PENGARUH PENGGOSOKAN BENIH DAN MEDIA TANAM PADA PERKECAMBAHAN BENIH KARET (Hevea brassiliensis Muell. Arg.)

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Karet alam merupakan salah satu komoditas pertanian yang penting untuk Indonesia dan lingkup internasional. Di Indonesia, karet merupakan salah satu hasil pertanian yang banyak menunjang perekonomian Negara. Hasil devisa yang diperoleh dari karet cukup besar. Bahkan, Indonesia pernah menguasai produksi karet dunia dengan mengungguli hasil dari negara-negara lain dan negara asal tanaman karet sendiri yaitu di daratan Amerika Selatan (Tim Penulis PS, 2008).
Karet merupakan tanaman yang berasal dari Amerika Latin, khususnya Brasil. Karenanya, nama ilmiahnya Herea brasiliensis. Sebelum dipopulerkan sebagai tanaman budidaya yang dikebunkan secara besar-besaran, penduduk asli Amerika Selatan, Afrika, dan Asia sebenarnya telah memanfaatkan beberapa jenis tanaman penghasilan getah (Setiawan dan Andoko, 2005).
Tanaman karet termasuk famili Euphorbiare atau tanaman getah-getahan. Dinamakan demikian karena golongan famili ini mempunyai jaringan tanaman yang banyak mengandung getah (latek) dan getah tersebut mengalir keluar apabila jaringan tanaman terlukai. Mengingat manfaat dan kegunaannya, tanaman ini digolongkan ke dalam tanaman industri (Syamsulbahri, 1996).
Sistem perkebunan karet muncul pada abad ke-19. Akan tetapi sistem perkebunan di Asia Tenggara tidak terjadi sebelum akhir abad ke-19, ketika permintaan menuntut perluasan sumber penawaran. Sistem diperkenalkan oleh beberapa ahli tumbuh-tumbuhan di inggris (http://www.icraf.org, 2008).
Karena lebih dari 80% dikelola oleh rakyat, perkebunan juga merupakan sumber mata pencaharian dan pendapatan sebagian besar penduduk Indonesia. Sebagai sumber pertumbuhan bahan baku industri, lapangan kerja, pendapatan, devisa, maupun pelestarian alamm, perkebunan masih akan tetap memegang peranan penting (BPPP, 1997).
Kulit biji yang keras dapat disebabkan oleh pengaruh genetik maupun lingkungan. Pematahan dormansi kulit biji ini dapat dilakukan dengan skarifikasi mekanik. Pre treatment skarifikasi digunakan untuk mematahkan dormansi kulit biji, sedangkan stratifikasi digunakan untuk mengatasi dormansi embrio. Skarifikasi merupakan salah satu upaya ore trearment atau perawatan awal pada benih yang dutunjukan untuk mematahkan dormansi serta mempercepat perkembangan biji yang sergam (http://agrica.wordpress.com, 2009).
Ada 4 fungsi media tanam yang harus mendukung pertumbuhan tanaman yang baik, yaitu sebagai tempat unsur hara, harus dapat memegang air yang tersedia bagi tanaman dapat melatukan pertukaran udara antar akar dari atmosfer di atas media dan berakhir harus dapat menyokong tanaman asal tidak kokoh (Nelson, 1981). Pada awalnya seluruh karet dikumpulkan dari tanaman liar, awalnya karet dari Brazil tetapi ada juga dari daerah lain dalam jumlah perbandingan yang kecil. Karena permintaan yang bertambah dan lebih cepat dibandingkan dengan persediaan yang ada dan harga yang melambung tinggi. Ini memungkinkan terjadinya pelanggaran terhadap pengelupasan benih dilanggar dan pohon karet pula diperkenalkan kepada kerajaan-kerajaan kolonial di bagian dunia lain (Schery, 1961).
Tujuan Percobaan
Adapun tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggosokan benih dan media tanam pada perkecambahan benih karet (Hevea brassiliensis Muell. Arg.).
Hipotesis Percobaan
1. Penggosokan benih berpengaruh nyata terhadap perkecambahan benih karet (Hevea brassiliensis Muell. Arg.).
2. Media tanam berpengaruh nyata terhadap perkecambahan benih karet (Hevea brassiliensis Muell. Arg.).
3. Interaksi penggosokan benih dan media tanam berpengaruh nyata terhadap perkecambahan benih karet (Hevea brassiliensis Muell. Arg.).
Kegunaan Percobaan
– Sebagai salah satu syarat untuk dapat mengikuti pra praktikal tes di
Laboratorium Budidaya Kelapa Sawit dan Karet Universitas Sumatera Utara,
Medan.
– Sebagai bahan informasi bagi pihak yang membutuhkan.

TINJAUAN PUSTAKA
Botani Tanaman
Menurut http://www.plantamor.com (2010), karet dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
Kingdom : Plantae
Divisio : Spermatophyta
Subdivisio : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliosida
Ordo : Euphorbiales
Famili : Euphorbiareae
Genus : Hevea
Spesies : Hevea brasililensis Muell. Arg
Tanaman karet berupa pohon, ketinggiannya dapat mencapai 30-40 meter. Sistem perakarannya padat/kompak, akar tunggangnya dapat menghunjam tanah hingga kedalaman 1-2 meter, sedangkan akar lateralnya dapat menyebar sejauh 10 meter (Syamsulbahri, 1996).
Tanaman karet berupa pohon yang tingginya bisa mencapai 25 meter dengan diameter batang cukup besar. Umumnya batang karet tumbuh lurus ke atas dengan percabangan dibagian atas. Dibatang inilah terkandung getah yang lebih terkenal dengan nama lateks (Setiawan dan Andoko, 2005).
Daun berselang-seling, tangkai daun panjang, 3 anak daun yang licin berkilat. Petiola tipis, hijau dan berpanjang 3,5 – 30 cm. Helaian anak daun bertangkai pendek dan berbentuk lonjong oblong (Sianturi, 2001).
Tanaman karet adalah tanaman berumah satu (monoecus). Pada satu tangkai bunga yang berbentuk bunga majemuk terdapat bunga betina dan bunga jantan (Setyamidjaja, 1999).
Buah karet dengan diameter 3-5 cm, terbentuk dari penyerbukan bunga karet dan memiliki pembagian ruangan yang jelas, biasanya 3-6 ruang. Setiap ruangan berbentuk setengah bola (Setiawan dan Andoko, 2005).
Biji karet terdapat dalam setiap ruang buah. Jadi, jumlah biji biasanya tinga, kadang enam. Ukuran biji besar dengan kulit keras. Warnanya cokelat kehitaman dengan bercak-bercak berpola khas (http://www.incraf.org, 2010).
Syarat Tumbuh
Iklim
Tanaman karet dapat tumbuh baik dan berproduksi tinggi pada kondisi iklim sebagai berikut, yaitu didataran rendah sampai dengan ketinggian 200 m diatas permukaan laut, suhu optimal 28 (http://www.pustaka_deptan.go.id, 2010).
Daerah yang cocok untuk tanaman karet adalah pada zone antara 15 dan 15. Bila ditanam diluar zone tersebut, pertumbuhannya agak lambat, sehingga memulai produksinya pun lebih lambat (Setyamidjaja, 1999).
Vegetasi yang sesuai untuk kondisi lintang tersebut adalah hutan hujan tropis yang disertai dengan suhu panas dan kelembaban tinggi. Curah hujan rata-rata yang sesuai bagi pertumbuhan tanaman karet adalah sekitar 2000 mm per tahun dengan jumlah hari hujan 100-150 hari (Syamsulbahri, 1996).
Tanah
Tanah yang dikehendaki adalah bersolom dalam, jeluk lapisan padas lebih darii 1 m, permukaan air tanah rendah yaitu 1 m. Sangat toleran terhadap keasaman tanah, dapat tumbuh pada hingga 8,0 (Sianturi, 2001).
Tanaman karet dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah, baik pada tanah-tanah vulkanis muda ataupun vulkanis tua, aluvial dan bahkan tanah gambut. Tanah-tanah vukanis umumnya memiliki sifat-sifat fisika yang cukup baik, terutama dari segi struktur, tekstur, solom, kedalaman air tanah, aerase, dan drainasenya (Setyamidjaja, 1999).
Tanaman karet dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah seperti tanah berpasir hingga laterit merah dan padsolik kuning, tanah abu gunung, tanah berilat serta tanah yang mengandung peat. Tampaknya tanaman karet tidak memerlukan kesuburan tanah yang khusus ataupun topografi tertentu (Syamsulbahri, 1996).

Perkecambahan Benih Karet
Terdapat dua tipe pertumbuhan awal dari suatu kecambah tanaman, yaitu:
1. Tipe epigeal (Epigeous), dimana munculnya radikel diikuti dengan memanjangnya hipokotil secara keseluruhan dan membawa serta kotiledon dan plumula ke atas permukaan tanah.
2. Tipe hipogeal (Hypogeous), dimana munculnya radikel diikuti dengan pemanjangan plumula, hipokotil tidak memanjang ke atas permukaan tanah, sedangkan kotiledon tetap berada di dalam kulit biji di bawah permukaan tanah.
(Sutopo, 1993).
Perkecambahan benih karet adalah dengan meletakkan biji dengan mikrofolia (mata lembaga) ke satu arah, biasanya ke arah yang lebih longgar (jarak tanam 1 cm). Perut biji (tuniculus) menghadap ke bawah dan ditekan dengan jari tangan sedemikian rupa sehingga bagian punggung biji masih berada di atas permukaan pasir dan mata lembaga telah berada di bawah permukaan pasir, atau 2/3 bagian biji terbenam dalam pasir. Dengan cara meletakkan biji demikian. Bakar akar (radikula) dan bakal batang (plumula) dapat muncul tanpa terganggu oleh biji yang lain (Sianturi, 2001).
Biji karet yang dikecambahkan diambil dari pohon induk yang berumur minimal 10 tahun dan jelas diketahui klonnya. Biji memiliki tingkat kesegaran > 70%, karena daya kecambah ditentukan dari kesegarannya. Daya kecambah biji dapat diseleksi dengan cara merendam atau melentingkan di atas lantai semen atau papan. Biji yang baik adalah bila dipantulkan di atas lantai semen akan melenting, sedangkan bila direndam akan terapung 1/3 bagian dan 2/3 bagian lain terendam dalam air (Budi, dkk, 2008).
Penggosokan Benih
Pertumbuhan kecambah setelah suatu periode tertentu merupakan hasil waktu yang diperlukan untuk perkecambahan yakni pertumbuhan awal dan laju pertumbuhan berikutnya. Kecambah tersebut dengan waktu dan tidak dapat diekspresikan dengan mudah untuk jumlah kecambah yang banyak (Mugnisjah, dkk, 1994).
Perkecambahan benih biasanya berlangsung 7-10 hari setelah penaburan. Penyemalan benih dan tunas memperlihatkan pertumbuhan secara berskala. Tumbuh secara terminal (tempat yang wajar) dari batang utama dengan pertambahan daun-daun menuju akat perkecambahan (Westphal dan Jansen, 1993).
Pengambilan air pada benih umumnya terjadi dalam 3 fase : Penyerapan awal dengan cepat, dan fase kedua adalah pengambilan air dengan kemunculan akar. Imbibisi diidentifikasi dengan fase pertama pengambilan air dan merupakan proses fisiologi, karena metabolisme inisiasi sebelum benih mendapatkan makanan. Pengambilan air dikendalikan oleh kekuatan dinding sel yang kekurangan air, karbonhidrat dan protein (Arnold dan Sandjez, 2004).
Exogenous dormancy umumnya terjadi karena sifat kulit benih. Dalam proses perkecambahan sehingga proses perkecambahan tidak terjadi. Selain itu, kulit benih juga menjadi penghalang munculnya kecambah pada proses perkecambahan . Dormansi ini dapat dipatahkan dengan memberi perlakuan terhadap kulit benih agar menjadi mudah dilalui air dan gas, seperti pelukaan kulit (Wirawan dan Wahyuni, 2002).
Dormansi pada beberapa jenis benih disebabkan oleh : (1) struktur benih, misalnya kulit benih yang mempersulit masuknya keluar air dan udara (2) kelainan fisiologis pada embrio (3) Penghabatan perkecambahan (4) gabungan dari faktor-faktor (Justice dan Bass, 1994).
Lapisan yang membentuk embrio yaitu endosperma kulit biji dan kulit buah, dapat mengganggu masuknya air atau antigen. Lapisan itu pun bertindak penghalang mekanis agar radikuala tidak muncul (Salisbury dan Ross, 1985).
Media Tanam
Media tumbuh benih dari pasir harus memenuhi beberapa persyaratan sebagai berikut: (1) ukuran partikel pasir antara 0,05-0,8 mm, (2) tidak mengandung Namur, spora, mikroorganisme lanilla (3) PH tanah sekitar 6,0-7,5 (4) sebelum digunakan pasir harus disterikan terlebih dahulu (Sumpena, 2005).
Tempat pengecambahan perlu disiram air secara perlahan-lahan dengan penyiram berlubang halus, satu atau dua kali sehari. Perlu diperhatikan, agar pasir harus dalam keadaan lembab (Tim Penulis PS, 2008).
Biji-biji yang telah diseleksi berdasarkan kemurnian klon dan daya kecambah seperti telah diuraikan harus segera dikecambahkan. Ada dua tempat untuk pengecambahan berdasarkan jumlah biji karetnya sedikit, pengecambahan bisa menggunakan peti kayu dan jika biji karetnya banyak pengecambahan dilakukan di atas lahan (Setiawan dan Andoko, 2006).
Media tanam karet dapat dikombinasikan dari top soil, subsil, humus, dan pupuk kandang, humus merupakan ikatan/gabungan senyawa organik yang tidak mudah terurai (resisten, bewarna cokelat sampai hitam), berkemampuan mengikat menahan air memegang atau menyimpan unsur hara (Musa, 2006).
Tanah untuk media tanam harus subur dan bethumus yang bisa diambil dari tanah permukaan (top soil) degan kedalaman maksimum 15 cm. Tanah tidak perlu dicampur pupuk kandang, pasir atau bahan-bahan lainnya. Setelah itu, kecambah karet ditanam dengan cara yang sama dengan menanam kecambah pada persemalan di lahan (Setiawan dan Andoko, 2006).

BAHAN DAN METODE
Tempat dan Waktu Percobaan
Percobaan ini dilaksanakan di Laboratorium Budidaya Kelapa Sawit dan Karet Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan dengan ketinggian tempat ± 25 m dpl. Percobaan ini dilakukan pada hari Sabtu pukul 14.00 WIB mulai dari Februari 2010 sampai April 2010.
Bahan dan Alat
Adapun bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah benih karet (Hevea brassiliensis Muell. Arg.) sebagai objek pengamatan yang akan diamati, pasir dan topsoil sebagai media tanam, kertas pasir untuk menggosok benih, air untuk menyiram tanaman, dan label untuk menandai objek percobaan.
Adapun alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah cangkul sebagai pencampur/pengaduk media tanam, gayung dan gembor untuk menyiram tanaman, meteran dan penggaris untuk mengukur tinggi tanaman, ayakan untuk mengayak pasir dan topsoil, polibeg sebagai wadah media tanam, dan buku data dan alat tulis untuk mencatat hasil percobaan.

Metode Percobaan
Percobaan ini menggunakan metode Rancangan Acak Kelompok faktorial, yang terdiri dari dua faktor perlakuan, yaitu :
Faktor I = Penggosokan (P) dengan 2 taraf
P0 = Benih tanpa digosok
P1 = Benih digosok hingga nampak mata embrio
Faktor II = Media (M) dengan 3 taraf
M0 = Pasir
M1 = Pasir + topsoil (2: 1)
M2 = Topsoil
Maka akan didapat 6 kombinasi perlakuan, yaitu :
P0M0 P1M0
P0M1 P1M1
P0M2 P1M2
Jumlah ulangan : 3
Jumlah petak percobaan : 18
Jumlah benih per petak : 10 benih
Jumlah benih yang digunakan : 180 benih

PELAKSANAAN PERCOBAAN
Persiapan Media Tanam
Media tanam yang digunakan adalah pasir, topsoil, dan polibeg. Kemudian topsoil, topsoil + pasir (2 : 1), dan pasir dimasukkan ke dalam polibeg usuran 10 kg.
Penggosokan Benih
Penggosokan benih dilakukan untuk mempercepat perkecambahan benih karet. Bagian yang digosok adalah bagian bawah benih karet dengan embrio hingga mata tunasnya kelihatan.
Penanaman
Penanaman dilakukan dalam polibeg setelah benih karet tersebut digosok. Penanaman benih karet ditanam sedalam 1 cm dalam polibeg.
Pemeliharaan Tanaman
Penyiraman dilakukan setiap hari dan selanjutnya dikurangi bila keadaan tanah masih basah dan lembab.

Pengamatan Parameter
Persentase Perkecambahan (%)
Persentase perkecambahan dihitung dengan melihat kecambah yang tumbuh dari 1 HST sampai 6 HST, dengan rumus :
Persentase perkecambahan = Jumlah benih yang tumbuh x 100 %
Jumlah benih yang ditanam
Laju Perkecambahan (Hari)
Laju perkecambahan dihitung dengan mengkalikan jumlah kecambah yang tumbuh per hari mulai dari 1 HST sampai 6 HST, dengan rumus :
Laju perkecambahan = N1T1 + N2T2 + N3T3 + N4T4 + N5T5 + N6T6
Jumlah benih yang ditanam
Tinggi Tanaman (cm)
Tinggi tanaman dapat dihitung setelah tanaman berumur 2 MST sampai 8 MST yang diukur mulai dari pangkal batang hingga titik tumbuh percabangan pada batang tanaman karet.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Latar Belakang
Persentase perkecambahan benih karet (%)
Rataan Persentase perkecambahan benih karet (%) dari perlakuan penggosokan dan media tanam dapat dilihat pada tabel 1.
Tabel 1. Rataan persentase perkecambahan benih karet (%) dari perlakuan penggosokan dan media tanam.
Tabel Rataan Persentase Perkecambahan
M0 M1 M2 rataan
P0 65.00 73.33 76.33 71.56
P1 84.33 87.00 86.00 85.78
rataan 74.67 80.17 81.17 78.67

Dari Tabel 1. Diketahui bahwa pada perlakuan penggosokan terhadap parameter persentase perkecambahan benih karet yang tertinggi yaitu pada P1 (87,00%) dan terendah pada P0 (65,00%), pada perlakuan media tanam terhadap parameter persentase perkecambahan benih karet yang tertinggi yaitu pada M1 (87,00%) dan terendah pada M0 (65,00%), pada interaksi perlakuan penggosokan dan media tanam terhadap parameter persentase perkecambahan benih karet yang tertinggi yaitu pada P1M1 (87,00%) dan terendah pada P0M0 (65,00%).

Gambar 1. Grafik rataan persentase perkecambahan benih karet (%)

Laju perkecambahan benih karet (hari)
Rataan laju perkecambahan benih karet (hari) dari perlakuan penggosokan dan media tanam dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel 2. Rataan laju perkecambahan benih karet (hari) dari perlakuan penggosokan dan media tanam.
Tabel Rataan Laju Perkecambahan
M0 M1 M2 rataan
P0 10.67 9.33 8.67 9.56
P1 7.00 7.67 11.33 8.67
rataan 8.83 8.50 10.00 9.11

Dari Tabel 2. Diketahui bahwa pada perlakuan penggosokan terhadap parameter laju perkecambahan benih karet yang tertinggi yaitu pada P1 (11,33 hari) dan terendah pada P1 (7,00 hari), pada perlakuan media tanam terhadap parameter laju perkecambahan benih karet yang tertinggi yaitu pada M2 (11,33 hari) dan terendah pada M0 (7,00 hari), pada interaksi perlakuan penggosokan dan media tanam terhadap parameter persentase perkecambahan benih karet yang tertinggi yaitu pada P1M2 (11,33 hari) dan terendah pada P1M0 (7,00 hari).
Gambar 2. Grafik rataan laju perkecambahan benih karet (hari)

Tinggi plumula benih karet (cm)
Rataan tinggi plumula benih karet 8 MST (cm) dari perlakuan penggosokan dan media tanam dapat dilihat pada tabel 3.

Tabel 3. Rataan tinggi plumula benih karet 8 MST (cm) dari perlakuan penggosokan dan media tanam
Tabel Rataan Tinggi Tanaman 8 MST
M0 M1 M2 rataan
P0 37.93 40.27 38.80 39.00
P1 39.67 43.27 29.98 37.64
rataan 38.80 41.77 34.39 38.32

Dari Tabel 3. Diketahui bahwa pada perlakuan penggosokan terhadap parameter tinggi plumula benih karet 8 MST yang tertinggi yaitu pada P1 (43,27 cm) dan terendah pada P1 (29,98 cm), pada perlakuan media tanam terhadap parameter persentase perkecambahan benih karet yang tertinggi yaitu pada M1 (43,27 cm) dan terendah pada M2 (29,98 cm), pada interaksi perlakuan penggosokan dan media tanam terhadap parameter persentase perkecambahan benih karet yang tertinggi yaitu pada P1M1 (43,27 cm) dan terendah pada P1M2 (29,98 cm).

Gambar 3. Grafik rataan tinggi plumula benih karet 8 MST (cm)

Pembahasan
Dari hasil pengamatan dapat diketahui bahwa pada parameter laju perkecambahan tertinggi untuk perlakuan kombinasi antara penggosokan benih dan media tanam terdapat pada perlakuan P1M1 yaitu sebesar 87,00% dan yang terendah terdapat pada perlakuan P0M0 yaitu 65,00%. Hal ini menunjukkan bahwa pada perlakuan kombinasi antara benih tanpa digosok dengan media pasir dan benih digosok dengan media topsoil laju perkecambahannya tinggi dibandingkan dengan benih yang digosok dengan media pasir + topsoil (2 : 1). Benih yang digosok hingga kelihatan mata embrionya lebih cepat berkecambah karena cara tersebut dapat memecah dormansi. Hal ini sesuai dengan pernyataan Sutopo (1993) yang menyatakan bahwa perlakuan pengasahan kulit biji benih yaitu dengan maksud untuk menipiskan kulit biji agar dapat mempercepat perkecambahan pada berbagai spesies yang mempunyai kulit biji yang keras dan yang sangat tebal.
Dari hasil pengamatan dapat diketahui bahwa pada parameter tinggi tanaman, nilai rataan tinggi tanaman tertinggi pada perlakuan kombinasi antara penggosokan benih dan media tanam terdapat pada perlakuan P1M2 yaitu 11,33 hari dan yang terendah terdapat pada perlakuan P1M0 yaitu 7,00 hari. Hal ini menunjukkan bahwa media tanam berupa pasir dan topsoil baik untuk perkecambahan karet. Hal ini sesuai dengan pernyataan Setiawan dan Andoko (2005) yang menyatakan bahwa tanah untuk media tanam ini harus subur dan humus yang bisa diambil dari tanah permukaan atau topsoil dengan kedalaman ± 15 cm. Tanah tidakperlu dicampu pupuk kandang atau bahan lainnya. Setelah itu kecambah karet ditanam dengan cara yang sama dengan menanam kecambah karet di persemaian lahan.
Dari hasil pengamatan diperoleh nilai rataan persentase perkecambahan tertinggi untuk perlakuan kombinasi antara penggosokan benih dan media tanam terdapat pada perlakuan P1M1 yaitu 43,27 cm dan yang terendah terdapat pada perlakuan P1M2 yaitu 29,98 cm. Hal ini menunjukkan bahwa penggosokan benih dilakukan untuk memecah dormansi sehingga perkecambahan akan semakin cepat. Hal ini sesuai dengan pernyataan Kartasapoetra (2003) yang menyatakan bahwa salah satu cara untuk memecahkan dormansi adalah dengan pelarutan atau pengoresan (Skarifikasi). Skarifikasi yaitu dengan cara menghaluskan kulit benih agar dapat dilalui air dan udara.

KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
1. Pada perlakuan penggosokan benih laju perkecambahan tertinggi terdapat pada perlakuan P1 yaitu 87,00% dan yang terendah pada perlakuan P0 yaitu 65,00%.
2. Pada perlakuan media tanam, laju perkecambahan tertinggi terdapat pada perlakuan M1 yaitu 87,00% dan yang terendah pada perlakuan M0 yaitu 65,00%.
3. Pada perlakuan kombinasi, laju perkecambahan tertinggi terdapat pada perlakuan P1M1 yaitu 87,00% dan yang terendah pada perlakuan P0M0 yaitu 65,00%.
4. Pada perlakuan penggosokan benih, tinggi tanaman tertinggi terdapat pada perlakuan P1 yaitu 11,33 hari dan yang terendah terdapat pada perlakuan P1 yaitu 7,00 hari.
5. Pada perlakuan media tanam, tinggi tanaman tertinggi terdapat pada perlakuan M2 yaitu 11,33 hari dan yang terendah terdapat pada perlakuan M0 yaitu 7,00 hari.
6. Pada perlakuan kombinasi, tinggi tanaman tertinggi terdapat pada perlakuan P1M2 yaitu 11,33 hari dan yang terendah terdapat pada perlakuan P1M0 yaitu 7,00 hari.
7. Pada perlakuan penggosokan benih, persentase perkecambahan tertinggi terdapat pada perlakuan P1 yaitu 43,27 cm dan yang terendah terdapat pada perlakuan P1 yaitu 29,98 cm.
8. Pada perlakuan media tanam, persentase perkecambahan tertinggi terdapat pada perlakuan M1 yaitu 43,27 cm dan yang terendah terdapat pada perlakuan M2 yaitu 29,98 cm.
9. Pada perlakuan kombinasi, persentase perkecambahan tertinggi terdapat pada perlakuan P1M1 yaitu 43,27 cm dan yang terendah terdapat pada perlakuan P1M2 yaitu 29,98 cm.
Saran
Diharapkan pada praktikum selanjutnya, pada perlakuan penggosokan benih, benih benar-benar digosok hingga mata embrionya kelihatan.

DAFTAR PUSTAKA
Arnold, R. L. B. dan R. A. Sanchez, 2004. Handbook of Seed Physiology Applications to Agricultura. The Haworth Reference Press, London.

BPPP, 1997. 5 Tahun Penelitian dan Pengembangan Pertanian 1992-1996. Departemen Pertanian, Jakarta.

http://www.icraf.org, 2010. Okulasi Karet. Diakses pada tanggal 12 April 2010.

http://www.plantamor.com, 2010. Karet. Diakses pada tanggal 12 April 2010.

http://pustaka-deptan.go.id, 2010. Budidaya Tanaman Karet. Diakses pada tanggal 12 April 2010.

http://agrica.wordpress.com, 2009. Dormansi biji. Diakses pada tanggal 15 April 2010.

Justice, O. L. dan L. N. Bass, 1994. Prinsip dan Praktek Penyimpanan Benih. PT Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Mugnisjah, W. Q., A. Setiawan, Suwarto, dan C. Santiwa, 1994. Panduan Praktikum. Raja Grafindo, Jakarta.

Musa, L., 2006. Dasar Ilmu Tanah. Universitas Sumatera Utara Press, Medan.

Nelson, P. V., 1981. Green House Operador and Managemen. 2 edition Restore Publishing Company Inc, Virginia.

Salisbury, F. B., dan C. W. Ross, 1985. Plant Physiology Third Edition. Wadsworth Publishing, California.

Schery, R. W., 1961. Plants for Man. Prentice Hall Inc, New York.

Setiawan, D. H. dan A. Andoko, 2005. Petunjuk Lengkap Budidaya Karet. Agromedia Pustaka, Jakarta.

Setyamidjaja, D., 1999. Karet. Kanisius, Yogyakarta.

Sianturi, H. S. D., 2001. Budidaya Tanaman Karet. Universitas Sumatera Utara Press, Medan.

Sumpena, U., 2005. Benih Sayuran. Penebar Swadaya, Jakarta.

Syamsulbahri, 1996. Bercocok Tanam Tanaman Perkebunan Tahunan. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Tim Penulis PS, 2008. Panduan Lengkap Karet. Penebar Swadaya, Jakarta.

Westphal, E. Dan P. C. M. Jansen, 1993. Plant Resources of South East Asia. Prosea, Bogor.

Wirawan, B. dan S. Wahyuni, 2002. Memproduksi Benih Bersertifikat. Penebar Swadaya, Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: