PENGARUH PEMBERIAN PUPUK NPKMg DAN MEDIA TANAM PADA PEMBIBITAN KELAPA SAWIT (Elaeis guineenssis Jacq.) PADA MAIN NURSERY

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Asal tanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) secara pasti belum dapat diketahui. Namun, ada dugaan kuat tanaman ini berasal dari dua tempat, yaitu Amerika Selatan dan Afrika (Guenia). Spesie Elaeis melanococca atau Elaeis oleivera diduga berasal dari Amerika Selatan dan spesies Elaeis guineensis berasal dari Afrika (Guenia) (Sastrosayono, 2008).
Tanaman kelapa sawit adalah sumber utama minyak nabati sesudah kelapa di Indonesia. Tanaman ini dikenal dunia barat sesudah penjajah orang Portugis berlayar ke Afrika tahun 1466. Dalam perjalanan ke Pantai Gading, penduduk setempat terlihat menggunakan kelapa sawit untuk memasak maupun kecantikan (Sianturi, 1991).
Semula tanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) hanya diusahakan oleh perkebunan besar di Indonesia. Sejak tahun 1977 – 1978, pemerintah Indonesia bertekad mengubah situasi tersebut dengan mengembangkan pola perkebunan rakyat melalui sistem PIRBUN (Perusahaan Inti Rakyat Perkebunan), perusahaan besar sebagai inti berfungsi memberikan alih teknologi kepada perkebunan rakyat disekitarnya yang berkedudukan sebagai rakyat “plasma” (Risza, 1994).
Awal mulanya, di Indonesia, kelapa sawit sekadar berperan sebagai tanaman hias langka di Kebun Raya Bogor, dan sebagai tanaman penghias jalanan atau pekarangan. Itu terjadi mulai tahun 1848 hingga beberapa puluh tahun sesudahnya. Ketika itu, yahun 1848, Pemerintah Kolonial Belanda mendtangkan empat batang bibit kelapa sawit dari Mauritius dan Amsterdam (masing-masing mengirim dua batang) yang kemudian ditanam di Kebun Raya Bogor. Selanjutnya hasil anakannya dipindahkan ke Deli, Sumatera Utara. Di tempat ini, selama beberapa puluh tahun, kelapa sawit yang telah berkembangbiak hanya berperan sebagai tanaman hias di sepanjang jalan di Deli sehingga potensi yang sesungguhnya belum kelihatan (Fauzi, dkk., 1997).
Kompos TKKS merupakan bahan organic yang mengandung unsure utama N, P, K dan Mg. Selain diperkirakan mampu memperbaiki sifat tanah, kompos tandan kosong kelapa sawit diperkirakan mampu meningkatkan efisiensi pemupukan sehingga pupuk yang digunakan untuk pembibitan kelapa sawit dapat dikurangi (Suherman, dkk, 2006).
Keberhasilan bercocok tanam dipengaruhi oleh banyak faktor. Salah satunya adalah pemupukan, baik cara, dosis maupun waktu pemberiannya. Hal-hal yang menyangkut pupuk tidak asing lagi bagi petani atau masyarakat. Dengan mengetahui kebutuhan tanaman akan unsure hara, diharapkan kita dapat melakukan pemupukan yang tepat. Jenis pupuk (unsur hara yang diberikan) dapat disesuaikan dengan unsur hara yang dibutuhkan tanaman.
Diperkirakan saat ini limbah TKKS di Indonesia mencapai 20 juta ton. TKKS tersebut memiliki potensi untuk diolah menjadi berbagai macam produk, namun sebelumnya TKKS perlu diolah terlebih dahulu. Telnologi produksi kompos dari TKKS merupakan satu teknologi pengolahan limbah yang sekaligus dapat mengatasi masalah limbah padat dan cair di Perkebunan Kelapa Sawit (http://jember01.blogspot.com, 2009).

Tujuan Percobaan
Adapun tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui pengaruh pupuk NPKMg dan media tanam pada pertumbuhan tanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) pada Main Nursery.
Hipotesis Percobaan
Diduga adanya pengaruh media tanam dan pemberian pupuk NPKMg serta interaksi keduanya terhadap pertumbuhan pada pembibitan kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.)..
Kegunaan Percobaan
– Sebagai salah satu syarat untuk dapat mengikuti Praktikal Tes di Laboratorium Budidaya Tanaman Perkebunan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.
– Sebagai bahan informasi bagi pihak yang membutuhkan.

TINJAUAN PUSTAKA
Botani Tanaman
Menurut buku Sastrosayono (2008), adapun sistematika dari tanaman kelapa sawit adalah sebagai berikut:
Kingdom : Plantae
Divisio : Spermatophyta
Subdivisio : Angiospermae
Kelas : Monocotyledonae
Ordo : Palmales
Famili : Palmaceae
Genus : Elaeis
Spesies : Elaeis guineensis Jacq.
Akar kelapa sawit akan tumbuh ke bawah dan ke samping membetuk akar primer, sekunder, tertier, dan akar kuartener. Akar primer tubuh ke bawah di dalam tanah sampai batas permukaan air tanah. Sedangkan akar sekunder, tertier, dan kuartener tumbuh sejajar dengan permukaan air tanah, bahkan akar tertier dan kuartener menuju lapisan atas atau ke tempat yang banyak mengandung hara. Disamping itu, akan tumbuh pula akar nafas yang timbul di atas permukaan air tanah atau di dalam tanah dengan aerasi baik. Akar kuartener berfungsi sebagai penyerap makanan, jika tidak terdapat akar-akar rambut. Fungsi utama akar adalah menyangga bagian atas tanaman dan menyerap hara (Fauzi, dkk., 1997).
Batang kelapa sawit tumbuh lurus keatas, diameternya dapat mencapai 40-60cm. Pada tanaman yang masih muda, batangnya tidak terlihat karena tertutup oleh pelepah daun yang tumbuh rapat mengelilinginya. Rata-rata pertumbuhan tinggi batang adalah 25-40cm/tahun. Namun demikian, hal ini tergantung selain pada jenis, kesuburan lahan serta iklim setempat. Sedangkan pada daun tanaman kelapa sawit bersirit genab, bertulang sejajar, panjangnya dapat mencapai 3-5mm. Daun mempunyai pelepah yang pada bagian kiri maupun kanannya tumbuh anak-anak daun. Tanaman kelapa sawit yang sudah dewasa mempunyai anak daun yang jumlahnya dapat mencapai 100-160 pasang (Syamsulbahri,1985).
Susunan daun tanaman kelapa sawit mirip dengan tanaman kelapa yaitu membentuk susunan daun majemuk. Daun-daun tersebut akan membentuk suatu pelepah daun yang panjangnya dapat mencapai kurang lebih 7,5 – 9 m. Jumlah anak daun pada tiap pelepah berkisar antara 250 – 400 helai. Daun muda yang masih kuncup berwarna kuningpucat. Pada tanah yang subur, daun cepat membuka sehingga semakin efektif menjalankan fungsinya sebagai berlangsungnya fotosintesa dan juga sebagai alat respirasi (Fauzi, dkk., 1997).
Susunan bunga terdiri dari karangan buga yang terdiri dari bunga jantan (tepung sari) dan bunga betina (putik). Namun, ada juga tanaman kelapa sawit yang hanya memproduksi bunga jantan. Umumnya bunga jantan dan bunga betina terdapat dalam tandan yang sama. Bunga jantan selalu masak lebih dahulu daripada bunga betina. Karena itu, penyerbukan sendiri antara bunga jantan dan buga betina dalam satu tandan sangat jarang terjadi. Masa reseptif (masa putik dapat menerima tepung sari) adalah 3 x 24 jam. Setelah itu, putik akan berwarna hitam dan mengering (Sastrosayono, 2008).
Kelapa sawit merupakan tanaman berumah satu (Monoecius), artinya bunga jantan dan bunga betina terdapat dalam satu tanaman dan masing-masing terangkai dalam satu tandan. Rangkaian bunga jantan terpisah dengan bunga betina. Setiap ragkaian bunga terangkai muncul dari pangkal pelepah daun. Sebelum bunga mekar dan masih diselubungi seludang dapat dibedakan bunga jantan dan bunga betina, yaitu dengan melihat bentuknya (Fauzi, dkk, 1997).
Secara botani, buah kelapa sawit digolongkan sebagai buah drupe, terdiri dari pericarp yang terbungkus oleh exocarp (kulit), mesocarp, dan endocarp (cangkang) yang mebungkus 1-4 inti/kernel. Inti memiliki testa (kulit), endosperm yang padat, dan sebuah embrio (Syamsulbahri,1985).
Syarat tumbuh
Iklim
Curah hujan yang baik untuk pertumbuhan dan produksi tanaman kelapa sawit adalah di atas 2.000 mm dan merata sepanjang tahun. Hujan yang tidak turun selama 3 bulan meyebabkan pertumbuhan kuncup daun terhambat sampai hujan turun (anak daun atau janur tidak dapat memecah). Hujan yang lama tidak turun juga banyak berpengaruh terhadap produksi buah, karena buah yang sudah cukup umur tidak mau masak (brondol) sampai turun hujan. Hujan yang terlalu banyak (lebih dari 5.000 mm per tahun) tidak berpengaruh jelek terhadap produksi buah kelapa sawit, asalkan drainase tanah dan penyinaran matahari cukup baik (Sastrosayono, 2008).
Selain sinar matahari dan curah hujan yang cukup, untuk tumbuh dengan baik tanaman kelapa sawit yang ditanam pada ketinggian 500 m di atas permukaan air laut akan terlambat berbunga 1 tahun jika dibandingkan dengan yang ditanam di dataran rendah (Fauzi, dkk, 1997).
Suhu optimal yang diperlukan oleh kelapa sawit adalah 27-32 ºC. Tinggi rendahnya suhu berkaitan erat dengan ketinggian lahan dan permukaan air laut. Oleh karena itu ketinggian lahan yang baik untuk pertumbuhan kelapa sawit adalah 0-400 m dpl, karena pada ketinggian tersebut temperatur udara diperkirakan 27-32 ºC (Hadi, 2004).
Kelapa sawit dapat tumbuh dengan baik pada daerah tropika basah di sekitar lintang Selatan 120 pada ketinggian 0-500 m dpl. Jumlah curah hujan yang baik adalah 2000-2500 mm/tahun, tidak memiliki deficit air, hijan agak merata sepanjang tahun (Lubis, 1992).
Tanah
Kelapa sawit dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah. Akan tetapi, agar kelapa sawit dapat tumbuh secara optimal memerlukan jenis tanah yang cocok. Jenis tanah yang baik untuk kelapa sawit adalah jenis Latosol, Podsolik Merah Kuning dan Aluvial yang kadang-kadang meliputi pula tanah gambut, dataran pantai dan muara sungai. Sifat-sifat fisika dan kimia yang harus dipenuhi untuk pertumbuhan tanaman kelapa sawit yang optimal adalah: drainase baik dan permukaan air cukup dalam, atau menghindari tanah-tanah yang berdrainase jelek dengan permukaan air tanah yang dangkal,solum cukup dalam, tidak berbatu agar perkembangan akar tidak terganggu, reaksi tanahnya masam dan pH antara 4-6. (Setyamidjaja,1991).
Tanaman kelapa sawit dapat tumbuh dengan baik di banyak jenis tanah, yang penting tidak kekurangan air pada musim kemarau dan tidak tergenang air pada usim hujan (drainase baik). Di lahan-lahan yang permukaan air tanahnya tinggi atau tergenang, akar akan busuk. Selain itu, pertumbuhan batang dan daunnya tidak mengindikasikan produksi buah yang baik (Sastrosayono, 2008).
Tanaman kelapa sawit tidak memerlukan tanah dengan sifat kimia istimewa sebab kekurangan suatu hara dapat diatasi dengan pemupukan. Pemupukan dengan dosis yang tepat sangat membantu pertumbuhan tanaman kelapa sawit sehingga akan meningkatkan produksinya. Kelapa sawit dapat tumbuh pada pH tanah antara 4,0 – 6,5, sedangkan pH optimumnya adalah 5 – 5,5. topografi yang dianggap cukup baik untuk tanaman kelapa sawit adalah areal degan kemiringan 0 – 15o. hal ini akan memudahkan pengangktan buah dari pohon ke tempat pemungutan hasil atau dari perkebunan ke pabrik pengolahan (Wahyono, dkk, 1996).
Media Tanam
Untuk media tanam atau tanah pengisi kantong besar digunakan top soil yang bertekstur baik, bila terpaksa memakai tanah liat berat, harus dicampur dengan pasir kasar (pasir sungai) dengan perbandingan 3:2. Media tanam jangan dicampur dengan fungisida dan insektisida karena dapat merusak bibit (Sianturi, 1991).
Hara dalam pupuk kandang berasal dari pakan yang dikonsumsi ternak, lebih dari 70% N yang dimakan oleh hewan dapat dilihat dalam kotorannya, demikian juga kalium sebesar 80%. Diantara kotoran ternak, kotoran ayam mempunyai kandungan hara tertinggi, terendah sapi, sedangkan kotoran babi berada diantaranya (Sutanto, 2005).
Tanah untuk media tanam ini harus subur dan humus yang bisa diambil dari tanah (permukaan topsoil) dengan kedalaman maksimum 15cm. Tanah tidak perlu dicampur pupuk kandang, pasir atau bahan lainnya. Setelah itu kecambah kelapa sawit ditanam (Buckman dan Brady, 1982).
Jenis tanah berhubungan erat dengan plastisitas, permeabilitas, kekerasan, olah tanah, kesuburan dan produktivitas tanah pada daerah geotropik tertentu. Akan tetapi, akan berhubungan dengan adanya variasi yang terdapat pada sistem mineralogi reaksi tanah, maka ada ketentuan-ketentuan umum yang berlaku untuk semua jenis tanah (Hadi, 2004).
Pertumbuhan kelapa sawit pada tanah yang datar atau sedikit miring, solum dalam, dan mempunyai drainase yang baik. Lapisan padas yang tidak terlalu dekat dengan permukaan tanah. Tanah juga harus mampu menahan air yang cukup dan hara yang tinggi secara alami maupun hara tambahan (Sianturi, 1991).
Horizon-horizon penyusun profil tanah berturut-turut dari atas ke bawah dinamai dengan horizon O, horizon A, horizon B, horizon C, dan horizon D. horizon A dan B disebut dengan istilah solum yang merupakan tanah. Horizon A disebut juga dengan istilah top soil atau tanah atas, sedangkan horizon B disebut juga dengan istilah sub soil atau tanah bawah. Tanah lapisan bawah (sub soil) umumnya mempunyai bulk density yang lebih tinggi sekitar 2%. Hal ini disebabkan tanah bawah itu lebih padat karena tekanan di atasnya dan mempunyai kandungan bahan organis yang lebih rendah (Hadi, 2004).
Kompos TKKS
Kompos TKKS merupakan bahan organic yang mengandung unsure utama N, P, K dan Mg. Selain diperkirakan mampu memperbaiki sifat tanah, kompos tandan kosong kelapa sawit diperkirakan mampu meningkatkan efisiensi pemupukan sehingga pupuk yang digunakan untuk pembibitan kelapa sawit dapat dikurangi (Suherman, dkk, 2006).
Pada saat ini, TKKS digunakan sebagai bahan organic bagi pertanaman kelapa sawit secara langsung maupun tidak langsung. Pemanfaatan secara langsung ialah dengan menjadikan TKKS sebagai mulsa sedangkan secara tidak langsung dengan mengomposkan terlebih dahulu sebelum digunakan sebagai pupuk organic (www. ipard.com,2010).
Pupuk NPKMg
Sumber utama nitrogen adalah nitrogen bebas di atmosfer, hasil dekomposisi bahan organic, loncatan listrik di udara (petir) dan pupuk buatan. Nitrogen diserap tanaman dalam bentuk ion NH4+ (ammonium) dan ion NO3- (nitrat). Nitrogen berperan dalam proses metabolism dan pembentukan senyawa organic (Damanik, dkk, 2010).
Sumber hara P antara lain bahan organic, pupuk kandang, bahan tambang alami dan pupuk buatan. Peranan pupuk P pada tanaman, mempercepat proses pembungaan, pemasakan buah/biji, dan meningkatkan produksi buah/biji (www.libang.deptan.go.id, 2008).
Kalium adalah termasuk hara makro yang dibutuhkan dalam jumlah banyak oleh tanaman. Kalium yang tersedia dalam tanah cukup rendah, karena pemupukan hara N dan P yang cukup besar dan akibat pencucian dan erosi. Sumber utama kalium adalah dari kerak bumi, terdapat sebagai persenyawaan dalam batuan (Damanik, dkk, 2010).
Mg adalah penyusun utama klorofil, setiap molekul klorofil mengandung 1 atom Mg. Peranan utama Mg pada tanaman adalah pembentukan gula dan fotosintesis, mengatur penyerapan hara lain, pembawa fosfor dalam tubuh tanaman, menstimulasi pembentukan minyak dan lemak dan translokasi pati dalam tubuh tanaman (Damanik, dkk, 2010).
Pembibitan di Main Nursery
Main nursery atau pembibitan utama adalah suatu pekerjaan yang mrrupakan lanjutan dari pembibitan awal, dimana kegiatan pemeliharaan bibit saat di pre nursery adalah 3 bulan sedangkan di main nursery adalah 9 bulan. Bibit dipindahkan ke lapangan saat berumur 10-12 bulan. Pada main nursery, bibit ditanam di polybag besar (tinggi 210 cm, lebar 7,5cm, diameter 0,5cm dan jarak 2x4cm) (http://dinusilami.blogspot.com, 2009).
Areal pembibitan dekat dengan sumber air dan arealnya datar (untuk 14.000 bibit/ha). Bibit disiram 2 kali sehari (pagi 07.00-11.00 dan sore 15.00), dapat disiram manual ataupun dengan system sprinkler. Pemberian mulsa dilakukan untuk mengurangi penguapan dan menekan gulma, mengurangi erosi, dan mengatur suhu tanah. Penyiangan gulma dilakukan 2 minggu sekali secara manual termasuk melakukan konsolidasi dengan menambah media dan menegakkan bibit (http://id.shvoong.com, 2010).

BAHAN DAN METODE PERCOBAAN
Persiapan Lahan
Lahan dibersikan dari gulam dan di buat bedengan dengan ukuran 1m x 1m sebagai tempat peletakan polibag dan parit keliling selebar 30 cm.
Tempat dan Waktu Percobaan
Percobaan ini dilaksanakan di Laboratorium Teknologi Budidaya Tanaman Perkebunan Departemen Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan dengan ketinggian ± 25 m dpl, pada tanggal 04 September 2010 sampai selesai.
Bahan dan Alat
Adapun bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah bibit tanaman kelapa sawit (Elaeis guinensis Jacq.) sebagai bahan percobaan, top soil + pasir sebagai media tanam, sub soil + TKKS sebagai media tanam, pupuk NPKMg untuk meningkatkan pertumbuhan kelapa sawit, polybag sebagai wadah penanaman, air untuk menyiram tanaman, label nama untuk menandai polybag, dan buku data untuk mencatat data.
Adapun alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah cangkul untuk mencampur media tanam, ayakan untuk mengayak pasir, top soil, dan sub soil, ember sebagai wadah TKKS, gembor untuk menyiram tanaman, meteran untuk mengukur tinggi tanaman, jangka sorong untuk mengukur diameter batang, kalkulator untuk menghitung rataan data, dan alat tulis untuk mencatat data.
Metode Percobaan
Pada percobaan ini digunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial dengan 2 faktor yaitu :
Faktor 1 : Media tanam (M) dengan 2 taraf
M1 : Top soil + pasir (2:1)
M2 : Sub soil + TKKS (3:1)
Faktor 2 : Pupuk NPKMg (15:15:6:4) dengan 3 taraf
P0 : 0 gr
P1 : 10 gr
P2 : 20 gr
Sehingga diperoleh 6 kombinasi, yaitu :
M1P0 M2P0
M1P1 M2P1
M1P2 M2P2
Jumlah ulangan = 3
Jumlah plot per ulangan = 6
Jumlah bibit per polybag = 1
Jumlah bibit per plot = 2
Jumlah kecambah seluruhnya = 36 bibit

PELAKSANAAN PERCOBAAN
Persiapan Lahan
Lahan percobaan dibersihkan dari gulma dan dibuat plot sebagai tempat peletakan polybag, setelah plot selesai disekeliling bedengan dibuat pagar dan parit sedalam 30 cm.
Persiapan Media Tanam
Media tanam yang digunakan adalah top soil dan sub soil + TKKS. Media tanam dicampur kemudian dimasukkan ke dalam polybag.
Penanaman Bibit
Penanaman bibit dilakukan dengan cara mengoyak polybag kecil tempat bibit dan memasukkan ke dalam polybag yang berukuran lebih besar.
Aplikasi Pupuk NPKMg
Aplikasi pupuk dilakukan setelah pemindahan bibit ke dalam polybag. Pupuk diaplikasikan dengan membenamkannya ke dalam media tanam.
Pemeliharaan Tanaman
Penyiraman
Penyiraman dilakukan setiap hari yaitu pagi dan sore hari tergantung dengan kondisi kelembaban permukaan media tanam. Penyiraman dilakukan dengan menggunakan gembor.
Penyiangan
Penyiangan dilakukan dengan menggunakan tangan pada saat gulma mulai tumbuh di media tanam maupun di areal penanaman.

Pengamatan Parameter
Tinggi Tanaman (cm)
Tinggi tanaman yang berkecambah sudah berumur 3 bulan, dihitung mulai dari permukaan tanah sampai bagian tertinggi dari tanaman.
Jumlah Daun (helai)
Jumlah daun yang dihitung adalah daun yang telah membuka sempurna. Perhitungan jumlah daun dilakukan sejak berumur 3 MST hingga tanaman berumur 6 MST dengan interval 1 minggu.
Diameter Batang (mm)
Batang tanaman diukur diameternya pada ketinggian 1 cm diatas permukaan tanah dengan menggunakan jangka sorong. Pengukuran diameter batang dilakukan sejak tanaman 3 MST hingga tanaman berumur 6 MST dengan interval 1 minggu.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Tinggi Tanaman (cm)
Tinggi tanaman bibit kelapa sawit (cm) dari perlakuan pupuk NPKMg dan media tanam dapat dilihat pada tabel 1.
Tabel 1. Pengaruh Pupuk NPKMg dan Media Tanam Terhadap Tinggi Tanaman (cm).
Perlakuan MST
1 2 3 4 5 6
Media tanam
M1 14.72 23.21 21.90 23.21 24.90 23.86
M2 12.64 18.69 16.68 18.69 19.53 20.27
Pupuk
P0 12.53 16.52 17.46 19.31 19.975 17.665
P1 12.97 18.05 20.25 22.74 25.225 26.625
P2 15.545 23.69 20.155 20.81 21.45 21.91
Interaksi
M1P0 12.36 19.06 20.12 20.92 22.03 16.9
M1P1 16.21 20.58 23.7 26.05 29.25 30.83
M1P2 15.59 30.8 21.88 22.67 23.42 23.85
M2P0 12.7 13.98 14.8 17.7 17.92 18.43
M2P1 9.73 15.52 16.8 19.43 21.2 22.42
M2P2 15.5 16.58 18.43 18.95 19.48 19.97

Dari Tabel 1. Diketahui bahwa pengaruh media tanam terhadap tinggi tanaman (cm) yang tertinggi berada pada perlakuan M1 pada 6 MST (23,86), dan terendah pada perlakuan M2 pada 1 MST (12,64).
Dari Tabel 1. Diketahui bahwa pengaruh pupuk NPKMg terhadap parameter tinggi tanaman (cm) yang tertinggi yaitu pada perlakuan P1 pada 6 MST (26,62), dan terendah yaitu P0 pada 1 MST (12,53).
Dari Tabel 1. Diketahui bahwa pengaruh interaksi antara media tanam dan pupuk NPKMg (MxP) terhadap tinggi tanaman yang tertinggi yaitu pada perlakuan M1P1 pada 6 MST (30,83), dan terendah yaitu pada perlakuan M2P1 pada 1 MST (9,73).
Gambar 1. Diagram Batang Pengaruh Media Tanam Terhadap Tinggi Tunas (cm)

Gambar 2. Grafik Pengaruh Pupuk NPKMg Terhadap Tinggi tanaman (cm)

Gambar 3. Grafik Pengaruh Interaksi Media Tanam Dengan Pupuk Terhadap Tinggi Tanaman

Jumlah Daun (helai)
Jumlah daun bibit kelapa sawit (helai) dari perlakuan pemberien media tanam pupuk NPKMg serta interaksinya dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel 2. Pengaruh Pemberian Media Tanam dan Pupuk NPKMg Pada Jumlah Daun (helai)
Perlakuan MST
1 2 3 4 5 6
Media tanam
M1 2.89 3.45 3.94 4.56 4.78 5.17
M2 3.67 4.00 4.16 4.56 5.33 5.00
Pupuk
P0 2.75 3.42 3.83 4.42 4.50 4.75
P1 3.25 3.67 3.83 4.25 5.58 4.92
P2 3.84 4.09 4.50 5.00 5.08 5.58
Interaksi
M1P0 2.00 2.67 3.33 3.67 3.83 4.00
M1P1 3.00 4.00 4.33 4.83 5.33 5.50
M1P2 3.67 3.67 4.17 5.17 5.17 6.00
M2P0 3.50 4.17 4.33 5.17 5.17 5.50
M2P1 3.50 3.33 3.33 3.67 5.83 4.33
M2P2 4.00 4.50 4.83 4.83 5.00 5.17
Dari Tabel 2. Diketahui bahwa pengaruh media tanam terhadap parameter jumlah daun (helai) yang tertinggi yaitu pada perlakuan M1 pada 6 MST (5,17), dan terendah pada perlakuan M1 ada 1 MST (2,89).
Dari Tabel 2. Diketahui bahwa pengaruh pemberian pupuk NPKMg terhadap parameter jumlah daun (helai) yang tertinggi yaitu pada perlakuan P2 pada 6 MST (5,58) dan terendah pada perlakuan P0 pada 1 MST (2,75).
Dari Tabel 2. Diketahui bahwa pengaruh pemberian media tanam dan pupuk NPKMg terhadap parameter jumlah daun (helai) yang tertinggi pada perlakuan M1P2 pada 6 MST (6,0), dan terendah pada perlakuan M1P0 pada 1 MST (2,0).
Gambar 4. Diagram Batang Pengaruh Media Tanam Terhadap Jumlah Daun (helai)

Gambar 5. Grafik Pengaruh Pupuk NPKMg Terhadap Jumlah Daun

Gambar 6. Grafik Pengaruh Media Tanam dan Pupuk NPKMg Terhadap Jumlah Daun

Diameter batang (mm)
Diameter batang bibit kelapa sawit (mm) dari perlakuan pemberian media tanam, pupuk NPKMg, serta interaksinya dapat dilihat pada tabel 3.

Tabel 3. Pengaruh Pemberian Media Tanam dan Pupuk NPKMg Terhadap Diameter Batang (mm)
Perlakuan MST
1 2 3 4 5 6
Media tanam
M1 2.38 5.23 6.66 7.08 7.44 8.25
M2 2.95 3.57 4.93 6.12 6.62 7.04
Pupuk
P0 4.31 5.89 6.01 6.27 6.51 7.46
P1 1.95 4.60 5.01 6.27 7.04 7.42
P2 4.41 7.11 6.36 7.27 7.55 8.06
Interaksi
M1P0 1.49 3.92 6.67 6.93 7.29 8.77
M1P1 2.93 5.90 6.3 6.79 7.18 7.72
M1P2 2.73 5.86 7.02 7.51 7.86 8.27
M2P0 4.97 4.91 5.35 5.61 5.73 6.15
M2P1 0 1 4 5.74 6.9 7.12
M2P2 3.88 4.81 5.7 7.02 7.23 7.84

Dari Tabel 3. Diketahui bahwa pengaruh media tanam terhadap diameter batang yang tertinggi yaitu pada perlakuan M1 pada 8 MST (8,25) dan terendah pada perlakuan M1 pada 1 MST (2,38).
Dari Tabel 3. Diketahui bahwa pengaruh pemberian pupuk NPKMg terhadap diameter batang yang tertinggi pada perlakuan P2 pada 6 MST (8,06), dan terendah pada perlakuan P1 pada 1 MST (1,95).
Dari Tabel 3. Diketahui bahwa pengaruh interaksi antara media tanam dan pupuk NPKMg terhadap diameter batang yang tertinggi pada perlakuan M1P0 pada 6 MST (8,77), dan terendah pada perlakuan M2P1 pada 1 MST (0).

Gambar 7. Diagram Batang Pengaruh Media Tanam Terhadap Diameter Batang (mm)

Gambar 8. Grafik Pengaruh Pemberian Pupuk NPKMg Terhadap Diameter Batang

Gambar 9. Grafik Pengaruh Media Tanam dan Pupuk NPKMg Terhadap Diameter Batang

Pembahasan
Dari hasil pengamatan diketahui bahwa pengaruh media tanam terhadap tinggi tanaman (cm) yang tertinggi berada pada perlakuan M1 pada 6 MST (23,86), dan terendah pada perlakuan M2 pada 1 MST (12,64). Hal ini disebabkan oleh pada perlakuan M1 merupakan media top soil + pasir, dimanana unsur hara pada top soil tersedia dan adanya pasir yang membuat media tanam dapat menyerap air dengan cepat. Hal ini sesuai dengan literatur Hartman, et al (1981) yang menyatakan bahwa peranan pasir dalam mengatur sifat-sifat tanah, semakin tinggi ppersentase dalam tanah, semakin banyak pori-pori di antara partikel tanah dan hal ini dapat memperlancar gerakan udara atau air.
Dari hasil pengamatan diketahui bahwa pengaruh pupuk NPKMg terhadap parameter tinggi tanaman (cm) yang tertinggi yaitu pada perlakuan P1 pada 6 MST (26,62), dan terendah yaitu P0 pada 1 MST (12,53). Hal ini disebabkan pupuk dapat terserap secara efisien oleh tanaman dan membantu dalam proses petumbuhan tanaman. Hal ini sesuai dengan literatur Damanik, dkk (2010) yang menyatakan unsur hara makro yang ditambahkan kepada tanaman akan diserap membantu pertumbuhan tanaman lebih baik.
Dari hasil pengamatan diketahui bahwa pengaruh interaksi antara media tanam dan pupuk NPKMg (MxP) terhadap tinggi tanaman yang tertinggi yaitu pada perlakuan M1P1 pada 6 MST (30,83), dan terendah yaitu pada perlakuan M2P1 pada 1 MST (9,73). Hal ini disebabkan karena bagi pupuk dan kebutuhan pemupukan kebun diperlukan kelengkapan unsur hara pada pupuk NPKMg. Hal ini sesuai dengan literatur Anwar (2008) yang menyatakan bahwa bagi pupuk dan kebutuhan pemupukan kebun, diperlukan kelengkapan unsur hara, diantaranya NPKMg, sulfur, calcium, dan unsur hara mikro.
Dari hasil pengamatan diketahui bahwa pengaruh media tanam terhadap parameter jumlah daun (helai) yang tertinggi yaitu pada perlakuan M1 pada 6 MST (5,17), dan terendah pada perlakuan M1 ada 1 MST (2,89). Hal ini disebabkan oleh pada perlakuan M1 merupakan media top soil + pasir, dimanana unsur hara pada top soil tersedia dan adanya pasir yang membuat media tanam dapat menyerap air dengan cepat. Hal ini sesuai dengan literatur Hartman, et al (1981) yang menyatakan bahwa peranan pasir dalam mengatur sifat-sifat tanah, semakin tinggi ppersentase dalam tanah, semakin banyak pori-pori di antara partikel tanah dan hal ini dapat memperlancar gerakan udara atau air.
Dari hasil Pengamatan diketahui bahwa pengaruh pemberian pupuk NPKMg terhadap parameter jumlah daun (helai) yang tertinggi yaitu pada perlakuan P2 pada 6 MST (5,58) dan terendah pada perlakuan P0 pada 1 MST (2,75). Hal ini disebabkan pupuk dapat terserap secara efisien oleh tanaman dan membantu dalam proses petumbuhan tanaman. Hal ini sesuai dengan literatur Damanik, dkk (2010) yang menyatakan unsur hara makro yang ditambahkan kepada tanaman akan diserap membantu pertumbuhan tanaman lebih baik.
Dari hasil pengamatan diketahui bahwa pengaruh pemberian media tanam dan pupuk NPKMg terhadap parameter jumlah daun (helai) yang tertinggi pada perlakuan M1P2 pada 6 MST (6,0), dan terendah pada perlakuan M1P0 pada 1 MST (2,0). Hal ini disebabkan karena bagi pupuk dan kebutuhan pemupukan kebun diperlukan kelengkapan unsur hara pada pupuk NPKMg. Hal ini sesuai dengan literatur Anwar (2008) yang menyatakan bahwa bagi pupuk dan kebutuhan pemupukan kebun, diperlukan kelengkapan unsur hara, diantaranya NPKMg, sulfur, calcium, dan unsur hara mikro.
Dari hasil pengamatan diketahui bahwa pengaruh media tanam terhadap diameter batang yang tertinggi yaitu pada perlakuan M1 pada 6 MST (8,25) dan terendah pada perlakuan M1 pada 1 MST (2,38). Hal ini disebabkan oleh pada perlakuan M1 merupakan media top soil + pasir, dimanana unsur hara pada top soil tersedia dan adanya pasir yang membuat media tanam dapat menyerap air dengan cepat. Hal ini sesuai dengan literatur Hartman, et al (1981) yang menyatakan bahwa peranan pasir dalam mengatur sifat-sifat tanah, semakin tinggi ppersentase dalam tanah, semakin banyak pori-pori di antara partikel tanah dan hal ini dapat memperlancar gerakan udara atau air.
Dari hasil pengamatan diketahui bahwa pengaruh pemberian pupuk NPKMg terhadap diameter batang yang tertinggi pada perlakuan P2 pada 6 MST (8,06), dan terendah pada perlakuan P1 pada 1 MST (1,95). Hal ini disebabkan pupuk dapat terserap secara efisien oleh tanaman dan membantu dalam proses petumbuhan tanaman. Hal ini sesuai dengan literatur Damanik, dkk (2010) yang menyatakan unsur hara makro yang ditambahkan kepada tanaman akan diserap membantu pertumbuhan tanaman lebih baik.
Dari hasil pengamatan diketahui bahwa pengaruh interaksi antara media tanam dan pupuk NPKMg terhadap diameter batang yang tertinggi pada perlakuan M1P0 pada 6 MST (8,77), dan terendah pada perlakuan M2P1 pada 1 MST (0). Hal ini sesuai dengan literatur Anwar (2008) yang menyatakan bahwa bagi pupuk dan kebutuhan pemupukan kebun, diperlukan kelengkapan unsur hara, diantaranya NPKMg, sulfur, calcium, dan unsur hara mikro.

KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
1. Pada parameter tinggi tanaman diperoleh pengaruh media tanam tertinggi yaitu M1 pada 6 MST (23,86), pada pengaruh pupuk NPKMg yang tertinggi yaitu P1 pada 6 MST (26,62), dan pada interaksi media tanam dan pupuk yaitu M1P1 pada 6 MST (30,83).
2. Pada parameter tinggi tanaman diperoleh pengaruh media tanam terendah yaitu M2 pada 1 MST (12,64), pada pengaruh pupuk NPKMg yaitu P0 pada 1 MST (12,53),dan pada interaksi media tanam dan pupuk yaitu M2P1 pada 1 MST (9,73).
3. Pada parameter jumlah daun diperoleh pengaruh media tanam tertinggi yaitu M1 pada 6 MST (5,17), pada pengaruh pupuk NPKMg yaitu P2 pada 6 MST (5,58) , dan pada interaksi media tanam dan pupuk yaitu M1P2 pada 6 MST (6,0).
4. Pada parameter jumlah daun diperoleh nilai terendah pada pengaruh media tanam yaitu M1 ada 1 MST (2,89), pada pengaruh pemberian pupuk yaitu P0 pada 1 MST (2,75), dan pada interaksi media tanam dan pupuk yaitu M1P0 pada 1 MST (2,0).
5. Pada parameter diameter batang diperoleh nillai tertinggi pada pengaruh media tanam yaitu M1 pada 6 MST (8,25), pada pengaruh pemberian pupuk NPKMg yaitu P2 pada 6 MST (8,06), dan pada perlakuan interakksi antara media tanam dan pupuk yaitu M1P0 pada 6 MST (8,77).
6. Pada parameter diameter batang diperoleh nilai terendah pada pengaruh media tanam yaitu M1 pada 1 MST (2,38), pada pengaruh pemberian pupuk NPKMg yaitu P1 pada 1 MST (1,95), dan pada perlakuan interaksi antara media tanam dan pupuk yaitu M2P1 pada 1 MST (0).
Saran
Diharapkan dalam penyajian data praktikan harus lebi teliti agar tidak terjadi kesalahan.

DAFTAR PUSTAKA
Buckman, H. D., dan N. C. Brady, 1982. Ilmu Tanah Terjemahan Soegiman B. Karya Aksara, Jakarta.
Damanik, M. M. B., B. E. Hasibuan, Fauzi, Sarifuddin dan H. Hanum, 2010. Kesuburan Tanah dan Pemupukan. USU. Press, Medan.

http://dinusilami.blogspot.com/2009/10. Penyediaan Bibit. html. Diakses tanggal 03 November 2010.

http://id.shvoong.com/books/2009/petunjuk-teknis-penanganan-kecambah.html. Diakses tanggal 03 November 2010.

http://jember01.blogspot.com/2009/02.kompos-dari-tandan-kosong-kelapa-sawit.html. Diakses tanggal 03 November 2010.

Fauzi, y., Y. E. Widiastuti., I. Satyawibawa., R. Hartono. 1997. Kelapa Sawit, Budidaya. Penebar Swadaya. Jakarta.

Hadi, M. M. 2004. Teknik Berkebun Kelapa Sawit. Adicita Karya Nusa. Yogykarta.

Hartmann, H.T., J. William, Klacker, M. Anton., dan Konfrafrek., 1981. Plant Science. Pretince Hall Inc, New Jersey

Lubis, A. U., 1992. Kelapa Sawit di Indonesia. Pusat Penelitian Perkebunan Marihat Bandar Kuala, Pematang Siantar.

Risza, S., 1994. Kelapa Sawit Upaya Peningkatan Produktivitas. Kanisius, Yogyakarta.

Sastrosayono, S. 2008. Budidaya Kelapa Sawit. Agromedia Pustaka. Jakarta.

Setyamidjaja,D.1991.Budidaya Kelapa Sawit.Kanisius,Yogyakarta.
Sianturi, H. S. D., 1991. Budidaya Kelapa Sawit, USU Press, Medan.
Suherman, C. A, Nuraini dan R. Santi., 2006. Pemanfaatan Cendawan Mikoriza Arbaskula (CMA) serta media Campuran Subsoil dan Kompos pada Kelapa Sawit. FP UnPad Padjajaran, Semarang.

Syamsulbahri.1985.Bercocok Tanam Tanaman Perkebunan Tahunan.UGM Press,Yogyakarta.

Wahyono, T., R. Nurkhoiry., dan M. A. Agustina., 1996. Profil Kelapa Sawit di Indonesia. Pusat Kelapa Sawit, Medan.
http://www.litbang.deptan.go.id/2008/kahat.fosfor.html. Diakses tanggal 03 November 2010.

Bagan Percobaan

Ulangan
I II III
U

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: