Sistem sertifikasi RSPO

Sistem sertifikasi RSPO

Pengelolaan minyak sawit berkelanjutan khas RSPO

Crude Palm Oil, biasa dikenal dengan CPO yang merupakan produk setengah jadi yang berbentuk minyak kelapa sawit adalah salah satu komoditi perkebunan terbesar di dunia. Harga CPO yang sempat terjun bebas (Rp5.300 per kg pada akhir tahun 2008) yang diakibatkan oleh krisis ekonomi global dan sejalan dengan penurunan harga minyak mentah dunia.

Hal ini cukup memberikan pengaruh yang signifikan terhadap perkembangan perekonomian negara pada umumnya dan khususnya perusahaan perkebunan sebagai produsen. Pada awal tahun 2009 perkembangan harga CPO mulai menunjukkan harapan yang cukup baik bagi perusahaan perkebunan kelapa sawit. Peningkatan harga CPO yang mulai membaik meningkatkan kembali gairah produsen minyak sawit untuk terus berproduksi.

Berkembangnya industri kelapa sawit tidak terlepas dari bagaimana pengelolaan minyak sawit yang berkelanjutan dan lestari. Industri kelapa sawit sering dituding sebagai salah satu penyebab rusaknya lingkungan dan hutan-hutan tropis serta hilangnya keanekaragaman hayati yang ada. Untuk mengatasi masalah tersebut pengembangan industri minyak sawit harus dilakukan secara lestari.

Tuntutan dari pasar global terhadap pengelolaan perkebunan dan pengolahan kelapa sawit yang bertanggung jawab dengan memperhatikan aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi saat ini sangat besar. Hal inilah yang kemudian melahirkan suatu konsep minyak sawit lestari oleh suatu badan yang disebut dengan Roundtable On Sustainable Palm Oil (RSPO).

RSPO adalah proses pengelolaan kebun dan pabrik kelapa sawit untuk mencapai satu atau lebih tujuan yang ditetapkan guna produksi barang dan jasa secara terus menerus dengan tidak mengurangi nilai inheren dan produktivitas masa depannya, serta tanpa menimbulkan dampak yang tidak diinginkan terhadap lingkungan biologi, fisik, dan sosial.

Visi RSPO adalah akan menjamin produksi minyak sawit dapat memberikan kontribusi untuk dunia yang lebih baik. Sedangkan Misi RSPO adalah mempromosikan produksi, pembelian dan penggunaan minyak sawit yang lestari, melalui pembangunan, penerapan, dan verifikasi dengan menggunakan standar global yang kredibel, didukung oleh perjanjian dan komunikasi pada seluruh pihak terkait dalam rantai supply.

Adapun tujuan RSPO adalah mempromosikan produksi dan penggunaan minyak sawit berkelanjutan melalui kerjasama di sepanjang rantai pasok (supply chain) dan dialog terbuka dengan para pemangku kepentingan (stakeholders).

Konferensi Minyak Sawit Lestari (RSPO) awalnya diprakarsai oleh kerjasama tidak resmi diantara Aarhus United UK Ltd, Golden Hope Plantation Bhd, Migos, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Malaysia, Sainsbury’s dan Unilever dengan WWF pada akhir tahun 2002. Organisasi-organisasi tersebut bergabung sebagai Organizing Committe untuk melaksanakan Pertemuan Meja Bundar Pertama pada bulan Agustus 2003 di Kuala Lumpur, dan meletakkan dasar-dasar guna menciptakan struktur organisasi dan pengawasan yang menghasilkan pembentukan RSPO.

Sejak dibentuknya RSPO pada Agustus 2003, telah dilakukan beberapa kali Roundtable Meeting yaitu Roundtable Meeting (RT2) pada tanggal 5-6 Oktober 2004 di Jakarta yang dilaksanakan oleh Komisi Minyak Sawit Indonesia (KMSI), Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), dan WWF Indonesia bersama-sama dengan RSPO. Roundtable Meeting (RT3) di laksanakan di Singapura pada tanggal 22-23 Nopember 2005.

Hasil utama dari pertemuan RT3 adalah telah diterimanya 8 Prinsip dan 39 Kriteria untuk Produksi Minyak Sawit Lestari sebagai satu paket utuh oleh para anggota RSPO. Adapun 8 Prinsip tersebut adalah pertama-komitmen terhadap transparansi (2 kriteria), kedua-memenuhi hukum & peraturan yang berlaku (3 kriteria), ketiga-komitmen terhadap kelayakan ekonomi dan keuangan jangka panjang (1 kriteria), keempat-penggunaan praktek terbaik dan tepat oleh perkebunan & pabrik (8 kriteria, kelima-tanggungjawab lingkungan & konservasi kekayaan alam dan keanekaragaman hayati (6 kriteria). Kemudian, keenam-tanggungjawab kepada pekerja, individu-individu, dan komunitas dari kebun dan pabrik (11 kriteria), ketujuh-pengembangan perkebunan baru secara bertanggung jawab (7 kriteria) kedelapan-komitmen terhadap perbaikan terus menerus pada wilayah-wilayah utama aktivitas (1 kriteria).

Pada RT4 di Singapura, penulis menjadi saksi diperkenalkannya RSPO Indonesia Liaison Office (RILO) pada 21 Desember 2006 untuk mendukung Sekretariat RSPO di Kuala Lumpur dan meningkatkan pelaksanaan tujuan RSPO di Indonesia.

RILO telah mendapatkan masukan dan dukungan dari para pelaku kunci dalam industri minyak sawit di Indonesia, khususnya Komisi Minyak Sawit Indonesia (KMSI), Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), WWF Indonesia, dan Sawit Watch.

Roundtable Meeting (RT6) kembali diadakan di Indonesia tepatnya di Bali pada tanggal 18-20 Nopember 2008. Pertemuan ini turut dihadiri oleh sekitar 50 petani kelapa sawit. Pada pertemuan ini membuka ruang bagi petani untuk masuk ke dalam proses produksi dan menempatkan mereka setara dengan kelompok lainnya dalam proses sertifikasi. Petani mengharapkan agar RSPO lebih memperhatikan kepentingan mereka karena kepentingan pengusaha dinilai masih dominan.

Hingga saat ini ada sekitar 600 perusahaan minyak sawit Indonesia yang sudah menjadi anggota RSPO. Beberapa perusahaan perkebunan yang berada di Sumatera Utara khususnya telah mempunyai sertifikat RSPO dan melakukan public announcement RSPO al.PT.Musim Mas, PT.PP Lonsum Tbk, PT. Perkebunan Nusantara III, dan lain-lain.

Tampaknya kriteria-kriteria yang dihasilkan dari RSPO ini tidak selalu sesuai dengan negara-negara produsen minyak sawit mentah (CPO). Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) memperkirakan bahwa peraturan di tingkat regional dan nasional sulit diterapkan pada perkebunan di Indonesia. Hal ini dikarenakan ketentuan dan pedoman pengelolaan dan pengembangan minyak sawit yang dikeluarkan sangat ketat dan sulit dilaksanakan.

Namun demikian demi terciptanya pengelolaan sawit yang berkelanjutan dan lestari serta melaksanakan komitmen untuk mencapai dan mendukung perkebunan dan pengelolaan kelapa sawit yang bertanggung jawab. Maka perusahaan perkebunan dan pengolah kelapa sawit dituntut untuk dapat menunjukkan kinerjanya sesuai dengan standar RSPO. Sehingga isu-isu yang mengangkat masalah kerusakan lingkungan seperti global warming, produk yang tidak ramah lingkungan, kerusakan hutan, dan hilangnya keanekaragaman hayati akibat usaha perkebunan kelapa sawit dapat diatas

Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) : Bidang kerja RSPO sangatlah penting dalam mendorong industri untuk menuju kesinambungan.

Komitmen Yang Sudah Ada Sejak Dulu

Komitmen kami terhadap kelapa sawit berkelanjutan bukanlah hal yang baru. Pada pertengahan tahun 1990an, sebagai bagian dari program pertanian berkelanjutan kami, kami memulai mengembangkan Panduan Pengolahan Pertanian yang Baik untuk kelapa sawit.

Pada tahun 2004 kami menjadi anggota pendiri dari Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) – sebuah program yang dibentuk industri untuk membangun kerjasama dengan organisasi konservasi WWF.

Unilever mengambil langkah untuk membentuk RSPO karena pemerintah lokal belum mampu membuat peraturan untuk sektor ini dengan semestinya.Seringkali perkembangan ekonomi mendapat prioritas yang lebih tinggi dibandingkan dengan pelestarian hutan.

RSPO adalah asosiasi non-profit yang menyatukan pihak-pihak terkait dari enam sektor dalam industri kelapa sawit, yakni produsen minyak kelapa sawit, pemroses atau pedagang kelapa sawit, manufaktur barang-barang konsumen, peritel, bank dan investor, LSM lingkungan serta LSM sosial untuk mengembangkan dan menerapkan standar global untuk minyak kelapa sawit yang berkesinambungan.

RSPO saat ini memiliki lebih dari 370 anggota, yang mewakili lebih dari 40% minyak kelapa sawit yang diproduksi di dunia. Bekerja untuk meningkatkan jumlah minyak kelapa sawit berkesinambungan yang disertifikasi, RSPO telah menyusun kriteria kesinambungan untuk para supplier yang layak disertifikasi.
Peran RSPO

Unilever mendukung RSPO secara penuh. Kami berkeyakinan cara yang terbaik untuk mewujudkan industri berkesinambungan adalah bekerja sama dengan sejumlah organisasi.

RSPO telah membentuk dasar untuk forum yang terbuka untuk pengguna, produsen dan LSM seperti WWF, Rainforest Alliance, Oxfam dan Sawit Watch, di mana kesinambungan dan perusakan hutan mendapat tempat untuk dibahas

RSPO telah menetapkan standar yang disebut sebagai Principles & Criteria (P&C) yang mendefinisikan tindakan untuk kelapa sawit yang berkesinambungan. Standar ini memuat syarat-syarat ekonomi, lingkungan hidup dan sosial dari produksi minyak kelapa sawit

RSPO telah menyusun sistem sertifikasi RSPO, yang merupakan kerangka untuk mengakui para produsen atau penanam yang memproduksi kelapa sawit sesuai dengan prinsip dan kriteria yang ada secara formal. Sistem sertifikasi ini juga memverifikasi klaim dari penggunaan atau dukungan RSPO – minyak kelapa sawit yang disertifikasi oleh para pemain dalam supply chain dan manufaktur produk akhir atau pemroses adalah asli.

RSPO dikelola oleh gabungan anggota dewan umum di tiap tahunnya. Sidang memutuskan anggota dari badan eksekutif dan memberikan suara untuk resolusi. Direktur dari Pertanian Berkelanjutan Unilever, Jan Kees Vis, adalah pemimpin dewan eksekutif saat ini.
Memungkinkan sertifikasi

Menyusul disetujuinya prinsip-prinsip dan kriteria RSPO pada bulan November 2005, sebuah kelompok kerja membuat kriteria untuk produksi kelapa sawit yang berkelanjutan, dan ini diuji oleh anggota-anggota kelompok Roundtable -sekitar tahun 2007.

RSPO mengembangkan interpretasi nasional dari kriteria generik pada tahun 2007 untuk memungkinkan perbedaan peraturan nasional pada negara-negara produksi. Kemudian, pada konferensi Roundtable yang kelima tentang Minyak Kelapa Sawit yang berkelanjutan pada bulan November 2007, RSPO meluncurkan kerangka sertifikasinya, menjadikannya yang pertama untuk memberikan sertifikasi pada pengolahan kelapa sawit berkesinambungan.

Hasil pertama dari kelapa sawit berkelanjutan yang disertifikasi memasuki pasar pada bulan November 2008. Unilever membeli sejumlah bagian dari pengiriman pertama ini.

RSPO juga telah menjadi instrumen dalam pembuatan sertifikat GreenPalm. Sertifikat ini mendukung produksi kelapa sawit yang berkelanjutan sesuai standar RSPO.
Memastikan kesesuaian

RSPO adalah organisasi sukarela yang memiliki dua mekanisme untuk memastikan para anggotanya mematuhi komitmen bersama. Yang pertama adalah Kode Etik Tindakan dan yang kedua adalah kerangka sertifikasi. Produsen minyak kelapa sawit diminta untuk berkomitmen dengan mengupayakan sertifikasi operasional mereka sesuai standar RSPO. Para konsumen kelapa sawit diminta berkomitmen dengan membeli dan mempergunakan kepala sawit yang sudah disertifikasi. Kemajuan laporan kewajiban tahunan yang didasarkan pada pengawasan satu sama lain tersedia di situs web RSPO.

Kami percaya bahwa tidak ada konflik kepentingan dalam hal keberadaan karyawan Unilever di badan eksekutif RSPO. Agenda RSPO dan kelapa sawit berkelanjutan secara keseluruhan terlalu besar untuk diurus satu organisasi saja. Pihak-pihak terkait perlu bekerja bersama, dalam koalisi, untuk menangani hal terkait minyak kelapa sawit yang berkesinambungan ini.

IBLIS LAKNATULLAH : SEBARKAN WAHAI UMMAT MUSLIM BAHWA IBLIS ADALAH MUSUH UTAMA MANUSIA

Saat Iblis Bertamu Kepada Rasullah SAW
Iblis Terpaksa Bertamu Kepada Rasulullah SAW

(dari Muadz bin Jabal dari Ibn Abbas)

Ketika kami sedang bersama Rasulullah SAW di kediaman seorang sahabat Anshar, tiba-tiba terdengar panggilan seseorang dari luar rumah: “Wahai penghuni rumah, bolehkah aku masuk? Sebab kalian akan membutuhkanku.”

Rasulullah bersabda: “Tahukah kalian siapa yang memanggil?”

Kami menjawab: “Allah dan rasulNya yang lebih tahu.”

Beliau melanjutkan, “Itu Iblis, laknat Allah bersamanya.”

Umar bin Khattab berkata: “Izinkan aku membunuhnya wahai Rasulullah”.

Nabi menahannya: “Sabar wahai Umar, bukankah kamu tahu bahwa Allah memberinya kesempatan hingga hari kiamat? Lebih baik bukakan pintu untuknya, sebab dia telah diperintahkan oleh Allah untuk ini, pahamilah apa yang hendak ia katakan dan dengarkan dengan baik.”

Ibnu Abbas RA berkata: pintu lalu dibuka, ternyata dia seperti seorang kakek yang cacat satu matanya. Di janggutnya terdapat 7 helai rambut seperti rambut kuda, taringnya terlihat seperti taring babi, bibirnya seperti bibir sapi.

Iblis berkata: “Salam untukmu Muhammad. Salam untukmu para hadirin…”

Rasulullah SAW lalu menjawab: “Salam hanya milik Allah SWT, sebagai mahluk terlaknat, apa keperluanmu?”

Iblis menjawab: “Wahai Muhammad, aku datang ke sini bukan atas kemauanku, namun karena terpaksa.”

“Siapa yang memaksamu?”

Seorang malaikat dari utusan Allah telah mendatangiku dan berkata:

“Allah SWT memerintahkanmu untuk mendatangi Muhammad sambil menundukkan diri.beritahu Muhammad tentang caramu dalam menggoda manusia. jawabalah dengan jujur semua pertanyaannya. Demi kebesaran Allah, andai kau berdusta satu kali saja, maka Allah akan jadikan dirimu debu yang ditiup angin.”

“Oleh karena itu aku sekarang mendatangimu. Tanyalah apa yang hendak kau tanyakan. Jika aku berdusta, aku akan dicaci oleh setiap musuhku. Tidak ada sesuatu pun yang paling besar menimpaku daripada cacian musuh.”
Orang Yang Dibenci Iblis

Rasulullah SAW lalu bertanya kepada Iblis: “Kalau kau benar jujur, siapakah manusia yang paling kau benci?”

Iblis segera menjawab: “Kamu, kamu dan orang sepertimu adalah mahkluk Allah yang paling aku benci.”

“Siapa selanjutnya?”

“Pemuda yang bertakwa yang memberikan dirinya mengabdi kepada Allah SWT.”

“lalu siapa lagi?”

“Orang Aliim dan wara’ (Loyal)”

“Lalu siapa lagi?”

“Orang yang selalu bersuci.”

“Siapa lagi?”

“Seorang fakir yang sabar dan tak pernah mengeluhkan kesulitannnya kepda orang lain.”

“Apa tanda kesabarannya?”

“Wahai Muhammad, jika ia tidak mengeluhkan kesulitannya kepada orang lain selama 3 hari, Allah akan memberi pahala orang -orang yang sabar.”

” Selanjutnya apa?”

“Orang kaya yang bersyukur.”

“Apa tanda kesyukurannya?”

“Ia mengambil kekayaannya dari tempatnya, dan mengeluarkannya juga dari tempatnya.”

“Orang seperti apa Abu Bakar menurutmu?”

“Ia tidak pernah menurutiku di masa jahiliyah, apalagi dalam Islam.”

“Umar bin Khattab?”

“Demi Allah setiap berjumpa dengannya aku pasti kabur.”

“Usman bin Affan?”

“Aku malu kepada orang yang malaikat pun malu kepadanya.”

“Ali bin Abi Thalib?”

“Aku berharap darinya agar kepalaku selamat, dan berharap ia melepaskanku dan aku melepaskannya. tetapi ia tak akan mau melakukan itu.” (Ali bin Abi Thalib selau berdzikir terhadap Allah SWT)

Amalan Yang Dapat Menyakiti Iblis

“Apa yang kau rasakan jika melihat seseorang dari umatku yang hendak shalat?”

“Aku merasa panas dingin dan gemetar.”

“Kenapa?”

“Sebab, setiap seorang hamba bersujud 1x kepada Allah, Allah mengangkatnya 1 derajat.”

“Jika seorang umatku berpuasa?”

“Tubuhku terasa terikat hingga ia berbuka.”

“Jika ia berhaji?”

“Aku seperti orang gila.”

“Jika ia membaca al-Quran?”

“Aku merasa meleleh laksana timah diatas api.”

“Jika ia bersedekah?”

“Itu sama saja orang tersebut membelah tubuhku dengan gergaji.”

“Mengapa bisa begitu?”

“Sebab dalam sedekah ada 4 keuntungan baginya. Yaitu keberkahan dalam hartanya, hidupnya disukai, sedekah itu kelak akan menjadi hijab antara dirinya dengan api neraka dan segala macam musibah akan terhalau dari dirinya.”

“Apa yang dapat mematahkan pinggangmu?”

“Suara kuda perang di jalan Allah.”

“Apa yang dapat melelehkan tubuhmu?”

“Taubat orang yang bertaubat.”

“Apa yang dapat membakar hatimu?”

“Istighfar di waktu siang dan malam.”

“Apa yang dapat mencoreng wajahmu?”

“Sedekah yang diam – diam.”

“Apa yang dapat menusuk matamu?”

“Shalat fajar.”

“Apa yang dapat memukul kepalamu?”

“Shalat berjamaah.”

“Apa yang paling mengganggumu?”

“Majelis para ulama.”

“Bagaimana cara makanmu?”

“Dengan tangan kiri dan jariku.”

“Dimanakah kau menaungi anak – anakmu di musim panas?”

“Di bawah kuku manusia.”

Manusia Yang Menjadi Teman Iblis

Nabi lalu bertanya : “Siapa temanmu wahai Iblis?”

“Pemakan riba.”

“Siapa sahabatmu?”

“Pezina.”

“Siapa teman tidurmu?”

“Pemabuk.”

“Siapa tamumu?”

“Pencuri.”

“Siapa utusanmu?”

“Tukang sihir.”

“Apa yang membuatmu gembira?”

“Bersumpah dengan cerai.”

“Siapa kekasihmu?”

“Orang yang meninggalkan shalat jumaat”

“Siapa manusia yang paling membahagiakanmu?”

“Orang yang meninggalkan shalatnya dengan sengaja.”

Iblis Tidak Berdaya Di hadapan Orang Yang Ikhlas

Rasulullah SAW lalu bersabda : “Segala puji bagi Allah yang telah membahagiakan umatku dan menyengsarakanmu.”

Iblis segera menimpali:

“Tidak,tidak.. tak akan ada kebahagiaan selama aku hidup hingga hari akhir. Bagaimana kau bisa berbahagia dengan umatmu, sementara aku bisa masuk ke dalam aliran darah mereka dan mereka tak bisa melihatku. Demi yang menciptakan diriku dan memberikanku kesempatan hingga hari akhir, aku akan menyesatkan mereka semua. Baik yang bodoh, atau yang pintar, yang bisa membaca dan tidak bisa membaca, yang durjana dan yang shaleh, kecuali hamba Allah yang ikhlas.”

“Siapa orang yang ikhlas menurutmu?”

“Tidakkah kau tahu wahai Muhammad, bahwa barang siapa yang menyukai emas dan perak, ia bukan orang yang ikhlas. “

“Jika kau lihat seseorang yang tidak menyukai dinar dan dirham, tidak suka pujian dan sanjunang, aku bisa pastikan bahwa ia orang yang ikhlas, maka aku meninggalkannya. “

“Selama seorang hamba masih menyukai harta dan sanjungan dan hatinya selalu terikat dengan kesenangan dunia, ia sangat patuh padaku.”
Iblis Dibantu oleh 70.000 Anak-Anaknya

“Tahukah kamu Muhammad, bahwa aku mempunyai 70.000 anak. Dan setiap anak memiliki 70.000 syaithan.

Sebagian ada yang aku tugaskan untuk mengganggu ulama. Sebagian untuk menggangu anak – anak muda, sebagian untuk menganggu orang -orang tua, sebagian untuk menggangu wanta – wanita tua, sebagian anak -anakku juga aku tugaskan kepada para Zahid.

Aku punya anak yang suka mengencingi telinga manusia sehingga ia tidur pada shalat berjamaah. tanpanya, manusia tidak akan mengantuk pada waktu shalat berjamaah.

Aku punya anak yang suka menaburkan sesuatu di mata orang yang sedang mendengarkan ceramah ulama hingga mereka tertidur dan pahalanya terhapus.

Aku punya anak yang senang berada di lidah manusia, jika seseorang melakukan kebajikan lalu ia beberkan kepada manusia, maka 99% pahalanya akan terhapus.

Pada setiap seorang wanita yang berjalan, anakku dan syaithan duduk di pinggul dan pahanya, lalu menghiasinya agar setiap orang memandanginya.”

Syaithan juga berkata, “keluarkan tanganmu”, lalu ia mengeluarkan tangannya lalu syaithan pun menghiasi kukunya.

“Mereka, anak – anakku selalu meyusup dan berubah dari satu kondisi ke kondisi lainnya, dari satu pintu ke pintu yang lainnya untuk menggoda manusia hingga mereka terhempas dari keikhlasan mereka.

Akhirnya mereka menyembah Allah tanpa ikhlas, namun mereka tidak merasa.

Tahukah kamu, Muhammad? bahwa ada rahib yang telah beribadat kepada Allah selama 70 tahun. Setiap orang sakit yang didoakan olehnya, sembuh seketika. Aku terus menggodanya hingga ia berzina, membunuh dan kufur.”
Cara Iblis Menggoda

“Tahukah kau Muhammad, dusta berasal dari diriku?

Akulah mahluk pertama yang berdusta.

Pendusta adalah sahabatku. barangsiapa bersumpah dengan berdusta, ia kekasihku.

Tahukah kau Muhammad?

Aku bersumpah kepada Adam dan Hawa dengan nama Allah bahwa aku benar – benar menasihatinya.

Sumpah dusta adalah kegemaranku.

Ghibah (gossip) dan Namimah (Adu domba) kesenanganku.

Kesaksian palsu kegembiraanku.

Orang yang bersumpah untuk menceraikan istrinya ia berada di pinggir dosa walau hanya sekali dan walaupun ia benar. Sebab barang siapa membiasakan dengan kata – kata cerai, isterinya menjadi haram baginya. Kemudian ia akan beranak cucu hingga hari kiamat. jadi semua anak – anak zina dan ia masuk neraka hanya karena satu kalimat, CERAI.

Wahai Muhammad, umatmu ada yang suka mengulur ulur shalat. Setiap ia hendak berdiri untuk shalat, aku bisikan padanya waktu masih lama, kamu masih sibuk, lalu ia manundanya hingga ia melaksanakan shalat di luar waktu, maka shalat itu dipukulkannya kemukanya.

Jika ia berhasil mengalahkanku, aku biarkan ia shalat. Namun aku bisikkan ke telinganya ‘lihat kiri dan kananmu’, iapun menoleh. pada saat iatu aku usap dengan tanganku dan kucium keningnya serta aku katakan ’shalatmu tidak sah’

Bukankah kamu tahu Muhammad, orang yang banyak menoleh dalam shalatnya akan dipukul.

Jika ia shalat sendirian, aku suruh dia untuk bergegas. ia pun shalat seperti ayam yang mematuk beras.

jika ia berhasil mengalahkanku dan ia shalat berjamaah, aku ikat lehernya dengan tali, hingga ia mengangkat kepalanya sebelum imam, atau meletakkannya sebelum imam.

Kamu tahu bahwa melakukan itu batal shalatnya dan wajahnya akan dirubah menjadi wajah keledai.

Jika ia berhasil mengalahkanku, aku tiup hidungnya hingga ia menguap dalam shalat. Jika ia tidak menutup mulutnya ketika mnguap, syaithan akan masuk ke dalamdirinya, dan membuatnya menjadi bertambah serakah dan gila dunia.

Dan iapun semakin taat padaku.

Kebahagiaan apa untukmu, sedang aku memerintahkan orang miskin agar meninggalkan shalat. aku katakan padaknya, ‘kamu tidak wajib shalat, shalat hanya wajib untuk orang yang berkecukupan dan sehat. orang sakit dan miskin tidak, jika kehidupanmu telah berubah baru kau shalat.’

Ia pun mati dalam kekafiran. Jika ia mati sambil meninggalkan shalat maka Allah akan menemuinya dalam kemurkaan.

Wahai Muhammad, jika aku berdusta Allah akan menjadikanku debu.

Wahai Muhammad, apakah kau akan bergembira dengan umatmu padahal aku mengeluarkan seperenam mereka dari islam?”
10 Hal Permintaan Iblis kepada Allah SWT

“Berapa hal yang kau pinta dari Tuhanmu?”

“10 macam”

“Apa saja?”

“Aku minta agar Allah membiarkanku berbagi dalam harta dan anak manusia, Allah mengizinkan.”

Allah berfirman,

“Berbagilah dengan manusia dalam harta dan anak. dan janjikanlah mereka, tidaklah janji setan kecuali tipuan.” (QS Al-Isra :64)

“Harta yang tidak dizakatkan, aku makan darinya. Aku juga makan dari makanan haram dan yang bercampur dengan riba, aku juga makan dari makanan yang tidak dibacakan nama Allah.

Aku minta agar Allah membiarkanku ikut bersama dengan orang yang berhubungan dengan istrinya tanpa berlindung dengan Allah, maka setan ikut bersamanya dan anak yang dilahirkan akan sangat patuh kepada syaithan.

Aku minta agar bisa ikut bersama dengan orang yang menaiki kendaraan bukan untuk tujuan yang halal.

Aku minta agar Allah menjadikan kamar mandi sebagai rumahku.

Aku minta agar Allah menjadikan pasar sebagai masjidku.

Aku minta agar Allah menjadikan syair sebagai Quranku.

Aku minta agar Allah menjadikan pemabuk sebagai teman tidurku.

Aku minta agar Allah memberikanku saudara, maka Ia jadikan orang yang membelanjakan hartanya untuk maksiat sebagai saudaraku.”

Allah berfirman,

“Orang -orang boros adalah saudara – saudara syaithan. ” (QS Al-Isra : 27).

“Wahai Muhammad, aku minta agar Allah membuatku bisa melihat manusia sementara mereka tidak bisa melihatku.

Dan aku minta agar Allah memberiku kemampuan untuk mengalir dalam aliran darah manusia.

Allah menjawab, “silahkan”, dan aku bangga dengan hal itu hingga hari kiamat.

Sebagian besar manusia bersamaku di hari kiamat.”

Iblis berkata : “Wahai muhammad, aku tak bisa menyesatkan orang sedikitpun, aku hanya bisa membisikan dan menggoda.

Jika aku bisa menyesatkan, tak akan tersisa seorangpun…!!!

Sebagaimana dirimu, kamu tidak bisa memberi hidayah sedikitpun, engkau hanya rasul yang menyampaikan amanah.

Jika kau bisa memberi hidayah, tak akan ada seorang kafir pun di muka bumi ini. Kau hanya bisa menjadi penyebab untuk orang yang telah ditentukan sengsara.

Orang yang bahagia adalah orang yang telah ditulis bahagia sejak di perut ibunya. Dan orang yang sengsara adalah orang yang telah ditulis sengsara semenjak dalam kandungan ibunya.”

Rasulullah SAW lalu membaca ayat :

“Mereka akan terus berselisih kecuali orang yang dirahmati oleh Allah SWT” (QS Hud :118 – 119)

juga membaca,

“Sesungguhnya ketentuan Allah pasti berlaku” (QS Al-Ahzab : 38)

Iblis lalu berkata:

“Wahai Muhammad Rasulullah, takdir telah ditentukan dan pena takdir telah kering. Maha Suci Allah yang menjadikanmu pemimpin para nabi dan rasul, pemimpin penduduk surga, dan yang telah menjadikan aku pemimpin mahluk mahluk celaka dan pemimpin penduduk neraka. aku si celaka yang terusir, ini akhir yang ingin aku sampaikan kepadamu. dan aku tak berbohong.”

Sampaikanlah risalah ini kepada saudara-saudara kita, agar mereka mengerti dengan benar, apakah tugas-tugas dari Iblis atau Syaithan tsb. Sehingga kita semua dapat mengetahui dan dapat mencegahnya dan tidak menuruti bisikan dan godaan Iblis atau Syaithan.

Mudah-mudahan dengan demikian kita dapat setidak-setidaknya membuat hidup ini lebih nyaman dan membuat tempat serta lingkungan kita lebih aman.

Percobaan: Zona Penghambat Antara Penyebaran Jamur Patogen Dengan Jamur Antagonis

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Istilah pestisida merupakan terjemahan dari pesticide (Inggris) yang berasal dari bahasa latin pestis dan caedo yang bisa diterjemahkan secara bebas menjadi racun untuk mengendalikan jasad pengganggu. Istilah jasad pengganggu pada tanaman sering juga disebut dengan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) (Wudianto, 1997).

Pada awal abad ke-20 pengendalian hama mulai berkembang dengan terbitnya buku insect Pest of Farm, Garden and Orchad karya E. Dwight Sanderson (1915). Selanjutnya revolusi pengendalian hama berkembang dengan penggunaan DDT(Dikloro Difenil Trikloroethana) dan pestisida organik lainnya. Hampir semua kegiatan pertanian diseluruh dunia yang dilakukan secara industri menerapkan pengendalian hama dengan menggunakan DDT (Kusnaedi, 1997).

Organisme pengganggu tanman/tumbuhan (OPT) hanya dapat dikendalikan bila terpapar oleh bahan aktif pestisida dalam jumlah yang cukup untuk mengendalikan atau mematikannya (Djojosumarto, 2000).

Termasuk kedalam golongan pestisida ialah senyawa – senyawa kimia yang secara harfiah tidak membunuh jasad pengganggu akan tetapi karena fungsinya yang menyerupai pestisida maka digolongkan ke dalam pestisida.sebagai contoh senyawa – senyawa peransang atau pengahambat pertumbuhan tanaman atau serangga yang lebih dikenal dengan zat pengatur tumbuh (Sastroutomo, 1992).

Efesiensi penggunaan pestisida terjadi bila ada manipulasi keadaan setelah diketahui cara kerja pestisida tersebut. Cara kerja berhubungan dengan peristiwa pemberian pestisida terhadap organisme pengganggu tanaman (OPT) (Moenandir, 1990)

Trichoderma koningii adalah sebangsa jamur yang tumbuh saprofitis pada tanah atau bahan kayu karena mempunyai enzim selulitik yang sangat aktif. Jamur menghasilkan koloni putih yang tumbuh cepat, yang bila terkena cahaya dengan cepat membentuk konidiofor yang bercabang-cabang. Konidi hampir bulat berdiameter 3,6 – 4,8 µm dan umumnya terlihat kasar (Djafaruddin, 2010).

Sclerotium rolfsii adalah sejenis jamur yang mempunyai miselium yang terdiri dari benang-benang, berwarna putih, tersusun seperti bulu atau kipas. Di sini jamur tidak membentuk spora. Untuk pemencaran dan utnuk mempertahankan diri jamur membentuk sejumlah sklerotium yang semula berwarna putih, kelak menjadi coklat, dengan garis tengah lebih kurang 1 mm. Butir-butir ini mudah sekali lepas dan terangkut oleh air. Sklerotium mempunyai kulit yang kuat sehingga tahan terhadap suhu tinggi dan kekeringan. Di dalam tanah sklerotium dapat bertahan sampai 6- 7 tahun (Untung, 2006).

Sprayer berfungsi untuk menyebarkan pestisida atau pupuk daun ke bagian tertentu dari tanaman. Khusus dalam pengganggu atau gulma. Sasaran penyebaran tersebut ke bagian tanaman yang memiliki luasan sebaran besar, seperti daun, bagian meristematis yang masih muda(Kawiji dan Supriyono, 199).

Tujuan Percobaan

Adapun tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui zona penghambat antara penyebaran jamur patogen dengan jamur antagonis.

TINJAUAN PUSTAKA
Sclerotium rolfsii Sacc.
Menurut (Astiko, dkk, 2009) adapun sistematika bahan dari Sclerotium rolfsii Sacc.adalah :
Kingdom : Mycetaceae
Divisio : Mycopyta
Class : Deuteromycetes
Ordo : Mycelia Steril
Famili : Agonomycetaceae
Genus : Sclerotium
Spesies : Sclerotium rolfsii Sacc.

Biologi Penyebab Penyakit
Sklerotium mempunyai kulit yang kuat sehingga tahan terhadap suhu tinggi dan kekeringan. Di dalam tanah sklerotium dapat bertahan sampai 6 atau 7 tahun. Dalam cuaca yang kering sklerotium akan mengeriput, tetapi dalam lingkungan yang lembab jumlahnya akan bertambah dengan cepat (Rusmawati, 2002).

Daur Hidup
Agen pembawanya adalah penyakit yang terbawa oleh tanah (soil borne) dan aktif dalam tanah dengan bentuk tubuh spora yang disebut sclerotia. Patogen ini pada umumnya ditemukan di daerah tropik dan sub-tropik dan daerah-daerah Amerika Serikat bagian selatan, barat dan tenggara. Daerah ini mempunyai karakteristik iklim panas yang lembab yang kondusif untuk pertumbuhan dan perkembangan patogen. Pertumbuhan Sclerotium spp optimal pada 27-30oC dan sclerotia tidak aktif pada suhu di bawah 00 C (Maspary, 2011).

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi
Patogen akan berkembang baik pada cuaca dengan suhu antara 27 – 30oC. Pada kondisi demikian menyebabkan kelembaban yang sesuai bagi perkembangan patogen. Faktor lain yang juga penting untuk mempertahankan kelembaban tersebut adalah hujan yang tidak terlalu basah pada permukaan tanah. Penyebaran patogen dapat terjadi melalui pergerakan air, tanah yang terinfeksi, perlatan yang terkontaminasi, bagian tanaman yang terinfeksi dan sklerotia yang tercampur benih (Rusmawati, 2002).

Pengendalian
Usaha untuk menurunkan nilai kerusakan yang disebabkan oleh Sclerotium rolfsii telah banyak dilakukan. Penggunaan fungisida kimiawi sering menjadi pilihan utama. Namun fungisida dapat memberikan dampak negative baik pada pengguna, sasaran maupun terhadap lingkungan. Melihat kenyataan yang demikian, maka diperlukan upaya pengendalian yang lenih ramah lingkungan. Salah satu diantaranya adalah dengan menanam varietas tahan. Penanaman varietas tahan bukan berarti meniadakan cara pengendalian lainnya secara keseluruhan namun dalam rangka pengendalian penyakit secara terpadu, menanam varietas yang memiliki ketahanan tinggi ternyata lebih efektif dalam menekan kerugian karena penyakit (Astiko, dkk, 2009).

Trichoderma koningii
Menurut Syahri dan Thamrin (2011) adapun sistematika bahan dari jamur ini adalah :
Kingdom : Mycetaceae
Divisio : Asmatigomycotina
Class : Deuteromycetes
Ordo : Moniliales
Famili : Moniliaceae
Genus : Trichoderma
Spesies : Trichoderma koningii

Biologi Agen Antagonis
Trichoderma koningii mempunyai sporodokia bercabang kurang teratur pada lingkaran. Sporodokia berbentuk piramid yang kasar, fialides dan cabang cenderung bercabang satu-satu dan secara menyeluruh membentuk konidiofor terlebih cenderung linier daripada bentuk piramida, hifa berdiameter 5-10 µm. Konidia berdinding halus dan pendek silindris dengan ukuran3-5µm yang di lepaskan dalam jumlah yang banyak. Klamidospora di bentuk secara interkalar (Suwahyono dan Wahyudi, 2005).

Manfaat dan Keunggulan
Pupuk biologis dan biofungisida Trichoderma dapat dibuat dengan inokulasi biakan murni pada media aplikatif, misalnya dedak. Sedangkan biakan murni dapat dibuat melalui isolasi dari perakaran tanaman, serta dapat diperbanyak dan diremajakan kembali pada media PDA (Potato Dextrose Agar) (Maspary, 2011).

Cendawan antagonis Trichoderma merupakan agens pengendali hayati yang mempunyai banyak mekanisme dalam menyerang dan merusak patogen tanaman. Cendawan Trichoderma diketahui memiliki bebrapa mekanisme dalam pengendali penyakit tanaman seperti melalui mikroparasitisme, antibiosis, kompetisi nutrisi, melarutkan nutrisi anorganik, inaktivasi enzim pathogen serta mekanisme induksi resistensi. Cendawan ini mampu berkompetisi dengan cendawan patogen lainnya. Adanya kemampuan kompetisi ini menyebabkan terhambatnya pertumbuhan patogen tanaman (Syahri dan Thamrin, 2011).

Fungisida
Pada prinsipnya, saat aplikasi fungisida dapat dikelompokkan seperti aplikasi insektisida. Akan tetapi, karena sifat serangan dan cara hidup fungi berbeda dengan hama dan cara kerja fungisida juga berbeda dengan insektisida, maka saat aplikasi fungisida mengalami sedikit perubahan, yaitu 1.) Aplikasi protektif, preventif, atau propilaktik, 2.) Aplikasi kuratif dan eradikatif, 3.) Aplikasi berdasarkan ambang pengendalian (Djojosumarto, 2000).

Fungisida adalah bahan kimia pembunuh jamur. Fungisida sistemik local diserap (diabsorbsi) oleh jaringan tanaman, tetapi tidak atau kurang disebar (ditranslokasi) ke bagian tanaman lainnya. Contohnya adalah simoxanil dan dimetomorf. Sedangkan fungisida preventif atau protektif berfungsi untuk mencegah infeksi cendawan. Oleh karena itu, fungisida ini hanya efektif jika diaplikasikan sebelum ada infeksi. Contohnya dalah maneb (Tjitrosodoedirdjo, dkk., 1984).

Penghambatan atau pemacuan pertumbuhan suatau tumbuhan ditentukan oleh dosis/konsentrasi herbisida tersebut. Suatau herbisida pad adosis/konsentrasi tertentu dapat bersifat selektif, tetapi bila dosis/konsentrasi diturunkan atau dinaikkan berubah menjadi tidak selaktif (Yakup dan Sukman, 1995).

Bahan katif pestisida merupakan bahan penyusun terpenting, suatau formulasi pestisida untuk dipasarkan tidak diproduksikan oleh pabrik dalam bentuk murni hanya dibuat khusus untuk keperluan penelitian atau pengawasan mutu formulasi pestisida. Campuran bahan aktif teknis, sinergis dan bahan aktif pembantu disebut formulasi pestisida (Untung, 2006).

BAHAN DAN METODE
Tempat dan Waktu Perobaan
Percobaan ini dilakukan di Laboratorium Pestisida dan Teknik Aplikasi Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan dengan ketinggian tempat ± 25 m dpl pada tanggal 6 Mei 2011 pada hari Jumat pukul 10.00 WIB sampai dengan selesai.

Bahan dan Alat
Adapun bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah media PDA (Potato Dextrose Agar) sebagai media perkembangbiakan jamur, biakan Trichoderma koningii sebagai agen antagonis, biakan penyakit Sclerotium rolfsii sebagai patogen, alkohol 96% sebagai bahan bakar, kertas kecil sebagai agen fungisida, fungisida sebagai bahan percobaan, alumunium foil sebagai penutup media kertas, cling wrap untuk merekatkan petridish, label nama untuk menamai atau menandai setiap petridish.

Adapun alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah bunsen untuk mensterilkan petridish, jarum ose untuk mengambil patogen media biakan, jarum inokulum untuk mengambil potongan media biakan, beaker glass sebagai wadah alkohol, pinset untuk menjepit kertas, tabung pembolong untuk membolongi media agen antagonis dan patogen, masker sebagai penutup mulut, sarung tangan agar tidak kontak langsung dengan tangan.

Prosedur Percobaan
• Perlakuan Agen Antagonis (Trichoderma koningii vs Sclerotium rolfsii)
– Disiapkan media PDA sebanyak 6 petridish
– Dibolongi media patogen (Sclerotium rolfsii)
– Diletakkan pada media PDA pada satu sisi
– Dibolongi media agen antagonis (Trichoderma koningii)
– Diletakkan pada media PDA di sisi bagian lainnya
– Dilapisi petridish dengan cling wrap, sebelumnya petridish dibakar dengan pembakar bunsen
– Diamati dan diambil datanya setiap hari selama 4 hari

• Perlakuan Fungisida Sistemik
– Disiapkan media PDA sebanyak 6 petridish
– Dibolongi media patogen (Sclerotium rolfsii)
– Diletakkan pada media PDA pada satu sisi
– Disisi lainnya diletakkan kertas kecil yang sebelumnya telah dicelupkan fungisida sistemik terlebih dahulu
– Dilapisi petridish dengan cling wrap, sebelumnya petridish dibakar dengan pembakar bunsen yang kemudian dilapisi dengna cling wrap
– Diamati dan diambil datanya setiap hari selam 4 hari

HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Perlakuan Agen Antagonis (Trichoderma koningii vs Sclerotium rolfsii)
Tanggal
Pengamatan Trichoderma koningii vs Sclerotium rolfsii Keterangan
1 2 3
05/5/2011 0% 0% 0% 0% 0% 0% Jamur Trichoderma telah belum muncul
06/5/2011 0% 0% 0% 0% 0% 0% Jamur Trichoderma telah belum muncul
07/5/2011 0% 0% 0% 0% 0% 0% Jamur Trichoderma telah belum muncul karena agen antagonis cukuf efektif dalam menekan pertumbuhan Sclerotium rollfsii</em

Perlakuan Fungisida Sistemik
Tanggal
Pengamatan Trichoderma koningii vs Sclerotium rolfsii Keterangan
1 2 3
05/5/2011 0% 0% 0% 0% 0% 0% Belum ada pertumbuhan di Sclerotium rollfsii
06/5/2011 0% 0% 0% 0% 0% 0% Masih belum ada pertumbuhan di Sklerotium
07/5/2011 0% 0% 0% 0% 0% 0% Masih belum ada pertumbuhan di Sklerotium

Perhitungan
Rumus : R2-R1/R2 x 100 %
Perlakuan Fungisida Sistemik
05 Mei 2011 : – IZ = 0% 06 Mei 2011 : – IZ = 0%
– IZ = 0% – IZ = 0%
– IZ = 0% – IZ = 0%

07 Mei 2011 : – IZ = 0%
– IZ = 0%
– IZ = 0%
Perlakuan Agen Antagonis (Trichoderma koningii vs Sclerotium rolfsii)
05 Mei 2011 : – IZ = 0% 06 Mei 2011 : – IZ = 0%
– IZ = 0% – IZ = 0%
– IZ = 0% – IZ = 0%

07 Mei 2011 : – IZ = 0%
– IZ = 0%
– IZ = 0%

Pembahasan
Dari hasil percobaan, diperoleh bahwa hasil pada perlakuan Trichoderma koningii vs Sclerotium rolfsii yaitu persentasenya masing-masing sebesar 0%. Hal ini menunjukkan bahwa jamur Trichoderma koningii efektif bekerja sebagai agen antagonis. Hal ini disebabkan karena pada jamur Trichoderma koningii terdapat senyawa toksin trichodermin yang mampu menyerang dan menghancurkan propagul yang berisi spora-spora patogen disekitarnya. Hal ini sesuai dengan literatur Djojosumarto (2000) yang menyatakan bahwa beberapa anggota Trichoderma dapat menghasilkan toksin trichodermin. Toksin tersebut dapat menyerang dan menghancurkan propagul yang berisi spora-spora patogen disekitarnya.

Dari hasil percobaan, diperoleh bahwa hasil pada perlakuan fungisida sistemik yaitu persentasenya sebesar 0%, 0%, dan 0%. Hal ini menunjukkan bahwa penyebaran Sclerotium rolfsii dihambat oleh fungisida sistemik. Hal ini disebabkan karena fungisida sistemik yang menempel pada patogen kertas, meresap ke media PDA. Hingga akhirnya fungisida tersebut menghambat penyebaran jamur Sclerotium rolfsii. Hal ini sesuai dengan literatur Triharso (1994) yang menyatakan bahwa fungisida sistemik lokal diserap (diabsorbsi) oleh jaringan tanaman, lalu disebar (ditranslokasikan) ke bagian tanaman lainnya

Dari hasil percobaan, diperoleh bahwa hasil pada perlakuan Trichoderma koningii vs Sclerotium rolfsii bahwa persentase penyebarannya sebesar 0%. Hal ini menunjukkan bahwa jamur Trichoderma tidak cukup mampu menginfeksijamur patogen lain (Sclerotium rolfsii) dalam jangka waktu yang singkat. Hal ini disebabkan masing-masing jamur tidak terkontaminasi mungkin tidak sterilnya alat-alat media. Hal ini sesuai dengan literatur Syhari dan Thamrin (2011) yang menyatakan bahwa cendawan antagonis Trichoderma merupakan agens pengendali hayati yang mempunyai banyak mekanisme dalam menyerang dan merusak patogen tanaman.

Dari hasil percobaan, diperoleh hasil bahwa perlakuan Trichoderma koningii vs Sclerotium rolfsii dan perlakuan fungisida sistemik memberikan efek yang sama dalam menginfeksi jamur patogen Sclerotium rolfsii. Tetapi, pada perlakuan Trichoderma koningii vs Sclerotium rolfsii jelas terlihat secara langsung, sedangkan pada perlakuan fungisida sistemik proses absorbsi dan translokasi tidak bisa dilihat secara nyata.


KESIMPULAN

1.Pada perlakuan Trichoderma koningii vs Sclerotium rolfsii persentase serangannya masing-asing sebesar 0%
2.Pada perlakuan fungisida sistemik persentase serangannya sebesar 0%, 0%, dan 0%.
3.Pada perlakuan Trichoderma koningii vs Sclerotium rolfsii persentase serangannya tidak cukup efektif karena tidak sterilnya media bahan.
4.Perlakuan Trichoderma koningii vs Sclerotium rolfsii dan fungisida sistemik tidak begitu efektifnya dalam menginfeksi jamur Sclerotium rolfsii
5.Trichoderma koningii lebih efektif apabila digunakan sebagai agens antagonis atau pengendalian hayati


DAFTAR PUSTAKA

Astiko, W., I. Muthahanas, Y. Fitrianti. 2009. Uji Ketahanan Bebrapa Varietas Kacang Tanah Lokal Bima Terhadap Penyakit Sclerotium rolfsii. Diakses dari http://ditjenbun.deptan.go.id. Pada tangal 11 Mei 2011.
Djojosumarto, P. 2000. Teknik Aplikasi Pestisida Pertanian. Kanisius. Yogyakarta.
Djafaruddin, 2010. Dasar-Dasar Pengendalian Penyakit Tanaman. Bumi Aksara. Jakarta.
Kawiji dan Supriyono, 1997. Sprayer Pertanian Jenis Penggunaan dan Perawatan. Trubus Agromedia: Jakarta.
Kusnaedi, 1997. Pengendalian Hama Tanpa Pestisida. Penebar Swadaya. Jakarta.
Maspary. 2011. Trichoderma sp. Sebagai Pupuk Biologis dan Biofungisida. Diakses dari http://www.trichoderma sp. html. Pada tanggal 11 Mei 2011.
Moenandir, J. 1990. Fisiololgi Herbisida. CV. Rajawali. Jakarta
Rusmawati, K. Y. 2002. Pengaruh Solarisasi Tanah Terhadap Penyakit Tular Tanahdan Produksi Benih Kacang Tanah. Diakses dari http://www.balitbang.deptan.go.id pada tanggal 11 Mei 2011.
Sastroutomo, S.S. 1992. Dasar – Dasar dan Dampak Penggunaan Pestisida. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Sembodo, D.R.J. 2010. Gulam dan Pengelolaannya. Graha Ilmu. Yogyakarta.
Suwahyono, U, dan P. Wahyudi, 2005. Penggunaan Biofungisida pada Usaha Perkebunan. Direktorat Tekhnologi Bioindustri-BPPTP. Diakses melalui http://www.iptek.net.id pada tanggal 11 mei 2011.
Syahri dan T. Thamrin. Potensi Pemanfaatan Cendawan Trichoderma sp. Sebagai Agens Pengendali Penyakit Tanaman di Lahan Rawa Lebak. Diakses dari http://www.balitbang.deptan.go.id pada tanggal 11 Mei 2011.
Sukman, Y., dan Yakup. 1995. Gulma dan Teknik Pengendaliannya. Raja Grafindo Persada.
Tjitrosodoedirdjo, S., I.H. Utomo, dan J. Wiroatmodjo. 1984. Pengelolaan Gulma di Perkebunan. Gramedia. Jakarta.
Untung, K. 2006. Pengantar Pengelolaan Hama Terpadu (edisi ke-2). Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Wudianto, R. 1997. Petunjuk Penggunakan Pestisida. Penebar Swadaya. Jakarta.

Pengelolaan Tanaman Sagu (Metroxylon sp.) di Lahan Gambut.

PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Sagu merupakan tanaman asli Indonesia. Sagu (Metroxylon sp.) di duga berasal dari Maluku dan Papua. Di tempat tersebut dijumpai keragaman plasma nutfah sagu yang paling tinggi. Namun hingga saat ini belum ada data yang mengungkapkan sejak kapan awal mula sagu ini dikenal. Sagu merupakan salah satu sumber karbohidrat potensial disamping beras, khususnya bagi masyarakat kawasan timur Indonesia seperti Irian Jaya dan Maluku, yaitu sebagai pangan utama. Potensi sagu sebagai sumber bahan pangan dan bahan industri telah disadari sejak tahun 1970-an, namun sampai sekarang pengembangan tanaman sagu di Indonesia masih jalan di tempat.

Tanaman sagu dengan bahasa latin Metroxylon sagu Rottboell, berarti tanaman yang menyimpan pati pada batangnya (Metro : empulur, xylon : xylem, sagu : pati). Menurut Flach (1995) tanaman sagu merupakan tanaman hapaxanthik (berbunga satu kali dalam satu siklus hidup) dan soboliferous (anakan). Satu siklus hidup tanaman sagu dari biji sampai membentuk biji diperlukan waktu hingga 11 tahun dalam empat periode fase pertumbuhan awal atau gerombol (russet) diperlukan waktu 3.75 tahun, fase pembentukan batang diperlukan waktu 4.5 tahun, fase infoloresensia (pembungaan) diperlukan waktu 1 tahun dan fase pembentukan biji diperlukan waktu selama 1 tahun (Flach, 2005)

Sagu termasuk tanaman palem dengan tinggi sedang, setelah berbunga mati. Akar berserabut yang ulet, mempunyai akar nafas. Batang berdiameter hingga 60 cm, dengan tinggi hingga 25 m. Batang merupakan tempat penimbunan utama pati yang dihasilkan melalui proses fotosintesis. Batang terbentuk setelah ada russet berakhir yaitu setelah berumur 45 bulan dan kemudian membesar dan memanjang dalam waktu 54 bulan (Flach, 2005).
Tanaman sagu membutuhkan air yang cukup, namun penggenangan permanen dapat mengganggu pertumbuhan sagu. Sagu tumbuh di daerah rawa yang berair tawar atau daerah rawa yang bergambut dan di daerah sepanjang aliran sungai, sekitar sumber air, atau di hutan rawa yang kadar garamnya tidak terlalu tinggi dan tanah mineral di rawa-rawa air tawar dengan kandungan tanah liat > 70% dan bahan organik 30%.

TINJAUAN PUSTAKA
Botani Tanaman
Menurut Wikipedia (2011), sistematika tanaman jagung adalah sebagai berikut:
Kerajaan : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Liliopsida
Ordo : Arecales
Famili : Arecaceae
Genus : Metroxylon
Spesies : Metroxylon sp.

Akar rimpang yang panjang dan bercabang-cabang; tinggi tajuk 10 m atau lebih dan diameter batang mencapai 60 cm. Perakaran menembus dan bercabang di dalam tanah dengan percabangan pada bagian-bagianya merupakan akar serabut (http://id.wikipedia.org, diakses 20 Mei 2011).

Batangnya tegak merumpun diatas percabangan dalam satu kesatuan. Berpelaepah satu dengna yang lain. Dengan bentuk tegakkan menjulang menghadap sinar matahari keatas. Dari empulur batangnya dihasilkan tepung sagu, yang merupakan sumber karbohidrat penting bagi warga kepulauan di bagian timur Nusantara (Heyne, 1987).

Daun-daun besar, majemuk menyirip, panjang hingga 7 m, dengan panjang anak daun lk. 1.5 m; bertangkai panjang dan berpelepah. Daun tua dari pohon yang masih muda merupakan bahan atap yang baik; pada masa lalu bahkan rumbia dibudidayakan (dalam kebon-kebon kiray) di sekitar Bogor dan Banten untuk menghasilkan atap rumbia ini. Dari helai-helai daun ini pun dapat dihasilkan semacam tikar yang disebut kajang. Daun-daunnya yang masih kuncup (janur) dari beberapa jenisnya dahulu digunakan pula sebagai daun rokok, sebagaimana pucuk nipah (Steenis, 1981).

Berbunga dan berbuah sekali (monocarpic) dan sudah itu mati. Karangan bunga bentuk tongkol, panjang hingga 5 m. Berumah satu (monoesis), bunga rumbia berbau kurang enak (Anonimous. 1994).

Buah memiliki rasa sepat, sehingga untuk menghilangkan kelatnya itu buah rumbia biasa direndam dulu beberapa hari di lumpur atau di air laut sebelum dikonsumsi. Tempayak dari sejenis kumbang, yang biasa hidup di batang dan umbut rumbia yang mati, disukai orang -dari Jawa hingga Papua- sebagai sumber protein dan lemak yang gurih dan lezat (Steenis, 1981).

Syarat Tumbuh
Tanah
Pertumbuhan sagu yang paling baik adalah pada tanah liat kuning coklat atau hitam dengan kadar bahan organik tinggi. Sagu dapat tumbuh pada tanah vulkanik, latosol, andosol, podsolik merah kuning, alluvial, hidromorfik kelabu dan tipe-tipe tanah lainnya. Sagu mampu tumbuh pada lahan yang memiliki keasaman tinggi. Pertumbuhan yang paling baik terjadi pada tanah yang kadar bahan organiknya tinggi dan bereaksi sedikit asam pH 5,5 – 6,5 ( SIMPD, 2000).

Sagu paling baik bila ditanam pada tanah yang mempunyai pengaruh pasang surut, terutama bila air pasang tersebut merupakan air segar. Lingkungan yang paling baik untuk pertumbuhannya adalah daerah yang berlumpur, dimana akar nafas tidak terendam. Pertumbuhan sagu juga dipengaruhi oleh adanya unsur hara yang disuplai dari air tawar, terutama potasium, fosfat, kalsium, dan magnesium (Anonimous, 2011).

Iklim
Jumlah curah hujan yang optimal bagi pertumbuhan sagu antara 2.000 – 4.000 mm/tahun, yang tersebar merata sepanjang tahun. Sagu dapat tumbuh sampai pada ketinggian 700 m di atas permukaan laut (dpl), namun produksi sagu terbaik ditemukan sampai ketinggian 400 m dpl. Suhu optimal untuk pertumbuhan sagu berkisar antara 24,50 – 29oC dan suhu minimal 15oC, dengan kelembaban nisbi 90%. Sagu dapat tumbuh baik di daerah 100 LS – 150 LU dan 90 – 180 darajat BT, yang menerima energi cahaya matahari sepanjang tahun. Sagu dapat ditanam di daerah dengan kelembaban nisbi udara 40%. Kelembaban yang optimal untuk pertumbuhannya adalah 60% (Anwar, 1994).

Tanaman sagu membutuhkan air yang cukup, namun penggenangan permanen dapat mengganggu pertumbuhan sagu. Sagu tumbuh di daerah rawa yang berair tawar atau daerah rawa yang bergambut dan di daerah sepanjang aliran sungai, sekitar sumber air, atau di hutan rawa yang kadar garamnya tidak terlalu tinggi dan tanah mineral di rawa-rawa air tawar dengan kandungan tanah liat > 70% dan bahan organik 30% ( SIMPD, 2000).

LAHAN GANBUT UNTUK TANAMAN SAGU
Tanaman sagu membutuhkan air yang cukup, namun penggenangan permanen dapat mengganggu pertumbuhan sagu. Sagu tumbuh di daerah rawa yang berair tawar atau daerah rawa yang bergambut dan di daerah sepanjang aliran sungai, sekitar sumber air, atau di hutan rawa yang kadar garamnya tidak terlalu tinggi dan tanah mineral di rawa-rawa air tawar dengan kandungan tanah liat > 70% dan bahan organik 30%. Pertumbuhan sagu yang paling baik adalah pada tanah liat kuning coklat atau hitam dengan kadar bahan organik tinggi. Sagu dapat tumbuh pada tanah vulkanik, latosol, andosol, podsolik merah kuning, alluvial, hidromorfik kelabu dan tipe-tipe tanah lainnya. Sagu mampu tumbuh pada lahan yang memiliki keasaman tinggi. Pertumbuhan yang paling baik terjadi pada tanah yang kadar bahan organiknya tinggi dan bereaksi sedikit asam pH 5,5 – 6,5 (Harsanto, 1990).

Salah satu komponen penting dalam pengaturan tata air lahan gambut adalah bangunan pengendali berupa pintu air di setiap saluran. Pintu air berfungsi untuk mengatur muka air tanah supaya tidak terlalu dangkal dan tidak terlalu dalam (Agus dan. Subiksa. 2008).

Tanaman tahunan memerlukan saluran drainase dengan kedalaman berbeda-beda. Tanaman karet memerlukan saluran drainase mikro sekitar 20 cm, tanaman kelapa sedalam 30-50 cm, sedangkan tanaman kelapa sawit memerlukan saluran drainase sedalam 50-80 cm. Gambut yang relatif tipis (<100 cm) dan subur juga dapat ditanami dengan tanaman kopi dan kakao dengan saluran drainase sedalam 30-50 cm ( SIMPD, 2000).

Jika lahan gambut digunakan untuk perkebunan sagu atau nipah, pembuatan saluran drainase tidak diperlukan karena kedua jenis tanaman ini merupakan tanaman rawa yang toleran terhadap genangan. Sagu dapat menjadi alternatif tanaman sumber karbohidrat selain beras. Tanaman nipah menghasilkan nira, bahan baku gula dengan rendemen tinggi dan kualitas yang tidak kalah dibandingkan gula aren (Agus dan. Subiksa. 2008).

PENGELOLAAN TANAMAN SAGU DI LAHAN GAMBUT
Untuk penegelolaaan tanaman sagu di lahan gambut maka hal yang perlu perhatikan keseimbangan dalam memelihara sistem ekologi dari gambut itu sendiri. dan tenetunya tidak perlu di khawatrirkan lagi karena tanaman ini sangat sesuai pada kondisi lahan gambut sebagai rawa yang paling banyak menyediakan sejumlah air untuk pertumbuhan gambut itu sendiri ( SIMPD, 2000).

Unsur hara utama yang perlu ditambahkan untuk berbagai tanaman tahunan di lahan gambut terutama adalah unsur P dan K. Tanpa unsur tersebut pertumbuhan tanaman sangat merana dan hasil tanaman yang diperoleh sangat rendah. Sedangkan unsur hara lainnya seperti N dibutuhkan dalam jumlah yang relatif rendah karena bisa tersedia dari proses dekomposisi gambut (Prihatman, 2011).

Unsur hara yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman sagu, antara lain kalsium, kalium dan magnesium. Pada hutan sagu liar, pemeliharaan tanaman berupa pemupukan jarang dilakukan. Berbeda dengan hutan budidaya sagu yang mengejar produktivitas yang optimal, maka akan dilakukan pemupukan (Anonimous, 2011).

Reklamasi gambut untuk pertanian tanaman tahunan memerlukan jaringan drainase makro yang dapat mengendalikan tata air dalam satu wilayah dan drainase mikro untuk mengendalikan tata air di tingkat lahan. Sistem drainase yang tepat dan benar sangat diperlukan pada lahan gambut, baik untuk tanaman pangan maupun perkebunan. Sistem drainase yang tidak tepat akan mempercepat kerusakan lahan gambut (Agus dan. Subiksa. 2008).

Pemupukan sangat dibutuhkan karena kandungan hara gambut sangat rendah. Jenis pupuk yang diperlukan adalah yang mengandung N, P, K, Ca dan Mg. Walaupun KTK gambut tinggi, namun daya pegangnya rendah terhadap kation yang dapat dipertukarkan sehingga pemupukan harus dilakukan beberapa kali (split application) dengan dosis rendah agar hara tidak banyak tercuci. Penggunaan pupuk yang tersedianya lambat seperti fosfat alam akan lebih baik dibandingkan dengan SP36, karena akan lebih efisien, harganya murah dan dapat meningkatkan pH tanah (Subiksa et al., 1991). Penambahan kation polivalen seperti Fe dan Al akan menciptakan tapak jerapan bagi ion fosfat sehingga bisa mengurangi kehilangan hara P melalui pencucian (Rachim, 1995).

KESIMPULAN
Kesimpulan
1.Tanaman sagu membutuhkan air yang cukup, namun penggenangan permanen dapat mengganggu pertumbuhan sagu
2.Jika lahan gambut digunakan untuk perkebunan sagu atau nipah, pembuatan saluran drainase tidak diperlukan karena kedua jenis tanaman ini merupakan tanaman rawa yang toleran terhadap genangan
3.Sagu tumbuh di daerah rawa yang berair tawar atau daerah rawa yang bergambut dan di daerah sepanjang aliran sungai
4.Penegelolaan tanaman sagu di lahan gambut maka hal yang perlu perhatikan keseimbangan dalam memelihara sistem ekologi dari gambut
5.Pemupukan sangat dibutuhkan karena kandungan hara gambut sangat rendah jenis pupuk yang diperlukan adalah yang mengandung N, P, K, Ca dan Mg.

DAFTAR PUSTAKA
Anonimous. 1994. Sagu, Komoditi Pertanian yang Dilupakan. Dalam Kumpulan
Kliping Sagu. Trubus
Anonimous, 2011. Pengenalan Tanaman Sagu. Dalam Kumpulan Kliping Sagu. Trubus.
Agus, F. dan I.G. M. Subiksa. 2008. Lahan Gambut: Potensi untuk Pertanian dan Aspek Lingkungan. Balai Penelitian Tanah dan World Agroforestry Centre (ICRAF), Bogor.
Anwar, I. 1994. Sagu Tulehu. Dalam Kumpulan Kliping Sagu. Trubus.
Prihatman, Kemal, 2011. Profil Investasi Biofuel Dari Sagu, Dalam Kumpulan Kliping Sagu. Trubus.
Flach, M. 1995. Research Priorities for Sago Palm Development in Indonesia and Sarawak. An Agenda for Research. ISHS Acta Horticulturee International Sago Palm Symposium. http://www.actahort.org/books/389 [18 Maret 2009]
Flach, M., 2005. A Simple Growth Model for Sago Palm cv. Molat-Ambutrub. And It’s Applications for Cultivation. Abstracts of The Eight International Sago Symposium in Jayapura, Indonesia. Japan Society for Promotion Science.
Http://id.wikipedia.org, diakses 20 Mei 2011.
Harsanto, 1990. Budidaya dan pengolahan sagu. Kanisius. Yogyakarta.
Heyne, K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia, jil. 1. Yay. Sarana Wana Jaya, Jakarta. Hal. 380-390.
Steenis, CGGJ van. 1981. Flora, untuk sekolah di Indonesia. PT Pradnya Paramita, Jakarta. Hal. 136.
Rachim, A. 1995. Penggunaan kation-kation polivalen dalam kaitannya dengan ketersediaan fosfat untuk meningkatkan produksi jagung pada tanah gambut. Disertasi. Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.
SIMPD, 2000. SAGU( Metroxylon sp. ). Sistim Informasi Manajemen Pembangunan di Perdesaan, Proyek PEMD, BAPPENAS. Jakarta.
Subiksa, IGM., Didi Ardi dan IPG. Widjaja Adhi. 1991. Pembandingan pengaruh P-alam dan TSP pada tanah sulfat masam (Typic Sulfaquent) Karang Agung Ulu Sumatera Selatan. Prosiding Pertemuan Pembahasan Hasil Penelitian Tanah, 3-5 Juni 1991, Cipayung, Jawa Barat.

6 Prosedur Wajib ISO 9001:2000

Ade bertanya mengenai 6 prosedur wajib.

Memang di ISO 9001:2000 terdapat 1 statement terkait prosedur-prosedur wajib ini. Biasanya, beberapa klausul yang dimaksud ini menggunakan kalimat ‘…prosedur terdokumentasi…’, yang secara otomatis berarti bahwa organisasi harus memiliki prosedur yang terdokumentasi. Lebih dari sekedar bahwa proses telah berjalan, proses tersebut WAJIB memiliki prosedur kerja yang memang terdokumentasi (baca: tertulis, dalam media seperti SOP dan juga media elektronik yang relevan).

Apa saja ke 6 proses yang harus dilengkapi dengan “prosedur wajib” tersebut?

1. Proses pengendalian dokumen
2. Proses pengendalian catatan mutu
3. Proses audit mutu internal
4. Proses pengendalian produk tidak sesuai
5. Proses tindakan perbaikan
6. Proses tindakan pencegahan

Previous Older Entries