TEKNOLOGI AGROFORESTRY SPESIFIK LOKASI

Oleh: Abdul Rauf
(Staf Pengajar Departemen Ilmu Tanah Fakultas Pertanian USU)

Makalah Disampaikan pada Training Conservation Officer Tahap III
Yayasan Lesuser Internasional (YLI)
Medan, 4-18 Juni 2007

PENDAHULUAN
Agroforestry yang merupakan suatu sistem pertanian campuran mengkombinasikan tanaman pepohonan (hutan dan atau tanaman perkebunan atau buah-buahan) dengan tanaman rendah atau tanaman semusim, dengan atau tanpa ternak pada satu tapak lahan, baik secara bersamaan, maupun berurutan, sebenarnya sudah sejak lama diterapkan oleh masyarakat desa dan petani di berbagai negara Asia, Afrika, dan Amerika Selatan. Masyarakat di pedesaan sejak dahulu sudah menyadari dan merasakan manfaat dari sistem ini, baik dari segi produktivitas, maupun dari segi kelestarian sumberdaya lahan dan lingkungannya.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sejalan dengan perkembangan jumlah penduduk dan peradaban manusia mendorong para ilmuan dan praktisi mengkaji lebih mendalam keberadaan sistem agroforestry ini, terutama dalam memenuhi tuntutan produksi pangan, papan, dan serat di satu sisi, sementara lahan produktif semakin terbatas pada sisi lain. Pembukaan lahan hingga ke perbatasan hutan lindung, suaka alam, atau kawasan pelestarian alam yang sebenanrnya tidak layak (tidak sesuai) untuk usaha pertanian monokultur yang intensif karena faktor pembatas topografi (kemiringan lereng) dan kedalaman solum tanah misalnya, dapat diterapkan sistem ini dengan berazaskan pada pelestarian lingkungan dan kearifan lokal.
Perhatian para ahli sejak tahun 1970-an mulai diarahkan kepada penilaian kembali terhadap manfaat teknologi kearifan lokal (spesifik lokasi) tersebut, dengan aspek kajian secara komprehensif, terutama relevansinya dengan kondisi sosial ekonomi masyarakat dan pelestarian lingkungan. Optimalisasi penggunaan lahan pada sistem agroforestry menjadi sangat penting karena diharapkan dapat menjawab sekaligus manfaatnya terhadap ketahanan pangan, serat dan papan, serta lahan tidak terdegradasi pada unit luas lahan tertentu di suatu kawasan spesifik tertentu pula.

SISTEM AGROFORESTRY DI BERBAGAI DAERAH DI INDONESIA
Michon et al. (1989) dalam penelitian intesifnya di daerah maninjau, Sumatera Barat pada tahun 1983/84 mendapatkan sitem agroforestry yang umumnya merupakan kombinasi pohon bayur (Pterosperpum javanicum), durian (Durio zibethinus), surian tanduk (Toona sinensis), kayu manis (Cinnamonum burmani), kopi (Coffea spp), pisang (Musa paradisiaca), medang payung (Actinodaphne sp), lamtoro (Laucanea leucocephala), jambu bol (Eugenia malaccensis), kenidai (Bridelia monoica), pala (Miristika fragrans), rumput buluh (Schizostachyum sp), ketupa (Baccauria dulcis), Alongium kurzii dan Pandunus tektorius ini , terdapat pada lahan-lahan miring diantara kawasan pemukiman (pedesaan) dengan kawasan hutan lindung. Sistem agroforestry tersebut ditandai dengan keragaman dan kerapatan spesies yang tinggi dan memiliki lapisan tajuk yang komplek Selain tanaman tahunan (pepohonan), secara priodik pada lahan selanya ditanami tanaman semusim, terutama dengan kombinasi dengan tanaman kayu manis. Tanaman semusim yang selalu dibudidayakan pada lahan sela ini antara lain adalah jagung, terong, kacang tanah, kacang panjang, mentimun, pisang dan pepaya. Pada lahan yang terlindung rapat dengan dominasi vegetasi perdu atau semak dan rerumputan digunakan untuk penggembalaan atau sebagai sumber pakan ternak kerbau, lembu dan kambing.
Wadiningsih dan Djakamihardja (1991) telah melakukan studi di daerah Darmaraja-Wado, Kabupaten Sumedang pada daerah aliran sungai (DAS) Cimanuk Hulu belerang curam (28,7% daerah berbukit cukup curam dan 31,8% daerah bergunung curam). Daerah penelitian merupakan kawasan penyangga bagi kelestarian dua buah waduk, sehingga masyarakat di sekitarnya perlu ditingkatkan kesejahteraannya agar ikut serta menjadi pelaksana dalam memelihara kelestarian sekitar waduk tersebut. Masalah utama di daerah penelitian tersebut masyarakat hanya memiliki lahan garapan yang sempit antara 0,31 sampai 0,64 hektar per keluarga petani. Oleh sebab itu, untuk maksud peningkatan pendapatan petani di satu sisi lain, dan tetap terjaminnya kelestarian (tidak terjadi degradasi) lahan di sisi lain, maka sistem pertanaman campuran (agroforestry) lebih tepat dilakukan ditempat itu.
Untuk mendapatkan gambaran penggunaan lahan yang optimal dari berbagai jenis tanaman (dalam hal ini kayu afrika, padi gogo, jagung dan singkong), maka Widaningsih dan Djakamihardja (1991) melakukan analisis menggunakan Program Tujuan Ganda (Multiple Goal Programming atau Multiple Objective Programming). Salah satu rekomendasi dari hasil penelitian mereka, agar petani dapat memenuhi sepenuhnya kebutuhan akan produksi yang dapat dikomsumsi dari sistem agroforestry tersebut, maka diusulkan setiap keluarga petani di daerah itu harus memiliki lahan garapan minimal 0,74-1,03 hektar.
Juanda dan Hariati (1993) telah melakukan pengkajian untuk membandingkan teras bangku, teras gulud dan sistem alley cropping (agrosilvopastural) di DAS jratunseluna Hulu terhadap produksi dan pendapatan petani. Lahan kering yang menjadi objek pengkajian mereka adalah zona sendimen yang berasal dari bahan induk bantuan sendimen yang terdiri dari ‘zona sendimen dalam’ dan “zona sedimen dangkal”. Zona sendimen dalam terletak pada daerah agak datar (kemiringan 10-30%), Tinggi tempat 100-300 meter di atas permukaan laut, ketebalan solum 50-100 cm, curah hujan berkisar 2000-2500 mm per tahun dengan musim kemarau sedang sampai musim kemarau berat. Zona sendimen dangkal ditemukan pada lereng-lereng yang curam atau pada lahan-lahan yang kurang stabil (sering longsor), ketebalan solum kurang dari 30 cm, kemiringan lereng 10-40%, tinggi tempat bervariasi dari 40-200 meter di atas pemukaan laut dengan musim kemarau umumnya berat.
Hasil penelitian pada dua zona tersebut antara lain adalah: (1) teras bangku hanya layak pada zona sendimen dalam yang tidak memiliki lapisan kedap air di bawah solumnya; (2) pada zona sendimen dalam yang memiliki lapisan kedap air di bawah solumnya, lebih sesuai diterapkan teras gulud. Teras gulud memberikan nilai pendapatan dan daya dukung ternak (1-2 ekor sapi/ha) yang lebih tinggi dari teras bangku. Biaya pembuatan dari teras gulud 1,6 kali lebih murah daripembuatan taras bangku; (3) Sistem pertanaman lorong (alley cropping atau agrosilvikultural) yang diterapkan adalah kombinasi antara tanaman legume (Flamengia dan Kaliandra) sebagai tanaman pagar dan tanaman pertanian (padi gogo, jagung, kacang tanah dan tanaman sayuran) yang ditanam secara tumpang sari sebagai tanaman lorong. Sistem pertanaman lorong ini lebih efisien (13 kali lebih murah) dibandingkan biaya yang diperlukan pada pembuatan teras bangku. Pupuk hijau dari hasil pangkasan legum berkisar 12-13 ton bahan segar per hektar per tahun dan meningkakan daya dukung terhadap ternak (35% dengan Flamengia dan 49% dengan Kaliandra). Dengan sistem pertanaman lorong (sejajar kuntur), terbentuk teras-teras gulud setelah tiga tahun penanaman, dengan tinggi gulungan mencapai 30-40 cm.
Gintings (1993) melaporkan bahwa dari hasil usaha terpadu (agrosilvopastural) yang dilakukan oleh Haji Usup di Desa Pemulihan Kecamatan Rancakalong, Sumedang Jawa Barat, di lahan kering seluas hanya 0,97 hektar adpat menghasilkan uang sebanyak Rp. 8.484.500,- untuk satu kali priode panen. Di lahan Haji Usup tersebut (Tabel 2) ditanam secara terpadu tanaman yang sesuai dengan kondisi di wilayahnya yaitu teh, pisang, vanili, lada, salak, dan rumput pakan ternak, dengan populasi dan jarak tanam serta keterangan terkait, termasuk hasilnya sebagaimana disajikan pada Tabel 1. Tanaman teh yang ditanam oleh H. Usup dapat mulai dipanen setelah berumur 4 tahun, vanili, lada dan pisang setelah 2 tahun, salak setelah 3 tahun dan rumput pakan ternak setelah 1 tahun. Selain hasil tanaman tersebut di atas, Haji Usup masih mendapatkan hasil dari domba yang dipeliharanya, disamping pupuk kandang.

Dalam lokakarya Nasional Pembangunan Daerah dalam rangka Pengelolaan Usaha Tani Lahan Kering dan Perbukitan Kritis, di Jakarta tanggal 2-4 Februari 1993, Siagian, Rachman dan Rambe (1993) yang merupakan anggota inti keompok tani Sadagori menuturkan pengalaman mereka tentang aspek teknologi konservasi tanah dan air dalam pembanggunan pertanian lahan kering. Teknik konservasi yang mereka kembangkan adalah terassering (sejak tahun 1984) dan agrosilvopastural (mulai tahun 1990) di Desa Nanggela dan sekitarnya Kecamatan Japang Tengah Kabupaten Sukabumi. Lokasi kegiatan kelompak tani Sadagori merupakan daerah perbukitan dengan ketinggian sekitar 700 meter di atas permukaan laut, kemiringan lereng 20-30%, panjang lereng 50-150 meter, jenis tanah adalah asosiasi Latosol dan Podsolik Merah kuning dengan tingkat kesuburan rendah dan pH tanah lebih kecil dari 5. Lahan garapan kelompok tani mereka seluas 25 hekter.
Hasil pengamatan Siagian dkk., (1993) yang membandingkan hasil tanaman pada lahan tanpa teras dan lahan yang dibuat teras bangku dengan masing-masing diberi kompos berturut-turut 40, 30 dan 15 ton per hektar pada tahun I, II dan III, didapat bahwa hasil cabai empat kali lebih besar (6 ton/ha), kedelai 2,7 kali (1,9 ton/ha) dan jagung 6 kali lebih besar (6 ton/ha) pada perlakuan teras bangku dibandingkan dari petak tanpa teras.
Meskipun hasil tanaman dengan teras bangku jauh lebih tinggi dibandingkan tanpa teras, namun banyak anggota kelompok tani tersebut tidak menerapkan teknik terasering karena biaya cukup mahal dan pada tahun I sampai III terjadi penurunan produksi yang drastis. Penyediaan kompos dengan dosis tinggi menjadi permasalahan tersendiri karena disamping penambahan biaya produksi, juga terbatasnya ketersediaan kompos. Pada tahun 1990 kelompok tani Sadagori mulai menerapkan sistem agrosilvopastural dengan pola sebagai mana terlihat pada Gambar 1.
Menurut Siagian, dkk. (1993) bahwa sistem agrosilvopastural memiliki banyak keuntungan dibandingkan teras, diantaranya: (a) tenaga dan waktu tidak banyak diperlukan seperti halnya membuat teras, (b) seluruh areal dapat ditanami sehinga areal yang dapat menghasilkan menjadi lebih luas, (d) di daerah berlereng curam dengan solum dangkal yang tidak direkomendasikan untuk dibuat teras pada sistem pertanaman monokultur, dapat diterapkan sistem agrosilvastural.

Gambar 1. Tipe Agrosilvopastural yang diterapkan oleh kelompok tani Sadagori di Desa Nanggela Kecamatan Japang Tengah Kabupaten Sukabumi Jawa Barat (Siagian, dkk. 1993).
Hasil penelitian Abdul-Rauf (2001) di Kawasan Penyangga Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) Kabupaten Langkat Sumatera Utara menunjukkan bahwa sistem agroforestry yang diterapkan di lokasi penelitian ditinjau dari komponen penyusunnya didominasi oleh tipe Agrosilvicultural (81,95%) yaitu tipe agroforestry yang mengkombinasikan tanaman pohon (hutan dan tanaman tahunan) dengan tanaman pertanian semusim. Sisanya sekitar 15,79% merupakan tipe Agrosilvopastural (kombinasi pohon hutan, tanaman pertanian, dan rumput pakan ternak) dan 2,26% petani menerapkan tipe Agroaquaforestry (kombinasi antara tanaman pertanian, kolam ikan dan hutan).
Ditinjau berdasarkan penghitungan pengahasilan bersih terdapat sekitar 4,51% petani agroforestry di kawasan penyangga TNGL yang berpenghasilan kurang dari Rp.4 juta/hektar/tahun. Sekitar 64,67% petani agroforestry di lokasi kajian berpenghasilan bersih antara Rp.4-10 juta per hektar/tahun dan sisanya sekitar 30,82% petani berpenghasilan lebih dari Rp.10 juta/hektar/tahun (Tabel 2).

Tabel 2. Jumlah dan persentase petani agroforestry berdasarkan penghasilan bersih di 4kawasan penyangga TNGL Kabupaten Langkat.

Tipe Agroforestry Tingkat Penghasilan Bersih (Rp./ha/thn)
10 juta
Jumlah % Jumlah % Jumlah %
Agrosilvicultural
Agrosilvopastural
Agroaquaforestry 5

1 3,76

0,75 64
21
1 48,13
15,79
0,75 40

1 30,07

0,75
Jumlah 6 4,51 86 64,67 41 30,82
Sumber: Abdul-Rauf (2001)
Tingkat penghasilan bersih petani agroforestry di kawasan penyangga TNGL Kabupaten Langkat (Tabel 2) ini mengindikasikan bahwa sekitar 4,51% keluarga petani agroforestry berpenghasilan kurang dari kebutuhan hidup minimum (KHM). Kebutuhan hidup minimum (KHM) di pedesaan menurut Sajogyo (1977) setara dengan 320 kg beras/kapita/tahun atau 1600 kg beras/keluarga/tahun (untuk jumlah anggota keluarga 5 orang). Dengan harga beras sebesar Rp.2500,-/kg (pada saat penelitian dilakukan) maka KHM setara dengan Rp.4 juta/keluarga/tahun.
Selanjutnya, Mantra (1996) berpendapat bahwa untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup layak (KHL) atau berada pada ambang kecukupan (yaitu dapat menyekolahkan anak, berobat pada anggota keluarga ada yang sakit, kegiatan sosial, memiliki sarana kehidupan yang memadai, dan dapat menabung) satu keluarga harus berpenghasilan bersih setara dengan 2,5 kali KHM per tahun atau sedikitnya (pada saat penelitian in berlangsung) sekitar Rp.10 juta/keluarga/tahun. Dalam hal ini ada sekitar 30,82% petani agroforestry di kawasan penyangga TNGL yang berpenghasilan lebih dari KHL dan sisanya (64,67%) berpenghasilan diantara KHM dan KHL (Tabel 2). Dari Tabel 2 dapat pula diketahui bahwa petani yang menerapkan tipe Agrosilvopastural tidak ada yang mencapai KHL. Hal ini terjadi karena petani yang menerapkan tipe ini belum secara maksimal memanfaatkan hasil dari lahan agroforestrynya terutama rumput pakan ternak yang tersedia justru dimanfaatkan oleh petani lain (masyarakat) yang memiliki ternak.
Erosi yang terjadi di lahan agroforestry umumnya berada di bawah erosi yang diperbolehkan (Abdul-Rauf, 2004), sedangkan erosi yang terjadi pada lahan pertanian monokultur (intensif) merupakan erosi yang membahayakan (jauh lebih besar dari erosi diperbolehkan) (Tabel 3).

Tabel 3. Erosi pada tipe agroforestry dan lahan pertanian di kawasan penyangga TNGL Kabupaten Langkat pada kemiringan lereng 15-25%.

Tipe Penggunaan Lahan Erosi aktual (ton/ha/thn) Erosi diperbolehkan (ton/ha/thn)
Agrosilvicultural
Agrosilvopastural
Agroaquaforestry
Pertanian monokultur 24.69
10,48
12,49
136,79 31,60
30,60
29,45
31,25
Sumber: Abdul-Rauf (2004)

Dari Tabel 3 dapat diketahui bahwa erosi yang terjadi pada sistem agroforestry tergolong tidak membahayakan karena erosi yang terjadi (erosi aktual) lebih kecil dari erosi yang diperbolehkan (Edp) pada masing-masing lahan agroforestry tersebut. Sedangkan pada sistem pertanian intensif (monokultur) erosi aktual yang terjadi jauh lebih besar (4,4 kali) dibandingkan Edp di lahan tersebut. Hal ini dapat terjadi karena pada sistem pertanian intensif (umumnya tanaman padi gogo, jagung dan kacang tanah) lahan lebih terbuka sehingga enegi kinetik hujan dapat langsung memukul dan memecah butir-butir tanah yang kemudian terbawa oleh aliran permukaan (run-off).
Dari Tabel 3 dapat pula diketahui bahwa erosi pada tipe Agrosilvicultural lebih besar dibandingkan erosi pada tipe agroforestry lainnya. Hal ini dapat terjadi karena pada tipe Agrosilvicultural ini lahan relatif lebih banyak terbuka dibandingkan pada tipe lainnya. Sistem pertanaman pada tipe ini umumnya sistem lorong (alley cropping) sehingga pada areal lahan pertanian diantara barisan tanaman pagar lebih terbuka dan memungkinkan terjadinya erosi yang lebih besar meskipun tidak melebihi erosi yang diperbolehkan.
DAFTAR PUSTAKA
Abdul-Rauf. 2001. Kajian Sosial Ekonomi Sistem Agroforestry di Kawasan Penyangga Ekosistem Leuser; Studi Kasus di Kabupaten Langkat Sumatera Utara. Unit Managemen Leuser (UML), Medan.
Abdul-Rauf. 2004. Kajian Sistem dan Optimasi Penggunaan Lahan Agroforestry di Kawasan Penyangga Taman Nasional Gunung Leuser; Studi Kasus di Kabupaten Langkat Sumatera Utara. Disertasi. Sekolah Pascasarjana IPB, Bogor.
Gintings, A. Ng. 1993. Perkembangan Agroforestry di Sekitar Hutan Sebagai Upaya Pengentasan Kemiskinan: Sebuah Tanggapan. Prosiding Seminar Nasional II MKTI, Yogyakarta, 27-28 Oktober 1993. hal.: 23-25.
Juanda, D. Dan U. Haryati. 1993. Teknologi Konservasi Berorientasi Agribisnis di Lahan Kering DAS Jratunseluna Hulu. Prosiding Seminar Nasional II MKTI, Yogyakarta, 27-28 Oktober 1993. hal.: 209-219.
Mantra, I.B. 1996. Mobilitas Non-permanen Penduduk Pedesaan: Suatu Strategi Meningkatkan Pendapatan Rumah Tangga. Dalam M.T.F.Sitorus, A.Supriono, T. Sumantri dan Gunardi (eds). Memahami dan Menanggulangi Kemiskinan di Indonesia. Penerbit PT. Grasindo, Jakarta. Hal.: 61-77.
Michon, G., F. Mary and J. Bompard. 1989. Multistoreyed Agroforestry Garden System in West Sumatra Indonesia, In. Agroforestry System in The Tropics. Edited by: P.K.R. Nair. Kluwer Academic Publishers, The Netherlands. p. 242-268.
Sajogyo, 1977. Garis Miskin dan Kebutuhan Minimum Pangan. Lembaga Penelitian Sosiologi Pedesaan (LPSP) IPB Bogor.
Siagian, M.O., L.M. Rachman, dan H. Rambe. 1993. Aspek Teknologi Konservasi dalam Pembangunan Pertanian Lahan Kering. Prosiding Lokakarya Nasional Pengelolaan Usahatani Lahan Kering dan Perbukitan Kritis. Jakarta, 2-4 Pebruari 1993. Hal.: 311-313.
Widaningsih, D.S., dan S. Djakamihardja. 1991. Optimasi Penggunaan Lahan Kering Berlereng Curam Dengan Sistem Agroforestry di DAS Cimanuk Hulu Jawa Barat. Prosiding Simposium Nasional Penelitian dan Pengembangan Sistem Usahatani Lahan Kering yang Berkelanjutan. Malang, 29-31 Agustus 1991. Hal.: 101-111.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: