumbuhan dan hasil tanaman kentang dengan perbedaan jarak tanam, interval pengairan, ketebalan mulsa, dan pemupukan nitrogen di dataran medium. Disertasi Doktor. Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran, Bandung.
Yamaguchi, M., dan E.V. Rubatzky. 1998. Sayuran dunia. Jilid I. Terjemahan Catur H. ITB Press, Bandung.
Wikipedia. 2008. Kentang Hitam. http://.wikipedia.org/wiki/kentanghitam. 10 Oktober 2008.
.

3 Komentar (+add yours?)

  1. peni lestari
    Des 31, 2010 @ 06:44:50

    Terimakasih atas informasi yang diberikan. Saat ini saya baru memulai meneliti tentang kentang hitam, sehingga informasi seperti artikel ini sangat saya butuhkan. bila saya ingin mendapatkan informasi yang lebih banyak lagi, kemana saya bisa mendapatkannya. terimakasih sebelumnya atas ilmu yang bermanfaat ini

    Salam hormat,
    peni lestari

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: