SISTEM AGRIBISNIS UNTUK PEMASARAN TANAMAN KELAPA

TINJAUAN PUSTAKA

Latar Belakang Masalah
Kelapa atau juga dikenali sebagai nyiur dapat memiliki umur melebihi 25 tahun. Pohon kelapa bisa mencapai ketinggian 6 hingga 30 meter bergantung kepada varietasnya. Kelapa didapati di semua kawasan tropika. Pohon kelapa (Cocos nucifera L.) adalah ahli keluarga Arecaceae (keluarga palma). Kelapa merupakan spesies tunggal yang dikelaskan dalam genus Cocos dan merupakan pohon palma yang besar, tumbuh setinggi 30 meter, dengan pelepah daun (pinnate) sepanjang 4-6 meter, dengan helaian daun (pinnae) sepanjang 60-90 cm dan pelepah yang sudah tua akan jatuh dengan sendirinya meninggalkan batang pohon yang licin (Anonimus, 2009).
Tanaman kelapa disebut juga pohon kehidupan, karena dari setiap bagian tanaman dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia. Buah kelapa dapat diambil air, daging buah, tempurung dan sabutnya. Salah satu produk yang dihasilkan dari air kelapa adalah sari kelapa. Turunan dari daging kelapa adalah daging kelapa parut, kulit ari daging kelapa dan kopra. Kelapa parut kering adalah suatu produk awet kelapa yang merupakan bahan dasar pembuatan santan dan untuk campuran pembuatan roti, kue-kue, dan makanan lain. Daging kelapa coconut cream, santan, kelapa parutan kering, coconut skim milk, sampai kosmetik sebagai turunan terakhir. Kopra merupakan bahan industri minyak kelapa dan bungkal kopra (Azmil, 2006).

Botani Tanaman
Dalam sistematika (taksonomi) tumbuhan, kedudukan tanaman kelapa
diklasifikasikan sebagai berikut :
Kingdom : Plantae
Divisio : Spermatophyta
Kelas : Monocotyledoneae
Ordo : Palmales
Famili : Palmae
Genus : Cocos
Species : Cocos nucifera
Penggolongan varitas kelapa umumnya berdasarkan perbedaan-perbedaan umur pohon mulai berbuah, bentuk dan ukuran buah, warna buah serta sifat-sifat khusus lainnya (Suhardiman, 1999).

Kegunaan Dan Sistem Produksi Kelapa
Kegunaan berbagai bagian kelapa ditunjukan dalam tabel berikut :
Kegunaan dari bagian-bagian kelapa

1 Daging buah Bahan baku untuk menghasilkan kopra, minyak kelapa, coconut cream, santan dan kelapa parut kering
2 Air Untuk pembuatan cuka, nata de coco
3 Batang Untuk bahan-bahan bangunan baik untuk kerangka bangunan maupun untuk dinding serta atap
4 Tempurung Untuk membuat carbon aktif,obat nyamuk dan kerajinan tangan
5 Daun Dapat diambil lidinya yang dapat dipakai sebagai sapu, pembalut makanan serta barang-barang anyaman
6 Sabut Untuk pembuatan tali, sapu, keset, sikat pembersih, media penanaman anggrek, saringan, dan lainnya

Beberapa faktor yang mengakibatkan tingkat produksi kelapa rendah, di antaranya :
1. Sebagian tanaman telah tua / rusak sehingga tidak lagi produtif,
2. Varietas / jenis kelapa yang ditanam sebagian besar hanya memiliki kemampuan produksi yang rendah,
3. Perlakuan budidaya sangat minim,
4. Adanya serangan hama , penyait yang tidak berkesudahan, dan
5. Masih belum terperbaikinya sistem pengolahan dan tata niaga hasil.
Dalam jenis (species) kelapa (Cocos nucifera L) dikenal ada dua varietas utama yaitu varietas dalam dan varietas genjah. Pada akhir-akhir ini berkembangnya pemuliaan tanaman dikenal varietas ketiga yaitu hibrida yang merupakan perkawinan silang antara dua tanaman kelapa yang berbeda sifatnya (dalam dan genjah) (Setyamidjaja, 1985).
Pada umumnya penentuan produksi jenis kelapa yang diteliti dikhususkan kepada kelapa tua varietas dalam. Pemanenan kelapa dalam umumnya bervariasi antara 6-8 tahun. Sedangkan kelapa genjah dan kelapa hibrida, pemetikan hasilnya dimulai umur 3-4 tahun. Masa puncak produksi kelapa juga berbeda-beda. Untuk kelapa dalam masa puncak produksinya pada umur antara 15-20 tahun. Setelah berumur 20 tahun produksi berangsur turun dan setelah umur 40 tahun produksi merosot. Sedang kelapa genjah/hibrida, masa produksi puncak antara umur 10-18 tahun. Setelah berumur 18 tahun mulai berangsur turun dan merosot setelah umur 30 tahun. Waktu yang diperlukan untuk pembentukan buah kelapa yaitu sejak bunga jantan mekar sampai buah masak dan dipungut hasilnya, berkisar 15-16 bulan (Suhardiman, 1999).
Tanaman kelapa didalam satu hektar dapat ditanami 100 pohon, rata-rata setiap pohon kelapa menghasilkan 45 butir buah kelapa per tahun atau 10 kg kopra. Sehingga setiap hektar, buah kelapa menghasilkan 4.500 butir buah kelapa per tahun atau 1 ton kopra. Kebun dengan pemeliharaan baik, setiap pohon diharapkan dapat menghasilkan 70 butir buah kelapa per tahun atau 15 kg kopra. Sehingga tiap hektar per tahun dapat menghasilkan 5.000 butir buah kelapa atau 1,75 ton kopra. Dapat disimpulkan bahwa untuk kebun normal dapat memberikan hasil kopra sebanyak 1,5 ton. Oleh karena itu, kelapa mempunyai nilai ekonomi yang tinggi (Suhardiman, 1999).
Dalam banyak kenyataan, kelemahan dalam sistem pertanian di negara berkembang, termasuk Indonesia, adalah kurangnya perhatian dalam bidang pemasaran. Fungsi-fungsi pemasaran, seperti pembelian, sorting, penyimpanan, pengangkutan dan pengolahan sering tidak berjalan seperti yang diharapkan, sehingga efsiensi pemasaran menjadi lemah. Dalam banyak kenyataan hal ini juga disebabkan karena tingginya biaya pemasaran (Soekartawi, 2002).

LANDASAN TEORI

Kotler (1993) pemasaran adalah suatu proses sosial dengan individu dan kelompok dengan kebutuhan dan keinginan dalam menciptakan, penawaran, dan perubahan nilai barang dan jasa secara bebas dengan lainnya. Di dalam sistem pemasaran terdapat komponen – komponen yang saling mempengaruhi satu sama lain. Di dalam sistem pemasaran perlu diperhatian beberapa komponen penting yang mempengaruhi pemasaran, antara lain adalah :
1. Organisasi pemasaran
2. Produk, jasa yang dipasarkan
3. Pasar
4. Saluran distribusi (Channel Distribution)
5. Lingkungan, yang terdiri dari : faktor sosial budaya, penduduk, teknologi, keadaan perekonomian (Koeswara, 1995).
Pemasaran komoditi pertanian bersifat konsentrasi-distributif. Dimana komoditi pertanian yang dihasilkan secara terpencar-pencar, berupa bahan mentah yang perlu pengolahan lebih lanjut dan dalam jumlah yang relatif sedikit sehingga untuk menutup biaya-biaya yang diperlukan lembaga pemasaran dalam melakukan fungsi-fungsi pemasaran diperlukan volume perdagangan yang cukup besar. Pemasaran komoditi pertanian dari proses konsentrasi yaitu pengumpulan produk-produk pertanian dari petani ke tengkulak, pedagang pengumpul dan pedagang pengumpul kota serta diakhiri proses distribusi yaitu penjualan barang dari pedagang ke agen, pengecer dan konsemen (Sudiyono, 2004).
Rangkaian proses penyaluran produk dari produsen hingga sampai ke tangan konsumen akhir disebut saluran pemasaran. Saluran pemasaran menurut bentuknya dibagi dua, yaitu :
a. Saluran distribusi langsung (direct channel of distribution) yaitu penyaluran barang-barang atau jasa-jasa dari produsen ke konsumen dengan tidak melalui perantara, seperti penjulan di tempat prduksi, penjualan di toko/gerai produsen, penjualan dari pintu ke pintu, penjualan melalui surat.
b. Saluran distribusi tak langsung (indirect channel of distribution) yaitu bentuk saluran distribusi yang menggunakan jasa perantara dan agen untuk menyalurkan barang atau jasa kepada konsumen.
Panjang pendeknya saluran pemasaran yang dilalui oleh suatu hasil komoditas pertanian tergantung pada beberapa faktor, yaitu :
1. Jarak antara produsen dan konsumen
Semakin jauh jarak antara produsen dan konsumen, semakin panjang saluran yang ditempuh produk.
2. Cepat tidaknya produk rusak
Produk yang cepat atau mudah rusak harus segera diterima konsumen dan dengan demikian menghendaki saluran pemasaran yang pendek dan cepat.
3. Skala produksi
Bila produsi berlangsung dengan ukuran-ukuran kecil, maka jumlah yag dihasilkan berukuran kecil pula, hal ini tidak akan menguntungkan bila produse langsung menjual ke pasar.
4. Posisi keuangan pengusaha
Produsen yang mempunyai modal yang banyak cenderung untuk memperpendek saluran pemasaran (Rahim , 2007).
Konsep pemasaran adalah kepuasan keinginan konsumen adalah dasar kebenaran sosial dan ekonomi kehidupan sebuah perusahaan. Ada tiga ketetapan pokok yang medasari konsep pemasaran yaitu :
1. Semua operasi dan perencanaan perusahaan harus berorientasi kepada konsumen
2. Sasaran perusahaan harus volume penjualan yang menghasilkan laba
3. Semua kegiatan pemasaran di sebuah perusahaan harus dikordinir secara terorganisir (Stanton dan Lamarto, 1989).
Pemasaran sebagai kegiatan produksi mampu meningkatkan guna tempat, guna bentuk dan guna waktu. Dalam menciptakan guna tempat, guna bentuk dan guna waktu ini diperlukan biaya pemasaran. Biaya pemasaran ini diperlukan untuk melakukan fungsi-fungsi pemasaran oleh lembaga-lembaga pemasaran yang terlibat dalam proses pemasaran dari produsen sampai kepada konsumen akhir. Pengukuran kinerja pemasaran ini memerlukan ukuran efisiensi pemasaran (Sudiyono, 2004).
Fungsi-fungsi pemasaran yang dilaksanakan oleh lembaga-lembaga pemasaran bermacam-macam, dimana terdapat tiga tipe fungsi pemasaran, yaitu:
1. Fungsi pertukaran (exchange function) seperti penjualan dan pembelian.
2. Fungsi fisik (pysycal function) seperti pengangkutan dan penyimpanan
3. Fungsi penyediaan fasilitas (facilitating function) seperti standarisasi, penggunaan resiko, informasi harga dan penyediaan dana (Sudiyono, 2004).
Biaya pemasaran adalah biaya yang terdiri dari semua jenis pengeluaran yang dikorbankan oleh setiap middleman (perantara) dan lembaga-lembaga pemasaran yang berperan secara langsung dan tidak langsung dalam proses perpindahan barang, dan keuntungan (profit margin) yang diambil oleh middleman / lembaga tataniaga atas jasa modalnya dan jasa tenaganya dan menjalankan aktifitas pemasaran tersebut. Biaya pemasaran terjadi sebagai konsekuensi logis dari fungsi-fungsi pemasaran. Biaya pemasaran ini menjadi bagian tambahan harga pada barang-barang yang harus ditanggung oleh konsumen. Oleh sebab itu biaya pemasaran yang tinggi akan membawa efek kepada harga beli konsumen. Disamping itu, biaya tataniaga yang tinggi juga akan membuat sistem pemasaran kurang/tidak efisien (Gultom, 1996).
Semakin banyak lembaga tataniaga yang terlibat, semakin panjang rantai tata niaga dan semakin besar biaya pemasaran komoditi tersebut. Secara teknis dapat dikatakan bahwa semakin pendek rantai tata niaga suatu barang hasil pertanian, maka:
a. biaya tata niaga semakin rendah,
b. margin tata niaga juga semakin rendah,
c. harga yang harus dibayarkan konsumen semakin rendah,
d. harga yang diterima produsen semakin tinggi (Daniel, 2002).
Di sepanjang perjalanan barang dari sektor produsen ke konsumen terbentuk lembaga-lembaga tataniaga yang terdiri dari pedagang, pengangkutan, agen dan lain-lain. Lembaga pemasaran ádalah badan usaha atau individu yang menyelenggarakan pemasaran, menyalurkan jasa dan komoditi dari produsen kepada konsumen akhir serta mempunyai hubungan dengan badan usaha atau individu lainnya. Pedagang/agen dikenal sebagai middleman (perantara) dan jalan yang ditempuh barang-barang dari produsen hingga sampai ke konsumen dikenal sebagai channel of marketing atau mata rantai saluran tataniaga. Pengertian jarak dalam perjalanan barang itu dinyatakan dengan banyaknya middleman yang terdapat di sepanjang mata rantai saluran tataniaga. Semakin panjang rantai saluran pemasaran maka semakin besar biaya pemasaran sehingga marjin pemasaran pun semakin tinggi yang mengakibatkan harga yang diterima petani (farmer’s share) semakin kecil. Terdapat beberapa perantara dalam pemasaran yaitu :
1. Pedagang pengumpul kota (merchant wholesalers) atau grosir memberi merek pada barang yang mereka jual dan terutama menjualnya ke penjual lain (pengecer), pelanggan industri, dan pelanggan omesial lain, daripada ke konsumen individu.
2. Perantara agen (agen middleman), seperti wakil pabrikan, juga menjual ke penjual ulang (reseller) lain dan pelanggan industri atau komersial, tapi tidak memberi merek pada barang yang mereka jual. Biasanya berspesialisasi dalam fungsi penjualan dan bertindak sebagai klien pabrikan atas dasar komisi.
3. Pengecer (retailers) menjual barang dan jasa secara langsung e konsumen akir untu penggunaan kegiatan nonbisnis mereka.
4. Agen pendukung (facilitating agencies), seperti biro iklan, perusahaan riset pemasaran, agen pengumpul, berspesialisasi pada satu atau lebih fungsi pemasaran atas dasar bayar per layanan untk membantu klien melakukan fungsi-fungsi itu dengan lebih efektif dan efisien (Boyd dkk., 2000).
Marjin pemasaran merupakan perbedaan harga yang dibayarkan oleh konsumen dengan harga yang diterima oleh produsen. Perhitungan marjin pemasaran digunakan untuk melihat setiap saluran pemasaran aktivitas-aktivitas yang dilakukan oleh lembaga pemasaran dalam menjalankan fungsi-fungsi pemasaran yang mengakibatkan adanya perbedaan harga ditingkat produsen dan di tingkat konsumen. Komponen marjin pemasaran terdiri dari biaya-biaya yang diperlukan lembaga-lembaga pemasaran untuk melakukan fungsi-fungsi pemasaran yang disebut dengan biaya pemasaran atau biaya fungsional dan keuntungan lembaga pemasaran (Sudiyono, 2004).
Tujuan analisis marjin pemasaran untuk melihat efisiensi pemasaran yang diindikasikan oleh besarnya keuntungan yang diterima oleh masing-masing pelaku pemasaran. Semakin tinggi harga yang diterima produsen, semakin efisien sistem pemasaran tersebut. Besarnya keuntungan yang diterima oleh masing-masing pelaku pemasaran relatif terhadap harga yang dibayar konsumen dan atau relatif terhadap biaya pemasaran terkait dengan peran yang dilakukan oleh masing-masing pelaku.
Marjin pemasaran yang dikelompokan menurut jenis biaya yang sama disebut juga price spread atau absolut margin. Jika angka-angka price spreaddipersenkan terhadap harga beli konsumen, maka diperoleh share margin (Gultom, 1996).
Menurut Downey dan Steven (1992) efisiensi pemasaran merupakan tolak ukur atas produktivitas proses pemasaran dengan membandingkan sumberdaya yang digunakan terhadap keluaran yang dihasilkan selama berlangsungnya proses pemasaran. Menurut Mubyarto (1986) efisiensi pemasaran untuk komodias pertanian dalam suatu sistem pemasaran dianggap efisien apabila :
a. mampu menyampaikan hasil-hasil dari petani produsen kepada konsumen dengan biaya yang semurah-murahnya
b. mampu mengadakan pembagian yang adil dari keseluruhan harga yang dibayar konsumen akhir kepada semua pihak yang ikut serta di dalam kegiatan produksi dan pemasaran.
Suatu perubahan yang dapat memperkecil biaya pemasaran tanpa mengurangi kepuasan konsumen, menunjukan adanya perbaikan dalam efisiensi pemasaran. Semakin tinggi marjin pemasaran suatu komoditi semakin rendah tingkat efisiensi sistem pemasaran. Pada umumnya suatu sistem pemasaran untuk sebagian produk hasil pertanian dapat dikatakan sudah efisien bila share margin petani berada di atas 50 % (Gultom, 1996).

HAMBATAN SISTEM AGRIBISNIS KELAPA

Pada umumnya hambatan yang dihadapi kelompok tani terhadap kegiatan agribisnis kelapa adalah banyak diantara para petani yang diberikan penyuluhan hanya mendengar saja tanpa pernah melakukan apa yang telah dianjurkan oleh penyuluh pertanian. Sedangkan hambatan yang dihadapi Koperasi Unit Desa terhadap kegiatan agribisnis kelapa adalah di kecamatan Pantai Labu ini Koperasi Unit Desa hanya mampu menampung hasil pertanian tanaman pangan seperti padi, jagung, kedelai, dan lain-lain tetapi belum mampu untuk menampung hasil perkebunan kelapa dari para petani kelapa. Hal ini diakibatkan oleh Koperasi Unit Desa tersebut belum mempunyai modal yang memadai sementara untuk dapat menampung hasil perkebuna kelapa diperlukan modal yang cukup besar.
Kendala yang dihadapi dalam pengembangan agribisnis kelapa antara lain kondisi perkebunan kelapa rakyat yang sudah berumur tua sehingga berdampak produktivitas rendah, kurangnya ketersediaan prasarana pendukung, kurangnya informasi pasar, belum adanya perhatian yang serius terhadap penggunaan teknologi terhadap usahatani kelapa kurangnya sumberdaya manusianya. Sedangkan pada penelitian yang dilakukan di Desa Lubuk Palas Kecamatan Air Joman Kabupaten Asahan pada tahun 2004 oleh Winda Widyastuti mengenai studi kelayakan usahatani kelapa di Kabupaten Asahan dapat diketahui uasahatani yang dilakukan petani kelapa di daerah penelitian layak untuk dikembangkan secara ekonomi. Ketersediaan faktor produksi cukup mendukung upaya pengembangan uasahatani kelapa. Masalah yang dihadapi dalam pengembangan usahatani kelapa adalah ketersediaan bibit unggul, serangan hama penyakit, modal terbatas dan lemabaga terkait kurang berperan. Upaya yang dilakukan dalam pengembangan usahatani kelapa anatralain mengadakan penyuluhan, melakukan pengendalian hama penyakit sedini mungkin dan menjalin kemitraan dengan lembaga-lembaga terkait.

KERANGKA PEMIKIRAN

Kelapa merupakan salah satu usaha perkebunan yang memiliki prospek yang cukup cerah untuk dikembangkan karena selain semua bagian dari tanaman kelapa dapat diolah juga dapat membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat Indonesia.
Panjang pendeknya saluran pemasaran suatu barang ditandai oleh berapa banyaknya pedagang perantara yang dilalui oleh barang tersebut sejak dari produsen hingga konsumen akhir. Umumnya petani ataupun produsen kelapa tidak menjual langsung hasil kebunnya kepada konsumen. Petani menjual hasil panen terlebh dahulu ke agen. Agen kemudian menjualnya ke pedagang pengumpul desa yang akan menjualnya ke pedagang pengumpul kota . Pedagang pengumpul kota yang kemudian menjual ke pengecer. Pedagang pengecer yang kemudian menjualnya ke konsumen akhir. Petani ada juga yang menjual langsung kelapa ke pedagang pengumpul di desa kemudian pedagang pengumpul menjual ke pedagang pengumpul kota. Pedagang pengumpul kota menjual ke pedagang pengecer kelapa butir kemudian menjual ke konsumen akhir. Selama proses itu, masing-masing lembaga melakukan fungsi-fungsi pemasaran, misalnya pembelian, penjualan, sortasi, transportasi, penyimpanan dan lain-lain. Pedagang pengumpul mempunyai posisi yang kuat dalam pemasaran kelapa. Mereka memiliki modal yang besar dan mampu menentukan harga pembelian dan harga penjualan dalam batas-batas tertentu sehingga menghasilkan sejumlah keuntungan yang diinginkan.
Bila pedagang perantara dalam rantai pemasaran kelapa yang dilalui banyak, maka dikatakan bahwa saluran pemasaran dari kelapa tersebut panjang. Saluran pemasaran yang panjang akan memperbesar biaya pemasaran dan marjin pemasaran dan ini di bebankan kepada konsumen. Semakin dekat jarak lembaga tpemasaran yang digunakan produsen sampai ke tangan konsumen akhir, maka semakin tinggi keuntungan yang diperoleh dan sebaliknya semakin jauh lembaga pemasaran yang dilalui dari produsen sampai ke konsumen maka semakin rendah keuntungan yang diperoleh produsen.
Dalam memasarkan hasil produksi kelapa sampai kepada konsumen akhir, seringkali produk yang dipasarkan telah melalui beberapa lembaga pemasaran yang ada. Hal ini dikarenakan adanya keterbatasan produsen dalam menjalankan fungsi pemasaran. Namun tidak menutup kemungkinan bahwa produsen memasarkan kelapa langsung kepada konsumen akhir.
Dalam memasarkan hasil produksi kelapa diperlukan juga biaya pemasaran. Biaya pemasaran komoditi pertanian biasanya diukur secara kasar dengan share margin dan price spread. Biaya pemasaran ini diperlukan oleh lembaga-lembaga pemasaran untuk melakukan fungsi-fungsi pemasaran mulai dari produsen hingga ke konsumen akhir.
Dalam arti sempit biaya pemasaran seringkali dibatasi artinya sebagai baiaya penjualan yaitu biaya-biaya yang dikeluarkan untuk menjual barang ke pasar. Baiaya pemasaran yang tinggi dapat membuat sistem pemasaran kurang efisien. Dalam arti luas biaya pemasaran tidak hanya meliputi biaya penjualan saja, tetapi didalamnya biaya penyimpanan, pengepakan, transportasi, pengolahan dan biaya promosi.
Adapun hipotesis penelitian ini yang sesuai dengan kerangka pemikiran di atas maka tingkat efisiensi pemasaran kelapa di daerah penelitian masih tergolong rendah.

DAFTAR PUSTAKA
Amang, B., dkk.,1996. Ekonomi Minyak Goreng di Indonesia. IPB Press, Bogor.
Anonimus., 2009. Kelapa. http://id.wikipedia.org [7 Februari 2009]
Azmil., 2006. Peluang Investasi Tanaman Kelapa di Provinsi Sumatera Utara. http://www.bainfokomsumut.go.id [7 Februari 2009]
Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian., 2009. Proyek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kelapa. http://www.litbang.deptan.go.id [7 Februari 2009]
Boyd, H., dkk., 2000. Manajemen Pemasaran. Erlangga, Jakarta.
Daniel, M., 2002. Pengantar Ekonomi Pertanian. Bumi Aksara, Jakarta.
Gultom, H.L.T.,1996. Tata Niaga Pertanian. USU Press, Medaan.
Koeswara, S.,1995. Pemasaran Industri. Djambatan, Jakarta.
Kotler. P., 1993. Manajemen Pemasaran Jilid I. Erlangga, Jakarta.
Mubyarto., 1997. Pengantar Ekonomi Pertanian. LP3ES, Jakarta.
Rahim, A., 2007. Ekonomika Pertanian. Penebar Swadaya, Jakarta.
Setyamidjaja, D.,1985. Bertanam Kelapa Hibrida. Kanisius, Yogyakarta.
Soekartawi., 2002. Prinsip Dasar Manajemen Pemasaran Hasil-hasil Pertanian. Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Singarimbun, M dan Sofiah Effendi., 1989. Metode Penelitian Survai. Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial, Jakarta.
Stanton, W., dan Y. Lamarto., 1989. Prinsip Pemasaran Jilid 1. Erlangga, Jakarta.
Subagyo, P.J., 1997. Metode Penelitian dalam Teori dan Praktek. Rineka Cipta, Jakarta.
Sudiyono, A., 2004. Pemasaran Pertanian. Universitas Muhamadiyah, Malang.
Suhardiman, P., 1999. Bertanam Kelapa Hibrida. Penebar Swadaya, Bogor.
Suhardiyono, L., 1995. Tanaman Kelapa Budidaya dan Pemanfaatannya. Kanisius, Yogyakarta.

1 Komentar (+add yours?)

  1. 4m3one
    Mei 30, 2011 @ 07:25:53

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: