Percobaan: Zona Penghambat Antara Penyebaran Jamur Patogen Dengan Jamur Antagonis

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Istilah pestisida merupakan terjemahan dari pesticide (Inggris) yang berasal dari bahasa latin pestis dan caedo yang bisa diterjemahkan secara bebas menjadi racun untuk mengendalikan jasad pengganggu. Istilah jasad pengganggu pada tanaman sering juga disebut dengan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) (Wudianto, 1997).

Pada awal abad ke-20 pengendalian hama mulai berkembang dengan terbitnya buku insect Pest of Farm, Garden and Orchad karya E. Dwight Sanderson (1915). Selanjutnya revolusi pengendalian hama berkembang dengan penggunaan DDT(Dikloro Difenil Trikloroethana) dan pestisida organik lainnya. Hampir semua kegiatan pertanian diseluruh dunia yang dilakukan secara industri menerapkan pengendalian hama dengan menggunakan DDT (Kusnaedi, 1997).

Organisme pengganggu tanman/tumbuhan (OPT) hanya dapat dikendalikan bila terpapar oleh bahan aktif pestisida dalam jumlah yang cukup untuk mengendalikan atau mematikannya (Djojosumarto, 2000).

Termasuk kedalam golongan pestisida ialah senyawa – senyawa kimia yang secara harfiah tidak membunuh jasad pengganggu akan tetapi karena fungsinya yang menyerupai pestisida maka digolongkan ke dalam pestisida.sebagai contoh senyawa – senyawa peransang atau pengahambat pertumbuhan tanaman atau serangga yang lebih dikenal dengan zat pengatur tumbuh (Sastroutomo, 1992).

Efesiensi penggunaan pestisida terjadi bila ada manipulasi keadaan setelah diketahui cara kerja pestisida tersebut. Cara kerja berhubungan dengan peristiwa pemberian pestisida terhadap organisme pengganggu tanaman (OPT) (Moenandir, 1990)

Trichoderma koningii adalah sebangsa jamur yang tumbuh saprofitis pada tanah atau bahan kayu karena mempunyai enzim selulitik yang sangat aktif. Jamur menghasilkan koloni putih yang tumbuh cepat, yang bila terkena cahaya dengan cepat membentuk konidiofor yang bercabang-cabang. Konidi hampir bulat berdiameter 3,6 – 4,8 µm dan umumnya terlihat kasar (Djafaruddin, 2010).

Sclerotium rolfsii adalah sejenis jamur yang mempunyai miselium yang terdiri dari benang-benang, berwarna putih, tersusun seperti bulu atau kipas. Di sini jamur tidak membentuk spora. Untuk pemencaran dan utnuk mempertahankan diri jamur membentuk sejumlah sklerotium yang semula berwarna putih, kelak menjadi coklat, dengan garis tengah lebih kurang 1 mm. Butir-butir ini mudah sekali lepas dan terangkut oleh air. Sklerotium mempunyai kulit yang kuat sehingga tahan terhadap suhu tinggi dan kekeringan. Di dalam tanah sklerotium dapat bertahan sampai 6- 7 tahun (Untung, 2006).

Sprayer berfungsi untuk menyebarkan pestisida atau pupuk daun ke bagian tertentu dari tanaman. Khusus dalam pengganggu atau gulma. Sasaran penyebaran tersebut ke bagian tanaman yang memiliki luasan sebaran besar, seperti daun, bagian meristematis yang masih muda(Kawiji dan Supriyono, 199).

Tujuan Percobaan

Adapun tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui zona penghambat antara penyebaran jamur patogen dengan jamur antagonis.

TINJAUAN PUSTAKA
Sclerotium rolfsii Sacc.
Menurut (Astiko, dkk, 2009) adapun sistematika bahan dari Sclerotium rolfsii Sacc.adalah :
Kingdom : Mycetaceae
Divisio : Mycopyta
Class : Deuteromycetes
Ordo : Mycelia Steril
Famili : Agonomycetaceae
Genus : Sclerotium
Spesies : Sclerotium rolfsii Sacc.

Biologi Penyebab Penyakit
Sklerotium mempunyai kulit yang kuat sehingga tahan terhadap suhu tinggi dan kekeringan. Di dalam tanah sklerotium dapat bertahan sampai 6 atau 7 tahun. Dalam cuaca yang kering sklerotium akan mengeriput, tetapi dalam lingkungan yang lembab jumlahnya akan bertambah dengan cepat (Rusmawati, 2002).

Daur Hidup
Agen pembawanya adalah penyakit yang terbawa oleh tanah (soil borne) dan aktif dalam tanah dengan bentuk tubuh spora yang disebut sclerotia. Patogen ini pada umumnya ditemukan di daerah tropik dan sub-tropik dan daerah-daerah Amerika Serikat bagian selatan, barat dan tenggara. Daerah ini mempunyai karakteristik iklim panas yang lembab yang kondusif untuk pertumbuhan dan perkembangan patogen. Pertumbuhan Sclerotium spp optimal pada 27-30oC dan sclerotia tidak aktif pada suhu di bawah 00 C (Maspary, 2011).

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi
Patogen akan berkembang baik pada cuaca dengan suhu antara 27 – 30oC. Pada kondisi demikian menyebabkan kelembaban yang sesuai bagi perkembangan patogen. Faktor lain yang juga penting untuk mempertahankan kelembaban tersebut adalah hujan yang tidak terlalu basah pada permukaan tanah. Penyebaran patogen dapat terjadi melalui pergerakan air, tanah yang terinfeksi, perlatan yang terkontaminasi, bagian tanaman yang terinfeksi dan sklerotia yang tercampur benih (Rusmawati, 2002).

Pengendalian
Usaha untuk menurunkan nilai kerusakan yang disebabkan oleh Sclerotium rolfsii telah banyak dilakukan. Penggunaan fungisida kimiawi sering menjadi pilihan utama. Namun fungisida dapat memberikan dampak negative baik pada pengguna, sasaran maupun terhadap lingkungan. Melihat kenyataan yang demikian, maka diperlukan upaya pengendalian yang lenih ramah lingkungan. Salah satu diantaranya adalah dengan menanam varietas tahan. Penanaman varietas tahan bukan berarti meniadakan cara pengendalian lainnya secara keseluruhan namun dalam rangka pengendalian penyakit secara terpadu, menanam varietas yang memiliki ketahanan tinggi ternyata lebih efektif dalam menekan kerugian karena penyakit (Astiko, dkk, 2009).

Trichoderma koningii
Menurut Syahri dan Thamrin (2011) adapun sistematika bahan dari jamur ini adalah :
Kingdom : Mycetaceae
Divisio : Asmatigomycotina
Class : Deuteromycetes
Ordo : Moniliales
Famili : Moniliaceae
Genus : Trichoderma
Spesies : Trichoderma koningii

Biologi Agen Antagonis
Trichoderma koningii mempunyai sporodokia bercabang kurang teratur pada lingkaran. Sporodokia berbentuk piramid yang kasar, fialides dan cabang cenderung bercabang satu-satu dan secara menyeluruh membentuk konidiofor terlebih cenderung linier daripada bentuk piramida, hifa berdiameter 5-10 µm. Konidia berdinding halus dan pendek silindris dengan ukuran3-5µm yang di lepaskan dalam jumlah yang banyak. Klamidospora di bentuk secara interkalar (Suwahyono dan Wahyudi, 2005).

Manfaat dan Keunggulan
Pupuk biologis dan biofungisida Trichoderma dapat dibuat dengan inokulasi biakan murni pada media aplikatif, misalnya dedak. Sedangkan biakan murni dapat dibuat melalui isolasi dari perakaran tanaman, serta dapat diperbanyak dan diremajakan kembali pada media PDA (Potato Dextrose Agar) (Maspary, 2011).

Cendawan antagonis Trichoderma merupakan agens pengendali hayati yang mempunyai banyak mekanisme dalam menyerang dan merusak patogen tanaman. Cendawan Trichoderma diketahui memiliki bebrapa mekanisme dalam pengendali penyakit tanaman seperti melalui mikroparasitisme, antibiosis, kompetisi nutrisi, melarutkan nutrisi anorganik, inaktivasi enzim pathogen serta mekanisme induksi resistensi. Cendawan ini mampu berkompetisi dengan cendawan patogen lainnya. Adanya kemampuan kompetisi ini menyebabkan terhambatnya pertumbuhan patogen tanaman (Syahri dan Thamrin, 2011).

Fungisida
Pada prinsipnya, saat aplikasi fungisida dapat dikelompokkan seperti aplikasi insektisida. Akan tetapi, karena sifat serangan dan cara hidup fungi berbeda dengan hama dan cara kerja fungisida juga berbeda dengan insektisida, maka saat aplikasi fungisida mengalami sedikit perubahan, yaitu 1.) Aplikasi protektif, preventif, atau propilaktik, 2.) Aplikasi kuratif dan eradikatif, 3.) Aplikasi berdasarkan ambang pengendalian (Djojosumarto, 2000).

Fungisida adalah bahan kimia pembunuh jamur. Fungisida sistemik local diserap (diabsorbsi) oleh jaringan tanaman, tetapi tidak atau kurang disebar (ditranslokasi) ke bagian tanaman lainnya. Contohnya adalah simoxanil dan dimetomorf. Sedangkan fungisida preventif atau protektif berfungsi untuk mencegah infeksi cendawan. Oleh karena itu, fungisida ini hanya efektif jika diaplikasikan sebelum ada infeksi. Contohnya dalah maneb (Tjitrosodoedirdjo, dkk., 1984).

Penghambatan atau pemacuan pertumbuhan suatau tumbuhan ditentukan oleh dosis/konsentrasi herbisida tersebut. Suatau herbisida pad adosis/konsentrasi tertentu dapat bersifat selektif, tetapi bila dosis/konsentrasi diturunkan atau dinaikkan berubah menjadi tidak selaktif (Yakup dan Sukman, 1995).

Bahan katif pestisida merupakan bahan penyusun terpenting, suatau formulasi pestisida untuk dipasarkan tidak diproduksikan oleh pabrik dalam bentuk murni hanya dibuat khusus untuk keperluan penelitian atau pengawasan mutu formulasi pestisida. Campuran bahan aktif teknis, sinergis dan bahan aktif pembantu disebut formulasi pestisida (Untung, 2006).

BAHAN DAN METODE
Tempat dan Waktu Perobaan
Percobaan ini dilakukan di Laboratorium Pestisida dan Teknik Aplikasi Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan dengan ketinggian tempat ± 25 m dpl pada tanggal 6 Mei 2011 pada hari Jumat pukul 10.00 WIB sampai dengan selesai.

Bahan dan Alat
Adapun bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah media PDA (Potato Dextrose Agar) sebagai media perkembangbiakan jamur, biakan Trichoderma koningii sebagai agen antagonis, biakan penyakit Sclerotium rolfsii sebagai patogen, alkohol 96% sebagai bahan bakar, kertas kecil sebagai agen fungisida, fungisida sebagai bahan percobaan, alumunium foil sebagai penutup media kertas, cling wrap untuk merekatkan petridish, label nama untuk menamai atau menandai setiap petridish.

Adapun alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah bunsen untuk mensterilkan petridish, jarum ose untuk mengambil patogen media biakan, jarum inokulum untuk mengambil potongan media biakan, beaker glass sebagai wadah alkohol, pinset untuk menjepit kertas, tabung pembolong untuk membolongi media agen antagonis dan patogen, masker sebagai penutup mulut, sarung tangan agar tidak kontak langsung dengan tangan.

Prosedur Percobaan
• Perlakuan Agen Antagonis (Trichoderma koningii vs Sclerotium rolfsii)
– Disiapkan media PDA sebanyak 6 petridish
– Dibolongi media patogen (Sclerotium rolfsii)
– Diletakkan pada media PDA pada satu sisi
– Dibolongi media agen antagonis (Trichoderma koningii)
– Diletakkan pada media PDA di sisi bagian lainnya
– Dilapisi petridish dengan cling wrap, sebelumnya petridish dibakar dengan pembakar bunsen
– Diamati dan diambil datanya setiap hari selama 4 hari

• Perlakuan Fungisida Sistemik
– Disiapkan media PDA sebanyak 6 petridish
– Dibolongi media patogen (Sclerotium rolfsii)
– Diletakkan pada media PDA pada satu sisi
– Disisi lainnya diletakkan kertas kecil yang sebelumnya telah dicelupkan fungisida sistemik terlebih dahulu
– Dilapisi petridish dengan cling wrap, sebelumnya petridish dibakar dengan pembakar bunsen yang kemudian dilapisi dengna cling wrap
– Diamati dan diambil datanya setiap hari selam 4 hari

HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Perlakuan Agen Antagonis (Trichoderma koningii vs Sclerotium rolfsii)
Tanggal
Pengamatan Trichoderma koningii vs Sclerotium rolfsii Keterangan
1 2 3
05/5/2011 0% 0% 0% 0% 0% 0% Jamur Trichoderma telah belum muncul
06/5/2011 0% 0% 0% 0% 0% 0% Jamur Trichoderma telah belum muncul
07/5/2011 0% 0% 0% 0% 0% 0% Jamur Trichoderma telah belum muncul karena agen antagonis cukuf efektif dalam menekan pertumbuhan Sclerotium rollfsii</em

Perlakuan Fungisida Sistemik
Tanggal
Pengamatan Trichoderma koningii vs Sclerotium rolfsii Keterangan
1 2 3
05/5/2011 0% 0% 0% 0% 0% 0% Belum ada pertumbuhan di Sclerotium rollfsii
06/5/2011 0% 0% 0% 0% 0% 0% Masih belum ada pertumbuhan di Sklerotium
07/5/2011 0% 0% 0% 0% 0% 0% Masih belum ada pertumbuhan di Sklerotium

Perhitungan
Rumus : R2-R1/R2 x 100 %
Perlakuan Fungisida Sistemik
05 Mei 2011 : – IZ = 0% 06 Mei 2011 : – IZ = 0%
– IZ = 0% – IZ = 0%
– IZ = 0% – IZ = 0%

07 Mei 2011 : – IZ = 0%
– IZ = 0%
– IZ = 0%
Perlakuan Agen Antagonis (Trichoderma koningii vs Sclerotium rolfsii)
05 Mei 2011 : – IZ = 0% 06 Mei 2011 : – IZ = 0%
– IZ = 0% – IZ = 0%
– IZ = 0% – IZ = 0%

07 Mei 2011 : – IZ = 0%
– IZ = 0%
– IZ = 0%

Pembahasan
Dari hasil percobaan, diperoleh bahwa hasil pada perlakuan Trichoderma koningii vs Sclerotium rolfsii yaitu persentasenya masing-masing sebesar 0%. Hal ini menunjukkan bahwa jamur Trichoderma koningii efektif bekerja sebagai agen antagonis. Hal ini disebabkan karena pada jamur Trichoderma koningii terdapat senyawa toksin trichodermin yang mampu menyerang dan menghancurkan propagul yang berisi spora-spora patogen disekitarnya. Hal ini sesuai dengan literatur Djojosumarto (2000) yang menyatakan bahwa beberapa anggota Trichoderma dapat menghasilkan toksin trichodermin. Toksin tersebut dapat menyerang dan menghancurkan propagul yang berisi spora-spora patogen disekitarnya.

Dari hasil percobaan, diperoleh bahwa hasil pada perlakuan fungisida sistemik yaitu persentasenya sebesar 0%, 0%, dan 0%. Hal ini menunjukkan bahwa penyebaran Sclerotium rolfsii dihambat oleh fungisida sistemik. Hal ini disebabkan karena fungisida sistemik yang menempel pada patogen kertas, meresap ke media PDA. Hingga akhirnya fungisida tersebut menghambat penyebaran jamur Sclerotium rolfsii. Hal ini sesuai dengan literatur Triharso (1994) yang menyatakan bahwa fungisida sistemik lokal diserap (diabsorbsi) oleh jaringan tanaman, lalu disebar (ditranslokasikan) ke bagian tanaman lainnya

Dari hasil percobaan, diperoleh bahwa hasil pada perlakuan Trichoderma koningii vs Sclerotium rolfsii bahwa persentase penyebarannya sebesar 0%. Hal ini menunjukkan bahwa jamur Trichoderma tidak cukup mampu menginfeksijamur patogen lain (Sclerotium rolfsii) dalam jangka waktu yang singkat. Hal ini disebabkan masing-masing jamur tidak terkontaminasi mungkin tidak sterilnya alat-alat media. Hal ini sesuai dengan literatur Syhari dan Thamrin (2011) yang menyatakan bahwa cendawan antagonis Trichoderma merupakan agens pengendali hayati yang mempunyai banyak mekanisme dalam menyerang dan merusak patogen tanaman.

Dari hasil percobaan, diperoleh hasil bahwa perlakuan Trichoderma koningii vs Sclerotium rolfsii dan perlakuan fungisida sistemik memberikan efek yang sama dalam menginfeksi jamur patogen Sclerotium rolfsii. Tetapi, pada perlakuan Trichoderma koningii vs Sclerotium rolfsii jelas terlihat secara langsung, sedangkan pada perlakuan fungisida sistemik proses absorbsi dan translokasi tidak bisa dilihat secara nyata.


KESIMPULAN

1.Pada perlakuan Trichoderma koningii vs Sclerotium rolfsii persentase serangannya masing-asing sebesar 0%
2.Pada perlakuan fungisida sistemik persentase serangannya sebesar 0%, 0%, dan 0%.
3.Pada perlakuan Trichoderma koningii vs Sclerotium rolfsii persentase serangannya tidak cukup efektif karena tidak sterilnya media bahan.
4.Perlakuan Trichoderma koningii vs Sclerotium rolfsii dan fungisida sistemik tidak begitu efektifnya dalam menginfeksi jamur Sclerotium rolfsii
5.Trichoderma koningii lebih efektif apabila digunakan sebagai agens antagonis atau pengendalian hayati


DAFTAR PUSTAKA

Astiko, W., I. Muthahanas, Y. Fitrianti. 2009. Uji Ketahanan Bebrapa Varietas Kacang Tanah Lokal Bima Terhadap Penyakit Sclerotium rolfsii. Diakses dari http://ditjenbun.deptan.go.id. Pada tangal 11 Mei 2011.
Djojosumarto, P. 2000. Teknik Aplikasi Pestisida Pertanian. Kanisius. Yogyakarta.
Djafaruddin, 2010. Dasar-Dasar Pengendalian Penyakit Tanaman. Bumi Aksara. Jakarta.
Kawiji dan Supriyono, 1997. Sprayer Pertanian Jenis Penggunaan dan Perawatan. Trubus Agromedia: Jakarta.
Kusnaedi, 1997. Pengendalian Hama Tanpa Pestisida. Penebar Swadaya. Jakarta.
Maspary. 2011. Trichoderma sp. Sebagai Pupuk Biologis dan Biofungisida. Diakses dari http://www.trichoderma sp. html. Pada tanggal 11 Mei 2011.
Moenandir, J. 1990. Fisiololgi Herbisida. CV. Rajawali. Jakarta
Rusmawati, K. Y. 2002. Pengaruh Solarisasi Tanah Terhadap Penyakit Tular Tanahdan Produksi Benih Kacang Tanah. Diakses dari http://www.balitbang.deptan.go.id pada tanggal 11 Mei 2011.
Sastroutomo, S.S. 1992. Dasar – Dasar dan Dampak Penggunaan Pestisida. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Sembodo, D.R.J. 2010. Gulam dan Pengelolaannya. Graha Ilmu. Yogyakarta.
Suwahyono, U, dan P. Wahyudi, 2005. Penggunaan Biofungisida pada Usaha Perkebunan. Direktorat Tekhnologi Bioindustri-BPPTP. Diakses melalui http://www.iptek.net.id pada tanggal 11 mei 2011.
Syahri dan T. Thamrin. Potensi Pemanfaatan Cendawan Trichoderma sp. Sebagai Agens Pengendali Penyakit Tanaman di Lahan Rawa Lebak. Diakses dari http://www.balitbang.deptan.go.id pada tanggal 11 Mei 2011.
Sukman, Y., dan Yakup. 1995. Gulma dan Teknik Pengendaliannya. Raja Grafindo Persada.
Tjitrosodoedirdjo, S., I.H. Utomo, dan J. Wiroatmodjo. 1984. Pengelolaan Gulma di Perkebunan. Gramedia. Jakarta.
Untung, K. 2006. Pengantar Pengelolaan Hama Terpadu (edisi ke-2). Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Wudianto, R. 1997. Petunjuk Penggunakan Pestisida. Penebar Swadaya. Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s