PENGARUH MEDIA TANAM DAN PEMBERIAN KOMPOS TKKS (TANDAN KOSONG KELAPA SAWIT) TERHADAP PERTUMBUHAN KECAMBAH KELAPA SAWIT(D X P) DI PRE NURSERY

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Asal tanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis Jack.) secara pasti belum bisa diketahui. Namun, ada dugaan kuat tanaman ini berasal dari dua tempat, yaitu Amerika Selatan dan Afrika (Guenia). Spesies Elaeis melanococca atau Elaeis guineensis berasal dari Afrika (Guenia) (Sastrosayono, 2006).
Memelihara sistematis dan pemilihan kelapa sawit (Elaeis guineensis Jack.) dimulai pada tahun 1920 di kedua benua Afrika dan Asia (Malaysia dan Sumatera) ketika spesies tersebut yang yang dimanfaatkan untuk minyak nabati yang secara komersial (Programme, 1991).
Kelapa sawit merupakan salah satu primadona ekspor Indonesia yang pertanamannya berkembang sangat pesat. Pada tahun 1986, luas perkebunan kelapa sawit baru mencapai 607 ribu hektar dengan produksi sebesar 1,35 juta ton, tetapi pada tahun 1990 meningkat menjadi 1,15 juta hektar dengan produksi 2,43 juta ton. Sekitar 25 % dari luas areal pertanaman kelapa sawit saat ini dikelola oleh perkebunan negara, 25 % merupakan areal perkebunan rakyat sedangkan sisanya dikelola oleh perkebunan swasta (Departemen Pertanian, 1992).
Perluasan areal tanaman sawit di Indonesia di atur oleh Pemerintah melalui tahapan Repelita. Pada akhir Pelita ke-IV (tahun 1988) rencana produksi minyak sawit Indonesia ditetapkan sejumlah 2.113.344 ton. Menurut data tersebut kesempatan mengembangkan perkebunan sawit di Indonesia masih cukup luas (Ferdinandus, 1988).
Indonesia yang menempati posisi kedua setelah Malaysia relatif masih jauh ketinggalan terutama dari segi teknologi budidaya, pengolahan dan pemasaran. Sampai saat ini ekspor minyak sawit Indonesia masih dalam bentuk minyak mentah atau Crude Palm Oil (CPO), dan sebagian kecil dalam bentuk produk olahan yang merupakan hasil sampingan dan pembuatan minyak goreng, sehingga nilai tambah yang diperoleh relatif kecil (Risza, 1995).
TKKS (Tanda Kosong Kelapa Sawit) adalah limbah pabrik kelapa sawit yang jumlahnya sangat melimpah. Pengolahan/Pemanfaatan TKKS oleh PKS masih sangat terbatas. Sebagaian besar pabrik kelapa sawit (PKS) di Indonesia masih membakar TKKS dalam incinerator, meskipun cara ini sudah dilarang oleh pemerintah (http://isrof.wordpress.com, 2008).
Biji karet yang akan dikecambahkan terlebih dahulu diperiksa kadar airnya. Jika kurang dari 18 % perlu direndam. Biji dikering anginkan pada ruangan pengeringan dan diletakkan pada kotak beralaskan kawat khas (Lubis, 2009).
Tujuan Percobaan
Adapun tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui pengaruh media tanam dan pemberian kompos TKKS (Tandan Kosong Kelapa Sawit) terhadap pertumbuhan kecambah kelapa sawit (D x P) di pre nursery.

Hipotesis Percobaan
1. Media tanam berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan kecambah kelapa sawit (D x P) di pre nursery.
2. Pemberian kompos TKKS (Tandan Kosong Kelapa Sawit) berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan kecambah kelapa sawit (D x P) di pre nursery.
3. Interaksi media tanam dan pemberian kompos TKKS (Tandan Kosong Kelapa Sawit) berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan kecambah kelapa sawit (D x P) di pre nursery.
Kegunaan Percobaan
– Sebagai salah satu syarat untuk dapat mengikuti pra praktikal tes di
Laboratorium Budidaya Kelapa Sawit dan Karet Universitas Sumatera Utara,
Medan.
– Sebagai bahan informasi bagi pihak yang membutuhkan.

TINJAUAN PUSTAKA
Botani Tanaman
Menurut Hadi (2004), sistematika tanaman kelapa sawit adalah sebagai berikut :
Kingdom : Plantae
Divisio : Tracheohyta
Subdivisio : Pteropsida
Kelas : Angiospermae
Subkelas : Monocotyledoneae
Ordo : Cocoideae
Famili : Palmae
Genus : Elaeis
Spesies : Elaeis guineensis Jack.
Akar serabut tanaman kelapa sawit mengarah ke bawah dan samping. Selain itu juga terdapat beberapa akar napas yang tumbuh mengarah ke samping atas untuk mendapatkan tambahan aerasi (http://www.depperin.go.id, 2010).
Besarnya batang berdiameter 25-75 cm, di perkebunan umumnya 45-50 cm, bahkan pangkal batang bisa ebih besar lagi pada tanaman tua. Biasanya pangkal-pangkal daun melekat beberapa tahun pada batang, berangsur-angsur lepas pada umur 11 tahun, bahkan ada yang sampai 17 tahun pada tanaman setengah liar (Sianturi, 1991).
Daunnya merupakan daun majemuk. Daun berwarna hijau tua dan pelapah berwarna sedikit lebih muda. Penampilannya sangat mirip dengan tanaman salak, hanya saja dengan duri yang tidak terlalu keras dan tajam (http://www.depperin.go.id, 2010).
Letak bunga jantan dan bunga betina terpisah, masing-masing tersusun pada tandan yang berbeda tetapi masih dalam 1 pohon. Namun demikian, terkadang dalam 1 tandan terdapat bunga jantan sekaligus bunga betina (Hadi, 2004).
Buah sawit mempunyai warna bervariasi dari hitam, ungu, hingga merah tergantung bibit yang digunakan. Buah bergerombol dalam tandan yang muncul dari tiap pelapah. Minyak dihasilkan oleh buah. Kandungan minyak bertambah sesuai kematangan buah. Setelah melewati fase matang, kandungan asam lemak bebas (FFA, free fatty acid) akan meningkat dan buah akan rontok dengan sendirinya (http://id.wikipedia.org, 2010).
Syarat Tumbuh
Iklim
Sawit dapat tumbuh dengan baik di daerah tropis (15° LU – 15° LS). Tanaman ini tumbuh sempurna di ketinggian 0-500 m dari permukaan laut dengan kelembaban 80-90%. Sawit membutuhkan iklim dengan curah hujan stabil, 2000-2500 mm setahun, yaitu daerah yang tidak tergenang air saat hujan dan tidak kekeringan saat kemarau. Pola curah hujan tahunan memperngaruhi perilaku pembungaan dan produksi buah sawit (http://id.wikipedia.org, 2010).
Curah hujan minimum 1000-1500 mm /tahun, terbagi merata sepanjang tahun. Suhu optimal pada tanaman kelapa sawit adalah 26°C. Sedangkan kelembaban rata-rata 75 % (http://pustaka-deptan.go.id, 2010).
Kelapa sawit membutuhkan sinar matahari yang cukup. Lama penyinaran rata-rata 5 jam dan naik menjadi 7 jam per hari untuk beberapa bulan tertentu akan berpengaruh baik terhadap kelapa sawit (Departemen Pertanian, 1995).
Tanah
Dapat tumbuh pada bermacam-macam tanah, asalkan gembur, aerasi dan draenasenya baik, kaya akan humus dan tidak mempunyai lapisan padas. pH tanah antara 5,5 – 7,0 (http://pustaka-deptan.go.id, 2010).
Keadaan topografi pada areal perkebunan kelapa sawit berhubungan dengan kemudahan perawatan dan panen. Topografi yang dianggap cukup baik untuk tanaman kelapa sawit adalah areal dengan kemiringan 0-15° (Fauzi, dkk, 2002).
Tanah harus gembur dan drainase baik. Akar dapat mencapai panjang 1,5 – 2 m cepat berlignin. Jadi hanya hanya ujung-ujung akar yang baru terbentuklah yang mengadsorbsi air dan hara (Sianturi, 1991).
Pembibitan Kelapa Sawit
Tahapan kegiatan kerja di pembibitan sebagai berikut : 1. Pemesanan dan pemeliharaan kecambah (Germinated seed). 2. Mendeder dipembibitan pendahuluan (Pre nursery). 3. Pembibitan di pembibitan utama (Main nursery). 4. Pembibitan kelapa sawit dengan system pembibitan dua tahap yaitu Pre-Nursery dan Main-nurseryi (Buana, dkk., 1998).
Bibit dianggap normal dan standart antara umur 10-12 bulan, kedalaman tanaman sebaiknya 5 cm dan apabla di tanam di areal pertanaman gambut harus agak dalam karena permukaan tanah dangkal dan apabila penggunaan bibit terlalu muda di bawah 8 bulan akan mendapatkan serangan hama dan petumbuhannya terganggu (Risza, 1995).
Tujuan pembibitan awal adalah untuk memperoleh bibit kelapa sawit yang merata pertumbuhannya sebelum dipindahkan ke pembibitan utama. Umumnya pembibitan awal dilakukan dengan cara pembibitan kantong plastic. Kegiatan pemeliharaan di pembibitan awal meliputi pemeliharaan jalan dan saluran air, penyiraman, penyiangan, pemupukan, penjarangan naungan, pengendalian hama dan penyakit serta seleksi bibit (http://binatani.blogspot.com/, 2009).
Media Tanam
Media tanam yang digunakan berupa campuran dan kompos dengan perbandingan 6 : 1 atau campuran pasir, pupuk kandang, dan top soil dengan komposisi 1 : 1 : 3 (Sunarko, 2009).
Media tanam yang digunakan seharusnya adalah tanah yang berkualitas baik, misalnya tanah bagian atas (topsoil) pada ketebalan 10-20cm, dan berasal dari areal pembibitan dan sekitarnya (PPKS, 2008).
Tanamlah benih dalam kantong plastik yang berukuran 25 10cm yang telah berisi tanah (topsoil) yang subur dan gembur, yakinkan bahwa tunas ada di bagian atas. Sedang yang ada akarnya berada di bagian bawah (dalam tanah) (Kartasapoetra, 1988).
Biji karet yang akan dikecambahkan terlebih dahulu diperiksa kadar airnya. Jika kurang dari 18 % perlu direndam. Biji dikering anginkan pada ruangan pengeringan dan diletakkan pada kotak beralaskan kawat khas (Lubis, 2009).
Kompos Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS)
TKKS (Tanda Kosong Kelapa Sawit) adalah limbah pabrik kelapa sawit yang jumlahnya sangat melimpah. Pengolahan/Pemanfaatan TKKS oleh PKS masih sangat terbatas. Sebagaian besar pabrik kelapa sawit (PKS) di Indonesia masih membakar TKKS dalam incinerator, meskipun cara ini sudah dilarang oleh pemerintah (http://isrof.wordpress.com, 2008).
Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) mencapai 23% dari jumlah pemanfaatan limbah kelapa sawit tersebut sebagai alternatif pupuk organik sehingga memberikan manfaat lain dari sisi ekonomi. Ada beberapa alternatif pemanfaatan TKKS yang dapat dilakukan, yaitu sebagai pupuk kompos, merupakan bahan organik yang telah mengalami proses fermentasi atau dekomposisi yang dilakukan oleh mikroorganisme (http://regionalinvestment.com, 2010).
Kompos TKKS memiliki beberapa sifat yang menguntungkan antara lain :
– Memperbaiki struktur tanah berlempung menjadi ringan
– Bersifat homogen & mengurangi risiko sebagai pembawa hama tanaman
– Dapat diaplikasikan pada sembarang musim
(http://digilib.biologi.lipi.go.id, 2010).
BAHAN DAN METODE
Tempat dan Waktu Percobaan
Percobaan ini dilaksanakan di Laboratorium Budidaya Kelapa Sawit dan Karet Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan dengan ketinggian tempat ± 25 m dpl. Percobaan ini dilakukan pada hari Sabtu pukul 14.00 WIB mulai dari 25 Februari 2010 sampai 30 April 2010.
Bahan dan Alat
Adapun bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah bibit kelapa sawit (Elaeis guineensis Jack.) yang berkecambah sebagai objek percobaan, kompos TKKS sebagai bahan campuran media tanam, topsoil dan pasir dengan perbandingan 2 : 1 sebagai campuran media tanam. Subsoil dan pupuk kandang dengan perbandingan 3 : 1 sebagai campuran media tanam dan kertas label sebagai penanda pada polibeg.
Adapun alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah cangkul sebagai pencampur/pengaduk media tanam, gayung dan gembor untuk menyiram tanaman, meteran dan penggaris untuk mengukur tinggi tanaman, jangka sorong untuk mengukur dimeter batang, ayakan untuk mengayak pasir dan topsoil, polibeg sebagai wadah media tanam, dan buku data dan alat tulis untuk mencatat hasil percobaan.

Metode Percobaan
Percobaan ini menggunakan metode Rancangan Acak Kelompok faktorial, yang terdiri dari dua faktor perlakuan, yaitu :
Faktor I = Media tanam (M) dengan 2 taraf
M1 = Topsoil + pasir (2 : 1)
M2 = Subsoil + pupuk kandang sapi (3 : 1)
Faktor II = Kompos TKKS dengan 3 taraf
M0 = 10 gr
M1 = 20 gr
M2 = 30 gr
Sehingga didapat 6 kombinasi perlakuan, yaitu :
M1T0 M2T0
M1T1 M2T1
M1T2 M2T2
Jumlah ulangan : 3
Jumlah plot per ulangan : 6
Jumlah bibit per polibeg : 1
Jumlah bibit per plot : 2
Jumlah kecambah seluruhnya : 36 bibit

PELAKSANAAN PERCOBAAN
Persiapan Media Tanam
Media tanam yang digunakan adalah pasir dicampur dengan topsoil sesuai dengan perlakuan masing-masing. Kemudian media tanam campuran yakni pupuk kandang dan subsoil dicampurkan pada media tanam sesuai dengan perlakuan masing-masing.
Pengaplikasian Kompos TKKS
Masing-masing media tanam dicampur dengan kompos TKKS (Tanda Kosong Kelapa Sawit) sesuai dengan perlakuan masing-masing kemudian dimasukkan ke dalam polibeg.
Penanaman
Penanaman dilakukan dalam polibeg bibit kelapa sawit ditanam sedalam 1cm dalam polibaeg.
Pemeliharaan Tanaman
Penyiraman dilakukan setiap hari menggunakan gembor dan selanjutnya dikurangi bila keadaan tanah masih basah dan lembab.

Pengamatan Parameter
Tinggi Tanaman (cm)
Tinggi tanaman yang berkecambah sudah berumur 3 bulan, dihitung mulai dari permukaan tanah sampai bagian tertinggi dari tanaman
Jumlah Daun (Helai)
Jumlah daun yang dihitung adalah tanaman yang telah membuka sempurna. Perhitungan jumlah daun dilakukan sejal berumur 3 MST hingga tanaman berumur 6 MST dengan interval 1 minggu.
Diameter Batang (mm)
Batas tanaman diukur diameternya pada ketinggian 1 cm dpl dengan menggunakan jangka sorong, dilakukan sejak tanaman berumur 3 MST-6 MST.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Tinggi Tanaman (cm)
Rataan Persentase tinggi tanaman benih kelapa sawit (cm) dari perlakuan TKKS (Tandan Kosong Kelapa Sawit) dan media tanam dapat dilihat pada tabel 1.
Tabel 1. Pengaruh Media Tanam dan Kompos TKKS (Tandan Kosong Kelapa Sawit) terhadap tinggi tanaman (cm).
Tabel Rataan Tinggi Tanaman 9 MST
T0 T1 T2 rataan
M1 23.07 25.73 29.33 26.04
M2 24.07 18.84 22.27 21.72
rataan 23.57 22.29 25.80 23.88

Dari Tabel 1. Diketahui bahwa pengaruh kompos TKKS terhadap parameter tinggi tanaman benih kelapa sawit yang tertinggi yaitu pada T0 (24,07 cm) dan terendah pada T1 (18,84 cm), pada perlakuan media tanam terhadap parameter tinggi tanaman benih kelapa sawit yang tertinggi yaitu pada M2 (24,07 cm) dan terendah pada M2 (18,84 cm), pada interaksi pengaruh kompos TKKS dan media tanam terhadap parameter tinggi tanaman benih kelapa sawit yang tertinggi yaitu pada M2T0 (24,07 cm) dan terendah pada M2T1 (18,84 cm).
Gambar 1. Grafik rataan tinggi tanaman kelapa sawit 9 MST

Jumlah Daun (helai)
Rataan Persentase jumlah daun benih kelapa sawit (helai) dari perlakuan TKKS (Tandan Kosong Kelapa Sawit) dan media tanam dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel 2. Pengaruh Media Tanam dan Kompos TKKS (Tandan Kosong Kelapa Sawit) terhadap jumlah daun (helai).
Tabel Rataan Jumlah Daun 9 MST
T0 T1 T2 rataan
M1 2.67 3.00 3.00 2.89
M2 2.67 2.83 2.83 2.78
rataan 2.67 2.92 2.92 2.83

Dari Tabel 2. Diketahui bahwa pengaruh kompos TKKS terhadap parameter jumlah daun benih kelapa sawit yang tertinggi yaitu pada M1 (3,00 helai) dan terendah pada M1 (2,67 helai) dan M2 (2,67 helai), pada perlakuan media tanam terhadap parameter jumlah daun benih kelapa sawit yang tertinggi yaitu pada TI (3,00 helai) dan T2 (3,00 helai) dan terendah pada T0 (2,67 helai), interaksi pengaruh kompos TKKS dan media tanam terhadap parameter jumlah daun benih kelapa sawit yang tertinggi yaitu pada M1T1 (3,00 helai) dan M1T2 (3,00 helai) dan terendah pada M1T0 (2,67 helai) dan M2T0 (2,67 helai).
Gambar 2. Grafik rataan jumlah daun (helai).

Diameter Batang (mm)
Rataan Persentase diameter batang benih kelapa sawit (mm) dari perlakuan TKKS (Tandan Kosong Kelapa Sawit) dan media tanam dapat dilihat pada tabel 3.
Tabel 3. Pengaruh media tanam dan Kompos TKKS (Tandan Kosong Kelapa Sawit) terhadap diameter batang (mm).

Tabel Rataan Diameter Batang 9 MST
T0 T1 T2 rataan
M1 4.40 5.48 5.75 5.21
M2 5.22 5.44 5.27 5.31
rataan 4.81 5.46 5.51 5.26

Dari Tabel 3. Diketahui bahwa pengaruh kompos TKKS terhadap parameter diameter batang benih kelapa sawit yang tertinggi yaitu pada M1 (5,75 mm) dan terendah pada M1 (4,40 mm), pada perlakuan media tanam terhadap parameter diameter batang benih kelapa sawit yang tertinggi yaitu pada T2 (5,75 mm) dan terendah pada T0 (4,40 mm), pada interaksi pengaruh kompos TKKS dan media tanam terhadap parameter diameter batang benih kelapa sawit yang tertinggi yaitu pada M1T2 (5,75 mm) dan terendah pada M1T0 (4,40 mm).

Gambar 3. Grafik rataan diameter batang (mm).

Pembahasan
Dari hasil pengamatan diketahui bahwa pada parameter rataan tinggi tanaman, tinggi tanaman tertinggi pada perlakuan kombinasi antara media tanam dan Kompos TKKS (Tandan Kosong Kelapa Sawit) terdapat pada perlakuan M2T0 yaitu 24,07 cm dan nilai rataan terendah terdapat pada perlakuan M2T1 yaitu 18,84 cm. Hal ini terjadi karena pada perlakuan tersebut komposisi media tanam dan Kompos TKKS (Tandan Kosong Kelapa Sawit) cukup baik, sehingga dapat membantu tersedianya unsur hara yang berguna untuk pertumbuhan bibit kelapa sawit. Hal ini sesuai dengan Suharta, dkk (2008) yang menyatakan bahwa tandan kosong kelapa sawit merupakan bahan organik yang mengandung 42,8% C, 2,90% K2O, 0,80% N, 0,22% P2O51, 0,30% MgO dan unsur-unsur mikro lainnya antara lain 10 ppm B, 23 ppm Cu dan 51 ppm Zn. Setiap tanaman TKS mengandung unsur hara yang setara dengan 3 kg urea, 0,6 kg RP, 12 kg MOP dan 2 kg Kisierit.
Dari hasil pengamatan diketahui bahwa pada parameter rataan jumlah daun pada perlakuan kombinasi antar media tanam dan Kompos TKKS (Tandan Kosong Kelapa Sawit) yang tertinggi terdapat pada perlakuan M1T1 yaitu 3,00 helai dan M1T2 yaitu 3,00 helai dan terendah terdapat pada perlakuan M1T0 yaitu 2,67 helai dan M2T0 yaitu 2,67 helai. Hal ini disebabkan karena pada perlakuan tersebut, penggunaan Kompos TKKS (Tandan Kosong Kelapa Sawit) tepat pada media tanam yang cocok dan karena TKKS mempunyai kadar C/N yang tinggi. Hal ini sesuai dengan pernyataan Suharta, dkk (2008) tandan kosong kelapa sawit mempunyai kadar C/N yang tinggi yaitu 45 – 55. Hal ini dapat menurunkan ketersediaan N pada tanah karena N terimobilisasi dalam proses penambahan bahan organik oleh mikroba tanah.
Dari hasil pengamatan diketahui bahwa pada parameter rataan diameter batang tanaman, pada perlakuan kombinasi antara media tanam dan kompos TKKS (Tandan Kosong Kelapa Sawit) nilai rataan tertinggi terdapat pada perlakuan M1T2 yaitu 5,75 mm dan terendah tedapat pada perlakuan M1T0 yaitu 4,40 mm. Hal ini berarti bahwa pada perlakuan ini media tanam yang digunakan dan banyaknya komposisi TKKS (Tandan Kosong Kelapa Sawit) dapat meningkatkan pertumbuhan bibit kelapa sawit. Hal ini sesuai dengan pernyataan Suharta, dkk (2008) yang menyatakan bahwa hasil penelitian aplikasi kompos pada pembibitan kelapa sawit menunjukan bahwa penambahan kompos TKKS pada pembibitan utama dapat meningkatkan pertumbuhan bibit kelapa sawit. Diameter batang bibit meningkat 18 – 33% terhadap perlakuan tanpa aplikasi kompos.

KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
1. Pada perlakuan kompos TKKS (Tandan Kosong Kelapa Sawit), parameter tinggi tanaman tertinggi terdapat pada perlakuan T0 yaitu 24,07 cm dan terendah terdapat pada perlakuan T1 yaitu 18,84 cm.
2. Pada perlakuan media tanam, parameter tinggi tanaman tertinggi terdapat pada perlakuan M2 yaitu 24,07 cm dan terendah terdapat pada perlakuan M2 yaitu 18,84 cm.
3. Pada perlakuan kombinasi, parameter tinggi tanaman tertinggi terdapat pada perlakuan M2T0 yaitu 24,07 cm dan terendah terdapat pada perlakuan M2T1 yaitu 18,84 cm.
4. Pada perlakuan kompos TKKS (Tandan Kosong Kelapa Sawit), parameter rataan jumlah daun tertinggi terdapat pada perlakuan M1 yaitu 3,00 helai dan terendah terdapat pada perlakuan M2 yaitu 2,67 helai.
5. Pada perlakuan media tanam, parameter rataan jumlah daun tertinggi terdapat pada perlakuan TI yaitu 3,00 helai dan T2 yaitu 3,00 helai dan terendah terdapat pada perlakuan T0 yaitu 2,67 helai.
6. Pada perlakuan kombinasi, parameter rataan jumlah daun tertinggi terdapat pada perlakuan M1T1 yaitu 3,00 helai dan M1T2 yaitu 3,00 helai dan terendah terdapat pada perlakuan M1T0 yaitu 2,67 helai dan M2T0 yaitu 2,67 helai.
7. Pada perlakuan kompos TKKS (Tandan Kosong Kelapa Sawit), parameter rataan diameter batang tanaman terdapat pada perlakuan M1 yaitu 5,75 mm dan terendah terdapat pada perlakuan M1 yaitu 4,40 mm.
8. Pada perlakuan media tanam, parameter rataan diameter batang tanaman terdapat pada perlakuan T2 yaitu 5,75 mm dan terendah terdapat pada perlakuan T0 yaitu 4,40 mm.
9. Pada perlakuan kombinasi, parameter rataan diameter batang tanaman terdapat pada perlakuan M1T2 yaitu 5,75 mm dan terendah terdapat pada perlakuan M1T0 yaitu 4,40 mm.
Saran
Diharapkan pada praktikum selanjutnya, lebih teliti dalam pengambilan data tanaman, terutama data diameter batang.

DAFTAR PUSTAKA
Buana, L., D. Siahaan., dan S. Adiputra., 1998. Budidaya Kelapa Sawit. Pusat Penelitian Kelapa Sawit, Medan.

Departemen Pertanian, 1992. 5 Tahun Penelitian dan Pengembangan Pertanian 1987-1991. Departemen Pertanian, Jakarta.

__________________, 1995. Pedoman Budidaya Kelapa Sawit. Departemen Pertanian, Jakarta.

Fauzi, Y.,Y.E. Widyastuti, I. Satyawibawa, R. Hartono, 2002. Kelapa Sawit Edisi Revisi. Penebar swadaya, Jakarta.

Ferdinandus, f.f.,1988. Tinjauan Industri Kelapa Sawit. Kantor Pemasaran Bersama, Medan.

Hadi, N. M.,2004. Teknik Berkebun Kelapa Sawit. Karya Nusa, Yogyakarta.

http://binatani.blogspot.com. 2009. Pembibitan Kelapa Sawit. Diakses 29 Maret 2010.

http://www.depperin.go.id, 2010. Gambaran Sekilas Industri Minyak Kelapa Sawit. Diakses pada tanggal 9 Maret 2010.

http://id.wikipedia.org,2010.Kelapa Sawit.Diakses pada tanggal 9 Maret 2010.

http://pustaka-deptan.gp.id,2010.Budidaya Kelapa Sawit.Diakses pada tanggal 9 Maret 2010.

http://isroi.wordpress.com,2008.Cara Mudah Mengumpulkan Tandan Kosong Kelapa Sawit.Diakses pada tanggal 9 Maret 2010.

http://regionannvestment.com,2010.Profil Komoditi Kepala Sawit.Diakses pada tanggal 9 Maret 2010.

http://digilib.biologi.lipi.go.id,2010.Respon Bibit Kelapa Sawit Terhadap Pemberian Kompos TKKS.Diakses pada tanggal 9 Maret 2010.

Kartasapoetra, A. . , 1988. Teknologi Budidaya Tanaman Pangan di Daerah Tropik.Bina Aksara, Jakarta.

Lubis, A.U.,2009.Kelapa Sawit di Indonesia. Agromedia Pustaka, Jakarta.

PPKS, 2008. Teknologi Kultur Teknis dari Pengolahan Kelapa Sawit. Indonesian Oll Palm Research institute, Medan.

Programme, 1991. The Oll Palm in Agriculture in the Eighties.International Conference, Kuala Lumpur.

Risza, S., 1995. Kelapa sawit Upaya Peningkatan Produktivitas. Kanisius, Yogyakarta.

Sasrosayono,2006.Budidaya Kelapa Sawit. Agromedia Pustaka, Jakarta.

Sianturi,H,S,D., 1991, Budidaya Kelapa SawiT.Fakultas Pertanian USU, Medan.

Sunarko, 2009.Budidaya dan Pengelolaan Kebun Kepala Sawit dengan Sistem kemitroan.Agromedia Pustaka, Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: